Vivi tiba-tiba punya sedikit ide dia lalu menelepon ayahnya kembali,
"halo ayah, bagaimana jika aku telah menemukan kekasih pilihanku sendiri?"
kata Vivi pada ayahnya,
"maksud kamu? Vivi sayang,jangan coba-coba membohongi ayahmu ini,jangan mencoba agar kamu bisa mengulur waktu, jika kamu telah menemukan kekasih sendiri,ayah ingin berbicara dengan dirinya lewat video call,dua hari lagi aku akan menelepon. jangan coba berbohong nak, kamu adalah anak yang paruh"! setelah berbicara ayah Vivi langsung memutuskan sambungan telepon, dia hanya berharap putrinya itu memang telah menemukan lelaki yang tepat untuknya, tetapi bukan suami orang.
Vivi hanya terdiam sesaat sambil menggigit bibirnya,dia malah bingung bagaimana cara agar Adrian mau berbicara dengan ayahnya, secara lelaki ini sangat tidak bisa di ganggu, sikapnya juga masih acuh tak acuh padanya.
"Ardi,aku ingin bicara padamu!" Vivi memanggil Ardi sambil melambaikan tangannya, dia bersikap seolah di kantor itu tidak ada orang hanya mereka berdua, dia sangat se'enaknya memangil.
"Vivi, ini di kantor, apa kamu tidak lihat semua orang sedang memandang ke arahku karena panggilan kamu itu,huh!" arsi mendekati Vivi sambil berkata dengan matanya yang hampir keluar karena marah, wanita ini semenjak mereka telah putus , sifatnya bahkan semakin menjadi-jadi.
Vivi hanya terlihat biasa saja, bukan karena tidak mendengar apa yang Ardi katakan padanya,tetapi karena di putuskan begitu saja membuat dirinya mulai membenci Ardi,
"aku tidak akan membuka rahasia tentang yang pernah terjadi dengan kita,tetapi ada syaratnya? jika kamu setuju aku akan benar-benar mengganggap kita tidak pernah bersama selam lima tahun,gimana?" Vivi berkata sambil melebarkan senyumnya,dia berfikir Ardi mana mungkin tidak mau,
arsi memincingkan matanya sambil berfikir, "syaratnya?" Ardi menjawab dengan cepat,
"bantu aku mendekati adikmu,agar aku bisa meyakinkan ayahku jika dia adalah kekasihku,bukan karena apa tetapi aku tidak mau jika harus kembali ke kota S sekarang dan menikah dengan pilihan ayahku,"! Vivi berbicara sedikit menggoda,. itu hanya umpan, Ardi mana mungkin tidak tau,
"wah,, itu seharusnya bagus.kamu tidak perlu capek-capek mencari kekasih,aku salut pada ayahmu. Vivi sebaiknya kamu kembali saja ke kota s sekarang, dan maaf aku tidak akan pernah rela kamu mendekati adikku ataupun masuk ke keluargaku,"! mati.. mata Vivi membelalak ,,sangat geram dengan jawaban Ardi, lelaki ini ternyata tidak takut apa yang menjadi kartu As yang aku punya. Ardi tanpa basa-basi lagi dia langsung berlalu meninggalkan Vivi sendirian.
dua hari telah tiba, saat Adrian sedang melihat kertas kontrak perusahaan, Vivi masuk dengan mengetuk pintu,
" pak Adrian, bisakah anda membantu saya? saya sangat butuh bantuan anda saat ini" kata Vivi sambil berlutut memegang kaki Adrian, Vivi terlihat sangat kasihan, jika yang dia lakukan itu terlihat oleh orang lain.
Adrian"..." "nona Vivi,apa yang anda lakukan? bisa tidak yang anda lakukan itu tidak terlalu terlihat dramatis? tolong anda berdiri jangan merendah,nona Vivi ini bukan orang susah,bisa tidak jangan membuat diri tidak terlihat seperti seorang yang murahan? anda bisa menyampaikan apa yang menjadi keluhan anda," setiap kata-kata dari Adrian sangat tegas tetapi juga selau melukai."jika itu tentang urusan perusahaan ini aku akan membantu jika bisa aku bantu,tetapi jika untuk hal lain?... mungkin bisa di kesampingkan dulu " Adrian benar-benar tidak memberi kesempatan pada Vivi untuk menjelaskan.