Gimana hasil rapot anak Yayah paling cantik?" Saga duduk di sofa dengan Reres di sampingnya. Keduanya mengamati anak-anak yang asyik bermain. Kadang rebutan, menangis dan bertengkar. Itulah dunia anak. Menatap keduanya membuat Saga dan Reres bersyukur.
Reres sempat mengikuti seminar parenting dan kegiatan yang ada hubungannya dengan itu. Selain ia ingin mempelajari bersikap kepada anak, ia juga harus bisa mengenali kebutuhan anak, peka terhadap pertumbuhan anak dan juga tidak memaksakan sesuatu pada anak. Tidak pilih kasih juga harus bisa mengendalikan emosi. Banyak sekali ternyata manfaat dari parenting yang dia pelajari. Sehingga sekarang ia bisa tenang setiap anaknya berulah.
"Ya nggak, gimana-gimana, Bee," jawab Reres. Tangannya membawa buah pir hijau yang digigit langsung tanpa diiris terlebih dahulu.
"Lha, tadi katanya nerima raport? Kok sekarang ditanya begitu jawabannya?" Saga menatap Reres dengan teliti. Berpikir mungkin ada yang disembunyikan istrinya. Namun, raut wajah tenang Reres tak mengatakan apa pun. "Nilai Nay jelek, ya?"
Dengan cepat Reres menjauh pada suaminya. Ia tidak suka pada ucapan Saga. Meredam emosi atas rasa tidak terima, Reres mencoba tersenyum. "Memangnya harus berapa nilai anak paud, Bee?"
"Eh."
"Bee, masa-masa Kakak saat itu, masih masa bermain bukan belajar untuk berlomba mencapai prestasi terbaik. Bukan. Tapi harus belajar menguatkan sensor motoriknya, sosialnya, kognitif, bahasa dan hal yang kita anggap sepele tapi penting Bee buat anak-anak," jelas Reres. Menatap ke depan dengan senyum tulus. "Lagipula enggak penting buat aku berapa nilai anak-anak. Mereka tetap anak kita dan mereka pasti punya kelebihan."
"Ya, sayang." Saga mengecup punggung tangan Reres penuh cinta. Ia tak perlu apa pun lagi di dunia ini. Baginya asal ada Reres dan anak-anak maka semua terasa lengkap dan sempurna. "Terus liburan besok gimana?"
"Ya, nggak gimana-gimana, Bee." Reres menatap anak-anak yang sedang bermain. Terlihat mereka sedang rebutan mainan kereta. "Gantian, Kak. main sama-sama," teriak Reres saat mereka saling tarik.
"Terus?"
"Aku udah kosongin jadwal kerjaku sampai liburan selesai. Jadi, kita bisa ke rumah ibu kamu," katanya jujur Reres.
Ia menatap Saga dengan senyum lebar. Ia sudah merencanakan ini dengan matang sejak pengumuman liburan Nay. Keputusannya sudah bulat.
"Memang kapan Nay mulai liburan?" Saga bertanya.
"Seminggu lagi, sih."
"Masih seminggu kok sudah terima rapor?" Heran Saga.
"Katanya karena sekolah Kakak ulangan awal. Jadi, sudah terima rapor. Cuma ya gitu, jadwal libur tetap mengikuti aturan pemerintah." Reres menjawab dengan sedikit kesal karena suaminya yang menurutnya cerewet.
Saga mengangguk paham. Meski Nay sekolah di sekolah swasta, tetap saja harus mengikuti aturan pemerintah sehingga tidak ada kesenjangan yang timbul.
Saga berdiri dan menghampiri kedua anaknya. "Sudah waktunya tidur. Jadi, bermainnya besok lagi. Ayo diberesin sayang."
Reres membiasakan pada kedua anaknya untuk bertanggung jawab. Itu terlihat dari bagaimana ia membiasakan untuk membereskan mainan mereka sendiri. Terkadang juga meletakkan piring di tempat cuci piring. Hal kecil yang terlihat hebat di mata Reres juga Saga.
"Ayo tidur!" ajak Saga. Jika Nay dibacakan dongeng oleh Saga, maka Kay dibacakan dongeng oleh Reres.
Saga masih terjaga ketika istrinya sudah terlelap. Ditambah kelelahan karena senam malam hari bersamanya. Ia menatap wajah cantik dan damai istrinya. Tersenyum sambil mengusap pipi Reres. Pikiran Saga melayang pada usulan Reres beberapa menit yang lalu. Bukan ia tidak suka Reres dan anaknya kesana, tapi titik sensitif ibunya sedang meronta-ronta. Terbukti dengan ucapannya yang selalu berakhir pedas pada Reres. Ia tidak mau istrinya terluka dan sakit hati. Maka, ia memutuskan untuk membawa ke Solo saja. Saga terlelap dengan Reres di pelukan.
Reres terbangun saat alarm berdering. Ia mengecup kening suaminya lalu mandi dan keramas. Hampir setiap hari Ia keramas di pagi hari. Dingin? Tentu, tapi itu lebih baik daripada menjawab pertanyaan Nay.
Memasak dan menyiapkan kebutuhan suami serta anak-anaknya adalah kegiatan rutin Reres. Ia harus membangunkan setiap penghuni kamar dan menyiapkan air hangat untuk mandi. Mereka semua terbiasa sudah mandi saat di depan meja untuk sarapan.
"Jadi, kita ke rumah ibu kamu antar atau gimana?" tanya Reres menyuapi Kay pelan-pelan takut tersedak.
"Ibu bilang kita harus ke sana pas Kakak liburan besok," ujar Reres. Ia masih ingat ibu mertuanya itu berkata panjang lebar dan sangat pedas sekali saat menyuruh mereka ke sana. "Lagipula, Bee, kita sudah lama nggak ke sana. Beberapa minggu lalu kita janji ke ibu, tapi batal ke sananya. Kan, kasian ibu yang udah nungguin dan nyiapin ini itu."
"Bukan aku nggak setuju, Love, tapi kamu udah lama lho, nggak ke Solo. Kamu nggak kangen mereka?" tanya Saga. Ia sudah bertekad membelokkan niat istrinya ke Bogor bertemu ibunya. Ia hannya ingin melindungi istrinya dari perkataan kejam ibunya.
"Ya, kangen, Bee. Tapi kan--"
"Kita ke Solo. Lagipula liburan ini cukup lama. Jadi, kalau ke Solo temu kangen ... bisalah."
Bukan Reres tidak mau, menolak bahkan tidak setuju dengan usul Saga. Ia sangat kangen, sangat rindu kedua orang tuanya, tapi perkataan Nindi yang menyakitkan sangat membekas di hatinya. Wanita itu tidak mau menambah kesan buruk di mata mertuanya. Sudah cukup ia terlihat gemuk dan tidak becus menjadi ibu. Ia tidak mau ada kesan buruk lagi.
Reres rasanya ingin menitikkan air mata saat teringat perkataan Nindi yang mengatainya gemuk dan membandingkan Kay tanpa henti. Menghina Kay dan menuduh Kay bisu. Reres menahan air mata itu cepat-cepat. Tidak mau Saga sampai melihat dan mencurigainya.
"Kita ke Bogor aja, ya," pinta Reres. Suaranya sudah melembut. Berhasil menetralkan emosi yang sempat terbang tinggi. "Lagi pula, Kay sedang tidak enak badan, Bee. Dia enggak mungkin pergi jauh takutnya kecapekan nanti."
Tubuh Kay memang sedang tidak fit. Kalau diingat sejak ia mempromosikan sebuah kafe bareng Brian dan Wawan. Sejak itu, Kay jadi hangat dan tubuhnya hangat. Apa yang dimakan atau diminum Kay? Kemarin Reres sudah memberi kompres panas yang ditempelkan di kening dan tadi pagi Kay sudah mendingan. Jadi, tidak terlalu sedih. Semoga kay sehat segera.
"Kay kan lagi enggak enak badan. Kenapa masih ngotot ke Bogor? Kita stay di rumah." geram Saga karena sang istri yang keras kepala.
"Ibu kan minta kita untuk liburan ke sana, Bee."
"Terus nanti kalian jauh dari pengawasan aku? padahal Kay sakit?" Saga tertawa sumbang. Menggelengkan kepala pada perkataan Reres yang terdengar aneh hari ini. "Dan aku suami kamu love. Aku salah minta kalian tetap tinggal di rumah ini?"
"Bee, nggak bisa gitu dong. Aku sudah janji," kata Reres mengejar Saga yang akan memasuki mobil. "Bee, ayo dong. Sekali ini saja."
"Nggak, Love. Aku nggak mau, apalagi buat kalian sakit."
"Bee, janji itu harus ditepati." Reres sudah meminta dengan wajah memelasnya.
"Aku berangkat, aku bilang No, ya love."
Saga mengacuhkan Reres yang memohon. Ia mengeluarkan mobilnya dari halaman rumah dan memacu dengan kecepatan penuh. Kekesalannya pada keputusan Reres berimbas pada hal ini.