"Terimakasih karena Anda telah memberikan saya sewaan kamar ini."
Bella menerima sebuah kunci yang diberikan oleh wanita tua di depannya itu. Kunci yang langsung dipegang dengan sangat eratnya, seolah tak ingin melepaskan sedikitpun.
Pandangan matanya terus tertuju pada punggung pemilik tempat ini. Dia mendapatkan sebuah kamar kost yang kecil sebagai tempat tinggalnya dari uang hasil curian. Rasanya tentu tak sia-sia dia melakukan tindak kejahatan seperti tadi, setidaknya kini dia tak perlu tertidur di atas kardus dengan keadaan kotor di sekitarnya.
Hanya satu malam itu saja, Bella tak akan mau mengulanginya lagi.
Kepalan pada tangannya mulai terlepas, dia menatap dengan penuh kepuasan pada kunci yang kini masih dipegangnya itu. "Ah, akhirnya aku memiliki tempat tinggal juga." Wanita itu memasukkan kunci ke dalam sana, lalu membuka pintunya.
Kamar yang ukurannya mungkin hanya 2,5×3 meter itu tampak hanya ada satu ranjang dengan sprei putih. Di sisi tempat tidur itu, ada jendela kaca tanpa teralis yang masih tertutup. Selain itu ada kamar mandi juga yang tersedia di sana, membuat Bella akan merasa sangat nyaman di sini.
Wanita itu menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Tak terlalu empuk, tapi lebih baik dibanding harus tidur di atas kardus. "Akhirnya aku bisa tidur nyenyak malam ini," ujarnya dengan pelan, matanya itu menutup, menikmati semilir angin yang membawa surai hitam nya mulai berterbangan.
Kedua kakinya menggantung, dia ayun-ayunkan. Jika tak mengingat bahwa jadwal bekerja nya sebentar lagi, mungkin saat ini Bella memilih untuk tidur saja.
Waktu jam kerja nya berkisar 2 jam lagi, dia harus beres-beres dan mempersiapkan penampilannya untuk hari pertama kerja.
Lantas wanita itu langsung membangunkan tubuhnya, dia menatap ke sekitar, lalu pandangannya terkunci pada paper bag yang sedari tadi dibawa.
Langsung saja dia mengambil paper bag itu, membuka isi di dalam, hanya ada sepasang seragam dengan celana, lalu sebuah dompet yang masih ada di tangannya.
Bella melepaskan pegangan pada paper bag, kini dia beralih membuka isi dalam dompet itu. Kembali memastikan kalau di dalamnya memang tak berisikan kartu-kartu yang menunjukkan identitas sang pemilik.
Bahkan kartu ATM atau foto saja tak ada. Cukup mencurigakan.
"Ah, kenapa aku harus memikirkannya. Lagian juga, di sini uang nya lah yang terpenting." Bella menarik uang yang masih tersisa di dalam sana, menghitungnya lagi dengan pelan. "250 ... 300 Poundsterling?" Wanita itu berseru senang, ternyata uang hasil curiannya itu masih tersisa sangat banyak.
Setidaknya yang itu bisa dipakai sampai akhirnya nanti dia gajian yang masih sangat lama sekali.
"Maafkan aku pemilik dompet." Bella membuang tempat penyimpanan uang itu ke kotak sampah di dekatnya. Dia pun menaruh lembaran kertas berwarna merah itu ke bawah bantal, untuk sementara akan ditaruh ke sana dulu.
Dia beranjak, membawa seragam kerja nya menuju ke kamar mandi, lalu di sana, dia pun langsung membersihkan tubuhnya yang terasa sangat lengket setelah sekian lama tak pernah mandi.
"Akhirnya aku mandi juga," ujarnya dengan lega setelah guyuran air kini tengah membasahi tubuhnya. Matanya menutup kembali, bayangan akan kejadian dia selama di kota ini terus memasuki pikirannya.
Sampai akhirnya dia menjadi gelandangan kemarin.
Itu adalah mimpi terburuk yang pernah ada di dalam dirinya.
"Aku akan memulai kehidupan baru mulai saat ini!" ujarnya dengan penuh sungguh-sungguh.
Dua jam kemudian.
"Apa yang harus aku lakukan, Jack?" tanya Bella, dia mengamati komputer yang kini ada di depannya dengan wajah penuh kebingungan.
Sungguh, dia sama sekali belum memiliki ilmu untuk memulai pekerjaan ini.
Bahkan di Indonesia sekalipun, dirinya tak pernah menjadi kasir atau bahkan pramuniaga.
"Kau bisa memakai komputer bukan sebelumnya?" tanya Jack yang langsung dibalas anggukan oleh lawan bicaranya. "Maka coba hidupkan, aku akan mengajarimu dari hak paling simpel dulu."
"Baiklah." Bella mulai melakukan apa yang baru saja diperintahkan oleh Jack tadi dengan sebaik mungkin. Wanita itu menghidupkan komputer yang ada di depannya dengan benar.
Setiap perintah yang diberikan oleh Jack akan didengarkannya dengan baik, untung kini otaknya bisa berjalan dengan lebih cepat, sehingga waktunya untuk belajar tak terbuang lama.
"Kau sudah mengerti?"
"Hmm, sepertinya," jawab Bella kurang meyakinkan.
"Baiklah, aku akan tetap di sini, membantu mu."
Lantas Bella langsung menoleh ke arah Jack yang baru saja berucap tadi. "Bukankah ini sudah waktunya kau pulang?"
Pria itu tersenyum kecil. Tiba-tiba tangan kekar itu hinggap di atas kepalanya, membuat Bella langsung terdiam saat itu juga. "Aku akan menemani mu, sampai kau benar-benar mengerti cara bekerja," ungkap pria itu dengan tatapan dalam yang kini tertuju pada Bella.
Beberapa saat, keduanya saling menatap satu sama lain, sebelum pada akhirnya Bella langsung memutuskan pandangan diantara mereka. Dia beralih melihat tak yang menaruh berbagai jenis rokok di belakangnya.
"Baiklah, sepertinya aku harus mengecek barang-barang di sini, siapa tahu sudah ada yang expired date." Setelahnya, Jack langsung pergi dari sana, meninggalkan Bella yang masih terdiam di meja kasir tersebut dengan senyum tertahan.
"Hah, sebaiknya aku mulai bekerja." Bella mengubah posisinya menjadi berhadapan dengan komputer yang kini ada di depannya. Dia sudah menyiapkan komputer itu dengan alat scan harga yang selalu ada di sisi kanan nya.
Menunggu pelanggan pertamanya datang, wanita itu bersiul pelan, dia mengisi waktunya membereskan tatanan rak yang berisi koleksi permen di atas meja kasir. Tanpa menyadari, kini seseorang tengah berdiri di depan pintu mini market itu. Mendorong pintu tersebut lalu masuk ke dalam sana. Langkah kakinya yang panjang, membawa dia langsung menuju ke meja kasir yang berada di sana.
"Ekhem." Dia berdeham pelan, menyadarkan Bella dari aktivitasnya itu.
Lantas Bella mengangkat kepalanya. "Darren," sapa wanita itu dengan keceriaan yang terlihat jelas. Melihat wajah datar Darren itu, sama sekali tak menyurutkan keceriaan yang dimilikinya.
"Kau ingin apa?"
"Rokok itu," ujarnya sembari menunjuk pada salah satu rokok dengan sampul kotaknya berwarna biru.
"Oke, aku akan mengambilkannya." Tubuh Bella berbalik, dia menatap pada rokok yang tadi dipilih oleh Darren, letaknya cukup tinggi, berada di rak nomor 6.
Bahkan, Bella sampai menjinjitkan kakinya saat itu karena sama sekali tak sampai untuk meraih barang tujuannya itu.
Beberapa kali dia melompat kecil dan untungnya, wanita itu bisa meraih salah satu rokok di sana.
Secepatnya, Bella langsung melakukan scan harga pada barang belanjaan tersebut. "Harganya 12 Poundsterling." Diambilnya sebuah paper bag berukuran kecil, lalu dimasukkan barang yang dibelanja oleh Darren tadi.
"Ini uangnya." Pria itu menyerahkan satu lembar uang berwarna merah, membuat Bella langsung membuka laci di sana untuk memberikan kembalian.
"Sisanya untukmu, anggap saja sebagai hadiah di hari pertama mu bekerja."