tanpa menunggu Tanya untuk melakukan sesuatu, Vivi berlalu meninggalkan Tanya dan anaknya,dia bahkan tak merasa bersalah sedikitpun.adrian yang masih terpaku di sana, hanya merasa kakaknya sudah sangat keterlaluan.
Tanya hanya memegang pipinya yang agak ngilu akibat tamparan Vivi, kulitnya tidak terlalu putih tetapi terlihat jelas bekas tangan memerah di wajahnya.
"kakak ipar, maaf tetapi aku telah mendengar apa yang tadi kalian bicarakan,! maaf aku tidak dapat mencegah Vivi tadi untuk melakukan kekerasan seperti ini," kata Adrian yang tiba-tiba muncul di depan kakak iparnya itu,
"Adrian, apa kamu mengenal wanita tadi? saat di kota K, aku memang pernah melihatnya sekali,tetapi kata Ardi dia hanya teman kerja yang sedang magang " Tanya menjelaskan pada Adrian
"kak Ardi,," Adrian sangat geram, dia bergumam dalam hati sambil mengepalkan tangannya.
"kakak ipar, wanita itu memang bernama Vivi, dia juga saat ini sedang bekerja di kantor yang sama dengan aku,dan dia ....menjadi sekertaris aku, tetapi soal masalah dia berselingkuh dengan bang Ardi,aku benar-benar tidak tau"! Adrian mencoba membuat suasana agar tidak terlalu canggung, dia hanya berkata dengan semestinya, agar kakak iparnya itu tidak langsung percaya begitu saja,.
"tidak apa Adrian, aku juga hanya berfikir jika Ardi yang ia maksud mungkin bukan Ardi suamiku,walau bagaimanapun di kota ini ada banyak nama yang bernama Ardi." Tanya hanya berkata dengan pelan, tetapi dalam hatinya sudah sangat bercampur aduk sekarang,tetapi sikap Tanya selalu tenang,dia tidak ingin Adrian mengetahui urusan pribadi.
setelah meninggalkan Tanya, Vivi lalu pulang kembali ke kantor, dia merasa puas sekarang,. tetapi di sisi lain Ardi tidak sengaja melihat adiknya bersama dengan istrinya, dia telah salah faham pada istrinya,Ardi sangat geram," wanita ini,sejak kapan dia mulai berdekatan dengan Adrian?" menaikkan sudut bibirnya dia lalu balik kerumah lebih awal,hanay untuk memberi pelajaran pada istrinya itu .
Adrian memang mengantar kakak iparnya pulang,dia kasihan jika harus melihat mereka berjalan kaki, awalnya Tanya menolah untuk di antar oleh Adrian, tetapi memikirkan anaknya yang sudah kepanasan,di tambah lagi taxi belum ada yang lewat maka ia akhirnya mau di antara oleh Adrian.
saat sampai di rumah, benar saja arsi sudah menunjukkan wajah yang hampir menghitam, tetapi Tanya sudah tahu karena saat ia menaiki mobil Adrian ,dia melihat arsi sedang melintas di sana sambil melaju dengan kecepatan tinggi.
"Tanya, apakah kamu tahu apa yang telah kamu lakukan? " arsi mencoba mengontrol emosinya,
"apa yang aku lakukan? maksud kamu apa Ardi?" tanya hanya menjawab dengan tenang, dia tau ardi saat ini sedang cemburu padanya, "heh,? jangan pura-pura Tan,apa yang kamu lakukan berdua dengan adik ipar kamu sendiri! apakah kamu tertarik padanya?" Ardi mulai tak dapat mengontrol emosinya, tetapi Tanya masih tetap tenang dengan sikap Ardi.
"aku sedang tidak ingin bertengkar denah kamu Ardi,tolong ..aku sedang lelah" Tanya hanya menjawab sambil beranjak meninggalkan Ardi, "lagi pula saat ini aku sedang tidak punya kekuatan,karena aku tak punya salah justru malah di tampar atau bisa di bilang, aku adalah korban tetapi aku juga yang tersakiti" kata Tanya dengan sikap yang mulai menunjukkan bahwa dia sangat lelah .
"jangan mengalihkan pembicaraan Tan,aku jelas-jelas melihat kamu naik ke mobir Adrian,singgah dimana kalian tadi atau kalian singgah di sebuah..." belum selesai Ardi berbicara " cukup Ardi,,,!" mata Tanya hampir menyemburkan darah karena sudah tidak sanggup mendengar ocehan suaminya itu, " jelaskan padaku tentang perempuan yang bernama Vivi! apakah kalian telah menikah diam-diam di belakang aku?" kata Tanya dengan suaranya yang tinggi, baru kali pertama dia membentak Ardi, bukan karena tidak menghargai suaminya,tetapi dia merasa dialah yang tidak pernah di hargai saat itu.