|Part 22|

1353 Words
GUI. Tampilan yang menarik selalu jadi gambaran keseluruhan. Malam keakraban atau yang sering disebut makrab adalah acara kece badai yang akan sulit dilupakan. Dan hampir semua orang excited untuk menjalani kegiatan itu. Kapan lagi kalau gak sekarang? Mereka menyewa truk TNI terbuka dengan harga yang relatif murah. Menaiki truk ini adalah salah satu impian Channy. Ia bilang belum pernah jalan-jalan dengan truk itu. Naik truk, update Sosmed dan bikin followersnya iri. Soalnya, dia juga pernah iri ngelihat orang merasakan hal ini. Impian yang setelah sekian lama baru terkabul. Ini akan jadi pengalaman yang seru. Titik pertemuan adalah Stasiun Bogor pada pukul 07.00 WIB. Emang harus sedini mungkin biar gak kehabisan waktu di jalan. Time is money, right? Peta terpaksa ikut rombongan Channy dkk. Alasannya? Dipaksa oleh Chanella Gultom. Paksaan yang dilakukan dengan terpaksa. Jadi bisa diketahui gimana wajah bete Peta saat ini. Peta mengenakan jaket warna grey dan celana jeans longgar. Sneaker Converse warna putih menyempurnakan penampilannya. Tak lupa ia membawa sendal swallow sebagai alternatif kalau hujan turun. Bogor memang terkenal sebagai kota hujan. Pepatah lucu bilang, “Sediakan payung sebelum Bogor.” Dan untung saja kota itu tak ikut menambahkan badai dan guntur sebagai ciri khasnya. Bisa bahaya dan tak ada orang yang mau liburan ke sana. Jadi kota mati deh. Ih, amit-amit. "Gimana tuh channel Telegram? Udah dapat info lagi?"tanya Ammi sambil menyemil di KRL. Padahal jelas ada larangan untuk makan dan minum di dalam KRL. Kalau saja ada petugas, mungkin dia akan disuruh lompat keluar dari jendela. Ah, itu cuma halusinasi. Halusinasi orang jahat seperti Peta. "Emang kenapa sih, lo kepo banget Mi? Kalau kepo mending join aja."ucap Peta kesal. Ia sebagai admin channel itu merasa harga dirinya tercoreng. Gak usahlah sok jaim kalau emang pengen join. "Gapapa, gue cuma mau tahu apa kekurangan idola kalian itu. Sebagai manusia, harusnya dia punya kekurangan yang tak bisa dimaafkan!"ucap Ammi blak-blakan. "Jahat banget sih!"ucap Channy menanggapi. "Dan gue gak mau join, gue gak mau kena masalah nanti." "Tenanglah hai wanita biasa, selagi gak ketahuan, tak akan ada masalah."seru Peta. "Tak ada jaminan untuk itu, Ta." Benar kata Ammi, tak ada jaminan bahwa semua ini akan mulus seperti jalan tol. Bertambahnya member Error 404 semakin membuat Peta khawatir. Mungkin saja ada anggota yang jadi benalu. Namun, Peta sudah merancang segalanya jika ketahuan. Ia sudah menutup akses dan tak akan ada yang tahu bahwa ia yang telah menciptakan channel unfaedah itu. Kalaupun tertangkap sebagai member, ia punya teman yang ikut tertangkap. Ada lima belas orang yang sudah terperangkap sebagai anggota channel itu. Jadi tidak masalah bukan? Waktu yang lama jadi tak terasa karena candaan yang terlontar selama perjalanan ke Bogor. Akhirnya mereka sampai di sana sebelum pukul 7 pagi. Ya, sesuai prediksi. Semuanya sudah berkumpul dengan style keren versi masing-masing. Tampilan kumuh dan office-able tak terlihat di sana. Wajah yang berbinar, bersih dan jauh dari debu. Badan yang wanginya melebihi parfum mahal tercium. Sepatu yang kinclong dan jauh dari kata bau anyep. Senyuman manis dan menawan terlihat jelas. Begitulah ciri-ciri orang yang ingin menikmati liburan dengan tujuan membahagiakan jiwa dan raga. Peta masih santai dan sibuk menata rambutnya agar tidak menyusahkan pandangan. Ia syok dengan seseorang terlihat jelas di depannya. Mas Faruk! What the hell! Untuk apa dia ikut makrab! Bukankah dia harusnya sedang menangisi hidup yang memilukan? Argh, harusnya Peta senang melihatnya ada disini. Tapi khawatirnya jauh lebih besar. Ia tercengang dengan apa yang ia lihat. Semua orang tampak menyapa Mas Faruk. Semua orang juga tahu kalau cowok itu sangat humble. Ia tampak biasa saja dan tak terlihat ada kesedihan. Peta tahu kalau cowok itu sedang pura-pura tegar. Aslinya, dia jauh lebih depresi dari Benny yang sibuk ngerjain skripsinya. Ting! Ting! Sebuah pesan w******p dari Eran.  Eran Eks : You know what I mean!  Peta : Don't ask me anything... ?  Peta takut, Mas Faruk bisa saja meretas ponselnya. Ia bisa saja berbuat sesuatu untuk mendapat informasi tentang siapa yang mengandukan perbuatannya. Berprasangka demi kebaikan itu penting. Argh, mau gila rasanya. Semua orang bersiap dan naik truk terbuka yang sudah parkir tak jauh dari stasiun. Mereka mengambil tempat ternyaman untuk menikmati perjalanan ke puncak. Tak lupa, gitar dibawa untuk menemani perjalanan panjang itu. Channy adalah orang yang antusias dengan semua ini. Ia sibuk mondar mandir sambil mengganggu orang lain. Suhendi, pacarnya, berangkat dengan mobil pribadi sebagai panitia acara makrab. "Lo seneng banget Cha?"tanya Peta menatap cewek itu. Ia sangat hiperaktif. "Banget! Kapan lagi gue bisa kayak gini." "Kenapa gak bareng Suhendi sih! Lo ngeganggu kenyamanan di tempat ini." "Males! Dia tuh nyebelin, pasti lagi sibuk main game. Gue bosan lihat mukanya." "Padahal pacar sendiri, tapi gitu!" "Lo gak tahu sih gimana rasanya. Pacaran itu ngabisin tenaga lahir batin." "Gue engga!"seru Shava ikut nimbrung. Badan mereka langsung terhempas disusul barang-barang yang berpindah tempat. Truk itu terlihat melintasi jalanan berliku. Bikin semua orang mengalami guncangan yang tidak biasa. "Ah elah, lo mah masih anget-anget taik ayam Shav."ledek Channy. “Lo bakal paham kalau udah pacaran sekian abad. Rasanya capek.”curhatnya tanpa diminta. "Tau, mentang-mentang udah official!"sambung Peta sambil tertawa. Peta juga merasakan hal yang sama. Sesi curhat dimulai. Cewek kalau udah ngumpul ujung-ujungnya memang curhat. Shava cerita tentang Rama yang boyfriend material tingkat tinggi. Cowok itu sangat romantis dalam menanggapi segala sesuatu. Ia selalu menjemput Shava, ngirimin makanan, telepon-an, video call-an hingga ngerjain tugas Shava. Entahlah, ini bisa saja disebut bucin. Peduli setan, memangnya menjadi bucin salah? Dibucinin adalah idaman semua orang. Untung saja, Rama serombongan dengan Suhendi. Tingkat kebucinannya membuat Shava tak bisa bergerak mendekati teman-temannya. "Emangnya gak risih Shav? Lo jadi gak bebas mau ngapain?"tanya Peta kepo. "Engga. I really like that. Mungkin terdengar aneh, tapi gue malah suka digituin. Yang penting gak sampai bikin gue musuhan sama temen-temen gue lah." Positif sekali anak ini! Gitar dilantunkan. Sebuah lagu dari Chrisye terdengar begitu merdu. Walaupun isinya anak milenial, tapi lagu-lagu lawas sangat sulit dilupakan. Lagu lawas selalu punya tempat tersendiri di hati manusia. Baik manusia jadul maupun manusia jaman sekarang. "Cinta akan kuberikan bagi hatimu yang damai Cintaku gelora asmara seindah lembayung senja" Selain dari suku yang beragam, anak Ekstensi juga punya bakat yang bermacam-macam. Ada yang punya suara emas, hobby bulutangkis, atlit renang, penulis puisi, hacker, pengajar bimbel, hingga ahli reparasi AC. Mereka semua disatukan oleh yang namanya teknologi informasi yang kian canggih dan menarik untuk ditelusuri. Dan bagi Peta, ini sangat menarik. Kayak punya banyak referensi dalam menjalani hidup. Lama-kelamaan semuanya hening. Setelah kelelahan berteriak gak jelas, semua orang memutuskan untuk diam dan tiduran. Peta mulai memejamkan matanya sambil menaruh jaketnya untuk menutupi wajah. Ia tak mau wajah itu terlihat jelek saat terlelap. Persiapan Peta untuk makrab tadi malam cukup menguras tenaga. Ia tidak boleh membawa sesuatu yang mencurigakan. Ponsel bututnya tak boleh dibawa. Informasi penting harus dihapus dari ponsel utama. Dan tak lupa Nintendo Switch sebagai hiburan kalau tiba-tiba bosan.  Seseorang mendatanginya dengan langkah yang hati-hati. Peta langsung membuka jaket untuk melihat orang itu. Pinta! "Oh, lo jadi bangun ya. Maaf!"katanya dengan ekspresi munafik. Emang itu kan mau lo? "Hehe, kenapa Pin? Ada yang mau lo tanyain?"ucap Peta dengan ekspresi yang tak kalah munafik. "Sebenarnya gue mau tanya, tentang cowok yang bareng sama lo minggu lalu." Sialan, kepo banget lo w***********l! "Oh Benny? Iya, lo mau tahu apa?" "Kenapa lo gak mau teman-teman tahu tentang dia?" Ish, sianjir! Dia pasti mau ngancem gue nih. Dasar Eran, kenapa dia gak bisa ngurus cewek ini sih? "Sebenarnya, gue itu orangnya self oriented. Gue gak suka orang lain tahu tentang hidup gue. Lo tahu tentang Benny juga gak sengaja kan? Gue harap lo ngerti prinsip gue ya Pin."tegas Peta begitu yakin. Ya, semoga cewek ini sadar kalau ucapan gue itu ancaman! "Cuma gara-gara itu?"tanyanya gak percaya. "Iya. Segala sesuatu gak butuh alasan. Gue cuma berharap lo bisa jaga rahasia gue. Udah sana, gue mau tidur. Cowok lo ngelihatin tuh."ucap Peta sambil menunjuk ke arah Eran yang sedang memperhatikan mereka berdua. Pinta langsung beranjak karena tatapan Eran yang tak biasa. Peta menutup kembali wajahnya dengan jaket. Ia terlihat tenang dan tampak biasa saja. Kenyataannya, jantungnya sedang berdebar hebat. Ia juga manusia biasa yang punya sisi pengecut!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD