43. Raut wajah Bibi yang serius membuat Aliana menelan ludah, “Tapi Askara sedang menunggu saya.” “Biar pelayan lain yang menangani bocah itu.” Tangan paruh baya itu meraih tangan Aliana dan membimbing gadis itu untuk duduk di meja yang ada di dapur namun sebelum Bibi ikutan duduk, wanita paruh baya itu menyeduh teh dan kemudian meletakkan minuman diatas meja. “Minumlah.” Suara itu mengalun dengan seulas senyum lembut. “Terima kasih.” Angguk Aliana sungkan sebelum tangan itu meraih cangkir dan menyesap minuman hangat itu pelan, berusaha mengulur waktu. “Jadi sudah berapa lama kamu menjalin hubungan dengan Tuan Dave.” “Uhuk!” alhasil Aliana tersedak sendiri, dengan sigap wanta paruh baya itu mengelus punggungnya. ‘Kenapa langsung tembak tidak pakai basa-basi dulu?’ “Kami tidak ada hu

