“Len, kamu gak usah macem-macem Len. Ya kali nyidam pegang kepala orang. Gak enak lho Len, masa megang kepala orang,” ucap Eljo yang merasa sedikit keberatan dengan permintaan Helena untuk memegang kepala orang.
“Jo … namanya juga bawaan bayi,” jawab Helena dengan mata berkaca-kaca dan mulut di monyong-monyongkan.
“Ya aku tau … tapi kenapa harus memegang kepala dan perut orang lain gitu lho.”
“Ya, aku gak tau lah namanya juga bawaan bayi,” jawab Helena sembari ia menggerakan bahunya tanda ia tidak tahu.
“Eljo … bilangin ke orang itu dong …. Aku janji deh ini terakhir kalinya aku nyidam yang aneh-aneh,” bujuk Helena kepada Eljo yang sedari tadi terus menggaruk-ngaruk kepalanya.
“Oke, aku bantuin kamu kali ini. tapi janji besok-besok kalau nyidam yang gampang-gampang aja kaya nyidam pengen makan apa gitu ya,” Tawar Eljo kepada Helena yang sudah memasang wajah memelas.
“Oke! Aku setuju.”
Eljo mulai beranjak dari tempat duduknya dan ia mulai berjalan ke arah karyawan yang ingin di pegang kepalanya oleh Helena.
“Permisi mas,” sapa Eljo dengan sopanya.
“Ya, ada apa mas? Ada yang bisa saya bantu?” Tanya karyawan berkepala botak itu
“Begini mas, sebelumnya saya mau minta maaf terlebih dulu ke masnya.”
Karyawan itu memasang wajahnya yang kebingungan, “Ya mas kenapa ya?”
“Begini mas … aduh gimana ya mau bilangnya,” jawab Eljo sembari ia mengaruk-ngaruk kulit kepalanya yang tidak terasa gatal.
“Gini mas, saya mau minta ijin ke masnya. Ini kan teman saya sedang hamil dan dia baru nyidam. Naa … nyidamnya itu sedikit agak aneh mas. Dia pengen banget memegang kepala dan perut mas. Mmm … kalau masnya gak keberatan boleh tidak ya mas kalau teman saya memegang kepala dan perut mas,” pinta Eljo pada karyawan tersebut.
“Oh begitu. Ya gak papa mas.”
“Serius mas gak papa kan?”
“Iya mas gak papa. Namanya juga ibu-ibu nyidam memang seperti itu mas.”
Wajah Eljo begitu sumringah mendengar jawaban dari masnya.
“Kalau begitu ayo mas kita temuin teman saya,” ajak Eljo.
Karyawan itupun mengikuti langkah kaki Eljo, dan sesampainya mereka di hadapan Helena, wanita berbadan dua itu langsung memasang wajah bahagia dan ia langsung beranjak dari tempat duduknya.
“Selamat Sore mbak,” sapa karyawan itu dengan begitu ramahnya.
“Sore mas,” sapa Helena balik dengan senyuman yang terlukis dengan begitu jelas di bibirnya.
“Len, aku sudah meminta ijin kepada masnya jadi kamu sudah boleh memegang kepala dan perut masnya,” jelas Eljo kepada Helena.
“Serius? Masnya tidak keberatan bukan?” Tanya Helena kepada karyawan tersebut.
“Iya mbak saya serius, lagi pula inikan bawaan bayi jadi tidak baik jika tidak keturutan bukan.”
“Iya mas. Kalau begitu saya pegang sekarang tidak apa-apa kan mas?”
“Iya mbak silahkan.”
“Permisi ya mas, saya pegang sekarang ya mas perut dan kepalanya,” ijin Helena kepada karyawan tersebut.
“Astaga aku memegang kepala dan perut orang,” kata Helena sembari ia terus memegang kepala botak milik karyawan tersebut.
“Len, udah ya,” Tanya Eljo yang melihat Helena terus memegangi kepala dan perut karyawan tersebut.
“Hah? Oke, sampai kelupaan aku. Maaf ya mas,” sambil melepas peganggannya Helena menjawab Eljo.
“Ya mbak tidak apa-apa,” jawab karyawan tersebut.
“Mas terima kasih ya mas sudah mau membantu saya memenuhi keinginan saya untuk memegang kepala dan perut masnya.”
“Iya mbak sama-sama, saya merasa senang bisa membantu orang hamil,” jawab karyawan tersebut dengan sumringahnya.
“Terima kasih banyak ya mas,” ucap Eljo sembari ia mulai mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah dari dalam dompetnya dan ia mulai memberikan uang tersebut kepada karyawan yang telah membantunya.
“Lhoh ini apa mas? Tidak usah mas, saya iklas membantu mbaknya,” tolak Karyawan tersebut.
“Tidak apa-apa mas ini juga termasuk dalam nyidamnya teman saya.”
“Wah enggak mas, saya iklas kok membantu mbaknya.”
“Mas terima ya, saya mohon. Ini semua permintaan anak saya,” pinta Helena kepada karyawan tersebut.
Mendengar hal tersebut akhirnya membuat karyawan berkepala botak tersebut menerima uang pemberian Eljo dan tak lupa ia mengucapkan banyak terima kasih kepada Helena dan Eljo yang telah memberinya cukup uang.
“Terima kasih ya mas mbak. Semoga mbak dan calon bayinya di berikan kesehatan selalu.”
“Amin … amin … mas. Terima kasih ya mas untuk bantuan dan doanya,” jawab Helena.
Setelah karyawan tersebut pergi, Helena dan Eljo mulai memesan makanan dan minuman.
“Gimana len? Kamu sudah senang sekarang?” Tanya Eljo yang sedari tadi melihat wajah Helena yang terlihat begitu bahagia.
“Iya Jo, aku sangat senang sekarang. Akhirnya aku bisa memenuhi keinginan calon anakku. Terima kasih ya Jo untuk semua bantuanmu, aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu kepadaku dan anaku.”
“Ya Len sama-sama, aku juga merasa senang melihatmu bisa memenuhi keinginan calon buah hatimu.”
Tiba-tiba saja wajah Helena yang semula begitu bahagia kini berubah murung kembali.
“Seharusnya ini adalah tanggung jawabnya Yoga, bukan kamu Jo. Kamu bukan siapa-siapanya anaku, tetapi aku malah merepotkanmu. Aku berjanji ini terakhir kalinya aku merepotkanmu Jo.”
“Len, jangan bilang seperti itu. Bagaimana pun juga kamu adalah sahabatku dan anak yang kamu kandung sudah aku anggap seperti anaku sendiri Len.”
“Tidak bisa seperti itu Jo, ini bukanlah tanggung jawabmu. Ini adalah tanggung jawabnya Yoga.”
Eljo mulai memegang tangan Helena, “Len, dengarkan aku. Aku tidak peduli ini tanggung jawabnya siapa, tetapi yang aku pedulikan sekarang adalah kebahagianmu dan anak kamu Len. Dan menurutku anak kamu adalah anak aku juga.”
Helena mulai memalingkan penglihatannya dan ia mulai memegangi dadanya yang tersa begitu sesak.
Hal itu membuat hati Eljo kembali sakit, ia tidak bisa melihat Helena menangis dan bersedih seperti ini. tetapi ia juga tidak tahu harus berbuat seperti apa untuk membuat Helena kembali bahagia seperti dulu lagi.
“Jo, kenapa dia melakukan hal setega itu kepada aku dan calon buah hati kami. Sebenarnya apa salahku dan anakku? Kenapa Yoga memperlakukan kami seperti memperlakukan kami itu adalah sebuah penyakit yang harus di hindari dan di ” isak Helena.
“Len, aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini, tetapi ingatlah bahwa saat ini kamu sedang mengandung dan aku yakin jika kamu bersedih seperti ini anak kamu akan ikut merasakannya.”
Helena mulai mengambil nafas begitu dalam dan ia mulai memegang perutnya kembali.
“Maafkan mama ya nak. Maafkan mama yang tidak bisa membuatmu bahagia seperti anak-anak yang lainnya. Maafkan mama yang tidak bisa memberikan kasih sayang yang utuh kepada kamu.”
Mendengar hal tersebut membuat hati Eljo begitu tersakiti. Ia mulai mengumpat dalam hati. Ia merasa sangat bersalah kepada Helena dan ia merasa sangat membenci Yoga. Bagaimana bisa seorang pria yang telah menghamili wanita yang ia cintai kemudian pergi begitu saja meninggalkannya seorang diri.
Eljo hanya bisa melihat Helena menangis tanpa bisa melakukan apapun, hatinya juga meronta-ronta menahan sakit dalam dadanya.