50 Poundsterling.
Hanya satu lembar kertas berwarna merah itu yang dipegangnya, setelah tadi memesan roti untuk makan malam nya. Wanita itu menatap dengan dalam uang yang tersisa di dalam kantong celana nya, sekarang uang itu sangat berharga sekali, dia tak akan mempergunakannya begitu saja.
"Sampai Gilang menghubungiku, uang ini akan tetap aku hemat." Punggungnya bersandar pada tembok yang tampak telah berjamur itu. Dia memandang ke sekitarnya, begitu banyak orang yang tidur di atas kardus.
Ya, di sinilah dia, masih berada di bawah kolong jembatan dengan posisi terduduk.
Wanita itu kedinginan, sehelai kain yang membungkus tubuhnya sama sekali tak berhasil melindunginya dari suhu yang rendah ini.
Bibirnya menukik ke bawah, dia mulai menangisi masalah yang datang ke dalam kehidupannya ini dengan tersedu-sedu. Sungguh, rasanya dia sangat tak tahan sekali berada di tempat ini. Berisik, bau pesing dan juga jorok, rasanya Bella ingin mengumpat pada Gilang yang telah menghilang begitu saja.
Bahkan saat ini, sahabatnya sama sekali tak bisa dihubungi.
"Hey, jika kau lelah tidurlah. Tak ada guna nya menangis!" tegur salah satu orang di sana, yang sepertinya merasa sangat terganggu dengan suara tangis dari Bella.
"I-iya." Wanita itu mengambil kardus di sampingnya, lalu mulai melebarkan kardus tersebut dan menaruhnya ke atas tanah yang becek. Hatinya merasa sangat ragu sekali untuk tidur di sana, pasti sangat tak nyaman.
Tubuhnya mulai direbahkan pada kardus itu. Beberapa kali dia bergerak untuk mencari posisinya yang nyaman, tapi tetap saja tak bisa. Tubuhnya justru merasa pegal, terutama bagian tangan yang telah menjadi bantalan juga.
Bermenit-menit berada dalam situasi seperti itu, akhirnya Bella memilih untuk duduk saja. Lebih baik dia tak tertidur saja untuk malam ini. Terus melamun, menatap kosong pada orang-orang yang selalu melewatinya.
Sampai terasa matanya mulai memberat, wanita itu perlahan menutup matanya dan mulai tertidur dengan posisi duduk.
Dia sama sekali tak bisa menahan seluruh rasa kantuknya itu.
Sebuah jepretan foto terhasilkan, seseorang yang berpakaian serba hitam itu telah mengambil sebuah foto Bella tadi. Seringai muncul di wajahnya setelah melihat langsung hasil foto itu, tampak sekali dia sangat puas dengan apa yang dilihatnya.
Foto itu dikirim langsung pada seseorang yang kini tengah menunggu kabar dari dirinya. Dia pun juga menampilkan sebuah pesan setelah foto itu dikirim
"Selesai."
Pria itu pergi dari sana, dia menuju ke mobilnya berada. Sempat dia menengok ke belakang, melihat sebuah karung besar yang bergerak-gerak di sana. Kedua bahunya terangkat, tampak sangat tak peduli dengan karung itu.
Dia pun mulai melajukan mobilnya dengan sangat cepat, membelah jalanan London yang cukup ramai pada malam hari tersebut. Sampai ke jalanan yang lebih sepi, dia berhenti tepat di sebuah rumah yang gelap, seolah tak ada sedikitpun pencahayaan.
Karung yang ada di bangku belakang mobilnya dibawa pergi dari sana, dia menyeretnya dengan tenaga penuh, mengingat lagi kalau karung ini terbilang sangat berat bagi dirinya.
Sampai di depan pintu rumah itu, dengan menggunakan kakinya yang menendang dengan sangat kuat pintu di depannya itu, lalu dia pun melihat seorang di sana.
"Bawa dia ke dalam, jangan apa-apa kan dia, cukup kurung saja."
Lawan bicaranya itu mengangguk, membuat dia langsung berbalik dan pergi dari sana, kembali masuk ke dalam mobilnya. Kali ini, dia harus menemui Sang Tuan yang telah menunggu kedatangannya. Tentu saja dia tak boleh terlambat, oleh karena itu, mobilnya dikendarai dengan kecepatan yang sangat tinggi untuk bisa cepat sampai di tempat tujuannya.
Terdengar bunyi dering ponsel, dia hanya melirik beberapa saat, lalu kembali memfokuskan pandangan ke depan lagi. Kecepatan mobil kembali ditambah, untung jalanan yang dilewati olehnya kini lebih sepi, jadi tak akan membahayakan pengemudi yang lain.
"Sial, sebentar lagi Kenzo bodoh!" Sungguh, dia merasa sangat terganggu sekali dengan panggilan yang dilakukan oleh temannya itu. Fokusnya justru menjadi pecah begitu saja karena bunyi dering ponsel.
Dia sampai di mansion mewah bertingkat tiga itu dalam waktu 20 menit saja. Mobilnya harus melewati pekarangan yang sangat luas, bahkan jarak gerbang sampai ke rumah utama berkisar 100 meter.
Mobilnya berhenti tepat di depan rumah itu, dia mengambil dua dokumen yang ada di jok penumpang, lalu buru-buru keluar dari mobil. Kaki panjangnya itu berlari cepat menuju masuk ke dalam rumah, dia harus menaiki tangga yang cukup tinggi untuk sampai ke ruangan milik Sang Tuan.
Pintu itu diketuk beberapa kali, sampai pada akhirnya terdengar bunyi interupsi dari dalam sana, dia pun langsung membuka pintunya dengan lebar. Masuk ke dalam sana, terasa sekali aura dingin yang tak enak untuk dirinya.
Dilihat di meja, terdapat seorang pria kini tengah asik dengan komputernya, tanpa sekalipun memandang ke arah dia. Menjilat bibirnya sejenak, lalu dia pun melangkah cepat menuju ke hadapan Sang Tuan.
Tubuhnya menunduk, memberikan penghormatan.
"Maaf jika saya terlambat 5 menit, Tuan," ujarnya dengan penuh rasa bersalah.
"Apa yang kau dapat?" Suara berat dan pelan itu terdengar, melayangkan sebuah pertanyaan lain, sama sekali tak memperdulikan permintaan maaf dari dia tadi.
"Data dirinya telah saya dapatkan, Tuan. Saya juga berhasil menculik pria itu, sehingga kini Nona Bella tak bisa melakukan penerbangan."
Sebuah senyum penuh kepuasan terbit di wajah Sang Tuan, membuat hatinya menjadi sangat lega saat itu. Yah, untuk kali ini dia tak mendapatkan hukuman atas kesalahan yang telah dilakukannya. Tentu saja, dia merasa sangat bersyukur sekali.
"Lalu, bagaimana dengan Bella malam ini, Alex?" tanya pria itu, Darren. Punggungnya bersandar pada kursi kebesaran, menatap lurus pada sang asisten yang baru saja datang.
"Dia tidur di bawah jembatan. Kabarnya Nona tak memiliki banyak uang untuk menyewa hotel. Ditambah dia tak bisa pulang, oleh karena itu dia harus banyak-banyak berhemat."
Darren menganggukkan kepalanya dengan pelan. Terlihat sekali kalau dia tak merasa sedih atau iba akan semua masalah buruk yang terjadi pada wanita yang baru saja ditemukan tadi.
Yah, karena dia lah yang merencanakan itu semua.
"Bagus. Tetap awasi. Dia akan tetap berada di posisi seperti itu, tapi secara perlahan kau harus membantunya. Memberikannya peluang untuk mendapatkan pekerjaan, agar semua yang kita rencanakan, tak akan diketahui olehnya."
"Baik, Tuan."
"Kau bisa keluar!" perintahnya.
Tanpa banyak berucap, Alex langsung meninggalkan tempat tersebut, menyisakan Darren dengan pandangan yang kini terarah pada layar komputer. Sebuah senyuman tersungging di wajahnya saat itu juga.
"Sebentar lagi, tunggu saja. Kau akan menjadi milikku."