2. Nikah Kontrak

1374 Words
Satu tahun berlalu sejak kejadian Chala di selingkuhi dan papanya bahkan keluarganya tahu jika Chala diam-diam menjalin hubungan dengan seseorang. Tidak ada yang berubah antara Chala dan keluarganya, mereka terkejut, lalu memberikan beberapa saran agar kedepannya Chala mau berkata jujur dan setelah itu semuanya tetap seperti sedia kala. Chala juga benar-benar belajar dari pengalaman, dan kini lebih memilih fokus pada pekerjaannya di rumah sakit. Selain memang belum bertemu yang cocok, Chala juga takut jika dia mendapatkan pria b******k seperti mantannya. Memasukkan ponselnya setelah mengirim pesan kepada sang bunda bahwa dia akan pulang terlambat, Chala lalu menyalakan mesin mobil. Dia memiliki janji bertemu dengan teman-teman masa sekolahnya. Jika Chala memiliki alasan untuk tidak datang, dia pasti akan lakukan, sayangnya dia sudah kehabisan alasan. Bisa di katakan jika mereka bukan teman dekat, karena Chala merasa jika mereka bukan temannya, hanya sekumpulan orang-orang yang mendekati Chala karena sebuah kepentingan. Melajukan mobilnya, Chala pergi menuju salah satu restoran di Jakarta Pusat. Chala tersenyum ramah sambil mengangguk singkat pada pegawai restoran yang menyambut kedatangannya. Hari ini, sesuai janji karena di paksa, Chala akan bertemu dengan teman-teman sekolahnya. Sudah sejak lama mereka merencanakan untuk berkumpul atu berlibur bersama, tapi baru hari ini akhirnya wacana tersebut terjadi. Meskipun Chala juga sempat ngeles sedikit karena sejujurnya, dia kurang suka berkumpul seperti ini. Mengedarkan padangan pada isi restoran, seorang perempuan bebaju hitam melambaikan tangan, memberi kode kepada Chala jika mereka ada di sana. Chala menghampiri meja yang sudha terisi lima perempuan, tersenyum lebar lalu menyapa semuanya. "ibu dokter. Sibuk banget" Chala tersenyum pada Agustin, perempuan berbaju hitam yang sebelumnya melambaikan tangan "iya, maklum aja, pegawai" "sampe lupa cari pacar ya emmm" sahut perempuan lain bernama Tina. Chala hanya tertawa, sudah kebal dengan segala sindiran yang dia dapatkan di grup chat mereka. Sejak sekolah, Chala paling malas mencari masalah, tapi tidak sebagian orang yang malah memang suka mencari masalah. Bisa dikatakan mereka adalah geng yang cukup di takuti di sekolah, saat mereka mengajak Chala untuk bergabung, dia setuju saja, meskipun Chala lebih banyak menghabiskan waktu dengan yang lain, berbaur dengan siapapun tanpa pandang bulu. Jadi, tidak aneh jika Chala mendapat sebutan bidadari di tengah lingkaran setan. "gimana Chal, belum ada yang cocok juga? belum ada yang nyantol?" Tina memajukan tubuhnya sambil bertanya kepada Aurora. "belum" jawab Chala santai. Dia memanggil pelayan, memesan minum untuknya. "makanya, jangan sok jual mahal Chal, turunin juga dong standar nya. Biar laku" "lah, ngapain? ya kali jadi cewe jual murah" "nikah enak tahu Chal" celetuk Nia dengan wajah yakinnya. Di antara mereka semua, memang hanya Chala yang belum memiliki pasangan. "saking enaknya sampe udah dua kali ya Ni?" sahut Chala. Nia memang sudah menjanda tiga tahu lalu, kemudian menikah lagi satu tahun kemudian. "sialan lo!" "yaudah lah, ini kumpul emang mau pada ngomongin gue? lagian juga, ngapain sih ngurusin gua, mau gue belum nikah, atau belum punya pacar. Kan bukan urusan lo semua, tapi kalau emang mau ngurus gak apa-apa sih, sekalian urusin WO nya, semua biayanya, baru deh, sok aja." cerocos Chala. Tidak peduli jika di belakang Chala mereka memiliki grup lagi tanpa dirinya. Dia akan amat bersyukur jika begitu. "ya elah, kita temen lo, wajar dong tanya begitu" sinis Riska. "gak wajar. Bunda gue aja gak begitu" "bunda lo gak sayang lo kali, jadi bodo amat" "eits, jangan samain bunda gue sama mama lo, dong. Kita ada di kasta berbeda dalam hal kasih sayang orang tua ya. Sorry to say" Chala menampilkan senyum sinisnya. Bodo amat mau dii bilang jahat, toh mereka lebih dulu mengusik, jadi Chala hanya melakukan pembelaan. "sialan lo Chal!" Chala hanya mengangkat bahunya, tidak peduli. "oke. Stop. Gue gak mau ribut, dan sesuai dengan apa yang kita bicarakan di grup, hari ini gue datang buat kasih kalian bahan" jelas Arin sambil menaikkan paper bag ke atas meja, menyerahkan ke semuanya. Arin akan menikah dua bulan lagi, dia meminta untuk semuanya menjadi bridesmaid. Chala dan yang lain mengucap terima kasih. Lalu pesanan milik Chala datang. Di saat yang lain mulai mengobrol, Chala memilih diam dan memainkan ponselnya, terlalu malas untuk bergabuung dengan obrolan tidak penting. Membicarakan keburukan perempuan lain dan menyebarkan berita yang belum jelas. "eh, gue balik duluan ya. Gue ada janji lagi" Chala menatap teman-temannya. Di bandingkan tetap duduk tanpa melakukan hal jelas, Chala lebih baik pulang. "Yah Chal, cepet banget" "sorry ya Arin, sukses buat rencana pernikahan lo. Gue usahakan datang" "thank you Chal" "gue pamit ya" Chala meraih tas dan paper bagnya, dia juga meletakkan satu lembar uang seratus ribu untuk membayar minumannya lalu melangkah keluar dari restoran. Dia yakin, setelah kepergiannya, mereka semua akan langsung menjadikan Chala sebagai topik pembicaraan. *** Chala sudah berada di mobil, siap untuk pulang, Tapi baru saja Chala akan melajukan mobilnya, Ponsel Chala berdering, awalnya Chala akan menerima panggilan tersebut, tapi saat melihat bahwa panggilan itu berasal dari nomor yang tidak dia kenal, Chala mengabaikannya. Dia melajukan mobilnya menuju rumah. Sayangnya, lima belas menit bekerndara, ponselnya kembali berdering dan itu cukup menggangu. Terpaksa Chala memberhentikan mobilnya di sisi jalan. Panggilan teleponnya suda kembali mati, tapi sebuah pesan Chala terima. 08xx-xxxx-xxxx Chal, ini aku Rasya. Please, kita ketemu hari ini. Aku gak akan mundur Chal, meskipun kamu terus blok aku. Aku akan tetap cari cara. Chala menghela napas, memejamkan matanya sejenak mencoba mengurangi kesal di hatinya. Rasya, pria yang mengejarnya sejak mereka baru masuk sekolah menengah atas kembali muncul setelah tiga tahun berhenti mengerjarnya. Rasya bukan tipenya, pria itu terlalu berisik dan terlalu percaya diri. Selama sekolah bahkan sampai mereka lulus, Rasya terus mengejarnya. Lalu berhenti tiga tahun yang lalu entah karena apa dan sekang kembali lagi. Sungguh menyebalkan. Tidak ingin semuanya berlarut dan malah menjadi beban di hari-harinya yang akan datang, Chala menerima ajakan pria itu untuk bertemu. Jari-jarinya mengetik balasan untuk Rasya dan tidak perlu waktu lama, Chala sudah kembali mendapat balasan, 08xx-xxxx-xxxx oke, sayang. Di cafe DHH ya, aku tunggu. Love you. Membaca pesan balasan dari Rasya, Chala refleks berdecak. Pria itu benar-benar menyebalkan. Dari ruang obrolan Rasya, Chala beralih ke ruang obrolan sang bunda, mengirim pesan untuk mengabarkan jika dia akan pulang lebih lama lagi. Selesai mengirim pesan, Chala kembali melajukan mobilnya menuju tempat yang Rasya katakan dengan bantuan maps. *** Baru keluar dari mobil, Chala sudah melihat sosok Rasya melambaikan tangan. Pria itu duduk di kursi yang berada di luar cafe. Tidak membalas, Chala langsung menghampiri dan duduk di kursi yang ada di depan Rasya. "Hai, Chal. Kamu makin cantik aja" puji Rasya dengan senyum lebar. "makasih" "mau pesan dulu? aku pesankan. Mau apa?" "gak perlu!" Chala menghentikan gerakan Rasya yang bangkit dari kursi. "kita langsung bicara aja" lanjutnya. Rasya mengangguk, lalu kembali duduk. "Chal, tentang perasaan aku selama ini, aku serius Chal. Lihat aku, bukankah kita semakin cocok kalau bersama?" Chala menatap tampilan Rasya, pria itu kini berprofesi sebagai abdi negara, tapi Chala tidak peduli, mau profesinya apa, dia tetap tidak suka. "emang kita itu jodoh Chal!"lanjut Rasya dengan bangga. Chala mengembuskan napasnya dengan kasar "Rasya, dengar. Harus berapa kali juga gue bilang kalau gue gak akan terima lo? berhenti Sya. Udah, cukup. Cari perempuan lain, jangan gue. Gue gak suka sama lo dan gak ada niat buat suka juga. Sorry kalau ucapan gue kasar, tapi mau lo usaha gimanapun, gue gak akan terima dan gaka akan berusaha terima" jelas Chala berharap agar Rasya mengerti. Rasya menggeleng "engga. Aku tetep berusaha buat kamu sayang sama aku" Chala berdecak, kesal dengan keras kepala Rasya "sumpah ya Sya, jangan bikin gue marah. Gue harus ngomong gimana lagi biar lo berhenti? gue yakin kok di luar sana banyak yang suka sama lo atau mungkin malah lo yang godain mereka" "mereka gak penting, lo yang paling penting" "pokoknya lo jangan ganggu gue lagi. Jangan berusaha apapun juga!" Chala bangun dari duduknya, bersiap untuk pergi karena merasa semua sudah selesai. Rasya menggeleng dan dengan cepat menahan tangan Chala "Chal, tapi aku serius. Meskipun aku pacaran sama yang lain, deket sama yang lain. Aku cintanya tetep sama kamu" "Rasya. Cukup!" "gak Chal. Aku gak mau. Gimana kalau kita nikah kontrak?" "gila kamu!" "aku gak gila, aku kasih opsi. Kita nikah kontrak, satu tahun, kalau kamu jatuh cinta sama aku, kita hapus kontraknya, kalau kamu mau kita pisah, kita pisah. Gimana Chal?" Satu tamparan melayang ke pipi Rasya "emang gak salah gue selalu nolak lo" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD