Di dalam mobil itu hanya ada keheningan saja. Antara Bella dan Darren, sama sekali tak ada pembicaraan. Sungguh, Bella sangat tak suka sekali dengan situasi yang sangat canggung seperti ini. Memang lebih baik dia tak pulang bersama dengan patung dingin di samping. Bahkan, Bella merasa sangat segan untuk mengajaknya berbicara.
Pandangannya tertuju ke arah luar, melihat jalanan yang ramai dengan lalu lalang kendaraan lain. Toko-toko bertingkat yang berada di pinggir jalan terus diperhatikannya, membaca setiap plang yang terpasang tepat di depan toko-toko di sana.
Banyak orang memilih untuk berjalan kaki di trotoar, dibanding memakai kendaraan seperti mobil atau motor. Sangat berbanding jauh dengan negaranya yang sangat ramai akan kendaraan, tapi enggan untuk berjalan kaki. Mungkin efek karena cuaca di Indonesia yang sangat panas, sampai-sampai membuat orang memilih memakai kendaraan sendiri.
"Ponselmu ada di dalam dashboard mobil," ujar Darren tiba-tiba.
Secepatnya Bella membuka dashboard itu, dia pun melihat sebuah benda pipih berbentuk persegi yang ada di sana. Diraihnya benda tersebut, di dalam hati, dia benar-benar merasa sangat bersyukur sekali karena ponselnya tak hilang waktu berada di club nanti.
"Terima Kasih," ucap Bella dengan suaranya yang pelan.
Tak ada tanggapan sedikitpun dari Darren, Bella sama sekali tak memperdulikan itu. Dia sudah cukup mengenal bagaimana sikap pria yang ada di sampingnya ini.
Diaktifkan ponsel tersebut, dilihatnya begitu banyak panggilan dari Gilang yang jumlahnya sangat banyak sekali, sekitar 30 panggilan, sementara pria itu juga mengirim pesan bertubi-tubi sampai 100 pesan yang sama sekali belum terbaca.
Bella meringis pelan, dia sangat yakin sekali kalau setelah pulang nanti, pria itu akan memarahinya habis-habisan, dia harus siap menerima semua amarah dari sahabatnya itu.
'Maaf Gilang.' Batinnya berkata.
Pesan itu sama sekali tak dijawab oleh Bella. Yah, dia hanya membaca saja. Biarkan nanti saat pulang saja dia menjelaskan semuanya, tidak sekarang. Lagian juga, mereka akan sampai beberapa saat nanti.
Mobil itu terhenti secara tiba-tiba, mereka telah sampai telat di depan sebuah bangunan tinggi. Tempat hotel Bella berada. Buru-buru wanita itu mempersiapkan kepergiannya, dia pun menoleh ke arah Darren yang telah mengantarkannya pergi itu.
"Terimakasih karena sudah membantuku beberapa kali. Ini adalah pertemuan terakhir kita, tapi aku tak akan melupakan semua kebaikan mu," ujar Bella, yang ditanggapi wajah datar dari Darren, membuat Bella sangat canggung sekali.
Tak tahu dia harus berkata seperti apa.
"Hmm, jadi aku keluar dulu." Setelahnya, Bella pun langsung membuka pintu mobil dan keluar dari sana. Tubuhnya tetap berdiri diam di ujung trotoar, menunggu mobil yang dikendarai oleh Darren itu mulai meninggalkan tempat ini.
Setelah melihat mobil tersebut raib dari pandangannya, Bella membalikkan tubuhnya, melangkah menuju masuk ke dalam hotel tersebut. Di lobby, suasana terasa sangat ramai oleh orang-orang yang menginap di sini atau para staff tengah membersihkan daerah setempat.
Bella menuju ke lift yang telah diisi oleh sepasang kekasih. Firasatnya sudah tak enak saat dia memasuki lift itu, terbukti saat pintu tertutup, telinganya bisa mendengar bunyi decapan pelan dari arah belakang.
Tangan Bella mengepal dengan sangat kuat. Sungguh, dia sangat tak suka sekali dengan situasi yang menekan dirinya ini. Bagaimana bisa mereka bermesra-mesraan saat dirinya saja ada di tempat ini?
Wanita itu menengok ke belakang, ingin memberikan teguran pada mereka yang sudah bersikap kurang ajar itu. Namun, dia dibuat terdiam saat keduanya kini terlihat jauh lebih intim dari apa yang dipikirkannya. Sang pria yang ingin membuka baju wanita nya dan mulai mengendus-endus bagian leher sampai d**a wanita itu.
"Hey, bisakah kalian hentikan adegan menjijikan ini? Di sini ada saya yang sangat terganggu dengan aksi kalian," tegur Bella setelah dirinya berhasil mengumpulkan lagi seluruh kesadarannya.
Pergerakan sepasang kekasih itu langsung berhenti, mereka menoleh ke arah Bella yang menatapnya dengan jijik. Sang wanita langsung mendorong tubuh kekasihnya, mengancing lagi bajunya yang terbuka itu, lalu merapikan tatanan rambutnya yang sudah berantakan.
"Maafkan kami," ungkap mereka sedikit malu.
Bella hanya mengangguk saja, dia pun kembali menghadap ke depan dan setidaknya, kini dia merasa jauh lebih lega, karena tak ada lagi bunyi decapan seperti sebelumnya.
'Mengapa orang luar biasa menunjukkan keintiman di tempat umum?' batin wanita itu berkata.
Pintu lift itu terbuka, tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Bella pun langsung keluar dari sana, cepat-cepat dia menuju ke kamarnya berada. Untung otak sejengkal nya ini tak lupa nomor kamar yang ditinggalinya bersama dengan Gilang.
256.
Karena Bella sama sekali tak memegang kunci hotel nya, wanita itu memilih untuk mengetuk pintu berkali-kali.
Pintu itu terbuka, menunjukkan sosok wanita yang tak dikenalnya tengah berada di depannya.
Beberapa saat, mereka hanya saling memandang satu sama lain.
"Kau siapa?" tanya Bella pada wanita itu. Dia mulai berpikir positif, menganggap bahwa wanita yang ada di depannya ini hanyalah wanita bawaan Gilang semalam saja, tak lebih dari itu.
"Saya? Saya penghuni kamar ini."
Kerutan muncul di kening Bella. "Bukankah yang menempatinya adalah sahabat saya, Gilang namanya. Kau tak tahu?"
Wanita itu menggelengkan kepalanya. "Mungkin saja, dia adalah penghuni kamar sebelumnya."
"Jadi dia sudah pergi." Bela memukul pelan keningnya, menyalahi semua kebodohan ini para dirinya sendiri. Sebisa mungkin, wanita itu tetap tenang dan berpikir positif. Napasnya ditarik dengan panjang, lalu menghembuskan kasar. "Baiklah terimakasih."
Bella memundurkan langkahnya, wanita itu merogoh kantong celana untuk mengambil ponsel nya. Beberapa kali menghubungi Gilang, tapi semua panggilan itu sama sekali tak dijawab oleh sang sahabat.
"Gilang kau di mana bodoh!" ujar wanita itu pelan diantara seluruh kecemasan yang kini tengah dirasakan olehnya sendiri.
Dia sungguh takut kalau Gilang sudah pulang terlebih dahulu. Yah, bagaimanapun juga ini sudah pukul tiga sore, sudah sangat lewat dari jam penerbangan mereka.
Jika Gilang pulang, lalu bagaimana dengannya? Bella tak memiliki banyak uang di sini, belum lagi barang-barang seperti visa dan juga tiket, semuanya ada pada Gilang.
"Tenang Bella, tenang. Dia tak akan mungkin meninggalkanmu, yah gak akan mungkin." Disimpan ponsel itu ke dalam kantong celana, dia pun perlahan meninggalkan hotel itu.
Kini, dia harus tidur di mana? Dirinya tak memiliki banyak uang untuk memesan hotel lagi atau bahkan motel.
Terus melangkah menyusuri jalanan layaknya gelandangan, Bella tak tahu harus ke mana. Sampai saat dia di bawah jembatan, begitu banyak orang di sana yang tampak tertidur dengan beralas kardus atau ada kemah.
"Apakah aku menjadi homeless sekarang?" tanya wanita itu pelan.
"Akhhh, aku gak mau!"