Availability. Jangan pernah berpikir bahwa availability membereskan segala hal. Rasa itu bisa saja berpindah hati.
Hujan deras turun memenuhi kota. Air dengan tekanan kuat menghantam tanah di bumi. Dingin yang menyergap itu membuat siapa saja rindu yang namanya matahari. Sudah sejak pagi tadi kota Depok diguyur hujan. Peta tiba di stasiun UI dengan wajah lesu. Ia segera memesan Gocar di aplikasi GOJEK. Ah, semoga saja ia tak bertemu siapapun. Kekhwatirannya langsung terjadi. Makanya jangan mikir aneh-aneh, takutnya langsung kejadian.
"Ta, lagi nunggu reda?"tanya Channy. Ia datang disusul Alfa, Rama dan Arri.
"Hmmm iya Cha. Eh, naik Gocar aja yuk. Gue udah pesenin. Biar sepatu gak basah."
"Traktir ya Cha. Lo yang bayar nih?"tanya Arri.
"Jangan gitu dong. Kita patungan aja."seru Rama.
"Gue yang bayarin. Kalian kan numpang doang. Anggap aja gue beramal sama orang yang sok miskin."ledek Peta.
"Padahal Arri duitnya banyak Ta. Emang dia aja yang pelit."
"Heh,, gue gak gitu ya Cha."sanggah Arri.
"Udah yuk."ajak Peta sambil berlari menuju mobil yang parkir tepat di depan stasiun. Peta sendiri bingung dengan tingkahnya. Dulu, dia seperti orang sombong yang tidak mau berteman dengan siapapun. Dulu ia hanyalah mahasiswi yang self oriented. Berorientasi pada diri sendiri, tanpa peduli orang lain. No other people no cry. I love myself so much. All of you is trash. This is my live my surrender. Sekacau itu dia dulu.
Sekarang ia malah bertingkah sebaliknya. Ia rela membiarkan orang-orang itu masuk dalam hidupnya. Apakah ini karena mereka terlalu baik? Ataukah ini karena dunia memang sudah berubah banyak?
Mereka sampai di kampus dengan tenang, tanpa basah kuyub. Tanpa sepatu yang bikin jengah karena penuh dengan air. Peta dan Channy langsung ke kelas. Channy sedang tak berselera makan. Katanya dia lagi diet demi badan yang mirip gitar spanyol. Sudah ada beberapa orang di kelas. Dan tiba-tiba Pangeran datang saat ia sedang membereskan tasnya.
"Ta, boleh ngomong bentar gak?"
"Hah?"
"Gue tunggu di atap."
Dia langsung pergi. Atap? Memangnya ada atap di kampus ini? Lantai tertinggi dari gedung B adalah lantai 4. Apa atap itu ada di lantai 4?
"Channy, emang gedung ini punya atap?"tanya Peta pada Channy yang baru kembali dari toilet.
"Ada Ta, di atas. Lo ke kanan, nah ada pintu keluar tuh. Lo kayak anak baru aja. Emang mau ngapain ke atap?"
"Oh gapapa Cha. Gue cuma nanya. Gue ke toilet dulu ya."
Peta buru-buru ke atap. Ia penasaran dengan Pangeran. Sejak Peta mengirimi Eran bukti perbuatan buruk Pinta, cowok itu terlihat tak menggubris. Ia tak mengirim makian pada cewek itu. Bisa saja sih mereka bertemu atau langsung menelepon. Ah, kepala Peta pusing seketika. Pusing memikirkan apa yang membuat Pangeran begitu tenang.
"Kenapa Ran?"tanyanya saat melihat Eran sedang menatap langit yang gelap. Cowok itu mendekat dan menjadi menyeramkan. Tatapannya sangat berbeda dibanding biasanya.
"Lo kan yang ngirim chattingan Pinta ke email gue?"ucapnya tegas.
Intonasinya sangat lugas dan menyeramkan. Peta kaget bukan kepalang. Ia tidak menyangka akan ketahuan secepat ini. Terlebih oleh cowok yang ia taksir. Rasanya kayak masuk ke kandang macan.
"Jujur lo sama gue! Lo yang ngirim kan?"
"Iya! Emang kenapa hah? Ada masalah sama lo?"
"Teman-teman lo tahu?"
"Eng,,,,engga. Cuma gue doang."
"Gue harap lo tutup mulut. Awas aja kalau ada informasi yang buruk tentang Pinta. Lo yang bakal gue siksa!"
"Heh, dia itu berperilaku buruk ya. Dia pantas dapat hukuman!"
"Lo juga pantes. Gue tahu kalau lo yang bikin channel telegram sampah itu. Lo sadar dong kalau itu pencemaran nama baik, pelanggaran privasi dan perbuatan kriminal."tegas Eran memberi penjelasan.
Badan Peta lemas seketika. Ia tak tahu lagi harus bagaimana. Ternyata Eran sepintar itu sampai tahu tentang semua hal yang Peta lakukan di kampus ini. Ia ingin mengakhiri semua ini tapi tidak bisa. Bagaimana jika ia di dropout? Segalanya akan hancur.
"Lo tahu dari mana gue yang bikin?"tanya Peta sambil duduk di kursi yang ada di sana. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Mereka berdua sudah tidak berniat untuk masuk kelas lagi. Ponsel Peta ditinggal di kelas dan tidak ada yang tahu keberadaannya.
"Gue tahu lo hacker Ta. Gue pernah lihat lo lagi ngulek-ngulek informasi Mas Yuyus di laptop lo. Awalnya sih gue gak curiga apa-apa, hingga akhirnya Dully nunjukin foto di channel itu."
"Ahhh sial!!!"
"Gini aja, gue mau kita kerjasama."
"Maksud lo?"
"Gue bakal biarin lo bebas dengan syarat lo jangan sebarin semua yang lo tahu tentang Pinta."
Peta diam.
"Gue tahu kok Ta, lo itu udah mastiin semuanya biar IP lo gak ke detect. Gue udah coba buat browsing tentang lo tapi gak bisa. Ternyata lo sehandal itu."
"Ya udah. Ini janji sampai mati ya?"
"Iya, gue janji. Tapi lo harus sadar, sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, baunya tetap tercium juga."
"Kalimat itu juga buat lo Ran. Lo gak bisa selamanya nutupin perilaku Pinta. Lagian, lo secinta itu sama dia?"
"Iya. Cinta itu buta Ta. Udah ya, gue duluan!"
"Pokoknya lo janji ya Ran?"tanya Peta memastikan. Dia gak bisa semudah itu percaya pada cowok itu.
Ia hanya menganggukkan kepala. Rasanya ini bukan penyelesaian masalah. Kepala Peta langsung pusing. Ini bisa jadi calon cikal bakal masalah di masa depan nantinya. Ah, kenapa ia harus hidup di area yang mengkhawatirkan ini? Andai ia hidup di fakultas lain pasti akan berjalan mulus kayak jalan tol. Peta mulai turun setelah Eran turun beberapa menit sebelumnya. Cowok itu masuk kelas tanpa rasa malu.
Peta menunggu di toilet sambil membayangkan masa depannya yang mungkin saja suram. Ia menatap wajahnya di cermin yang besar itu.
"Untuk inikah aku dilahirkan?"
Ia meneliti pori-pori wajahnya hingga keramaian muncul. Pintu toilet terbuka dan ada Channy yang masuk sambil membawa tas milik Peta.
"Lo dari mana sih anjir? Lo cuma nitip tas doang di kelas, hah?"ucapnya kesal.
"Ta,,,,ta... tadi gue ketemu teman dulu. Eh, keasyikan cerita. Karena waktu tinggal sebentar, gue malu masuk kelas."
"Owh,,, gue kira lo lagi berduaan sama Eran. Soalnya dia juga baru masuk kelas."
"Gak mungkin woy!!"
"Iya juga sih. Udah ah, gue nitip tas. Mau pipis bentar."
"Okey Cha."
Peta mendesah. Memikirkan segala hal yang terjadi membuatnya muak. Penyesalan selalu datang terlambat. Ia mengecek ponselnya dan mendapat pesan dari Eran.
Eran : Lo berhenti jadi spy di ponsel Pinta. Awas aja kalau lo ketahuan lagi, gue gak bakal segan-segan bocorin semuanya.