|Part 20|

1104 Words
Application, merealisasikan sesuatu dalam wujud nyata. Perginya Mas Faruk tak membuat banyak perubahan. Semua tetap sama. Berkutat dengan tugas, malam mingguan di kampus, deadline, kuis dan presentasi. Peta sedang berusaha mengubah diri menjadi lebih baik dengan rajin belajar. Ia menjaga jarak dengan Eran. Berkawan dengan pria itu bisa membawanya pada kesalahan yang sama di masa depan. Emang sih, hidup seperti sekarang sangatlah membosankan. Tapi hidup yang membosankan ini adalah cara untuk menghindari hal buruk yang mungkin terjadi. "Ta, ada kabar gembira!"teriak Channy sambil mendekat ke arah Peta yang sedang menaruh kepalanya di meja. Ia tersentak dan langsung mengangkat kepalanya. Cukup kaget hingga refleksnya jadi begini. "Shava sama Rama fiks pacaran!" "Hah? Serius?" "Iya Ta." "Akhirnya..........." "Lo kapan sama Mas Joko?" "Idih, kenapa Mas Joko sih? Gue gak suka sama dia." "Lo masih suka Eran?" "Kagak woy. Kapan sih gue pernah bilang suka sama dia?" "Emangnya gue buta? Kelihatan banget Ta, tapi sekarang kalian kayak lagi musuhan." Channy benar. Peta dan Eran memang sudah memutuskan untuk tidak menggubris satu sama lain. Kejadian yang menimpa Mas Faruk adalah ulah mereka berdua. Eran sibuk menjaga Pinta yang ia cintai, namun sebenarnya cowok itu hanyalah manusia biasa. Ia terlalu takut kehilangan Pinta dan itu membuatnya sangat memanjakan wanita itu. Kebodohan memperdaya hatinya yang lemah. Istilah bahwa cowok selalu menggunakan logika adalah salah. Lihat saja, banyak pria yang memilih wanita yang salah hanya karena perasaan. Padahal di luar sana banyak wanita yang lebih baik. Bodoh sekali! "Kita gak musuhan kok, kita cuma jaga jarak." "Kenapa? Kenapa mesti jaga jarak?" "Karena kalau bersama, bakal bikin masalah. Udah ah, itu Mas Yuyus udah dateng." Peta berusaha untuk menghilangkan rasa bersalahnya. Apapun yang sudah terjadi lebih baik dilupakan. Toh udah gak bisa diubah juga. Mas Yuyus langsung membuka laptop dan mulai mengajar. Ia tampak semakin tampan dengan kaos warna hitam. Rambutnya yang bergelombang semakin mendukung wajahnya yang mendekati sempurna. Pemuja visual pasti akan tergoda oleh penampilan yang dianugerahi Tuhan padanya. Sungguh sangat beruntung. "Hari ini kita akan belajar tentang fungsi rekursif. Fungsi ini adalah cara menyelesaikan masalah dengan cara mereduksi masalah tersebut menjadi satu atau lebih masalah serupa yang lebih kecil. Sampai sini ngerti gak?" Semua diam dan sibuk sendiri. "Saya rasa kalau dengar materinya saja tidak akan mengerti. Saya akan langsung kasih contoh, yaitu Fungsi Faktorial. Jadi Faktorial itu bisa direpresentasikan dalam bentuk rekursif." Mas Yuyus kemudian menuliskan penyelesaian faktorial dengan fungsi rekursif. Kelihatannya tampak mudah dan cepat. Algoritma rekursif mengandung dua kasus yaitu base case dan rekurens. Base case adalah saat berhenti. Sedangkan rekurens adalah satu atau lebih kasus yang pemecahannya dilakukan dengan menyelesaikan masalah serupa yang lebih sederhana. Istilahnya kalau punya masalah, catat cara penyelesaiannya. Nanti jika masalah serupa datang, lakukan seperti penyelesaian itu. Jadi gak perlu kagok dan bingung nyari penyelesaiannya. Andaikan hidup Peta bisa sesimpel fungsi rekursif. Ia bahkan tak bisa menyelesaikan masalahnya yang besar pada sesuatu yang lebih sederhana. Ia tak punya base case sebagai sesuatu yang menghentikan semua masalah itu. Ia adalah masalah sederhana yang semakin lama jadi masalah yang lebih besar dan rumit. Fungsi rekursif itu tak berlaku dalam hidupnya secara nyata. Ya, hidup memang lebih rumit daripada sekedar problem dalam sebuah bahasa pemrograman. Peta melihat Mas Yuyus dengan tatapan kosong. Muncul rasa ingin melakukan sesuatu. Pantaskah orang itu diberi pembalasan? Peta tidak mau terjadi hal serupa seperti apa yang ia lakukan pada Mas Faruk. Terlebih Peta dijadikan sebagai asisten dosennya. Peta jadi mengenal banyak mahasiswa reguler. Ia terkenal sebagai Asdos yang pintar mengajar dan ramah. Kenyatannya berbanding terbalik. Peta hanya ingin terlihat sempurna di mata mereka. Menjadi sempurna sangat menguntungkannya. Dia dianggap sebagai malaikat, tapi kenyataannya engga. "Cha, minta aseton dong."seru Ammi sambil menoleh ke belakang. Ia duduk tepat di depan Channy dan Peta. For your information, Aseton itu digunakan untuk menghapus kuteks. Ada saja yang suka kutekan untuk mempercantik diri. Itu emang bikin percaya diri meningkat. "Nanti aja sih Mi."seru Channy malas. Ia ingin fokus pada pelajaran Mas Yuyus, her favorite lecturer. "Sekarang aja buru. Entar lupa, gue mau sholat soalnya." "Ya udah, bawel!" Channy mengambilnya dengan ogah-ogahan. Ia memberikan pada Ammi. Cewek itu langsung mengambil kapas dan berusaha menghapus kuteks di kukunya. Cukup susah karena tekstur kutek itu cukup padat. "Bau apa ini?"seru Mas Yuyus dengan hidung yang mengendus-endus. Semua orang saling berpandangan. Ammi langsung melemparkan aseton itu ke depan Channy. Channy jadi ikut panik. Peta hanya melongo melihat pertunjukan itu.  "Ini kayak bau asem gitu." "Saya kali pak!"seru Suhendi yang baru saja kembali dari toilet. Semua tertawa. Lawakan itu tak bisa membuat Ammi dan Channy tenang. Mereka makin panik. Memang sih, bau Aseton ini sangat menyengat. Namun, hidung Mas Yuyus terlalu sensitif. Dan harusnya dia menahan saja perasaan itu. Malah diungkapkan di depan kelas. Bikin malu aja. "Sa,,saya pak. Saya pakai aseton."seru Ammi terbata-bata. Baru kali ini dia sepanik itu. Peta tertawa dalam hati walaupun miris melihatnya. Kasihan tapi menertawakannya. Dasar teman jahat! "Ohh, itu yang dipakai buat kuteks itu ya. Tapi memang baunya aneh sih. Atau cuma saya yang merasa begitu?"tanyanya. Semua orang saling berargumen. Sungguh sangat tidak berkelas. Aseton jadi pengalihan isu yang membuat mereka berdiskusi hal yang tidak penting.  "Apa gue bilang, entar aja!"seru Channy tegas. Ammi hanya manyun.  "Sudah sudah. Kita lanjutkan pelajaran lagi. Tolong itu, nanti aja dipakai lagi."ucap Mas Yuyus memberikan saran. Kuliah akhirnya selesai tepat jam 9 malam. Semua orang tampak lelah. Otak panas dan mengebul. Pikiran terlalu banyak beban. Tugas menumpuk dimana-mana. Deadline saling kejar-kejaran. Sulit sekali mengelola waktu yang baik agar tak menganggu jam tidur yang teratur. Pada akhirnya semua berantakan. "Lo kenapa sih sampai kepergok?"ledek Arri saat mereka ada dalam lift yang sama untuk turun ke lantai 1. Tak seperti mahasiswa yang rela antri demi naik lift, para dosen malah memilih turun dengan tangga. Ada dua kemungkinan. Mereka ingin sehat atau enggan berpapasan dengan para mahasiswa yang berisik. "Gara-gara Channy nih."ucap Ammi tak tahu diri. "Kurang ajar lo, gue udah bilang kan. Nanti aja pakainya. Tapi emang bau banget ya?"tanya Channy kepo. Cowok-cowok biasanya lebih peka pada benda yang tak pernah mereka sentuh. "Menurut gue engga kok."ucap Alfa. "Gue juga. Biasa aja."balas Rama. "Tapi emang ada asem-asemnya sih. Wajar Mas Yuyus terganggu." "Hallah, dia aja yang sensitif. Hidungnya perlu di operasi biar gak gampang mengendus."ucap Ammi kesal. "Jangan ngomongin dosen di sini Mi, ada CCTV!"seru Shava menakut-nakuti. "Ga ada suaranya kelles."jawab Peta sambil tertawa. "Jangan gitu dong, Shava kan cuma ngasih saran."dukung Rama. "Woahhhh,,,,mentang-mentang couple of the year!!"ledek Channy seperti orang gila. "Bikin iri aja."ucap Arri. "Makanya bereaksi dong Ri. Itu Ammi jangan dianggurin."seru Alfa. "Kenapa jadi gue anjir? Ogah banget sama dia."ucap Ammi dengan tatapan tajam. Ia kesal dengan perjodohan gak jelas semacam itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD