Chala sudah tiba di rumah, kedatangannya di sambut oleh sang bunda yang tengah duduk di ruangan keluarga dengan ditemani drama kolosal dari negeri gingseng.
"Bun, aku ke kamar dulu" Chala tidak pernah memeluk bundanya atau keluarga yang lain setelah pulang kerja, dia akan mandi terlebih dahulu, baru kemudian memeluk mereka.
Selesai bersih-bersih, Chala kembali ke ruang keluarga, mendaratkan bokongnya di samping sang bunda lalu memeluknya.
"kenapa teh?" bunda Qiana mengusap lembut kepala Chala, menyampingkan tayangan di layar kaca agar dapat memperhatikan sang putri.
"capek bun"
Bunda Qiana tersenyum dengan lembut "gak apa-apa teh, kalau capet itu wajar. Teteh boleh kok istirahat, tapi abis itu teteh semangat lagi. Ada cerita apa hari ini?"
Chala menghela napas "aku cuma ketemu temen lama pas sekolah. Mereka nyebelin banget, salah satu dari mereka mau nikah, terus aku kena sindir"
"teteh mau nikah cepet juga?" tanya Qiana dengan lembut.
Chala menggeleng "engga bun. Aku belum mau nikah"
"teteh gak ada dendam karena hal dulu kan?"
"gak ada bunda sayang. Teteh beneran emang pengen fokus aja dulu di karir" jawab Chala.
"makan dulu yuk, teteh pasti belum makan"
Chala mengangguk, lalu keduanya pergi ke ruang makan. Bunda Qiana menyiapkan makan malam, sedangkan Chala duduk menunggu. Karena macet saat perjalanan pulang, Chala melewatkan makan malam bersama, jadi dia makan sendiri sekarang dengan bundanya yang menemani.
Chala mengangguk "papa sama Abian ke mana bun?" tanya Chala lalu mulai menyantap makan malamnya.
"di kamar adek kayanya, tadi abis beli mainan baru, jadi papa bantu rakit" jawab Qiana sambil mengisi air minum ke dalam gelas Chala.
"terima kasih bunda" Chala tersenyum senang dengan perlakuan bundanya.
"abisin ya teh" Qiana mengusap lembut kepala Chala, lalu duduk di kursi sebelah kanan.
"bunda gak mau temenin aku makan?" Chala bertanya setelah menelan suapan pertamanya.
"ini bunda temenin teteh"
"maksudnya makan lagi, bun"
Qiana menggeleng "bunda masih kenyang, teh"
"eh, si cantik, udah pulang" Chala dan Qiana sontak menoleh ke sumber suara. Ada papa Valdo yang menghampiri mereka dengan senyum lebarnya.
Qiana bangun dari kursinya "duduk pa, bunda ambilin puding" lanjutnya.
"siap, sayang" Valdo langsung duduk di kursi. "gimana hari ini? good or bad?" tanya Valdo pada Chala.
Chala menghela napas "good tapi bad juga" jujur Chala lalu kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"teteh capek katanya pa" Qiana datang lalu meletakkan piring kecil berisi puding lengkap dengan fla nya.
"ya namanya manusia yang kerja, pasti ngerasain capek"
"gimana ya, kalau urusan kerjaan, semuanya good, bersyukur hari ini gak banyak pasien yang terluka parah, tapi bad karena aku ketemu orang-orang nyebelin" jawab Chala lalu meneguk air putih dalam gelas yang ada di sebelah piringnya.
"orang nyebelin itu gangguin kamu?" tanya Valdo.
Chala mengangkat bahunya "gitu deh" ucapnya lalu melanjutkan makan.
"abisin dulu, nanti cerita lagi" suruh Qiana yang di angguki Chala. Wanita kesayangannya itu kembali pergi ke balik konter dapur dan kembali dengan puding untuknya.
"Abian lagi apa pa?" tanya Qiana.
"masih ngerakit, cuma udah gak mau di bantuin" jawab Valdo lalu menyuapi Qiana puding. "enak kan? masakan kamu emang gak pernah gagal, sayang" puji Valdo.
Chala menatap iri pada kedua orang tuanya yang bersikap manis satu sama lain. Kedua orang tuanya benar-benar beruntung karena memiliki satu sama lain. Bunda yang memiliki papa dan papa yang memiliki bunda. Papa yang begitu mencintai bunda, meletakkan bunda sebagai prioritas utamanya, sedangkan bunda yang begitu menghormati papa sebagai kepala keluarga.
"bun, pa. Kalian tuh pernah berantem hebat gak sih?" tanya Chala lalu memasukkan suapan terakhirnya, porsi makan malamnya memang sangat sedikit. Chala selalu bermasalah dengan pencernaan jika dia makan malam dengan porsi besar.
"ya pernah lah teh" jawab Valdo.
"hah? seriusas?" Chala terkejut, bahkan nasi di dalam mulutnya ada yang menyembur.
"teteh, telen dulu" Qiana mengingatkan.
Chala langsung menelan kasar makanan di dalam mulutnya, meneguk habis sisa air di dalam gelas. "kapan?"
"kalau malem" jawab Valdo dengan senyum lebar.
"papaaaa!" Chala berteriak protes. Bukan berantem itu yang dia maksud!
Valdo tertawa "papa sama bunda jelas pernah berantem, tapi kalau sampe yang marah besar, untungnya gak pernah, karena setiap masalah yang ada, papa sama bunda akan langsung ngobrol, gak ada rahasia-rahasia, semuanya terbuka. Kalau rahasia begitu, yang ada numpuk masalah namanya, masalah yang di tumpuk, gak akan berhasil, makin besar yang ada dan meletus deh. Jadi, sekecil apapun, kita akan langsung ngobrol" jelas Valdo kemudian.
"beruntung banget bunda sama papa. Aku bisa gak ya punya rumah tangga yang harmonis juga?"
"ya bisa dong sayang. Bunda yakin, anak bunda pasti punya rumah tangga harmonis, anak bunda itu hebat, pasti dapat suami yang hebat juga" yakin Qiana.
"tapi jangan sekarang ya teh, papa belum siap."
"papa, Chala udah dewasa, mau sekarang juga kalau itu udah keputusan dia, jangan larang. Belajar dari yang sudah terjadi. Papa gak mau di bohongin, tapii kalau memang nanti Chala ketemu orang yang tepat gimana? jujur salah, bohong juga salah. Biarin aja, Tuhan itu lebih tahu kapan jodohnya datang." jelas Qiana.
Chala tersenyum "engga kok. Gak sekarang, lagian sekarang ini aku emang pengen fokus kerja aja, gak mau mikirin cowok dulu. Tapi kalau memang jodohnya udah datang, Chala minta restunya aja"
"Teh, bunda gak akan pernah larang teteh punya hubungan, selama sehat, terus bukan sama laki-laki orang lain, bunda akan setuju. Apa yang terjadi dulu itu teguran buat kita semua. Buat teteh supaya gak bohong lagi, buat bunda terutama papa biar bisa lebih terbuka lagi"
Chala tersenyum hangat, bundanya memang terbaik "iya bunda sayang. Makasih ya, kalau sekarang teteh emang gak kepikiran. Beneran, eh sempet sih kepikiran, tapi kalau weekend aja" jawab Chala yang membuat bundanya menggelengkan kepala sedangkan sang papa tersenyum cerah.
"papa kamu, denger penjalasana kamu, diem-diem senyum tuh, seneng" goda Qiana.
"Apa sih bun, suka bener deh" sahut Valdo.
"tapi papa jangan kaget ya, kalau tiba-tiba aku bawa pacar, kan pikiran bisa berubah cepet"
"ya elah teh, baru aja papa ngerasa seneng"
"kamu ih pa! jangan sering begitu, gimana kalau nanti Chala susah dapet jodoh? ucapan itu doa!" protes Qiana.
"tenang bun, kalau umur Chala udah cocok, papa doa lagi biar dapet jodoh, ucapan adalah doa"
Qiana menghela napas dengan mata tertutup, sudah angkat tangan dengan tingkah suaminya.
"oh iya, pa, bun, menurut papa sama bunda, nikah kontrak tuh gimana?"
Valdo yang tengah minum langsung menyemburkan air di dalam mulutnya, Qiana yang menyuapkan puding langsung batuk karena tersedak.
"teteh! apaan sih" kesal Valdo.
Chala mengerutkan keningnya "papa yang kenapa? lebay banget ekspresinya"
"teteh kenapa tanya begitu, sayang?" Qiana bertanya saat dia sudah mengatasi tersedaknya.
Pertanyaan Chala benar-benar seperti bom untuk Qiana dan Valdo. Mendadak, dan terlalu berat.
"iya, kenapa teteh tanya-tanya begitu, aneh. Makanya papa kaget" Valdo mencari alasan.
"lebay, kaya pernah aja" sahut Chala santai yang tanpa dia sadari membuat kedua orang tuanya merinding.
"ekhm. Jadi, kenapa teh?" Qiana benar-benar berusaha terlihat biasa saja.
"engga bun, tanya aja. Soalnya ada orang gila ngajakin nikah kontrak"
"GAK BOLEH!!" Valdo langsung menggebrak meja, membuat Qiana dan Chala tersentak.
"papa! bikin kaget aja!" protes Chala sambil mengusap dadanya.
"gak boleh ya teh, awas aja! siapa orang yang ngajak begitu? papa tonjok! enak aja ngajak anak papa nikah kontrak. Gila kali" kesal Valdo berapi-api.
Dalam hati, Qiana menyindir suaminya, suaminya juga gila karena dulu mengajaknya untuk nikah kontrak. Meskipun dia sendiri juga gila karena menerima tawaran itu.
"apaan sih pa! engga lah! aku gak segila itu buat terima tawaran dia. Lagian, aku gak ngebet nikah, jadi selow aja. Ogah juga aku nikah sama model cowok gila begitu, nikah kok kontrak, gak ada otak! sinting" kesal Chala yang langsung membuat Valdo menelan ludahnya sendiri. Dia tersindir!
***
"kenapa kamu pa?" tanya Qiana saat mereka sudah masuk ke kamar. Chala juga sudah Qiana suruh untuk istirahat. Pekerjaannya yang berat bisa menguras tenaga dan pikirannya, jika tidak pintar memanfaatkan waktu untuk istirahat, Chala pasti sudah tepar, sakit.
"engga" jawab Valdo dengan wajah cemberut.
"ke sindir ya?" Qiana tersenyum sinis pada suaminya. Tapi tidak benar-benar sinis, dia hanya berniat meledek.
Valdo berdecak, menatap kesal Qiana "iya. Kenapa? gak suka?"
Qiana pura-pura berpikir "kalau Chala tahu papanya gila karena ngajakin nikah kontrak, ekspresinya gimana ya?"
Mata Valdo membulat "bun, jangan gitu dong! masa teteh di kasih tahu?! rahasiia kita itu bun!" protesnya keras. "lagian, yang gila juga bukan aku aja bun" lanjutnya.
"lah jangan suka ngajak orang, kamu aja sendiri"
"lah, engga. Kamu juga gila bun, kok mau aja aku ajak begitu, kan berarti kita sama-sama gila" jawab Valdo dengan wajah sok polosnya.
"papa!" Qiana langsung mengambil sebuah bantal, memukul Valdo. "aku kalau gak punya hutang juga ogah nikah sama kamu!" kesal Qiana. Napasnya memburu, emosi.
Valdo lagi-lagi menelan ludah, alamat ngamuk beneran istrinya. Terancam sudah kemakmuran dia beberapa hari yang akan datang. "bunda, bukan gitu maksud papa-"
"apa? iya! aku juga gila!" Qiana bersungut-sungut.
Sadar jika dia tidak akan menang dalam perdebatan atau adu mulut, Valdoo langsung memeluk Qiana. Meskipun Qiana memberikan respon kesal dan berusaha melepas pelukannya, Valdo malah semakin kencang memeluknya. "maaf ya sayang. Aku yang gila kok, tapi setidaknya, kalau aku gak gila, kita gak akan ada di posisi ini, kita gak akan menikah, kita gak akan berpisah dan sadar tentang siapa yang sebenarnya selama ini di cintai dan di butuhkan, kita gak akan punya anak-anak kita, kita gak akan punya rumah tangga seperti sekarang yang bahagia dan yang paling penting, kalau aku gak gila, aku gak akan punya kamu di hidup aku. Wanita hebat dan luar biasa. Wanita yang aku mau untuk hidup sama aku sampai Tuhan mengambil nyawa aku." jelas Valdo.
Qiana menghela napas, setuju dengan ucapan Valdo, jika tidak ada pertemuan yang gila, mungkin saat ini Qiana masih menjadi seorang karyawan sekaligus perawan tua bangka yang berusaha melunasi hutang ayahnya.
"tapi pa, meskipun kita berakhir bahagia, bunda gak mau kalau apa yang di alami kita juga di alami sama Chala, bunda gak mau, sampai kapanpun, bunda gak akan setuju kalau sampai Chala begitu. Itu salah, dan cukup kita aja yang lakuin, anak-anak kita jangan sampai ada yang rasain itu. Karena ending dari setiap tokoh pasti berbeda"