|Part 17|

1037 Words
Integrity. Berintegrasi dalam melakukan setiap hal adalah keputusan yang memudahkan. Perpustakaan tampak masih sepi dari kehadiran manusia. Jelas saja, ini masih terlalu pagi untuk menikmati waktu di sana. Beberapa orang terlihat sedang membaca buku dan berkutat dengan laptopnya masing-masing. Peta tiba dengan setelan jeans dan kaos warna putih. Ia memakai tas ransel sebagai tempat laptopnya. Ditangannya ada beberapa kertas double polio untuk pengumpulan tugas nanti malam. Ia langsung ke lantai tiga untuk mencari tempat sepi agar tidak ada yang mengganggu.  Ia duduk di sudut yang tak terlalu banyak orang. Ia membuka laptopnya dan memulai pencarian di website Fasilkom. Ia langsung kepikiran dengan channel Error 404, sudah lama ia tidak mengirimkan berita terbaru tentang Mas Yuyus. Sudah saatnya ada berita baru. Biar gak jadi sarang laba-laba. "Hmm, terlalu banyak informasi yang gue tahu. Kirim yang mana ya."pikirnya dalam hati. Setelah proses pemindahan data-data Mas Yuyus dari ponselnya, ia jadi tahu kalau dosen itu tinggal dimana, berapa saudaranya bahkan tahu detail kisah cintanya. Mudah saja mendapat semau informasi itu. Namanya juga Peta. Sent! Ia langsung mengirimkan sebuah foto yang memperlihatkan Mas Yuyus dengan adiknya. Ia berusaha mengirim sesuatu yang aman agar tidak terlalu melanggar privasi. Ya, walaupun grup itu memang bertujuan untuk melanggar privasi. Sudahlah, saatnya ia fokus pada pencarian tentang Mas Faruk. Pekerjaan baru yang ia janjikan bersama Eran.  "Sorry, gue telat!"seru Eran sambil meletakkan tasnya di atas meja. Ia terlihat buru-buru karena takut Peta marah. "Iya gapapa. Lo beneran ga masalah bolos ngantor?" "Ye, siapa bilang gue bolos? Gue tetap kerja tapi dari sini." "Owhhh..." "Lo udah dapat sesuatu?" "Belum woy. Sabar atuh." "Inget ya Ta, jangan sampai IP address lo ketahuan. Kalau semisal udah gak memungkinkan biarin aja, cari jalan lain."ucap Eran memperingatkan. Peta mengangguk mantap. Hey, Peta bukan newbie dalam dunia hacker. Ia bisa mengurus dirinya sendiri. Tapi dicemaskan oleh orang lain rasanya tak buruk juga. Rasanya seperti begitu berharga.  Peta login dengan akunnya sebagai asisten dosen. Ia mencari tahu tentang mata kuliah Struktur Data tahun lalu. Ia memeriksa tiap nilai dan semuanya baik-baik saja. Nilai itu diperoleh dari Asdos dan diberikan langsung kepada dosen dalam bentuk file Excel. Tidak ada yang mencurigakan.  "Ran, kayaknya lo salah deh. Sejauh yang gue telusuri, semuanya baik-baik aja." "Hah, masa sih?" "Iya. Gue udah cek nilainya, dan gak ada masalah." "Gak mungkin. Orang asdosnya juga curiga." "Tunggu dulu deh, kertas ujiannya ada?" "Ada." "Ah, lo jangan andelin gue dong. Kalau gitu ceritanya, ini masalahnya bukan di dosen atau asdos. Lo terima kenyataan aja."ucap Peta kesal. Jangan sampai kegiatan ini malah berakhir sia-sia. Apa gunanya menghabiskan waktu dan energi? Katakan tidak pada kesia-siaan. "Ta, apa mungkin dia nuker kertas ujiannya?"ucap Eran setelah mikir beberapa saat. Dia selalu mencari kemungkinan-kemungkinan yang sekiranya terjadi. Bahkan untuk bagian kecil, tetap patut dicurigai. "Hmm, bisa aja sih. Tapi kita gak bisa ngebuktiin." "Bisa dong. Cek CCTV!" "Iya juga. Hahaha, lo bloon sih! Kenapa baru nyadar sekarang? Tahu gini gue gak bakal ngehack website kampus. Ngabisin tenaga aja." "Maaf Ta, gue baru sadar. Gue coba meretas CCTV gedung B deh." "Gak bisa Ran. Lo pakai otak napa? Video itu pasti udah diambil dan disimpan sama petugas. Mau lo retas juga gak berguna. Kita butuh rekamannya aja." "Astaga iya. Gue kenapa bodoh sih kalau bareng sama lo?" "Wong jelas, gue lebih pintar dari pada lo." "Jadi kita harus ngambil videonya dari ruang CCTV. Gimana caranya ya." "Kita harus minta baik-baik. Lo harus cari alasan biar diijinkan." Kepala Eran rasanya mau pecah. Dia termenung dan kesal dengan semuanya. Dia memang orang yang kompetitif dan benci dengan yang namanya kecurangan. Sebenarnya dia mirip dengan Peta. Ya, Peta yang dulu. Peta adalah gadis yang ambisius dan sangat menginginkan pencapain yang luar biasa. Hingga kejadian buruk itu membuatnya jadi kriminal. Ketidakadilan yang bikin dirinya berubah 360 derajat. "Terus bersiap-siap aja, kalau semisal rekamannya udah dihapus." "Ahhh sial. Dasar Mas Faruk k*****t!!" Terlihat sekali aura kemarahan di wajah Eran. Apapun yang sudah ia lakukan selama ini, tak ada yang berhasil. Bahkan dia sudah minta tolong pada orang sehandal Peta, tapi tetap saja ujungnya nihil. Dunia pendidikan itu perlu didukung oleh kejujuran. Jika institusi saja sudah berbuat curang, bagaimana nasib anak bangsa? Dunia ini akan menuju ambang kehancuran. Eran percaya kalau kejujuran itu bisa sedikit membantu dunia dalam keadilan.  "Gue baru tahu loh, lo aslinya begini Ran." "Maksud lo?" "Lo aslinya suka mengumpat hanya demi ambisi lo jadi nomor satu." "Bukannya itu emang tujuan hidup setiap orang ya? Gue rasa wajar." "Bisa jadi!" "Eh Ran, gue baru ingat. Kita minta tolong Bokki aja." "Bokki siapa anjir?" "Adik kelas. Bokapnya dia pegawai CCTV kampus." Peta langsung melirik jam tangannya. Ia berlari menuju laptopnya dan membuka file yang diberi nama jadwal. Ia melihat nama Bokki, kelas reguler B. Mata kuliah Knowledge Management pukul 13.00 sampai 14.30. Mata Eran terbelalak melihat daftar itu. Daftar yang sangat detail hingga semua informasi orang ada disana. Peta benar-benar amazing dan unpredictable. Dia sudah dapat disebut sebagai orang gila. Bahkan terlalu gila. "Lo gila Ta. Gimana caranya lo punya daftar beginian?" "Lo diem aja. Ikut gue. Kita harus ketemu Bokki dan minta tolong sama dia." Eran mengikuti dengan perasaan campur aduk. Dia benar-benar berteman dengan manusia macam Peta. Dia mempercepat langkahnya agar bisa menyusul cewek itu. Mereka sampai di Fasilkom dan untung saja kelas reguler B belum selesai. Mereka menunggu sampai kelas itu selesai. Duduk berdua seperti orang pacaran yang lagi berantem. Peta selalu ingin jaga jarak dengan Eran. Takut perasaannya semakin melewati batas. Kan gak benar juga kalau dia semakin mengincar Eran? "Bokki!!!"panggil Peta sambil melambaikan tangan. Cewek berambut bob itu berlari menghampirinya sambil tersenyum. "Hai kak, tumben banget lo temuin gue? Btw, dia pacar lo?" "Bukan. Dia teman sekelas gue. Gue butuh bantuan lo." "Apa kak?" "Bantu gue masuk ruang CCTV." "Jangan ngadi-ngadi lo kak. Gak bisa, gue aja gak bisa masuk situ." "Bokap lo kan kerja di situ Bok. Please, tolong gue." "Apa untungnya gue nolong lo kak?" Kepala Peta berputar. Apa yang kira-kira menarik bagi Bokki? Cewek itu fans fanatik Mas Yuyus. Ya, Mas Yuyus adalah solusi untuk masalah ini.  "Oke, kalau gue bisa masuk ruang CCTV, gue kasih lo nomor Mas Yuyus!" Lagi dan lagi, Mas Yuyus yang jadi korban. Begitulah nasib cowok tampan yang ada di bumi pertiwi, Indonesia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD