Confidentiality. Jaminan untuk menjaga kerahasiaan mampu meningkatkan kepercayaan.
Suara fals dari para penyanyi gadungan itu masih terdengar jelas. Teriakan yang tak seharusnya diperdengarkan tetap menggelora. Suara mereka seperti badai dan ombak yang siap menggerus karang yang kokoh. Telinga-telinga yang mendengar hendak bersiap untuk pergi ke dokter THT.
"Lo gak nyanyi Ta?"tanya Channy.
"Engga Cha, santai gue mah. Gue bisa nyanyi di kamar mandi."ucap Peta sambil tersenyum.
"Jadi lo kesal gara-gara itu. Lo mau tahu apa tentang gue? Gue sih rela ngasih tahu semuanya." ucap Eran setelah Channy pergi dan tinggallah mereka berdua lagi sedang duduk. Ia memang terlihat berniat memberitahu semuanya pada Peta. Itu tak lagi masalah ketika dia menyimpan rahasia perempuan itu.
"Kenapa lo masih suka Pinta, setelah semua perbuatannya?"
"Hmmm, jadi gue sama Pinta itu udah kenal dari kita kecil. Dia udah gak punya mama lagi. Gue pernah janji sama mendiang mamanya, kalau gue bakal ngejaga dia sampai kapanpun. Ya, ini terdengar kuno dan lebay. Tapi gue masih merinding kalau ingat kejadian di rumah sakit saat mamanya udah di ujung kematian."
"Maaf Ran, gue gak tahu."balas Peta menyesal. Bicara tentang hal ini memang tidak menyenangkan sedikitpun. Terutama menyangkut orang tua yang sudah tiada.
"Gapapa Ta, gue ngerti kok."
"Tapi dia masih punya ayah kan?"
"Punya. Sayangnya, papanya dia gak kerja dan cuma menghabiskan uang. Walau gaji Pinta banyak, tapi dia selalu kirim ke rumah."
Pandangan Peta berubah. Ia tak tahu ternyata hidup Pinta sesulit itu. Walau terlihat sombong dan cuek, dia menyimpan kisah hidup yang menyedihkan. Terkadang jadi manusia yang penuh dengan ketidaktahuan bisa menimbulkan kesalahpahaman. Pengertian adalah solusi untuk itu. Dan kini, ketika Peta tahu tentang Pinta, ia jadi iba. Ia sadar bahwa cewek itu tak seburuk yang ia bayangkan. Tiap orang punya alasan untuk tingkah lakunya. Bahkan untuk tingkah laku yang buruk sekalipun.
"Gue bakal bantuin lo Ran, tapi please jangan diam-diam cari informasi tentang gue."seru Peta tegas. Ia tak mau cowok itu tahu masa lalunya. Itu lebih berbahaya dari apapun yang sudah terjadi di kampusnya saat ini. Itu adalah hal yang tak bisa dibiarkan. Jika dibiarkan, semuanya akan hancur. Hidup Peta di tempat ini akan terancam. Kedamaiannya akan berubah jadi api neraka yang menggila.
"Kalau lo pengen tahu sesuatu, lo tinggal tanya gue. Dengan syarat, gak bakal nyebarin ke siapapun."lanjut Peta.
"Oke, gue janji sepenuh hati."
Begitulah akhirnya. Peta jadi percaya pada Eran. Cowok itu tak seburuk yang ia pikirkan selama ini. Tak masalah bertukar rahasia, selagi itu adalah orang yang kau percaya. Peta langsung mengambil mike untuk bernyanyi. Ia punya suara yang lumayan. Tidak seburuk suara Channy.
"Ram, lo deketin Shava buru!"bisiknya di telinga Rama. Rama sampai syok. Tapi benar juga, kapan lagi bisa dekatin Shava? Kesempatan itu seperti emas yang berjalan di aliran sungai. Kalau gak diambil, takutnya tenggelam.
"Terima kasih teman-teman. Kehadiran kalian bikin lukaku sedikit terobati!"ucapnya dengan suara keras. Ia sedang memberikan kalimat pembuka sebelum mulai bernyanyi.
"Terima kasih juga udah mau menerima aku jadi bagian dari kalian."ucapnya dengan nada sedih. "Aku akan nyanyi lagu Peterpan Semua tentang kita."
Semua yang tadinya menertawakan ucapan Peta langsung melow. Ternyata suaranya sebagus itu. Dalam setiap kata yang terucap ada rasa yang tertinggal. Begitulah perasaan Peta ada di antara mereka. Hidup ini bukan lagi tentang dirinya sendiri, tapi tentang dia dan mereka. Rasa bahagia itu datang. Rasa itu sudah lama hilang. Kini datang dan membuatnya merasa begitu nyaman. Ia melihat Rama dan Shava yang sedang mengobrol sambil tertawa. Ia melihat teman-temannya saling bercanda. Ia bahagia dengan hal simple itu? Sungguh, bahagia sesederhana ini.
Peta pulang dengan langkah gontai. Ia membuka pintu apartemen dengan ogah-ogahan. Ia sampai di sana dan mendapati Benny sedang menunggunya sambil menonton televisi. Mereka sudah janji mau nonton bareng di rumah. Walau kesal, Benny tetap menyambutnya dengan senyuman manis.
"Maaf Ben, gue kelamaan karaokeannya."ucapnya sambil berbaring dan meletakkan kepalanya di kaki Benny.
"Iya, gapapa."
"Tumben gak marah."
"Aku senang kamu punya banyak teman."
"Hahaha, aku senang kamu ada di sini Ben."
"Kamu tidur aja. Aku balik habis kamu tidur."
"Ben, aku mau minta maaf....."
"Untuk apa?"
"Untuk semuanya."ucap Peta. Ia terlelap di kaki Benny. Benny menatap wajah cewek itu. Ia sedih dan senang dalam waktu yang bersamaan. Entahlah, sulit sekali mengekspresikan perasaannya.
Wajah cantik Peta mengingatkannya pada masa lalu. Ia ingat kejadian di kota kelahirannya, Riau. Waktu itu Peta masih sangat polos dan mengenakan seragam SMA. Benny bertemu dengannya di sebuah kafe hits yang sering dikunjungi anak muda. Benny berada di sana hanya untuk numpang WIFI. Ia melihat Peta yang sedang merekam seorang anak SMA yang sedang mengupil sambil memakan upil-nya. Cewek itu tertawa sambil merekam diam-diam. Benny merasa itu sangat tidak pantas.
"Heh, kenapa merekam diam-diam?"
"Lah, emangnya kenapa?"
"Itu gak boleh tahu. Kamu mau sebarin?"
"Iya dong, ini bakal hits kalau disebarin! Kau dari sekolah mana sih? Kepo banget!"
Benny langsung mengambil ponselnya hendak menghapus rekaman itu. Peta yang sigap langsung menarik tangannya.
"Wekkk, gak dapet kan."
"Hahaha, tas mu ditanganku."
"Heh, balikin gak?"seru Peta sambil berlari hendak mengambil tas itu. Mereka jadi kejar-kejaran. Mereka berdua kelelahan dan duduk di kursi taman.
"Berikan alasan kenapa video ini harus dihapus?"tanya Peta.
"Kalau orang itu adalah kamu, emangnya kamu mau divideoin diam-diam?"
"Aku gak bakal bertingkah bodoh dan memakan upil sendiri."ucapnya sambil tertawa geli.
"Ya udah, anggap gini. Kamu pasti punya rahasia kan? Kalau rahasiamu disebarluaskan emang kamu mau? Misalnya kamu lagi b***k terus direkam, emang mau?"
"Ish, jijik banget sih."
"Nah itu, gak semua hal harus kamu jadikan viral. Kamu bisa kena pasal berlapis." ucapnya lebay. Sok paling tahu hukum padahal masih bocah. Dasar manusia!
"Ya udah deh, aku hapus ya. Kamu balikin tas aku."
Benny mengangguk.
"Udah aku hapus. Sini tas aku."
"Aku gak percaya. Aku boleh lihat handphone kamu dulu?"
"Ya udah nih. Dasar curigaan!"
Benny mengecek di ponsel milik Peta. Ia mengetik sesuatu. "Ngomong-ngomong nama kamu siapa?"
"Pelita."
"Ini handphone kamu. Aku benny, nomorku ada disitu ya."ucapnya sambil pergi meninggalkan Peta dengan wajah kebingungan. Benny tersenyum mengingat kejadian itu. Wajah Peta yang masih tertidur tampak makin cantik. Benny mengantar Peta ke kamarnya dan ia pergi. Ia ingin menikmati saat-saat mereka bersama. Walau sedetikpun, waktu tak akan bisa diulang.