13.

1245 Words
“Pagi sayang.” Manic yang semula terpejam itu perlahan mengedip disertai seulas senyum lebar terpatri di bibir saat sebuah kecupan panjang bersarang di pipinya. “Pagi Dave.” Balas Bella. “Bagaimana semalam apakah tidurmu nyenyak?” Dave menyangga kepalanya dengan sebelah tangan dengan manic menatap wajah polos Bella yang masih terlihat cantik tanpa sentuhan make up sedikitpun. “Tentu saja nyenyak.” “Baguslah kalau begitu.” Dave tersenyum, secara perlahan jemarinya memainkan surai rambut Bella yang menutupi wajah wanita itu, “Karena tidur suamimu ini juga sangat nyenyak sekali.” Dave mulai merendahkan wajahnya, mengecupi ceruk leher dengan jari tangan yng yang ikut aktif berkelana, menelusuri tubuh berbalut gaun tidur malam yang tipis berwana hitam itu, menurunkan tali kecil di pundaknya hingga menampilkan bagian atas yang tak berpenutup. Menghisapnya pelan sedangkan bagian lain dimanjakan dengan pilinan pelan di puncak coklatnya. "Stop it, Dave!" "Saya ingin Bella."Dave membawa tangan Bella untuk menyentuh miliknya yang mengeras. "Not now! Kita bangun dari atas ranjang! Hari sudah mulai siang dan kita harus pergi ke tempat kerja masing- masing.” Bella mendorong tubuh Dave dari atas tubuhnya, membenarkan gaun tidurnya sebelum bangkit dari atas ranjang untuk kemudian berjalan kearah kamar mandi. “Apakah kita bisa mandi bersama?” “No! I’m in my period!” Bella membalikkan tubuhnya dan menatap Dave tajam, “Jika kita berdua mandi bersama, kuyakin pada akhirnya bukan menjadi mandi biasa pada umumnya.” “Huft sayang sekali! Harus berapa kali aku ditolak padahal dibawah sudah siap tempur.” Dave menarik nafas sedih sembari merentangkan tubuhnya diatas ranjang untuk menatap langit- langit kamar. “Jangan lebay. Biasanya kamu masa bodoh tentang masalah seperti ini bahkan akan cenderung abai dengan hubungan suami istri yang selama ini kita jalanani” Ejek Bella sebelum membalikkan tubuhnya untuk masuk ke dalam kamar mandi dengan membanting pintu cukup keras. "Bella. Bella." tawa Dave menggema memenuhi ruang kedap suara itu. Setelah semuanya rapi, keseluruhan anggota keluarga itu berkumpul di meja makan dengan sarapan di depan masing- masing. "Apakah ada masalah?" Dave yang duduk di meja kepala keluarga melihat Bella yang tengah sibuk dengan ponselnya. "Tidak ada. Hanya sebuah pesan aneh dari nomor asing." "Jika itu mengganggumu, kau bisa minta tolong pada saya atau Marvel untuk mengatasinya." ucap Dave pelan dibalik cangkir kopinya. "Aku bisa mengatasinya sendiri. Jangan khawatir." senyum Bella lembut. “Tuan Dave, mohon maaf ada telepon dari sekretaris anda karena ponsel anda tidak bisa dihubungi” Marvel tiba- tiba muncul di tengah- tengah mereka dan memberikan ponsel miliknya pada Dave. “Oh, ya maaf tadi lupa saya nyalakan ponsel saya.” Dave lantas mengambil ponsel dari Marvel dan meninggalkan meja makan kemudian kembali lagi tak lama setelahnya. “Ada masalah apa sampai sekretarismu perlu repot- repot menghubungimu di pagi hari?” “Kunjungan mendadak ke kebun tembakau." “Oh.” Angguk Bella singkat sembari memakan rotinya dengan manic menatap Dave dari ekor matanya terlebih lagi saat melihat sang suami langsung menyudahi sarapannya. “Berangkat sekarang?” “Iya. Kami ada janji temu nanti di jam 8.” Ucap Dave sebelum mengecup puncak kepala sang istri, “Saya pergi duluan.” “Ok.” Angguk Bella singkat. “Anak-anak, papa berangkat duluan. Jangan nakal dan jangan berbuat onar di sekolah. Ok?” tangan Dave terulur, memperingatkan kedua buah hatinya terutama Aira yang suka diluar kendali. "Ok, Pa. Papa jangan khawatir. Aira bakalan jadi anak yang baik." ucap remaja itu dengan senyum manisnya. "Bagus. Papa pegang kata-katamu." ucap Dave sebelum akhirnya pergi diikuti oleh Marvel. "Jadi bagaimana sudah dapat siapa pemilik nomor itu? Apakah sesuai dengan prediksi awal?" semalam setelah Dave membaca notifikasi di ponsel Bella, pria itu langsung memerintahkan Marvel untuk mencari data pemilik ponsel itu. "Tentu saja sudah dan tebakan anda benar sekali."senyum Marvel lebar, "Jaringan ponsel si PIL-nya Nyonya Bella sudah bisa anda hack sekarang juga dengan menggunakan ponsel ini." Marvel lantas mengeluarkan sebuah ponsel dan memberikannya pada sang tuan. "Bagus." angguk Dave dengan jari mulai membuka ponsel itu dan langsung disuguhi gambar jamur berurat, "Frontal sekali pria ini sampai harus mengirimkan foto alat reproduksinya." Dave dengan cepat menggeser layar pipih itu karena risih, membaca setiap chat yang ada disana dengan tawa mengejek. Ponsel Bella kemarin bersih karena wanita itu langsung menghapus setiap pesan yang masuk tapi tidak dengan pria ini. "Mungkin dia ingin nyonya membandingkan seberapa besar ukuran alat vital kalian berdua." tawa Marvel keras. "Jangan buat saya kesal, Marvel." Dave melirik dengan kesal lantas mematikan ponsel itu dan menyimpannya disaku. "Maaf." ringis pria itu. "Jika firasat saya benar, orang ini jugalah dalang yang meminta Aliana untuk meracuni saya." "Anda berpikiran seperti itu juga?" Marvel melirik sang Tuan dari balik spion tengah, "Dia memerintahkan orangnya untuk mencari seseorang yang bisa disuruh dengan iming-iming uang. Karena jumlah uang yang sangat banyak, bisa jadi orang itu mempercayakan masalah ini pada Sekretaris atau Personal Assistennya." "Secepatnya, dapatkan informasi tentang sekretaris atau PA Christopher." "Baik Tuan." Dave mulai mengeluarkan ponselnya sendiri dan menghubungi Kriss dan langsung diangkat pada dering pertama oleh wanita itu, "Selamat Pagi, Tuan Dave. Apakah ada hal yang bisa saya bantu?" "Apakah kau sudah menghubungi Bella hari ini?" "Belum tuan." "Bagus. Jangan masuk kerja hari ini, beri alasan pada Bella bahwa kau sedang sakit." "Baik, Tuan." sahut Kriss dan Dave langsung mematikan sambungan telepon mereka namun beberapa menit setelahnya Kriss menelepon Dave. "Ada apa? Bella tidak mengizinkanmu?" "Bukan begitu Tuan. Tapi nyonya memberi saya uang tutup mulut supaya tidak melapor pada anda mengenai ketidakhadiran saya berkerja." "Waw, Dia sudah berani main uang untuk menutup mulut orang ternyata." tawa Dave keras, "Terima saja uang itu lalu turuti permintaan Bella." "Baik, Tuan." "Nyonya menyuap Kriss?" "Seperti yang kau dengar." sudut bibir Dave berkedut, "Mungkin saat ini mereka sedang rindu dan ingin saling memeluk satu sama lain setelah berpura-pura kemarin." "Apakah anda tidak menekan nyonya saja supaya dia jujur pada anda dari pada masalah ini terus berlarut-larut." "Tidak."Dave mengalihkan pandangannya ke luar jendela, "Saya lebih suka menangkap mereka berdua secara langsung, Marvel. Karena menghukum Bella saja tidak lantas membuatnya jera karena perselingkuhan itu terjadi karena mereka adanya mutual feeling diantara keduanya." Perjalanan dari Jakarta ke Bandung memakan waktu yang cukup banyak karena lalu lintas sedikit padat pagi itu hingga akhirnya mobil hitam yang dikemudikan oleh Marvel itu berhenti di sebuah bangunan besar di tengah kebun setelah sebelumnya melewati jalanan berbatu yang sedikit becek. "Selamat datang, Tuan Dave." seorang pria paruh baya yang sedari tadi menunggu di ruang kantor yang sederhana itu langsung berdiri, menyambut Dave dengan senyum ramahnya. Sementara itu, diujung sana, Bella tersenyum menang setelah Kriss menyetujui permintaannya. "It's Ok hanya beberapa Rupiah saja karena yang jelas sekarang ini aku sudah sedikit lebih bebas dari cengkeraman Dave." wanita yang kini masih berada di balik mobil yang terparkir di depan sekolah Askara itu lantas menghubungi Sekretarisnya di kantor, "Saya dan Kriss ada sedikit urusan di luar kantor, jika ada masalah penting kau bisa hubungi saya nanti." dengan cepat wanita itu menutup sambungan teleponnya setelah sang sekretaris mengiyakan. 'Kita bertemu di tempat biasa.' Bella mengirimkan pesan kepada seseorang dan tak butuh waktu lama, jawaban ok terpampang di layarnya. "All done." senyum wanita itu mengembang cantik sebelum akhirnya menjalankan mobilnya ke tempat tujuan yang membutuhkan waktu kurang dari 30 menit yang bertepatan dengan masuknya sebuah pesan di ponselnya. 'Saya sudah sampai.' Senyum Bella kian lebar, dengan sigap wanita itu merapikan pakaian serta makeup-nya supaya terlihat lebih cantik. Setelah semua siap, Bella meraih tasnya dan membuka pintu mobil kemudian menutupnya dengan pelan. "Hai Bella." sapa seseorang teramat ramah saat Bella membalikkan tubuhnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD