Pukul 2 pagi, Bella baru bisa pulang, sesuai dengan peraturan yang ada. Wanita itu mengusap wajahnya dengan kasar, sudah sedari tadi dia menahan mata yang memberat, apalagi ketika dirinya sedang melayani para pelanggan nya dengan seramah mungkin, sungguh itu sulit sekali untuknya yang saat ini mengantuk.
"Kau pulang sendirian?" tanya seseorang.
Bella menoleh ke belakang, melihat sosok pria paruh baya, bos nya sendiri, Pak Thomas. Wanita itu menganggukkan kepalanya, dia pun menggantung tas ke bahu nya sendiri. "Tak jauh dari sini, tempat tinggal ku berada."
"Kau harus berhati-hati, karena biasanya saat malam, akan ada pria pemabuk yang baru keluar dari club."
"Bapak tenang saja, saya bisa menghindari mereka," balasnya langsung.
"Ya sudah, kau bisa pulang."
Bella menganggukkan kepalanya dengan pelan. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, dia pun langsung meninggalkan tempat tersebut. Pintu transparan itu didorong olehnya dengan cukup kuat, keluar dari sana, udara malam yang terasa sangat sejuk menyambutnya.
"Akhirnya selesai juga," ujarnya dengan penuh kelegaan. Wanita itu pun meregangkan tubuhnya dan langsung melangkah pergi dari sana dengan tangan yang memegang tali pada tas nya.
Suasana tempat ini tak terlalu sepi karena dekat dengan perkotaan. Hanya perlu keluar dari gang, dia kini sudah melihat jalanan lalu lalang yang dilewati oleh mobil atau motor.
Benar apa yang dikatakan oleh bos nya tadi, ada begitu banyak pemabuk yang sering ditemukan dalam perjalanan. Tentu saja keadaan Bella sering tak aman karena mereka menggodanya, dia harus bisa menghindar dari mereka yang sedang mabuk itu.
Seperti saat ini, dia yang berdiri diam, memandang ke arah dua pria yang tengah berjalan sempoyongan dengan tangan memegang sebuah botol minuman alkohol. Wanita itu meringis pelan, sungguh ujian yang sangat berat sekali untuk pulang dan beristirahat.
"Semoga saja mereka tak beringas," doanya.
Setelah mengumpulkan seluruh keberanian yang ada di dalam dirinya itu, langsung saja Bella melangkahkan kakinya. Semakin dekat dengan para pemabuk itu, genggam Bella pada tali tas nya semakin menguat.
"Hey gadis cantik," itulah yang dikatakan salah satu dari mereka saat Bella akan melewati mereka.
Wanita itu menghembuskan napasnya dengan kasar, lalu dia pun menundukkan kepalanya dan mulai berjalan lagi. Namun, tangannya justru dicengkram oleh mereka, membuat pergerakannya terhenti saat itu juga.
"Lepaskan aku!" hardiknya sembari berusaha menyentak tangan milik para pemabuk yang mencegahnya pergi dari sana.
"Oh ayolah, kita habiskan waktu sementara di sini gadis manis, jangan terlalu terburu-buru."
"Damn, aku tidak mau bodoh!" Dengan sekuat tenaga, Bella melepaskan cengkraman mereka, kali ini dia berhasil dan tanpa membuang waktu lebih lama lagi, wanita itu langsung pergi dari sana, berlari sekencang mungkin menuju ke tempat tinggalnya sendiri.
"Hey, jalang! Jangan lari kau!" Merdeka hendak mengejar Bella, tapi secara tiba-tiba sebuah tangan menyentuh masing-masing pundaknya dan secara bersama-sama mereka menengok ke belakang.
"Apakah kalian berniat menyakiti gadisku, hmm?" tanya pria dengan wajah menyeramkan itu. Kini, tangannya bukan hanya menyentuh pundak mereka, melainkan mencengkram dengan sangat kuat, membuat keduanya meringis pelan.
Secara tiba-tiba, pria itu merebut botol kaca yang ada di tangan mereka. Dalam waktu sekejap, kedua botol itu pecah setelah dia membantingnya ke kepala mereka, membuatnya menjadi terluka dan darah berceceran di sana.
Kini, keduanya berada di dalam posisi setengah berdiri. Lutut mereka mencium lantai yang sudah basah oleh darah tersebut. Mereka berusaha untuk tetap mempertahankan kesadaran, meski kepalanya terasa sangat pusing sekali, seolah dunia berputar.
"Maafkan kami, Tuan," ujar salah satu dari mereka yang memiliki tubuh gempal. Kedua tangannya menyatu di depan d**a, kepalanya menunduk, seolah tengah meresapi kesalahan yang telah diperbuat.
Tanpa perlu menjawab, Darren telah meninggalkan tempat tersebut, membiarkan dua pria yang tadi diberikan sedikit pukulan oleh dirinya. Langkah kakinya membawa dia menuju ke parkiran. Dia menuju ke salah satu mobil yang ada di sana, memasuki kendaraan tersebut.
Tepat di sampingnya, Alex duduk di kursi pengemudi. Pria itu meringis pelan melihat kemarahan dari Sang Tuan, apalagi suasana di tempat itu kini telah berubah drastis semenjak kedatangan Darren.
"Ubah jam kerja Bella menjadi pagi. Jangan biarkan dia keluar saat malam hari," perintahnya tiba-tiba.
"Baik, Tuan." Tak ada jawaban lain dari Alex. Tak mungkin juga dia menolak perintah dari Darren, karena yang ada, dirinya tiba-tiba dipecat nanti.
***
Bunyi dering ponsel berdering dengan cukup kuat, mengisi keheningan pada ruangan sempit itu. Bunyi yang sama sekali tak berhasil membangunkan tidur Bella. Yah, di pagi hari yang cerah ini, dia tampak tertidur dengan posisi kaki terbuka lebar, bantal dan selimut telah jatuh ke lantai, hanya ada tubuhnya saja di atas ranjang yang kecil itu.
Wanita itu menggumam pelan, tangannya bergerak menggaruk pipinya yang gatal, dia bisa merasakan cairan di dekat bibirnya, ya itu adalah iler dia sendiri.
Waktu terus berjalan dengan cepat, sinar matahari yang menembus dari kaca jendela, menyentuh permukaan wajah nya, sehingga terasa panas pada kulitnya sendiri. Tentu saja dia tak nyaman dengan sinar matahari tersebut, sehingga secara perlahan kelopak matanya mulai bergerak terbuka, melihat plafon putih polos selama beberapa saat.
"Mengapa dunia ini tak bisa membiarkan aku tidur tenang." Bella terbangun, dia mengusap-usap mulutnya yang basah.
Pandangannya kini teralihkan, melihat pada benda pipih yang tadi berdering itu.
Dia pun langsung meraihnya, melihat nomor asing yang kini menghubunginya. Decakan pelan terdengar, dia pun menggeser layar hijau lalu mulai mendengar suara dari seberang sana.
"Helo, who are you?!" tanya Bella sedikit membentak, merasa masih kesal karena ponsel itu juga termasuk mengganggunya.
'Bella, it's me, Jack.'
Satu alis Bella menukik naik, mengingat lagi sosok teman baru di tempat kerja nya itu. "Ah ya, kau. Ada apa menghubungiku? Apakah ada sesuatu yang penting?" tanya wanita itu. Diingatnya lagi waktu kerja dirinya adalah saat malam hari, lalu mengapa Jack menghubunginya?
'Hari ini Bos mengubah jadwal lagi dan juga menambah pegawai. Kau bisa datang ke toko? Jadwal mu juga diubah.'
Pria itu tiba-tiba memberikan informasi para Bella.
"What? Now? Oh really, aku saja belum mandi."
'Tak apa-apa, kami akan menunggu.'
Bella menghembuskan napasnya dengan kasar, dia pun terpaksa datang ke toko itu lagi di pagi hari dalam keadaan mengantuk. Wanita itu bahkan sampai buru-buru mandi dan mempersiapkan penampilannya dengan cepat-cepat, tak ingin membuat mereka menunggu lebih lama lagi.
Tok!
Tok!
Tok!
Seorang pria tampak kini berdiri di depan pintu, dia menaruh sebuah kotak berwarna putih di depan pintu itu dan langsung pergi dari sana.
Meninggalkan barang yang akan dihadiahi pada sosok di dalam sana.