|Part 18|

1186 Words
Utility. Siapkan perlengkapan untuk memproteksi hatimu. "Uhuy, couple baru!" "Aww, diem-diem pacaran." "Bentar lagi sebar undangan." Celotehan itu terdengar jelas ketika Peta dan Eran datang bareng ke kelas. Peta langsung duduk di bangku belakang, Eran mengikutinya.  "Lo ngapain ikut?"protes Peta tidak terima. Dia udah gila ya? "Pengen aja!"ucapnya singkat. Ia langsung mengambil kertas binder dan pulpen. Dosen sudah datang dan bersiap untuk mengajar.  Tiba-tiba Pinta duduk disamping Eran. Cewek itu pasti merasa tersaingi. Peta tak peduli dan melihat ke papan tulis. Secara mengejutkan, Rama yang baru saja datang langsung duduk disampingnya. "Ta, tahu gak? Gue makin dekat sama Shava."ucapnya membeberkan curahan hati. Jauh di lubuk hatinya, Peta ngerasa aneh. Baru kali ini ada cowok yang menjadikannya tempat curhat. Seumur hidupnya, cuma Benny yang melakukan itu. Kalau Benny sih wajar, dia udah jadi kekasih hati Peta sejak lama. Kalau Rama? Argh, rasanya ini tidak wajar. Dan tentu saja, aneh! "Seriusan? Lo harus gerak cepat Ram. Beberapa hari lalu dia bilang belum bisa move on dari mantannya."seru Peta sambil terus mencatat di kertas bindernya. Lagi-lagi, itu cuma akting. Andaikan Rama dan Pinta tak ada di antara mereka, Peta akan tiduran sambil bermimpi buruk. Berharap mimpi itu segera usai dan diganti dengan kenyataan. Mimpi kadang lebih buruk daripada kenyataan. Itulah yang serin Peta alami dalam hidupnya. "Iya ya. Aku jadi insecure karena ucapanmu." "Jangan gitu dong. Lo pasti bisa Ram!" "Lo gimana sama Eran?"bisiknya agar tak terdengar oleh Eran. "Gak ada apa-apa tahu." "Kayaknya kalian cinta segitiga deh. Lo, Eran sama Pinta." "Udah tuh, dengerin pelajaran."seru Peta kesal. Kesal karena ucapan itu hampir valid mendekati seratus persen. Ia sudah terlalu lelah dengan semua yang terjadi hari ini. Sungguh hari yang luar biasa dan penuh tantangan. Peta dan Eran berhasil mendapatkan copy-an video CCTV di tanggal ujian struktur data semester lalu. Video itu belum di periksa kebenarannya. Peta berencana untuk mengeceknya malam ini. Rasa penasarannya kian memuncak. Hanya satu kekhawatirannya, semoga saja Bokki tidak menyalahgunakan nomor Mas Yuyus. Semoga cewek itu bisa menjaga rahasia. Dan kalaupun dia ngeganggu Mas Yuyus, semoga dengan cara yang sopan. Dan setidaknya, Mas Yuyus gak tahu kalau Peta adalah pelakunya. Big no! Saat memikirkan Mas Yuyus, tiba-tiba dia dapat pesan w******p dari orang yang bersangkutan. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Kadang emang pikiran kita lebih cepat dari kenyataan yang terjadi. Manusia kan dikasih sifat yang unik seperti ini. "Peta, nilai tugas 2 kelas B sudah selesai dinilai? Kalau sudah tolong kirimkan segera ya." Seketika Peta ingat bahwa ia punya pekerjaan yang belum diselesaikan.  Sial, gara-gara Eran nih! Gue lupa semuanya! Bisa-bisa gue dicap gak becus sama Mas Yuyus. Dia berpikir sedemikian rupa. Ia butuh bantuan. Siapa yang bisa membantunya di saat genting seperti ini? Benny sudah terlalu banyak pikiran dengan skripsinya yang tak kunjung kelar. Sedang pekerjaan ini harus kelar malam ini. Biar dia gak mendapat pandangan buruk dari Mas Yuyus. Hey, pencitraan itu penting untuk meningkatkan percaya diri manusia. Satu-satunya adalah Pangeran Simanjuntak! Ia langsung mencari kontak Eran. Walau cowok itu disampingnya, ia gak bisa ajak bicara. Ada Pinta yang selalu mengawasi. Udah kayak dosen pengawas ujian aja. Peta : Ran, bantuin gue bisa gak? Eran : Bantu apa? Peta : Abis kuliah lo jangan pulang! Semuanya pulang ketika waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Mata yang sayu, pakaian yang serampangan dan otak yang panas akibat belajar terlalu keras. Semua orang tampak lelah dengan rutinitas itu. Andaikan mereka bisa liburan sejenak untuk menikmati deburan ombak di tepi pantai. Atau sekedar melihat pohon rindang yang warnanya hijau. Itu akan sangat memanjakan mata, hati dan perasaan. Peta sangat menginginkan hal itu. "Kenapa Ta? Lo ada masalah?" "Lo harus bantuin gue ngoreksi tugas anak reguler. Gak bakal bisa kelar kalau gue sendirian Ran. Gue lupa gara-gara sibuk ngurusin CCTV." Melihat cewek itu sedih, Eran tak berkutik. Peta terlihat panik. Dan dia terlihat seperti manusia pada umumnya. Dia kan jarang banget seperti ini. Ya, ini semua juga karena Eran sendiri. Dia adalah orang yang pantas disalahkan. Peta banyak membantunya hari ini. Dan sudah seharusnya dia membalas jasa. "Ya udah gue bantuin. Kita ngoreksi dimana?" "Di apartemen gue."  "Cuma kita berdua? Lo gila ya Ta." "Dari pada di sini. Nyamuknya banyak Ran. Dan lagi, gue gak yakin bakal cepat kelar. Tenang aja, gue gak bakal perkosa lo. Gue juga yakin, lo bukan cowok gila yang suka berbuat mesum."ucap Peta menyakinkan. Dibanding punya pikiran berbuat m***m, Peta itu cewek yang lebih suka memandangi cowok yang ia suka. Love language-nya adalah kata-kata alias gombalan. Ketika orang lain merasa s*x adalah kebutuhan, bagi Peta tidak. s*x adalah kegiatan untuk menghasilkan anak. Ya, cukup sampai disitu. Sederhana kan? Eran diam dalam kebingungan. "Buruan ayuk." Eran mengikutinya. Mereka berjalan menyusuri jalanan gelap yang kian sepi. Memang sudah waktunya manusia beristirahat. Hingga akhirnya mereka sampai di apartemen CAPS. Eran tak menyangka cewek itu tinggal di apartemen semewah ini. Sunguh diluar dugaan. Dia cewek kaya yang bertingkah sok sederhana? Atau dia memang sederhana? s**t!! No one knows! "Tumben lo gak dijemput?"tanya Eran saat mereka hendak naik lift ke lantai 8. "Benny lagi ada urusan. Dia lagi gak di Depok." Eran hanya mangut-mangut. Dia menunggu Peta membuka pintu apartemennya. "Di setiap sudut ada CCTV. Lo jangan macem-macem sama gue."ucapnya tegas sebagai peringatan. "Lo mandi dulu aja, ini bakal sangat lama. Lo mending nginep." "Hah?" "Kalau kita digrebek, kan ada CCTV. Semua udah gue atur." Eran pasrah saja. Ia diberi kaos yang oversize untuk digunakan. Cewek itu memang sulit ditebak. Mereka mulai mengoreksi semua tugas-tugas yang ada. Malam itu sangat melelahkan. Mata yang lelah akibat tak pernah istirahat. Peta menekankan agar tak ada kesalahan. Satu kesalahanpun bisa sangat mengkhawatirkan. Mahasiswa zaman sekarang sangat kritis dalam menanggapi sesuatu. Mereka akan protes untuk 0.01 nilai yang tidak benar. Semakin akurat, semakin baik. Tepat pukul 03.00 subuh mereka selesai mengoreksi. Gelas kopi bercecer dimana-mana. Plastik snack dan roti memenuhi ruang tamu. Sungguh sangat crowded. "Akhirnya....."seru Peta sambil meregangkan otot-otot tangannya yang pegal. Dia menengadah sambil beristirahat. "Gue jadi gak ngantuk Ta."seru Eran. "Eh, gimana kalau kita cek CCTV itu." "Oh iya juga."balas Peta excited. Hal penting itu tak boleh dilewatkan.  Eran langsung mengambil flashdisk yang ada di tasnya. Mereka membuka rekamannya dan mempercepatnya ke waktu yang cocok. Kira-kira waktu ujian selesai pukul 9 malam. Terlihat jelas Mas Faruk datang dengan selembar kertas folio. Ia celingak-celinguk untuk memastikan semuanya aman. Lalu ia mencari sesuatu ditumpukan kertas itu dan menggantinya dengan kertas yang ia bawa. Kemudian ia pergi. Peta dan Eran saling berpandangan. Kecurigaan itu ternyata benar. Tapi bagaimana bisa Mas Faruk punya kunci ruangan dosen? Sungguh membingungkan. Bahkan sampai semuanya terbongkar, mereka berdua tidak tahu harus bagaimana. "Kan, ternyata gue benar Ta."seru Eran dengan nada datar. "Gue jadi bingung. Kalau udah begini kita mau gimana? Kita punya bukti yang kita ambil secara ilegal!" "Gue juga pusing." Mereka merenung dan tiba-tiba ngantuk lagi. Eran langsung mengambil bantal dan memposisikan diri untuk tidur di depan televisi. Ia sudah tak berselera memikirkan cara untuk menghancurkan Mas Faruk. Saat cowok itu hendak menutup mata tiba-tiba Peta beranjak. "Hoammzzz, gue punya ide brilian. Tapi gue kasih tahu besok ya. Gue mau tidur. Good night!" ucapnya sambil beranjak menuju kamarnya. Ia mengunci pintu kamarnya dan terlelap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD