Dalam ketenangannya, Peta mulai mencari tahu detail informasi tentang Mas Yuyus yang mungkin bisa dipublikasikan. Ia ingat ucapan Ammi yang bilang,
"Kenapa yang di share di channel itu cuma yang baik-baik tentang Mas Yuyus? Emangnya dia gak punya kekurangan?"
Disatu sisi, peta ingin menekankan bahwa channel Telegram itu memang berawal dari Yuyus Fans Club, bukan haters Yuyus. Ternyata jauh di lubuk hati Peta, ia juga penasaran apa aib yang disembunyikan Mas Yuyus. Semua orang punya kekurangan, begitu juga dengan Peta. Tinggal bagaimana orang tersebut menyembunyikannya agar tidak ketahuan orang lain.
Ia mulai melakukan pencarian lebih lanjut demi mengetahui aib Mas Yuyus. Lalu Peta menemukan sosial media jadul yang pernah digunakan oleh Mas Yuyus.
Plurk.
Peta langsung membukanya dan menemukan status galau Mas Yuyus beberapa tahun lalu. Kayaknya waktu itu dia baru masuk kuliah. Ia langsung login dan coba berkenalan dengan sosial media aneh itu. Kuno tapi ternyata seru juga.
Jadi Plurk itu semacam twitter jaman old, hanya bentuknya saja dalam antarmuka web. Uniknya, semua informasi pribadi pengguna bisa diketahui. Kapan dan di mana pesan itu dibuat terpampang nyata. Beda kan dengan media sosial jaman sekarang yang mengutamakan privasi dalam fitur-fiturnya. Dengan cepat, ia langsung membuka Plurk atas nama ywardian. Semoga saja pencarian ini tidak sia-sia. Dapatlah percakapan alay nan kocak.
ywardian says you make me down
ywardian asks sebegitu dahsyatnya kah cinta nie?
ywardian says akhirnya jadian yippiee
ywardian shares https://www.youtube.com/watch?v=7uHvGtoDOfk
sistine says I love this song hunny!
Kacau!
Ternyata pencarian ini bukan usaha menjaring angin. Ada satu nama wanita yang muncul dari masa lalu Mas Yuyus. Cewek itu bernama Sistine Alivia. Jika ditelusuri, pesan itu dikirim dari kota Semarang beberapa tahun lalu. Yaps, dia memang orang Semarang yang sedang merantau di ibukota.
Kalau udah tahu namanya, maka ini jadi sangat mudah.
Setelah itu, Peta tinggal mencari sosial media yang berkaitan dengan nama Sistine Alivia. i********: hanya menampilkan foto-fotonya yang kekinian. Cewek itu bak selegram seksi yang punya banyak followers. Outfit yang ia gunakan sangat branded. Well hey, bagi Peta sangat mudah mendapatkan barang-barang itu. Ia hanya tidak mau terlihat berbeda di antara teman-temannya. Terlebih, ia lebih suka mengoleksi barang elektronik dari pada sekedar baju bermerek. Jadi berbeda itu sangat berisiko. Gak cuma bikin penghalang tapi juga menimbulkan keirian yang hakiki. Karena sejatinya manusia itu dipenuhi rasa iri ketika melihat sesuatu atau seseorang.
Facebook adalah wadah yang paling memungkinkan untuk mendapatkan informasi penting lainnya. f*******: itu media sosial paling bersejarah. Jika beruntung, informasi kecil saja bisa didapatkan di sana. Tahun berganti, banyak orang yang meninggalkan jejaknya dalam bentuk curhatan di f*******:.
Sesuai prediksi, Peta menemukan foto yang akan menggemparkan dunia Telegram. Foto itu menampilkan Mas Yuyus ketika masih SMA dulu. Ia bersama cewek bernama Sistine itu di pantai dengan tampilan yang tidak pantas untuk diupload ke sosial media. Mas Yuyus yang masih muda dengan celana pendek dan baju shirtless sedang memeluk cewek itu saat sedang menggunakan bikini warna ungu mencolok.
Dasar anak muda! But he is very sexy!
Sebenarnya Peta tak masalah dengan foto itu. Apa salahnya seseorang menggunakan pakaian sexy? Pakaian itu adalah seni. Cuma orang m***m yang menganggapnya sebagai objek kepuasan.
Namun yang pasti, foto itu akan membuat member Error 404 terhenyak dan syok berkepanjangan. Ini adalah kesempatan besar untuk membuat mereka bangga telah bergabung di channel Error 404. Ah, harusnya mereka membayar Peta untuk semua ini. Biarlah, anggap saja amal untuk manusia-manusia yang haus wajah tampan itu. Beramal kan bisa bikin kaya secara tidak langsung? Iya gak sih?
"Ta, kalian jadi makrab minggu depan?"tanya Benny yang sedang berkutat dengan laptopnya di ruang tamu. Cowok itu udah jengah dengan skripsi yang semakin hari semakin tidak jelas. Pengen banget cepat kelar, tapi bingung harus bagaimana.
"Astaga, gue lupa."seru Peta panik. Dia emang sering lupa sama hal-hal yang gak terlalu menarik baginya. Makrab alias malam keakraban hanya sebuah ajang untuk mempererat hubungan. Dan Peta gak butuh hal itu. Dia mau pergi juga cuma demi jaga imej.
Anak Ekstensi akan mengadakan makrab pertama untuk mempererat tali persaudaraan. Sama seperti namanya, Makrab atau malam keakraban dipercaya akan mengakrabkan setiap dari mereka untuk tujuan yang lebih positif.
Peta langsung mencari buku catatannya. Ada beberapa hal yang harus ia bawa untuk acara makrab itu. Jaket Kuning untuk foto bersama, scarf, volunteer untuk membawa tepung terigu dan baju untuk basah-basahan. Ternyata cukup banyak yang harus ia siapkan. Tapi dia terlalu bodoh karena baru ingat sekarang.
"Sekarang hari minggu, senin sampai jumat gue kerja. Sabtu pagi harus berangkat. Ben, temenin gue belanja."
"Now? Today?"
"Yes, right now! Eh, lo lagi ngerjain skripsi ya?"
"Santai, entar gue lanjutin lagi."
Mereka sampai di Margocity untuk mencari perlengkapan yang akan dibawa Peta ke makrab minggu depan. Peta langsung mencari outlet yang menjual barang tersebut. Ia tak berselera untuk belanja barang yang lain. Tiba-tiba saja seseorang menyapanya saat sedang memilih scarf di antara tumpukannya.
"Peta, lagi nyari apa?"sapa Pinta yang muncul entah dari mana. Ia datang bersama Eran. Sungguh dunia sesempit itu. Peta harus bagaimana? Semua orang juga tahu kalau ia tak punya pacar. Kecuali, Eran. Ya, Eran tahu sebagian besar tentangnya. Tahu tanpa sengaja karena Peta gak pernah ingin ngasih tahu.
"Eh, Hai Pinta. Gue lagi nyari scarf buat makrab minggu depan."
"Oh sama dong. Bisa-bisanya kita ketemu disini.”ucapnya berbasa-basi. Padahal Peta pengen banget percakapan ini tidak terjadi. Harusnya mereka pergi aja dan pura-pura gak kenal. Argh, menyebalkan. “By the way, dia siapa?"lanjutnya lagi setelah menyadari kehadiran Benny. Dan saat itu Benny melihat Peta sambil tersenyum.
Benny tampak sedang mencari sesuatu dan tidak menyadari kehadiran Pinta dan Eran. Eran hanya diam dan tak peduli. Peta melirik ke arah Benny. Haruskah ia jujur?
"Hai, gue Benny."seru Benny sambil mengulurkan tangan untuk menyapa Pinta dan Eran. "Gue pacarnya Peta."
BOOM!! Dunia kiamat!
Peta menelan ludahnya. Ia tak mampu berpikir. Ia harus mengikuti arus dan tersenyum semanis mungkin. Dan tak sengaja, ia melihat Eran sedang menertawakannya. Lelaki laknat tidak tahu diri itu pasti sedang bergembira melihat Peta yang panik. Di wajah Peta terlihat jelas hal itu. Ia paling tidak mau rahasia ini terbongkar.
"Hai Ben, gue Eran. Gue juga temennya Peta."seru Eran sambil menjabat tangan Benny.
Benny tak curiga sedikitpun. Ia tersenyum dan kemudian melipir mencari barang yang ia inginkan. Peta yang masih panik berusaha menjaga air mukanya agar tetap stabil. Ia harus percaya diri walau kebenaran akan terkuak.
"Ran, gue mau ngomong!"
Ia menarik tangan Eran menjauh. Pinta tampak berjalan menuju kasir untuk membayar scarf warna kuning yang ingin ia beli.
"Lo harus nyuruh Pinta jaga mulut!"
"Emang kenapa sih kalau sekelas tahu lo punya pacar? Lo gak bisa genitin cowok lain gitu?"
"Pokoknya lo pastiin Pinta gak ember! Ngerti!"ucap Peta sambil berjalan menuju Benny. Dia pergi sambil menahan emosi yang memuncak. Demi apapun, Eran benar-benar biang masalah.