|Part 14|

1108 Words
Accuracy. Segala sesuatu harus akurat demi cinta yang tak berlebihan. Say no to bucin. Error 404 Dully Sijabat : adminnya mana nih? Kapan lagi share info tentang Mas Yuyus? Nurshabilla : Iya ih, kangen doi pake banget Bokki : Lah, doi kan tadi siang ngajar Nur? Nurshabilla : Iya sih, tapi udah kangen aja. Rindu itu berat Bok. Anastasia : Adminnya lagi ngerjain project kali! Pelita IL : Adminnya lo ya? @anastasia Anastasia : Engga kak. Itu cuma spekulasi hihi "Si Peta kenapa Mi?"tanya Rama. Mereka semua sedang mengerjakan tugas di kantin. Ini akan jadi waktu yang lama. Tugas project sebagai penunjang hasil UTS itu memang sangat menguras tenaga dan mental. Semua orang harus berkontribusi. Ada saja pertengkaran yang terjadi walau alasannya sepele. Ada yang cepat mengerjakan bagiannya, ada pula yang lambat seperti kura-kura. Tapi itu masih lebih mending dari pada mereka yang bersikap bodo amat dan ogah-ogahan. Peta merenung sendirian di meja yang dekat dengan air hujan yang turun. Ia seperti gadis depresi. Ia yakin Pangeran dan Pinta melihatnya. Apakah Eran memberitahu Pinta semuanya? Sepertinya tidak. Pinta masih bersikap biasa ketika bertemu dengan Peta. Peta ingin percaya bahwa janji Eran tidaklah palsu. "Lagi galau kali." "Lo peduli banget sih sama Peta, Ram? Lo gak peduli sama gue? Lo buruan dong, kerjain tugas lo biar cepet diuploadnya!"rengek Channy kesal. Cewek emang dikasih tingkat bawel yang lebih tinggi daripada cowok. Dan cenderung pengen buru-buru biar bisa tenang. "Iya Cha. Lo bawel banget sih jadi cewek." "Wajaarrrrr!!! Wajarrrrr! Manusia mana yang gak enek sama orang yang kerjanya lambat, hah?" "Diem lo Cha. Nafas lo bau!"ledek Alfa. "Lo enak Al, punya teman kelompok kayak Ammi, Peta. Lihat aja tuh si Peta, udah galau aja dia abis kelarin tugasnya." "Dia gak tahu Al. Bilangin!"seru Ammi tak terima. "Kenapa emang Mi?"tanya Shava kepo. "Peta itu pembunuh berdarah dingin!" "Ish, jangan ngadi-ngadi lo Al. Lebay!"seru Channy. "Serius gue Cha. Lo kira tugas ini kelar gara-gara siapa? Peta, Cha. Dia ngomong di grup kelompok kami. Dia ngelabrak siapa aja yang gak kerja."ucapnya serius. Keseriusan yang di atas rata-rata. Siapapun bisa tahu kalau gak ada istilah bercanda dalam perkataan itu. "Masa sih? Kayaknya Peta gak sekejam itu deh."seru Rama. "Kasih tunjuk Al. Kasih tunjuk chattingan kemarin malam."sahut Ammi begitu menggebu-gebu. Dia pengen banget ngebuktiin ucapannya. Kebenaran itu harus dijunjung tinggi. Alfa memberikan ponselnya pada Channy dan Rama. Mereka mendekat untuk melihat apa alasan Peta jadi pembunuh berdarah dingin. Istilah yang cukup bikin kaget. EKS 11 KM Husein : Sorry ya. Gue baru baca. Tugas gue yang mana aja ya guys? Ammi : Baca aja di filenya. Dikerjain sampai besok pukul 12 ya. Biar digabungin dan gak buru-buru. Suhendi : Punya aku yang mana tah? Aku banyak kerjaan di kantor, maklum ya. Dita : Gue juga guys. Sorry banget, bisa gak diundur sampai jam 6? Gue ada kelas juga jam 10 sabtu besok. Peta : Bacot lo semua! Lo kira gue gak kerja? Lo kira gue gak ada kelas? Emang lo doang yang menderita? Gue kasih waktu sesuai permintaan lo. Sampai jam 6 sore. Kalau kalian gak kelarin tugas bagian kalian, gue yang ambil alih. Tapi ingat, gue bakal bilang sama dosennya kalau kalian gak berkontribusi.  Peta : Gue tunggu kalau ada yang gak setuju!! Al Fareza : Gue setuju sama Peta. Ammi : Yups, me too! Channy geleng-geleng kepala setelah membaca chattingan itu. Sungguh, ternyata Peta sekejam itu. Bahkan ia mau mengambil alih semuanya? Dia benar-benar gila. Tapi kegilaan itulah yang membuat semua selesai sebelum waktunya. Tak ada momen jantung berdegup kencang karena mengejar waktu. Emang ya, jadi kejam itu tak selalu buruk. "Lihat tuh Ram? Untung gue gak gituin elo!" "Sabar dong Cha. Manusia ada batasnya." "Apalagi kesabaran gue!" "Udah ih, kerjain aja yuk!"ajak Shava yang mulai kesal dengan pertengkaran itu. Mereka sibuk banget bicara tapi kerjaannya masih stick di posisi yang sama. Gimana ini bisa kelar kalau terus-terusan begini? Ditempat lain, perempuan itu makin tenggelam dalam kesedihan. Peta menatap langit yang gelap. Ia benar-benar seperti orang gila. Pangeran Simanjuntak, cowok bangke yang membuatnya semakin gak karuan. Kini nyawanya sedang berada di tangan orang lain. Cowok itu bahkan datang mendekat padanya setelah tugas kelompoknya selesai. "Lo kenapa Ta?" "Menurut lo?"jawab Peta ketus. "Buat apa sih dipikirin? Kan kita udah saling janji." "Tetap aja, gue gak percaya sama lo!"tegasnya gak mau kalah. Kegalauan ini sangat berdasar. Gak semudah itu untuk percaya pada orang lain. "Hmm, wajar sih lo gak percaya sama gue. Tapi beneran, gue lebih ngutamain Pinta dari apapun di dunia ini. Jadi lo percayakan rahasia itu sama gue." "Tetap aja, gue gak bisa tenang." Tampak Eran berpikir sejenak dengan mimik wajah tenang. Dia sama sekali gak galau dengan keadaan saat ini. Dia sewoles itu jadi cowok. Dasar aneh!! "Ta, gue butuh bantuan lo. Gue tahu lo bisa hack website kampus kita." "Apaan sih? Diem lo Ran."sergah Peta sambil menutup mulut Eran dengan tangannya. Mereka tidak sadar bahwa ada beberapa pasang mata yang memperhatikan dari jauh. Muncullah gosip baru yang bikin masalah. "Wah, diam-diam Peta ngincer Eran ya."teriak Channy tak tahu diri. Teriakan yang bikin seisi kantin dapat mendengar suaranya. "Lanjutkan guys, kalian bisa jadi new couple di kelas kita."lanjut Ammi sambil cekikikan. Peta langsung melepaskan tangannya. Ia makin kesal dengan semua orang di tempat itu. Ia duduk lagi sambil membuka laptopnya berusaha mengalihkan padangan dari Eran. Ia pura-pura berfokus pada sesuatu padahal tidak sama sekali. Pura-pura aja biar kelihatan tidak peduli. "Ta, bantu gue please! Gue butuh lo buat ngebuktiin kalau ada nepotisme di tempat ini." "Hah? Si....siapa?”tanyanya kepo. Tuh kan, aslinya Peta peduli banget. Apalagi menyangkut kampus yang harusnya jadi tempat belajar paling adil. Bukannya terjadi korupsi, kolusi dan nepotisme. Emang sih, itu udah jadi hal umum di semua kampus. Tapi gak seterbuka ini juga. Setidaknya, Peta gak perlu tahu secara detail. Kalau dia tahu, dia bisa jadi semakin penasaran. "Mas Faruk, Ta. Ini masih kecurigaan gue, tapi nilainya dia bagus banget semester lalu."ucap Eran setengah berbisik. Biar gak ter-notice oleh orang lain. "Apaan dah, dia kan emang beneran pintar." "Yes, I know it. But there is something weird. Dia ngambil mata kuliah Struktur Data tapi nilainya jauh dari kata sempurna. Gue tahu itu, karena gue juga ikut ngambil. Kalau lo ngambil matkul itu juga, lo pasti bisa ngerasain ada yang gak beres." Kepala Peta langsung pusing tujuh keliling. Ia kembali ingat perbuatan jahat dosen waktu di UNRI dulu. Ia sangat benci dengan sesuatu yang tidak jujur. Bahkan dunia menolaknya saat membeberkan kebenaran itu. Dia di dropout dan dosen tersebut masih bisa mengajar dengan leluasa. Hmm, dunia yang tidak adil sungguh memuakkan. Bikin pengen murka, tapi apa daya. Tubuh kecil dan kuasa yang tidak ada tak akan mampu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD