|Part 15|

1107 Words
Authenticity. Pastikan si doi tidak sedang berpura-pura. Keaslian itu penting. "Pin, ini buat lo."ucap Eran sambil memberikan kotak kecil berisi jam tangan Rolex. Pinta terkejut dan bingung. Eran gak pernah tahu soal keinginannya punya jam tangan itu. "Lah, ngapain lo ngasih gue jam? Gila, jam tangan mahal lagi!" "Hadiah buat lo Pin. Gue baru dapat gaji dari freelance." "Engga mau ah. Gue bisa beli sendiri kali." "Ambil aja Pin. Gue ikhlas, beneran!" "Ya udah Ran. Makasih banyak ya. Gue emang lagi pengen banget jam ini."balas Pinta kemudian. Eran memutuskan untuk membeli barang yang diinginkan Pinta. Ya, ini demi harga diri wanita itu. Begitulah akhirnya. Eran memutuskan untuk memasang spy di ponsel Pinta. Gak ada salahnya memata-matai cewek itu demi keselamatannya sendiri. Pinta memutuskan untuk tidak mengambil tawaran melayani om-om. Eran bernafas lega saat tahu keputusan itu. Mencintai itu emang seaneh ini. Walau tahu Pinta wanita separah itu, Eran masih tetap menaruh rasa padanya. Baru-baru ini Eran mempelajari hacking secara otodidak. Ya, di kampus hanya diajari tentang security system baik dari sisi database maupun aplikasinya. Ia kepikiran karena kecurigaannya pada Mas Faruk, cowok yang mendapat nilai A+ di mata kuliah Struktur Data itu. Apakah cowok itu punya relasi dengan dosen? Atau ada alasan lainnya? Pikiran Eran tak bisa lepas dari kecurigaan. Hingga akhirnya, ia terpikirkan untuk minta tolong pada Pelita. Peta, cewek yang informasinya sengaja dicari Eran dengan diam-diam. Sangat sulit mencari info tentang cewek itu. Pelita, cewek yang lulus dari UGM dengan predikat cumlaude dan IPK mendekati sempurna. Ia tak punya teman kecuali Benny Givandio Suwardi. Saat Eran mencari tahu tentang Benny, ternyata cowok itu manusia biasa. Ia anak Fakultas Hukum UI dan sedang bergumul dengan pengerjaan skripsi. Pasti hidupnya seperti dikejar-kejar setan. Saat semua teman angkatannya sudah lulus, dia masih jalan di tempat. Sesungguhnya, itu tidak pantas disebut aib. Banyak alasan kenapa seseorang begitu sulit menyelesaikan perkuliahannya. Dan seharusnya, orang sekitar memberi dukungan alih-alih menyalahkan. Hal yang lebih mengangetkan adalah cowok itu ternyata lahir dari keluarga terpelajar. Ayahnya seorang dosen di UNRI. Sungguh luar biasa, dari sekian banyak orang, Benny satu-satunya teman Peta? Kok bisa? Eran makin penasaran. Di i********: Benny, ada satu foto yang menunjukkan dengan jelas wajah Peta lagi manyun sambil minum boba. Bukan foto sempurna ala selebgram, tapi foto yang diambil seorang amatir. Shit, kenapa gue jadi nyari tentang Peta sih? Gue kan mau nyari tentang Mas Faruk! Perhatian Eran yang teralihkan itu membuatnya memutuskan untuk mengandalkan Peta dalam menguak kebeneran kali ini. Semoga saja cewek itu mau membantu. Dicoba saja dulu, kalau ditolak, ya sudah. ***** "Cha, lo pada mau ke mana?"tanya Eran saat bertemu Channy di depan toilet kampus. "Mau karaokean Ran." "Peta ikut?" "Iya. Wah, kenapa nih? Lo udah beralih sama Peta?" "Kagak anjir. Gue cuma nanya." "Ya udah deh." "Eh Cha, gue sama Pinta boleh ikut gak? Bosen banget soalnya." "Hmm, boleh sih. Gue sama yang lain nunggu di parkiran ya." Eran mengangguk dan langsung berlari ke tempat Pinta. Channy pergi ke parkiran untuk menemui teman-temannya yang sudah menunggu. Di sana ada Peta, Shava, Ammi, Uli, Rama, Alfa dan Arri.  "Lama amat sih Cha?"seru Ammi sedikit kesal. "Tunggu bentar guys. Itu si Eran sama Pinta mau ikutan." "Hah, kenapa mereka ikut sih?"tanya Peta ketus.  "Menurut lo? Ya, mereka pengen ikut karaokean aja."ucap Channy. "Emang kenapa sih Ta?"tanya Rama. "Engga sih, gue kira ada alasan lain." "Hey guys, let's go! Maaf lama."ucap Eran dengan senyuman manisnya. Saat melihat wajah Eran, rasa kesal Peta memuncak. Entah kenapa, Eran bukan lagi crush Peta. Eran seperti parasite yang siap memangsanya kapan saja.  Malam minggu ini, kebetulan saja mereka menyelesaikan tugas kelompok sebelum deadline. Biasanya deadline sampai pukul 11.59. Kadang-kadang, mereka harus pulang saat dunia hendak berganti tanggal. Sungguh, kuliah di tempat ini sangat menguras tenaga.  Nothing gonna change my love dari Westlife terdengar sebagai lagu pertama. Semua orang bernyanyi hendak ingin melupakan penatnya dunia kerja dan perkuliahan. Mereka semua berteriak tak henti. Saat berkaraoke memang paling tepat untuk mengeluarkan suara sekeras-kerasnya. "Gimana Ta? Lo mau bantu gue kan?"tanya Eran sambil mendekat ke Peta. Sudah lagu kelima dan semua orang masih begitu bersemangat.  "Lo yakin gak sih? Entar kecurigaan lo cuma halusinasi."balas Peta ragu. Meragukan orang lain adalah salah satu bentuk pertahanan diri. Dan itu bisa menghindari masalah yang mungkin terjadi di masa depan. "Yakin!" "Ya udah. Akan gue coba.” "Serius? Makasih Ta."ucapnya sambil memegang tangan Peta. Peta sampai bingung dan salah tingkah. Cowok itu sadar dan langsung melepaskan tangannya. "Hey, kalian berduaan aja."seru Pinta sambil duduk disamping Eran. Ia memperhatikan mereka sejak tadi.. Peta sadar akan hal itu. Ia sedikit kesal dengan Pinta. Cewek itu sangat beruntung memiliki Eran yang mau saja melakukan apapun demi dia. Padahal, dia tak lebih dari cewek hina. Sungguh hal itu membuat Peta kesal. "Iya nih, lo pacaran gak sih sama Eran?"tanya Peta tiba-tiba. Pertanyaan itu membuat Eran dan Pinta tersentak. Pertanyaan yang tidak seharusnya ditanyakan. Mereka berdua saling menyukai tapi tak pernah terbersit untuk memulai kisah cinta. Pinta yang merasa tak pantas dan Eran yang merasa belum saatnya. "Apa sih Ta."seru Eran. "Engga kok, kita engga pacaran."seru Pinta tegas. "Bagus deh. Berarti gue bisa deketin Eran. Lo mending nyanyi lagi sana, gue mau ngobrol berdua." Wajah Pinta terlihat tak nyaman dengan pernyataan itu. Eran sampai menatap mata Peta tegas. Ia tahu sekali kalau Peta sedang mempermainkan mereka berdua. Peta sedang balas dendam. Ia balas dendam pada hidupnya yang semakin hari kian kacau. Pinta langsung beranjak dan ikut menyanyi dengan Channy dan teman-teman yang lain. "Lo jangan kepedean ya Ran. Gue bilang gitu biar dia gak ngeganggu!" "Apaan sih lo, lo sadar gak sih, lo bikin dia sakit hati." "Malah bagus. Gue ngebantuin lo. Biar dia sadar kalau calon pacarnya mau diambil orang." "Jangan-jangan, lo beneran suka sama gue?" "Kagak, gue udah punya pacar!" "Jangan bilang, pacar lo namanya Benny?" "What The Hell, lo tahu Benny?" "Sorry ya Ta, gue diem-diem cari info tentang lo. Emang lo doang yang bisa ngulek-ngulek informasi pribadi orang lain?"  Kegilaan ini membuat Peta mati rasa. Biarlah semuanya terjadi. Nasi sudah menjadi bubur. Menerima kenyataan adalah pilihan terbaiknya. Walau dilubuk hatinya yang paling dalam masih tak ingin mengumbar semuanya tapi dihadapan Eran rasanya sudah tidak mungkin. "Ta, lo jangan curiga mulu sama gue. Gue janji gak bakal ngasih tahu tentang lo sama siapapun. Gue tahu kok, teman-teman lo gak tahu kalau lo punya pacar." "Terserah lo aja deh Ran. Lo jadi tahu semua tentang gue. Sedangkan tentang lo, gue gak tahu apa-apa."balas Peta dengan amarah. Dia kesal, tapi gak berkuasa. Tapi semua ini membuatnya berkaca. Ternyata begini rasanya dikepoin. Dan emang, rasanya gak enak. Dia sudah melakukan hal itu belasan kali. Tanpa tahu bagaimana perasaan sang korban.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD