Keinginan untuk Pulang

1004 Words
Tubuh mungilnya itu duduk terkaku di atas kursi kayu. Keringat sebesar biji jagung telah keluar dari pori-pori kulit. Matanya melirik kanan dan kiri, tak ada siapa-siapa. Namun dia masih merasa takut. Bahkan, hidangan lezat yang kini telah tersaji di depannya saja, sama sekali tak membuatnya tergiur. Dia masih berpikir akan ucapan dari salah satu pelayan tadi, apakah dirinya akan dibunuh setelah makan ini? Atau diminta lebih banyak bayaran karena membuat kekacauan pada saat mabuk. Rasanya, Bella sangat menyesal sekali karena semalam telah memutuskan untuk mabuk saja dan lihatlah sekarang, dia harus berhadapan dengan semua akibat kekacauan ini. "Gilang, tolong aku," gumam nya dengan suara yang sangat lirih. Dia yakin sekali, kalau sahabatnya itu pasti tengah mencari keberadaanya saat ini. Bahkan, kemungkinan terbesarnya, Gilang jadi membatalkan kepulangan mereka. Ya, seharusnya pukul 1 siang nanti, dia sudah di bandara untuk pulang kembali ke negaranya, tapi sekarang justru dirinya terjebak di sini. Di tempat yang sama sekali dan dikenal oleh Bella sekalipun. "Nona tidak ingin makan? Atau sajian di sini kurang menarik perhatian Nona? Saya akan menggantinya," ujar salah satu pelayan yang ada di sana, pelayan tua dengan sebuah pin menempel di dadanya, menunjukkan bahwa dia adalah ketua pelayan di sini. "Tidak!" jawab Bella langsung, dia tak ingin bayarannya nanti akan semakin besar jika memakan sajian yang pastinya memiliki harga fantastis ini. "Aku sama sekali tak kelaparan." Tubuhnya terbangun dan memposisikan untuk menatap mata pelayan tadi. "Kira-kira tuan mu akan datang berapa lama lagi? Saya harus pulang secepatnya karena ada urusan penting," ujarnya tegas. "Saya sudah menghubungi Tuan dan sekitar 30 menit dia akan sampai." Bella menganggukkan kepalanya dengan pelan, kini dia mulai merasa tenang. Hanya perlu menunggu beberapa saat lagi, lalu dia akan meminta maaf pada pria yang telah dibuatnya kesusahan semalam. Tak sulit bukan? Kembali dia terduduk di atas kursi. Matanya menutup, menolak semua aroma harum yang menyengat, memasuki indera penciuman nya. Dia sangat ingin sekali makan, perutnya sudah terasa lapar dan dia butuh makanan untuk mengisi tenaga. 'Tenang, Bella. Tinggal sebentar lagi. Jika masalah ini selesai, aku akan pulang ke Indonesia dan makan nasi padang yang banyak.' Namun, bodohnya Bella sama sekali tak bisa mencegah perutnya yang mengeluarkan bunyian cukup keras, sampai-sampai orang yang ada di sekitarnya bisa mendengar dengan sangat jelas. Wanita itu meringis pelan, dia merasa sangat malu sekali saat ini. Matanya tertutup itu perlahan terbuka, menengok ke kanan, ternyata ketua pelayan masih ada di sini dan tentu saja dia tahu kalau dirinya tengah kelaparan. "Saya tahu Nona sedang lapar, lebih baik Nona memakan sajian nya saja. Semua gratis, Nona tak perlu mengkhawatirkan apapun itu." "Benarkah?" tanya Bella dengan sungguh-sungguh pada sosok itu. Dia tak ingin tertipu atas ucapan sang pelayan yang bisa saja sebuah kebohongan. "Benar Nona, justru Tuan saya lah yang menyuruh Anda untuk menghabiskan makanannya." "Mengapa kau tak ngomong dari tadi," ujar Bella dengan penuh rasa kesalnya, padahal dia sudah berusaha menahan lapar sedari tadi, tapi ternyata semua makanan ini gratis. Tanpa membuang waktu yang lama, dia langsung bangun dan mengambil sepiring steak beef yang sedari tadi sudah menarik perhatiannya. Menghabiskan makanan itu dengan sangat cepat, sampai-sampai mulutnya penuh. Saus sambal bertebaran di wajahnya dan dia sama sekali tak memperdulikan hal tersebut. Bahkan, ketika bunyi derap langkah kaki mulai terdengar dari arah pintu, Bella sama sekali tak menyadarinya. Dia masih sangat fokus pada makanannya saja. Hanya pelayan tua tadi lah yang menyadari, pelayan itu menundukkan tubuhnya pada sang Tuan, lalu secara perlahan dia mulai melangkah mundur dan memilih untuk langsung pergi dari sana. Darren. Pria itu hanya diam memperhatikan Bella yang sama sekali tak menyadarinya. Bahkan saat dia mulai melangkah mendekati wanita itu, wanita itu masih saja asik makan. Sebuah senyuman terbit di wajahnya saat melihat wajah Bella yang penuh akan kepuasan saat menghabiskan makanan nya. "Ekhem," dia berdehem pelan. Posisinya kini tepat berada di samping Bella yang langsung menengok ke arahnya. Terlihat dengan jelas mulut wanita itu tampak penuh dengan makanan, begitu banyak noda makanan yang berserakan di wajahnya itu. Benar-benar sangat menggemaskan sekali. Ujung bibir Darren berkedut, ingin rasanya tersenyum saat itu juga. Namun, dia masih tetap mempertahankan wajah datarnya, tak ingin terlihat tersenyum di depan wanita itu. "Hey, kau ..." Jari yang penuh dengan saus itu menunjuk ke wajah Darren, otak Bella kini berjalan dengan sangat cepat, berusaha mengingat lagi siapa nama sosok pria yang sangat tak asing bagi dirinya ini. "Da ... David?" "Darren," koreksinya setelah Bella salah menyebutkan namanya. "Ah, itu. Jadi kau yang membantuku lagi?" Bella meraih sebuah gelas yang berisikan air putih, meneguk minuman itu sampai habis, lalu mengelap noda makanan yang ada di wajahnya dengan kain dari sana. Tubuhnya terbangun, menempatkan posisinya berhadapan dengan Darren. "Aku ucapkan terimakasih padamu yang telah membantuku. Maaf jika semalam aku membuat kekacauan. Aku sama sekali tak mengingat karena mabuk." "Tak masalah." Bella menghembuskan napasnya dengan lega setelah mendengar itu. "Jadi, aku mau pulang sekarang. Apakah boleh?" Tatapan Darren berubah menjadi tajam mendengar ucapan Bella yang menunjukkan rasa tak suka di dalam dirinya ini. "Kenapa kau ingin terburu-buru?" tanya Darren masih dengan kemarahan yang terlihat jelas, tentu saja Bella menyadarinya, ada perasaan bingung di dalam dirinya sendiri melihat kemarahan itu. Apa salahnya? "Aku harus pulang ke negara ku nanti, makanya sekarang aku harus pergi," jawab Bella dengan suara yang pelan. Ah, entah mengapa dia merasa kalau Darren semakin marah, bukan hanya tatapan, tapi rahang yang mengeras dan tangan mengepal itu, seolah sudah menjelaskan semuanya. Beberapa saat, hanya ada keheningan saja di tempat tersebut. Darren menghembuskan napasnya dengan kasar, berusaha untuk tetap tenang saat ini, menghadapi Bella. Tentu saja dia tak ingin membuat wanita dihadapannya ini jadi marah. "Oke, aku akan mengantarkan ke rumah mu." "Gak perlu!" tolak Bella langsung. "Aku bisa pulang sendiri." "Tak ada penolakan yang kuterima, ayo!" Tangan Bella ditarik dengan kuat oleh Darren, pria itu benar-benar tak ingin menerima penolakan. Bella jadi bingung akan sikap pria yang baru dikenalnya ini. Seperti ada maksud tersembunyi. Namun, dia sendiri berusaha untuk tetap berpikir positif saat ini. "Kau tak perlu takut padaku, aku bukanlah orang jahat," ujarnya dengan tangan yang kini merayap dan merangkul tubuh Bella.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD