Mencuri

1000 Words
Pagi-pagi Bella terbangun. Tak seperti sebelumnya dia terbangun di tempat yang mewah dan ranjang empuk, kini justru berbanding terbalik. Dia masih dalam posisi tidurnya di atas kardus bekas, tak lupa dengan keadaan sekitarnya yang kotor. Wanita itu mengerjapkan matanya beberapa kali, menatap sekali lagi ke sekitarnya, lantas wanita itu pun meringis pelan kala menyadari bahwa apa yang terjadi pada dirinya ini bukanlah mimpi, melainkan sebuah kenyataan. "Ibu ... ayah, putrimu tersesat di sini," rengek anak itu yang ingin menangis lagi. Tangannya terangkat, mengelap keringat yang keluar dari pori-pori kulitnya akibat matahari yang datang dan bersinar di wajahnya. Tubuhnya terbangun, melakukan sedikit peregangan karena kini dia merasa beberapa bagian pada tubuhnya sudah pegal-pegal. Setelahnya, dia pun menggulung lagi kardus yang tadi dipakainya untuk tidur lalu meletakkan tersembunyi di semak-semak, agar tak ada yang mencurinya nanti saat dia kembali. Kini, mungkin dia butuh berkeliling, siapa tahu bisa menemukan keberadaan Gilang yang entah di mana, lalu mereka akan pulang bersama, yah seperti itulah yang diinginkan olehnya saat ini. Bella mengendus-endus tubuhnya, dia mengernyitkan wajahnya setelah mencium aroma busuk dari tubuhnya yang lengket. "Seharusnya aku mandi. Tapi, baju ganti saja tak ada," keluhnya. Dia pun langsung melangkah pergi dari sana, menyusuri kota tersebut, sembari mencari toko yang menjual makanan murah. Satu persatu toko itu dilihatnya. Hampir semua toko yang menjual makanan murah hanyalah toko roti atau makanan instan, sehingga Bella sendiri memilih untuk membeli makanan instan yaitu mie. Mie yang berada di dalam cup, lalu dimasukkan air panas yang untungnya telah tersedia pada mini market tersebut, sehingga Bella tak perlu lagi mengeluarkan uang hanya untuk membeli air panas saja. Makanan lezat itu dinikmatinya dengan cepat. Bahkan lidahnya seperti bisa menahan rasa panas dari kuah mie tersebut. Rasa lapar itu mendominasi di dalam dirinya, sehingga kini dia harus cepat-cepat menghilangkan rasa lapar tersebut. "Kita memerlukan satu pegawai lagi untuk menjaga toko ini pada malam hari, kebetulan pegawai kemarin mengundurkan diri secara tiba-tiba. Apakah kita perlu membuka lowongan kerja sekarang?" tanya salah satu pegawai pada seorang pria dewasa yang kini tampak memakai kemeja putih dengan celana hitam nya. "Ya, kita harus membuka lowongan pekerjaan baru. Biar saya urus browser untuk disebarkan, agar ada yang mendaftar cepat." Pembicaraan mereka itu, tentu didengar dengan baik-baik oleh Bella yang sedari tadi sibuk dengan makanannya. Cepat-cepat wanita itu mengambil minuman soda nya, lalu melangkah menuju ke tempat mereka berada. "Hey-hey, aku memerlukan pekerjaan," ujar Bella pada kedua pria yang kini ada dihadapannya. Dia tersenyum lebar sambil melirik kedua pria yang kini menatapnya dengan penuh tanda tanya. "Kebetulan aku sedang mencari pekerjaan, jadi bisakah aku mendaftar di sini?" tanya wanita itu. "Kau orang luar?" tanya pria berpakaian putih-hitam. Bella menganggukkan kepalanya. "Ya, saya orang Indonesia." "Tapi, kau bisa dengan fasih berbicara bahasa inggris bukan?" "Tentu, Tuan," jawab Bella lagi, kini dengan penuh keyakinan, membuat mereka langsung percaya pada dirinya saat itu. "Baiklah, kami menerima mu menjadi pegawai." Mendengar itu, Bella langsung berseru gembira. Bahkan, tanpa sadar dia melompat-lompat kesenangan tanpa peduli dengan raut bingung yang ditunjukkan kedua pria di sana. "Yuhuuu, aku dapet pekerjaan! Aku tak akan menjadi gelandang---akhh!" Bella terjatuh saat itu juga, dia meringis sembari mengelus dengan pelan kakinya yang terasa sangat sakit itu. Kepalanya menengadah ke atas, dia mencengir pada mereka yang ada di sana. Buru-buru Bella berdiri, sembari berusaha menahan rasa sakit di kakinya akibat terjatuh tadi. "Jadi, aku akan bekerja malam ini?" "Ya," jawab bos di sana. Tangannya terulur ke arah Bella. "Nama saya Thomas, sementara dia adalah pegawai saya namanya Jack," ujarnya memperkenalkan diri dengan pegawai yang ada di sana. Bella pun langsung menjabat tangan tersebut. "Nama saya Bella." "Kau bisa pulang dan kembali nanti malam. Ah ya, tunggu sebentar." Thomas berbalik, memasuki sebuah ruangan, membuat Bella harus menunggu di sana, entah sampai kapan. Tak berselang lama kemudian, pria berkepala botak pada bagian depannya itu muncul sembari membawa sebuah paper bag yang menjadi fokus utama Bella. "Ini seragam yang harus kau pakai nanti malam." Bella pun menerimanya, dia mengambil paket bag tersebut dan melihat sebentar isinya. "Terimakasih, Pak. Aku akan datang malam ini." Setelahnya, dia langsung pergi dari sana dengan langkah yang gembira dan senyum tak surut sedikitpun dari wajah cantiknya itu. Namun, langkahnya kian berhenti saat dia melihat sebuah dompet di lantai trotoar yang langsung menarik perhatiannya. Dia menengok kanan dan kiri, belakang juga depan, tapi tak menemukan seseorang. Diam-diam, wanita itu melangkah menuju ke dompet tersebut, lalu mengambilnya. Bella membuka isi dompet tersebut, sontak mulutnya terbuka dengan lebar saat dia melihat isi di dalam dompet itu. Setumpuk uang yang ditekuk. Uang yang berwarna merah dan bergambarkan Ratu Elizabeth II saat masih remaja. Dia terdiam untuk beberapa saat, menatap kumpulan uang itu masih dengan tak percayanya. "Uang siapa ini?" Berusaha Bella mencari-cari di mana letak kartu pengenal pada dompet tersebut, tapi dia sama sekali tak menemukannya. Sebuah senyum seringai terbit di wajahnya. Dompet yang ada di tangannya itu, kini telah tersimpan rapih di dalam kantong celana nya. Wanita itu bersiul pelan, menatap ke sekelilingnya, memastikan bahwa tak ada satupun orang yang melihat aksinya tadi. Tentu saja akan sangat memalukan jika mereka mengetahuinya. Yah, anggap saja dirinya mencuri dompet itu. Bella sama sekali tak peduli jika pemilik dompet itu mencari barangnya, dia pun sangat membutuhkan uang saat ini sehingga harus melakukan tindak kejahatan. "Maafkan aku pemilik dompet, aku benar-benar sangat butuh uang." Bella langsung melangkah pergi dari sana dengan berlari sangat kencang, sebelum ada orang yang meneriakinya. Tanpa wanita itu sadari, bahwa sedari tadi Alex terus mengamatinya dengan senyum penuh kepuasan. Semua rencana yang dibuatnya pada hari ini berhasil dan tak ada satupun yang gagal. Tentu saja dia senang akan hal tersebut. Kini, dia hanya perlu melaporkan saja hasil kerjanya pada Sang Tuan. "Ah, aku tak sabar mendapatkan bonus atas pekerjaan yang menyenangkan ini." Pria itu melangkah menuju ke mobilnya berada. Tidak, dia tak akan pergi ke tempat Sang Tuan. Melainkan tetap mengikuti Bella. Yah, sesuai perintah Darren, dia harus terus mengamati wanita itu sampai matanya tertutup. Tugas yang mudah bukan? Yah, tentu saja dengan begini akan semakin mudah untuknya mendapatkan bonus yang lebuh besar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD