Rhio Ditampar Realita

1102 Words
"Gue harap lo nggak bakal canggung cuma gara-gara pengakuan gue hari ini, Rhe. Mau lo suka juga atau enggak ke gue, gue harap lo tetap jadi diri lo sendiri. Gue tunggu keputusan lo, Rhe," kata Dextra. Namun meskipun Dextra berkata demikian, kecanggungan tetap saja melayang-layang di udara. Mendengar pernyataan cinta dari Dextra adalah hal paling terakhir di dunia ini yang bisa Rhea bayangkan. Bagaimana bisa Dextra punya perasaan semacam itu pada Rhea? Rhea saja masih tidak percaya kalau Dextra yang bossy dan lebih suka mengerjai serta menyuruh-nyuruhnya itu malah mengutarakan perasaan padanya. Rasanya tindakan Dextra selama ini agak kontra indikasi dengan perasaannya. Rhea mengangguk, menyetujui perkataan Dextra. Setelahnya turun dari mobil dan masuk ke dalam indekos-nya. Rhea terbaring di ranjang dan menatap langit-langit kamarnya yang putih bersih. Dia kemudian memejamkan mata dan menghela napas panjang mengumpulkan keping-keping kesadarannya. Rhea bertanya-tanya, apa pula yang membuat dua orang laki-laki itu jatuh cinta padanya, Sagas dan Dextra. Rasanya Rhea tidak seistimewa itu. Rhea merasa dirinya tidak secantik perempuan-perempuan lain. Dia tidak punya banyak teman. Dia juga tidak baik dan tidak cerdas. Kuliah Rhea bahkan super berantakan. Hubungannya dengan ibu tak kalah berantakan. Jadi apa yang membuatnya menarik? Tapi lebih dari semua itu, Rhea lebih bingung pada perasaannya sendiri. Apa yang harus dia lakukan selanjutnya, dia masih belum tau. Apa yang dia mau, dia juga belum tau. Akan lebih baik kalau Rhea tau siapa yang harus dia tolak dan siapa yang harus dia terima. Atau mungkin menolak keduanya. Sayangnya, seperti kebanyakan orang di bumi ini, Rhea tidak paham perasaannya sendiri. *** Sagasta: Rhe, kamu bisa ke rumah aku bentar ga? Penting. Pesan itulah yang pertama kali Rhea baca ketika bangun dari tidur sorenya. Pesan itu masuk pukul 5 sore. Dia yang terbangun tepat pukul 7 malam itu pun memutuskan untuk langsung bangkit menyambar jaketnya dan pergi ke rumah Sagas. Setahu Rhea, Sagas bukanlah tipe manusia yang hidupnya dipenuhi majas hiperbola. Ketika Sagas bilang penting, maka pasti benar-benar penting. Rhea takutnya sesuatu yang buruk terjadi. Siapa tau Sagas sakit dan sedang butuh bantuan. Entahlah, tapi Rhea jelas merasa khawatir. Tok! Tok! Tok! Rhea mengetuk pintu rumah Sagas dengan tidak sabar. Menunjukkan jelas betapa khawatirnya dia. Klek! Pintu dibuka. Hal pertama yang Rhea pastikan adalah Sagas dari ujung kaki sampai ujung kepala. Dia tampak baik-baik saja, tak kurang suatu apapun. Rhea jadi merasa sedikit lega. "Ada apa, Gas?" tanya Rhea. Sagas kemudian membuka pintu lebar-lebar dan menunjuk ke arah sofa. Tampak seorang laki-laki sedang duduk di sana dengan wajah yang memar dan bengkak. "Rhio?! Muka kamu kenapa?" pekik Rhea. Terang saja Rhea kaget setengah mati. Pasalnya adik lelaki satu-satunya yang kemarin baik-baik saja tiba-tiba berubah jadi memar di sana-sini seperti saat ini. Tak langsung bereaksi, Rhio diam membeku untuk beberapa saat. Dia kemudian menatap Rhea yang khawatir dengan matanya yang berbinar itu. Bibir tipisnya sedikit demi sedikit tercebik seperti seorang anak kecil yang dirampas permennya. Kemudian Rhio mulai menangis. "Huaaaaa! Mbak Rhea!!!" "Kamu kenapa?" Namun Rhio tak bisa menjawab. Napasnya habis karena menangis begitu keras. Dia terisak. Sesuatu yang besar pasti telah terjadi. Rhea menatap Sagas, meminta diberi penjelasan singkat. "Dia dihajar karena pacaran sama istri orang, Rhe." "Hah? Istri orang?" *** Dunia memang bukan tempat yang ramah. Dunia adalah tempat yang kejam nan dingin bagi kebanyakan orang. Namun di tengah-tengah kekejaman dunia, Tuhan masih menyelipkan kehangatan-kehangatan kecil yang biasanya datang tanpa diduga-duga. Kali ini kekejaman menimpa Rhio yang malang. Dia ditipu sekali lagi. Dunia memang jadi tempat yang makin kejam setelah teknologi berkembang pesat. Penipuan tak lagi harus tatap mata, lewat daring juga bisa. Rhio sama sekali tak menyangka kalau perempuan yang dia sayangi sepenuh hati selama beberapa bulan ini rupanya adalah istri seseorang. Rhio juga tak pernah menyangka kalau dia akan jadi orang ketiga di hubungan orang lain. Sungguh menyedihkan. Hubungan Rhio dimulai lewat salah satu game online paling populer di Indonesia. Lewat platform game itu, Rhio berkenalan dengan seorang perempuan. Mereka bercakap-cakap lewat chat yang ada di aplikasi itu dan merasa nyaman satu sama lain. Mereka punya ketertarikan yang sama, nyambung juga kalau sudah bicara. Setelahnya Rhio dan perempuan itu bertukar kontak yang lebih personal. Lebih tepatnya nomor w******p. Dari situlah Rhio tau wajah perempuan yang selama ini bicara dengannya lewat game online. Mereka jadi makin dekat. Bukan cuma chat, tapi juga sudah mulai telepon bahkan video call berdua. Rhio dan perempuan itu kemudian memutuskan untuk jadian. Meskipun teman-teman sekolahnya meledek bahwa hubungan Rhio hanya sebatas hubungan virtual, nyatanya Rhio sama sekali tak terganggu. Dia merasa bahagia dengan hubungannya meskipun belum pernah bertemu di kehidupan nyata. Sudah terlanjur sayang, istilahnya. Perempuan itu adalah salah satu alasan kenapa Rhio mau pergi ke Jakarta selain karena mau lihat UI dan menyambangi Rhea. Baru saja Rhio bertemu beberapa kali dengan perempuan itu, hari ini tiba-tiba ketika sedang makan bersama perempuan itu, Rhio didatangi oleh seorang laki-laki berbadan besar. Rhio tiba-tiba dipukul sampai terhuyung dan terjatuh di lantai kafe yang dingin. Bukan cuma sekali, Rhio dipukuli sampai keluar darah dari hidung. Wajahnya sampai bengkak. Rupanya laki-laki bertubuh besar itu adalah suami dari pacarnya. Iya, suami dari pacarnya. Yang berarti membuat Rhio berada dalam posisi orang ketiga alias selingkuhan. Detik itu pula Rhio kehilangan pacar sekaligus harga dirinya. Dia merasa tak berharga sampai bisa ditipu sedemikian rupa. Dia merasa jadi manusia paling t***l di dunia. "Jadi gitu ceritanya?" Rhea memastikan sekali lagi. Rhio mengangguk. "Kamu beneran nggak tau kalau dia udah punya suami?" Rhio sekali lagi mengangguk. Tak ada kebohongan yang terbersit di matanya. Dia benar-benar tidak tahu-menahu. Rhea rasanya ingin memarahi Rhio saat ini juga. Bagaimanapun, Rhio sudah besar dan sudah pernah punya pengalaman kena tipu di dunia maya, jadi kenapa bisa sampai ditipu lagi? Namun kemarahan itu Rhea tahan. Adiknya sudah hancur, rasanya tak perlu Rhea tambah-tambahi lagi dengan ocehan tidak jelas. Rhea tak ingin menambahkan garam pada luka Rhio yang sudah terbuka. Dari pada memarahi Rhio, hari ini Rhea akan berusaha memahaminya. Rhea menepuk bahu Rhio. "Bukan salah kamu kok, Rhi. Kamu kan nggak tau. Tapi mbak harap ini bisa jadi pelajaran biar kamu nggak gampang percaya sama orang-orang di dunia maya. Manusia itu nggak ada yang langsung pinter, semuanya belajar dulu. Apalagi tentang kehidupan. Tapi kalau sampai ngulangin kesalahan yang sama berkali-kali, namanya bodoh. Mbak nggak mau kamu jadi orang bodoh." Sagas meletakkan air madu hangat buatannya di atas meja untuk Rhio. "Ini, Rhio. Diminum dulu." Rhio yang tangisannya mulai reda itu pun meminum air madu itu. "Makasih banyak, Mas," ucap Rhio. "Sama-sama." "Makasih, ya, Gas. Lo udah rela direpotin gini. Maaf banget." "Nggak apa-apa kok, Rhe. Bukan masalah besar." Kruyukk! Tiba-tiba perut Rhio yang tidak tau diri berbunyi keras. "He-he-he, maaf, Mbak." "Laper?" Rhio mengangguk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD