Rhea yang sedari tadi cuma mengacak-acak nasi goreng di piringnya pun menarik perhatian Rhio. Biarpun Rhea memang tidak selalu bahagia, tapi baru kali ini Rhio melihat kakaknya itu benar-benar abu-abu. Setidaknya selama di Jakarta.
Rhio yakin ada yang salah dari Rhea. Hanya saja dia masih maju mundur untuk bertanya apa yang sebenarnya jadi beban Rhea. Dia masih mempertimbangkan apakah harus menanyai kakaknya atau memberinya ruang sendiri.
"Mbak kenapa?" Rhio akhirnya buka suara.
"Kenapa apanya? Nggak kenapa-kenapa," jawab Rhea, bohong. Rhio juga tau kalau Rhea berbohong.
"Mbak marah sama aku gara-gara kemarin aku tinggal main sendirian?" tanya Rhio, mengungkit kembali kejadian beberapa hari lalu ketika Rhio yang menemani Rhea melepas gips tiba-tiba kabur untuk bertemu temannya.
"Ngapain juga Mbak marah perkara itu?"
"Terus mbak kenapa kok mukanya kayak nggak seneng gitu? Nasi gorengnya nggak enak?"
"Enggak kok, enak. Diem aja, deh, Rhi! Mbak lagi banyak pikiran."
Nggak banyak sebenarnya. Cuma tentang Sagas dan perubahan suasana hatinya yang masih tak bisa Rhea pahami seutuhnya.
Rhea sedari tadi diam karena memikirkan apa kesalahan yang paling mungkin dia lakukan hingga bikin Sagas mendadak tampak tidak bahagia. Rhea memikirkannya sejak baru pulang bahkan sampai sekarang nyaris tengah malam.
"Serius Mbak nggak marah gara-gara aku? Aku cuma ketemu temen kok mbak! Eh bukan temen deng, pacar."
"Hah? Pacar?" Kekhawatiran tentang Sagas di kepala Rhea mendadak sirna, teralihkan oleh kalimat Rhio yang terdengar amat tak masuk akal bagi Rhea.
"Pacar? Di Jakarta gini? Kamu kenal dari mana?" tanya Rhea, setengah emosi.
"Dari game online." Rhio cengar-cengir.
Rhea mengusap wajahnya kasar. "Kamu nggak inget dulu pas SMP kamu pernah kena tipu sama perempuan yang namanya Windy? Perempuan yang ternyata cuma akun bodong hasil buatan temen-temen kamu. Kamu nggak inget?"
Mana mungkin Rhio bisa melupakan kejadian itu. Kejadian yang membuatnya malu setengah mati dan ingin pindah sekolah saja lalu memulai kehidupan baru.
"Tenang, Mbak! Kali ini beda. Aku udah ketemu dan emang perempuan asli kok! Cakep lagi! Nih, aku tunjukin!"
Rhio menunjukkan foto yang ada di ponselnya. Foto selfie antara dia dan seorang perempuan berambut kecokelatan yang dicatok keriting.
"Lebih tua dari kamu ya?" tanya Rhea.
"Iya, udah kuliah tahun ketiga."
"Hah? Lebih tua dari mbak?" Rhea kaget.
"Iya, emang kenapa? Cinta tuh nggak kenal umur. Lagian kalau orangnya baik dan bikin aku nyaman, kenapa enggak?"
"Oke mbak tau, mbak juga nggak akan menghakimi pilihan kamu. Tapi kamu tuh masih kelas 3 SMA, ya, Rhi. Kejar cita-cita dulu lah! Ketemu di game online gitu emangnya bisa dipercaya?"
"Bisa, Mbak! Lain kali aku kenalin langsung deh biar Mbak nggak khawatir!" ujar Rhio.
Rhea cuma bisa geleng-geleng kepala. Mau marah juga nggak bisa, Rhio terlalu senang. Lagi pula manusia cenderung hanya akan mendengarkan apa yang ingin dia dengar. Mau ngomong sampai berbusa juga percuma.
"Terserah deh. Pokoknya jangan aneh-aneh ya pacarannya! Awas aja kamu tiba-tiba nangis-nangis karena bikin bunting anak orang!" seru Rhea.
"Ih, tenang aja! Rhio beriman kali, masih takut dosa!" bantah Rhio.
"Mbak, tuh, cepetan pilih Mas Dextra apa Mas Sagas! Jangan gantung!"
"Ih, apaan sih kamu! Kok jadi mbak yang kena?!"
***
Ini baru jam 7 pagi, tapi Rhea sudah mondar-mandir di depan rumah Sagas setidaknya lima kali. Sagas sama sekali tak muncul batang hidungnya. Padahal biasanya pagi-pagi begini dia sibuk menyirami tanaman atau membersihkan pekarangan rumah.
Rhea jadi bertanya-tanya apakah sikap Sagas yang begini berhubungan dengan perubahan suasana hatinya.
Rhea jadi penasaran.
Rhea:
Rhi, Sagas udah bangun?
Iya, kirim pesan ke Rhio adalah jalan ninja Rhea. Tapi Rhea sangsi kalau Rhio sudah bangun jam segini. Biasanya masih molor.
Kalau di rumah, sih, ada ibu yang marah-marah tiap kali Rhio tidur sampai siang. Tapi kalau di Jakarta begini mana ada? Sagas terlalu baik pula orangnya. Kalaupun Rhio tidur 24 jam, Rhea yakin Sagas tak akan membangunkannya.
Rhea tak tau harus berbuat apa. Jam kuliahnya masih satu jam lagi, tapi dia sudah rapi begini. Kini Rhea cuma bisa memeluk pagar rumah Sagas sambil berharap dapat kejelasan tiba-tiba dari langit.
Deg! Jantung Rhea tiba-tiba berhenti berdetak ketika pintu utama rumah Sagas terbuka. Tubuh Rhea rasanya membeku ketika melihat Sagas keluar dari rumah itu sambil membawa sapu di tangannya.
"Rhe?"
"Y-ya?"
"Kamu ngapain pagi-pagi udah di sini?" tanya Sagas, "Nungguin Rhio? Rhio belum bangun."
"Ng-ng-nggak kok!" ujar Rhea gagap, seolah baru tertangkap basah melakukan tindak kriminal.
"Terus kamu ngapain meluk pagar gitu?"
Rhea baru sadar bahwa dia belum melepaskan pelukannya di pagar sejak tadi. Kemudian dia mengutuk diri sendiri yang sudah pasti kelihatan sangat bodoh di mata Sagas. Tapi ini bukan saatnya melakukan itu. Rhea harus memperjelas situasinya dengan Sagas. Rhea harus bertanya soal diamnya Sagas tiba-tiba kemarin.
"Gas, punya waktu buat ngobrol bentar?"
***
Ngobrol sambil sarapan bukanlah ide buruk. Rhea dan Sagas memutuskan untuk makan bubur di area depan komplek sambil membicarakan apa yang perlu dibicarakan.
"Mau ngobrol apa, Rhe?" tanya Sagas.
Sejujurnya meski Sagas tersenyum, Rhea tetap merasakan ada yang berbeda dari Sagas. Seolah senyumnya itu diberi perisa pahit yang menusuk masuk sampai ke dalam jantung Rhea.
"Gas, lo marah ya sama gue? Dari habis dateng ke sidang skripsinya Dextra, lo diem dan kelihatan beda gitu."
"Kelihatan, ya?" tanya Sagas.
Rhea mengangguk.
"Aku nggak marah sama kamu. Aku cuma agak sedih kemarin. Aku banyak berpikir, Rhe. Tapi nggak marah sama kamu."
"Terus kenapa?"
"Aku sedih karena kamu sama Dextra kelihatan cocok, Rhe. Bukan sebagai teman, tapi sebagai pasangan," ucap Sagas.
Rhea hampir saja tersedak bubur yang ada di mulutnya.
"Hah? Gimana maksudnya?"
"Ya ... gitu. Setelah lihat kamu dan Dextra kemarin, aku ngerasa gitu."
Sagas menundukkan kepala lalu mengaduk-aduk buburnya.
"Kamu tau sendiri, kan, kalau aku suka sama kamu lebih dari sekadar teman? Tapi setelah lihat Dextra dan kehidupannya kemarin, aku jadi bertanya-tanya apakah aku pantas buat suka kamu? Dextra itu laki-laki normal yang baik, cerdas, dan masa depannya juga jelas. Nah aku? Siapa, sih, aku? Kehidupan aku jauh dari normal, keluarga aku berantakan, aku cuma kuliah online, aku bahkan nggak tau mau jadi apa kedepannya. Dextra jelas lebih baik daripada aku. Jadi kenapa aku berani-beraninya suka sama kamu?"
Rhea seolah kehilangan semua kemampuan berbahasanya. Dia tak pernah menyangka Sagas yang selalu tersenyum itu bisa berpikir dan merasakan sesuatu yang serumit itu.
"Gas, lo ngomong apa sih? Gue sama Dextra tuh cuma temen! Sama aja kayak lo. Dia nggak suka gue kok!"
"Dia suka kamu, Rhe. Kayaknya semua orang tau, kecuali kamu. Aku nggak tau pasti apa yang kamu rasakan ke aku. Aku juga nggak tau perasaan kamu ke Dextra itu gimana. Bahkan kamu sendiri mungkin juga nggak tau, Rhe. Makanya, kalau suatu hari nanti kamu udah bikin keputusan, tolong jadiin aku orang yang pertama tau, ya, Rhe? Aku bakal tetap jadi teman kamu kok walaupun kamu sama Dextra."
***
Entah kenapa mendengar perkataan Sagas tadi pagi terasa seperti mendengar salam perpisahan. Ekspresi wajah dan nada bicara Sagas yang sedih terpatri di kepala Rhea. Membuat Rhea tanpa sadar ikut sedih sedari tadi.
Bahkan sepanjang mata kuliah pun satu-satunya yang terdengar di telinga Rhea adalah ucapan sedih milik Sagas. Rasanya terngiang-ngiang meski Rhea tidak berniat mendengarnya.
Apa yang Sagas sedang alami adalah inferiority complex, saat dimana seseorang merasa lebih buruk dari orang lain. Merasa tidak pantas bersama orang lain serta tidak pantas untuk ini dan itu.
Siapa sangka Sagas yang menurut Rhea sudah mendekati definisi sempurna itu ternyata juga punya struggle-nya sendiri. Struggle yang tak pernah Rhea bayangkan sebelumnya.
Kini Rhea mempertanyakan dirinya sendiri. Memangnya Rhea siapa sampai berhak membuat Sagas merasa seperti itu? Memangnya Rhea sebagus apa sampai membuat orang meragukan kelayakan dirinya sendiri begitu?
Rhea bukan siapa-siapa. Jadi kenapa Sagas harus jatuh cinta sedalam itu?
Rhea juga mempertanyakan diri sendiri, sampai kapan dia akan menggantungkan Sagas tanpa kejelasan seperti saat ini? Rhea tau hal itu tak benar untuk dilakukan. Tapi dia sendiri tak tau mau dibawa kemana hubungannya dengan Sagas.
Dia merasa amat nyaman bersama Sagas. Laki-laki itu juga berulang kali membuatnya terpesona dan berdebar-debar, tapi lagi-lagi Rhea tak yakin apakah perlu membawa hubungan ke tahap lebih jauh. Dia tak yakin apakah semuanya akan tetap terasa senyaman ini kalau hubungan mereka berubah. Dia juga merasa cukup. Baginya pertemanan dengan Sagas sudah terasa lebih dari cukup.
"Heh! Mikirin apa?" tanya Dextra sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Rhea yang melamun.
"Enggak kok," elak Rhea.
Hari ini padahal harusnya jadi hari paling membahagiakan buat Rhea. Akhirnya p********n yang terjadi antara Rhea dan Dextra sudah sampai di ujung masanya. Sebentar lagi Rhea akan terbebas dari hutang lima belas jutanya. Hutang akibat menumpahkan kopi ke baju branded milik Dextra.
Bukannya bahagia, Rhea malah terganggu dengan perkataan Sagas tadi pagi. Tampak jelas di seluruh wajahnya.
"Oke, nih tanda tangan." Dextra menyerahkan selembar kertas berisi perjanjian penyelesaian hutang di antara mereka.
Rhea yang kukuh minta dibuatkan pernyataan tertulis begini. Katanya agar Dextra tak bisa berubah pikiran sewaktu-waktu. Memang harus begitu kalau menghadapi sesuatu yang berpotensi menimbulkan masalah hukum nantinya.
Bukannya Rhea tak percaya pada Dextra, dia hanya sedang berusaha menghindari kemungkinan terburuk yang mungkin saja dihadapinya. Cari aman aja, istilahnya.
Rhea menandatangani surat penyelesaian hutang-piutang itu tepat di atas materai yang sudah Dextra bubuhkan. Setelahnya Rhea menyerahkan kembali kertas itu kepada Dextra. Dextra menandatanganinya.
"Oke, selamat, Rheanina Kataleyya. Hutang anda lunas," ucap Dextra.
Mereka kemudian berjabat tangan seolah habis menyelesaikan kerja sama bisnis tingkat internasional.
"Terus lo mau ngomong apa?" tanya Rhea.
"Gue suka sama lo," kata Dextra.
"Hah?"
"Gue suka sama lo. Salah, sayang sama lo malah."