4. Teman Lama

1711 Words
Seperti biasanya, ketika jam kerja Chala sudah selesai, dia akan istirahat sebentar untuk mengumpulkan tenaganya lagi. Dengan kondisi tubuh yang lelah, Chala sangat menghindari kegiatan menyetir, dia bisa saja kehilangan fokus atau mengantuk saat mengemudi, dan itu tentu hal yang bahaya, bukan hanya untuk dia sendiri tapi juga untuk pengendara lain. "dok, keliatan capek banget" Chala hanya tersenyum dan merebahkan dirinya di kasur yang memang di sediakan untuk istirahat pada staff atau tenaga kesehatan. "dokter Chala mau aku bangunin gak?" perawat bernama April kembali bersuara. Chala yang sudah menutup mata kembali membukanya "lima belas menit ya Pril" jawab Chala. Bukan tidak sopan karena memanggil nama, tapi April yang umurnya memang lebih muda dari Chala lebih suka di panggil begitu. "baik, dok" "Terima kasih, Pril" ucap Chala lalu kembali menutup matanya. Tubuhnya benar-benar terasa remuk setelah menangani banyak pasien yang kecelakaan beruntun. Beruntung tidak ada yang meninggal dunia, tapi banyak dari mereka yang memiliki luka cukup parah. Tidak butuh waktu lama, Chala langsung terlelap, hingga waktu berjalan dengan begitu cepat dan Chala merasa seseorang menggoyangkan tubuhnya dan sayup-sayup memanggil namanya. "dok, bangun dok" Perlahan mata Chala terbuka, wajah April semakin jelas dia lihat. "udah dua puluh menit dok" ucap April. Chala hanya mengangguk, mencoba mengumpulkan kesadarannya, lalu bangun setelah merasa lebih baik. "kamu kenapa Pril?" tanya Chala dengan suara yang masih serak. Tidak langsung pergi, Chala memilih duduk terlebih dahulu, menyegarkan tubuhnya. "keliatan ya dok?" April balik bertanya. Chala mengangguk "jelas" "suami saya dok, tetep mau cerai." dan April kembali menangis. Menghela napas, Chala turun dari tempat tidur, menghampiri April yang ada di tempat tidur lain. "setiap hari, saya mikir, apa kurangnya saya? semua sudah saya lakukan buat dia, buat keluarganya. Gajinya yang lebih kecil dari saya, saya gak pernah ngomel, gak pernah ngeluh, saya syukuri. Keluarganya nuntut uang bulanan juga, saya kasih. Tapi kenapa dia malah milih selingkuhannya dan tetep mau cerai?" April menjelaskan sambil terus menangis. "kamu gak kurang Pril, suami kamu dan keluarganya yang gak bersyukur. Selain itu, kesalahan suami kamu juga sudah fatal, dengan kamu yang memohon untuk tidak bercerai, tidak menutup kemungkinan untuk dia tidak pisah dengan selingkuhannya. Bagaimana jika kamu tetap bersama dia dan dia tetap bersama selingkuhannya? bukankah itu menumpuk penyakit buat kamu sendiri?. Kamu cantik, baik dan pekerja keras, saya yakin kamu akan menemukan sosok yang tepat. Bicarakan lagi semuanya dengan orang tua kamu, karena hanya mereka yang selalu ada di samping kamu, dan menginginkan kebahagiaan untuk kamu" Salah satu hal yang membuat Chala takut untuk melakukan pernikahan. Mau sesempurna apapun istrinya, tidak pernah menutup kemungkinan suaminya akan setia dan menghargai istrinya. Tidak, Chala tidak ingin beradu nasib di dalam sebuah pernikahan. "dokter, beneran saya gak kurang?" April kembali bertanya. Chala mengangguk yakin "ya, kamu gak kurang apapun, suami kamu yang kurang bersyukur" ulang Chala. "dokteeeerrr. Terima kasih" April memelik Chala dan Chala membalasnya sambil mengusap lembut punggung April. Menikah muda dan jadi janda di usia muda. Benar-benar hal yang di sayangkan oleh Chala. Tapi suami yang selingkuh juga memang tidak patut di pertahankan. *** Sebelum pulang ke rumah, Chala memutuskan untuk mampir terlebih dahulu ke salah satu pusat perbelanjaan. Sudah waktunya dia membelikan mainan untuk adiknya, si bungsu Abian. Dalam satu bulan, Chala memang memberikan satu jatah mainan dan waktunya juga tidak tentu, terserah dia saja. Masuk ke toko mainan yang cukup terkenal, Chala mencari mainan yang akan Abian sukai. Si bungsu itu lebih suka pada mainan yang harus di rakit terlebih dahulu, dan mainan itu juga jenis yang paling awet, mungkin karena Abian tahu dan sulitnya dalam merakit, jadi rasa kepemilikan pada mainan juga lebih besar. Setelah mendapatkan dua mainan yang cocok untuk adiknya, Chala segera membayar, lalu melanjutkan langkah menuju toko kue. Keadaan mall hari ini cukup ramai, banyak pasangan muda yang tanpa malu mengumbar kemesraan mereka. "dek, cinta gak selamanya indah" gumam Chala saat melihat pasangan yang begitu muda tengah bermesraan. Seperti orang gila, Chala tersenyum sendiri, merasa lucu. Melihat begitu banyak pasangan muda yang mengumbar kemesraan. Tidak aneh jika banyak juga pernikahan yang terjadi di usia muda. Keadaan yang benar-benar belum siap dan memaksakan diri untuk membawa hubungan ke jenjang serius tapi berakhir cerai, nikah muda dan cerai muda. Benar-benar sudah tidak asing lagi. Bagi Chala, nikah bukan hanya perkara cinta, tidak cukup menikah hanya berdasarkan aku cinta kamu dan kamu cinta aku, jadi aku yakin semua masalah bisa kita hadapi. Bagaimana jika keduanya sama-sama tidak dewasa dan tidak bisa menyelesaikan masalah? Belum lagi perkara ekonomi yang belum siap, cinta itu makanan untuk hati, sedangkan perut butuhnya nasi. Belum lagi jika mental belum stabil, bisa-bisa, marahan dikit langsung tampar, langsung tonjok. Jadi, menikah untuk bonyok? tentu itu hal bodoh untuk di lakukan. Tapi, sebenarnya, itu juga bukan hanya untuk anak muda, yang cukup umur dan belum siap tapi tetap memaksakan juga tidak akan berakhir baik. Intinya, menikah itu memang harus matang dari segala sisi. Harus sudah terpikir, setelah menikah itu rumah tangga mereka akan seperti apa. Menemukan toko kue favorite nya , Chala masuk dan langsung memilih cake yang dia suka, sampai akhirnya kegiatan dia terganggu karena ponsel yang berdering. Meletakkan belanjaannya di meja kaca yang ada di toko, Chala terpaksa mengangkat telepon tersebut. "Chal! lo ngapain aja sih? baca grup!" bentakan langsung Chala terima dari Nia, orang yang menghubunginya. Chala memutar bola matanya "gue sibuk, gak sempet buka grup" bohong Chala, karena kenyataannya, bukan dia tidak punya waktu, tapi tidak punya keinginan. "sombong banget! yang sibuk bukan cuma lo, tapi mereka pada buka grup tuh" Chala menahan kesal "lo telepon gue mau marah-marah doang? kalau lo gak suka, lo tinggal kick gue dari grup" kesalnya dengan suara tertahan. Chala masih sadar tempat. Tidak mungkin dia berteriak kencang di tengah toko. "emang lo gak ada makasih nya ya jadi orang, udah di temenin dari masa sekolah, malah ngelunjak, sadar! kalau gak ada kita, lo gak bakal punya temen" "lo yang sadar! siapa yang mau gue masuk grup lo semuanya? gue keluar juga dari grup tetep di suruh masuk tuh, gue juga gak pernah minta di temenin sama kalian semua!" Chala langsung menutup sambungan telepon pembuat darah tinggi itu. Menghela napas, Chala berusaha tetap tenang meskipun rasanya ingin berteriak kencang. Hingga akhirnya Chala membawa belanjaannya dan membayar, ingin dia memilih kue yang lain, tapi sudah terlalu kesal. "terima kasih" ucap penjaga kasir sambil menyerahkan kantong berisi belanjaan Chala. "sama-sama" jawab Chala juga dengan ramah. Tidak ada tempat tujuan lain yang ingin Chala kunjungi, mood nya sudah jelek setelah mendapat telepon dari Nia, jadi dia putuskan untuk langsung pulang ke rumah. Chala menaiki lift yang akan membawanya langsung ke parkiran, terlalu lama jika dia menaiki eskalator. Keluar dari lift, Chala melewati pintu keluar dan melangkah menuju mobilnya yang terparkir. Tapi baru sekitar tujuh langkah, tangan Chala di tahan dengan begitu kencang hingga Chala hampir terjatuh. "Chala" Rasya, pria itu yang menahan Chala. "lepas!" Chala berusaha melepaskan tangan Rasya, tapi terlalu kuat. "engga. Aku mohon, dengerin aku dulu" "gak ada yang perlu di omongin lagi, Rasya, lepas!" Chala tetap berusaha melepaskan tangan Rasya yang malah semakin kencang. "engga. Aku akan-" "lepas atau gue teriak? sakit, Rasya!" Rasya seolah tuli sampai akhirnya Chala berteriak, meminta tolong, tidak peduli kalau dia menjadi pusat perhatian. "tolong!" teriak Chala. Lagi-lagi Rasya tidak peduli, tidak ada tanda-tanda dia akan melepaskan tangannya. Security datang, Chala langsung meminta pertolongan. "diem pak, gak usah ikut campur urusan rumah tangga orang!" bentak Rasya yang membuat Chala semakin menggeleng. "bohong pak! dia bohong. Saya bukan istri dia" "dia istri saya! dia kabur!" Rasya kembali mengeluarkan kebohongan dari dalam mulutnya. "bohong pak! dia bukan suami saya, tolong pak" Chala terus berusaha, rasa takut benar-benar melingkupinya sekarang. Rasya terus mengaku sebagai suami Chala dan Chala terus membantah, permintaan security agar Rasya melepaskan tangannya juga tidak di gubris, perdebatan benar-benar alot. Chala meminta agar mereka di bawa ruang keamanan juga di tolak oleh Rasya. Pria itu benar-benar keras kepala. "lepas!" seorang pria dengan langkah tegas menghampiri mereka. "siapa lo anjing?! jangan ikut campur" bentak Rasya. Satu tonjokan melayang ke wajah Rasya. Rasya yang terkejut mendapat serangan mendadak, langsung melepaskan tangan Chala. Segera Chala berpindah ke belakang security. Rasya melayangkan tonjokan balasan, sayangnya meleset dan tersungkur. Hal itu di manfaatkan oleh pria yang menolong Chala tersebut dengan menekan punggung Rasya. "borgol pak" perintahnya yang dengan cepat langsung di lakukan oleh security. "Kita ke kantor dan selesaikan ini" ucap security tersebut yang sudah memanggil rekannya yang lain. *** "Terima kasih ya dan maaf, anda harus repot-repot ikut terseret" ucap Chala dengan tulus. Setelah urusan dia dan Rasya di tangani oleh pihak keamanan dan Chala juga memberikan penjelasan. Chala di perbolehkan untuk pulang. Tapi sebelum pulang, Chala mengajak pria yang belum berkenalan langsung dengannya itu ke sebuah cafe. Setidaknya, Chala harus memberikan segelas kopi sebagai tanda terima kasih. "lo gak berubah ya Chal" celetuk pria tersebut yang langsung membuat Chala bingung. "maksudnya?" "lo gak inget gue?" Chala menatap wajah pria yang duduk di hadapannya dengan lebih intens dengan otak yang berusaha mengingat sosoknya. Tapi nihil, dia benar-benar tidak mengingat siapa pria itu. "Fajar. Gue Fajar gendut yang satu sekolah sama lo pas SMP" jelas pria yang bisa menebak jika Chala memang tidak ingat dengan sosoknya. Mata Chala membulat "astaga, Fajar? Fajar olimpiade kan? bener?" Chala bertanya dengan antusias. Dia tidak menyangkan jika Fajar yang dulu dia kenal benar-benar telah berbeda. Pria itu tertawa sambil mengangguk "ya, lebih terkenalnya Fajar gendut" "gue ingetnya lo si Fajar olimpiade yang gak pernah kalah. Dewa banget deh, kesayangan guru" "bisa aja lo. Gimana? kaget gak?" "iya. Sorry ya, gue gak langsung ngenalin lo" "santai, perubahan gue sukses berati" "gimana kabar lo?" "baik. Lo sendiri kenapa bisa terlibat sama acara sinetron kaya tadi?" ledek Fajar. Chala memutar bola matanya "gue juga gak mau! itu cowok aja yang gila" "mantan lo?" "bukan. Temen SMA" "jangan bilang kalau dia ngejar lo dari pas masih sekolah?" "bener banget" "Gila, Chala emang gak berubah, pesona lo gak pernah kalah" "lebay lo" "next, jangan sampe lo terlibat sama orang jelek kaya dia lagi. Repot, kepalanya keras banget" "jangan sampe. Gue aja gak tahu kalau ada dia, tiba-tiba narik tangan gue gitu aja" "lo udah nikah?" "pertanyaan lo kaya tante-tante lebaran" "sorry, sorry kalau lo gak nyaman" Chala mengibaskan tangannya "engga. Gue bercanda. Gue belum nikah" "pacar?" "gak ada juga" "oke. Jadi ada kesempatan ya?" "Hah?" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD