JANJI

1110 Words
“Jo, apa kata dokter? Aku sudah boleh pulang kan?” “Kamu harus di rawat dulu ya Len,” jelas Eljo pada Helena yang sedari tadi ingin segera pulang. Ia sudah tidak tahan lagi untuk berada di rumah sakit tempat ia dirawat. Helena mengeleng-ngelengkan kepalanya, “Tidak Jo! Aku tidak boleh di rawat di rumah sakit. Aku harus segera pulang Jo!,” pinta Helena dengan sedikit memaksa pada Eljo “Helena aku mohon ….” “Tidak !!” teriak Helena sembari ia berusaha  melepaskan infus yang tertancap pada tangan miliknya. “Helena, aku mohon dengarkan aku!” Sanggah Eljo sambil ia menghentikan tindakan Helena. “Jo! Aku harus mencari Yoga! Tidakkah kamu memahamiku?” “Len-  aku memahamimu ... Tetapi, saat ini kamu sedang mengandung. Tidakkah kamu memikirkan kondisi calon anak kamu?” “Tetapi Jo. Yoga lebih penting daripada bayi ini.” “Len! Jaga bicaramu. Bagaimana pun juga ini adalah darah dagingmu sendiri Len. Kamu itu seorang ibu Len, tidak seharusnya kamu mengatakan hal seperti itu.” “Jo, kamu tidak paham dengan kondisiku saat ini. aku hamil di luar nikah Jo! Di luar nikah! Kamu bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati kedua orang tuaku ketika mereka mengetahui putrinya hamil di luar nikah bukan?” “Iya, aku paham itu. Aku paham betul, tetapi saat ini bukan saatnya kamu mencemaskan Yoga! Saat ini yang harus kamu cemaskan itu adalah calon bayimu Len.” “Aku tidak peduli dengan bayi ini Jo. Aku tidak pernah mengharapkannya hadir dalam hidupku.” “Len, aku mohon kamu jangan seperti ini. kasihanilah calon bayimu.” “Terserahlah Jo. Aku tidak peduli. Aku hanya peduli dengan Yoga dan aku sekarang akan mencarinya,” Tegas Helena kepada Eljo. “Oke … kalau kamu ingin tetap mencari Yoga aku akan mengijinkannya. Tetapi setelah kamu menjalani semua pengobatanmu,” bujuk Eljo. “Aku tidak membutuhkan ijin dari kamu. Ini adalah hidupku ini adalah pilihanku.” “Len, dengarkan aku. Aku berjanji akan menemanimu untuk mencari Yoga bahkan sampai pergi ke rumahnya di Lampung. Tetapi aku mohon sama kamu tolong dengarkan apa kata dokter.” Helena yang mendengar kata-kata Eljo yang berjanji akan menemaninya mencari Yoga kemana saja akhirnya luluh juga. “Kamu janji kan Jo?” “Iya, aku janji Len. Aku janji akan menemanimu sampai kamu menemukan Yoga kembali.” “Oke. Aku mau di rawat asalkan kamu memenuhi janjimu.” Eljo tersenyum puas ketika Helena mau mendengarkan perkataannya. Sekarang yang ada dalam pikirannya adalah menemukan cara untuk membuat Helena sembuh kembali dan ia harus menemukan cara untuk menemukan Yoga. Sebenarnya ini bukanlah tanggung jawab dan tugas yang harus Eljo emban, tetapi hati nuraininya yang mengatakan untuk merawat Helena dan calon bayinya dengan penuh kasih sayang. Memang tidak bisa di pungkiri bahwa Eljo sangat mencintai Helena semenjak mereka duduk di semester pertama perkuliahan. Namun, Eljo tidak bisa mengatakan perasaannya kepada Helena karena status mereka yang saat itu hanya sebatas sahabat. Eljo tidak ingin menghancurkan persahabatan mereka hanya di karenakan egonya saja yang ingin bersama Helena. Selain alasan itu, Yoga juga mempunyai alasan lain salah satunya dialah yang memperkenalkan Helena dengan teman sekosnya Yoga. Ia kira Yoga akan menjaga Helena dengan sepenuh hati, tetapi kenyataanya Yoga lah yang menghancurkan Helena dengan begitu kejamnya. Helena gadis cantik yang penuh dengan kecerian kini harus menjadi seorang gadis yang penuh dengan kesedihan bahkan hanya melihat sorot matanya saja sudah membuat Eljo merasa sakit hati. Jika waktu bisa di ulang, Eljo berharap bisa menggagalkan perkenalan Helena dengan Yoga. “Jo? Eljo …,” panggil Helena ketika melihat Eljo yang sedari tadi memegang tangannya dengan begitu erat dengan tatapan kosong. “Hah? Iya … ada apa?” jawab Eljo dengan muka yang kaget karena panggilan Helena. “Bisa lepaskan genggamanmu?” Tanya Helena sambil ia menunjukan tangannya yang masih di genggam oleh Eljo. Eljo menjadi salah tingkah, “Oh, iya. Maafkan aku Helena. Aku tidak menyadarinya.” “Is okay Jo.” Ketika Eljo mulai melepaskan genggamanya, Helena pun mulai membuka selimut yang menutupi tubuh mungilnya itu. “Kamu mau kemana Len?” Tanya Eljo dengan nada panik. “Aku hanya ingin ke kamar mandi Jo,” jelas Helana sembari ia menunjuk pintu kamar mandi. “Oalah … aku kira kamu ingin pergi kemana gitu.” “Kamu takut aku nekat pergi mencari Yoga?” Tanya Helena dengan tatapan mengintrogasi. Eljo hanya tertawa dan hal itu membuat Helena sedikit menyunggingkan bibirnya. “Apa kamu membutuhkan bantuanku Len?” Tanya Eljo kepada Helena ketika melihat Helena yang kesulitan untuk membawa infus beserta tiang penyangganya. “Tidak Jo. Aku bisa kok.” “Len … biar aku bantu sini.” Eljo langsung bangkit dari duduknya dan kini ia bersiap untuk membantu Helena pergi ke kamar mandi. “Jo … gak usah. Aku bisa kok.” “Len, please dengerin aku oke.” “Eljo, aku cuma mau pergi ke kamar mandi lho.” “Iya, aku tau kalau kamu mau ke kamar mandi bukan?” “Aku hanya ingin membantumu Len. Aku tahu kamu kesusahan membawa tiang infus.” Helana berdiri dari tempat tidurnya dan ia mulai mengambil kotak infus yang suster letakkan di tiang penyangga infus miliknya. “Lhat ini. aku bisa membawanya kemana-mana Eljo. Jadi biarkan aku pergi sendiri ke kamar mandi ya,” pinta Helena sambil ia menunjukan kotak infus yang sudah berada di genggamannya. “Oke, baiklah. Tetapi jika kamu membutuhkan bantuanku, kamu harus segera memanggilku ya. dan tolong ijinkan aku untuk menunggumu di depan kamar mandi.” “Why?” Eljo tidak bisa menjawab pertanyaan yang keluar dari bibir mungil milik Helena, ia hanya bisa menggaruk-garuk kulit kepalanya yang tidak terasa gatal. “Aku sudah boleh pergi bukan?” “Ya, Len,” jawab Eljo singkat. Di dalam kamar mandi Helena melihat pantulan dirinya yang terlihat begitu kurus dengan tulang-tulang tubuh miliknya yang menonjol keluar. “Helena … kamu dulu begitu cantik, tubuhmu adalah asset dirimu. Tetapi dengan sekejab kamu kehilangan semuanya. Kini tubuh yang dulu kamu agung-agungkan kini hanya tersisa tulang berbalut kulit saja,” gumam Helena kapada dirinya sendiri. Helena mulai menitikan air matanya lagi, entah ini sudah keberapa kalinya ia menangisi kondisnya saat ini. Ia merasa sangat menyesal dengan semua yang telah ia lakukan, tetapi ia juga tidak bisa membenci maupun melupakan Yoga dengan begitu saja. Saat seperti ini, yang ia butuhkan hanyalah Yoga bukan yang lain. “Aku yakin Yoga akan kembali dan ia akan bertangung jawab dengan semua perlakuan yang ia lakukan kepadaku. Ya aku yakin itu. Yoga adalah pria yang bertangung jawab.” “Helena … tenanglah. Yoga pasti kembali kedalam pelukanmu.” Setelah Helena menyemangati dirinya sendiri, ia pun mulai menyeka air matanya, dan ia mulai tersenyum kepada pantulan dirinya.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD