Vulnerability. Hati dan perasaanku punya sifat yang mudah luka. Jadi untuk kamu, aku peringatkan agar berhati-hati.
"Pelita Inera Lestari, sehabis ini tolong temui saya di gedung A. Sampai disini dulu, terima kasih."
Kalimat terakhir dari Mas Yuyus yang membuat Peta kaget. Kayak dikasih efek kejut yang meresahkan. Hari sabtu adalah saat di mana kelas ekstensi praktikum mata kuliah pemrograman Java. Kelas ini biasanya dilakukan di lab komputer. Asisten dosen adalah orang yang mengawasi sekaligus yang menilai hasil kodingan sesuai study case yang diberikan. Hari ini tampak tak biasa karena Mas Yuyus datang. Ia mengajari tentang beberapa hal terkait case itu. Lalu ia menyuruh Peta menemuinya di ruangannya.
"Petaaaaaa, mau diapain lu sama Mas Yuyus? Ah, gue iri tahu."seru Dully bak gadis desa yang baru aja ketemu cowok asing yang tampan.
"Apa sih Dul? Gue malah takut. Kenapa ya dia?"balas Peta sambil berpikir.
"Aneh sih. Lo ketemu dia cuma berdua kan? Anjir lah."seru Channy gemas.
"Otak lo jangan ngadi-ngadi ya, Cha."ledek Shava.
"Berisik! Gue mau temui dia dulu."seru Peta sambil berdiri.
"Semangat Ta!!!"teriak ketiga cewek itu. Mereka seperti orang yang menyemangati temannya yang akan di sidang. Padahal cuma mau nemuin Yuyus. Dasar aneh. Ini bukan peristiwa besar guys. Ini cuma kejadian biasa yang biasa banget. Nothing special.
Peta deg-degan bukan main. Apakah doi tahu tentang channel Telegram itu? Apakah doi mencurigai Peta? Ataukah?
Sial. Gue jadi parnoan. Fokus Ta, fokus! Gak mungkin dia tahu.
Peta pergi ke lantai 2 gedung A. Gedung A sebagian besarnya digunakan untuk ruang dosen. Peta mengetuk pintu ruangan yang di depannya tertulis nama Yustiawan Wardian.
"Iya, silahkan masuk!"
Peta berjalan dan langsung duduk di bangku yang disediakan. Ia bingung harus berbicara tentang apa. Ia diam sambil menunggu cecunguk di depannya itu mengatakan sesuatu.
"Ah iya, Pelita, saya sengaja panggil kamu kesini karena mau menawari sesuatu."
"Apa pak? Eh, mas?"
"Kamu mau jadi asisten dosen gak, untuk kelas saya di reguler B? Saya rasa kamu cocok karena sejauh ini nilai kamu bagus sekali."
What the hell! Otak Peta berpikir keras. Haruskah ia jadi asdos? Kalau ia jadi asdos, ia harus rela berhenti jadi freelancer. Uang yang diperoleh pasti lebih sedikit. Gaji asdos tak sebanyak itu untuk diandalkan. Kebutuhan semakin buncit di saat pemasukan stagnan. Dilema anak muda di Kota Jakarta. Tapi kalau bekerja di PT Voyavoya, dia dapat banyak uang. Ah ini bukan soal uang lagi. Ini demi sesuatu yang gak bisa dibayar dengan uang. Ini jauh lebih berharga dari uang.
"Kenapa? Apa kamu kerja fulltime? Atau emang gak bisa?"tanyanya lagi.
"Hmm, bisa sih mas. Saya kerja senin sampai jumat. Apa bisa?"
"Itu gak masalah kok. Kelas B praktikumnya hari sabtu, sebelum kelas praktikum kalian. Gimana?"
"Iya deh mas. Saya mau."
"Baguslah kalau begitu. Saya akan kirim formulir onlinenya untuk kamu isi. Bisa berikan saya nomor w******p?"
"Oh iya, saya ke toilet sebentar ya."lanjutnya lagi setelah memberikan ponselnya pada Peta.
Peta langsung menuliskan nomornya di ponsel Mas Yuyus. Dalam waktu yang singkat itu, ia berhasil memindahkan semua foto Mas Yuyus ke emailnya. Kesempatan besar ini harus digunakan sebaik mungkin. Dalam hatinya, Peta merasa senang luar biasa. Rezeki anak beruntung. Dia punya kesempatan untuk mengulik informasi Mas Yuyus lebih dalam. Sedalam lautan kali ya.
"Ini mas."ucapnya seraya memberikan ponsel itu kepada pemiliknya.
"Baiklah. Sampai disini saja, kamu akan saya kabari via WA."
"Baik Mas. Saya permisi."
Peta langsung berjalan dan turun ke lantai 1. Ia sangat senang dengan kejadian yang kebetulan ini. Ia ingin sekali membuka emailnya tapi takut ketahuan. Ia harus menunggu sampai tiba di apartemen. Ia tak boleh membukanya menggunakan wifi kampus. Itu sangat berbahaya. Takut ada hacker yang lebih pintar. Kalau nemu celah sedikit aja, bisa ketahuan.
"Ta, lo dari mana?"tanya seseorang.
Rama!
"Hey Ram. Gue ditawarin Mas Yuyus jadi asdos."
"Serius? Wah, keren banget ya."
"Biasa aja kali. Eh, nge game yuk. Yang lain di mana?"
"Masih di lab. Ayo bareng aja."
Peta dan Rama berjalan bersama menuju lab komputer yang tak terlalu jauh itu. Mereka sibuk membicarakan game online dan PS5. Peta pribadi, ia tak terlalu maniak game seperti orang-orang. Ia hanya sibuk main Animal Crossing di Nintendo Switch. Dan kadang-kadang main PUBG bareng anak-anak cowok.
"Berduaan bae lo!"ledek Alfa saat Peta dan Rama tiba di sana.
"Cihuy!!!"
"Cie cie!!!"
Bacot banget sih!!
Peta langsung duduk di kursinya hendak menyelesaikan tugas lab. Dalam otaknya ia berpikir kalau tugas itu amat sangat mudah. Tapi ia pura-pura berpikir keras. Ia hanya perlu berakting bak artis sinetron papan atas. Jangan kelihatan banget kalau lo jenius. Biar gak terlalu diomongin.
"Ta, gimana tadi?"tanya Channy kepo.
"Apanya Cha?"
"Lo diapain sama Mas Yuyus?"
"Diperkosa!"
"HAHHHHH???"
Teriakan Channy berhasil membuat semuanya menoleh. "Maaf guys, maaf!!"ucapnya dengan penuh penyesalan. Bikin keributan di tengah orang-orang yang berkonsentrasi adalah perbuatan jahat.
"Lo serius atuh, Ta."
"Hahaha, gue bercanda Chanella Gultom. Gue cuma ditawarin jadi asdos."
"Terus, lo mau?"
"Ya jelas!. Lumayan kan, jadi sering ketemu dia."
"Ish, menyebalkan!"
Dalam hatinya Peta merasa senang. Bikin Channy kesal ternyata menyenangkan. Bahkan ia bisa dapetin nomornya Mas Yuyus dengan cuma-cuma. Gak perlu bongkar sana dan bongkar sini. Lihat nih, dapat tanpa usaha yang berarti. Orang pintar akan kalah sama orang beruntung. That’s why, Peta gak pernah senang jadi orang pintar. Dia lebih suka kalau dapat keberuntungan yang gak disangka-sangka. Udah kayak kejatuhan durian.
"Eh Ta, jadi lo tahu dong nomor Mas Yuyus?"
Peta mengangguk. Bangga dong bisa bikin Channy kesal. Apalagi, Channy itu demen banget sama ketampanan Mas Yuyus. Sampai-sampai dia buta. Dia gak kesal walaupun Mas Yuyus bikin murka seisi kelas. Dia cuma peduli dengan perasaannya yang gak bakal berbalas itu. Duh, kasihan sekali.
"Bagi dong!"desak Channy dengan wajah penuh harap. Ngebet banget dia sama Mas Yuyus. Padahal, kehadirannya aja gak ter notice.
"Eh, entar gue dilabrak sama dia. Nomor handphone itu privasi Cha."ucap Peta sok bijak. Padahal dia bekerja sebagai seorang pengganggu privasi orang lain. Dasar, muka dua.
Channy kesal. Ia langsung beranjak. Ia merasa selangkah dibawah Peta. Ia masih semaniak itu sebagai Yuyus Fans Club. Tiba-tiba notifikasi muncul di ponsel Peta. Sebuah pesan di channel telegram Error 404. "Min, kalau lo pintar, tolong kasih gue nomor Mas Yuyus."