DESAS DESUS 2

1091 Words
“May,” panggil Cinta “Ha? Kenapa?” tanya Maya yang kaget dengan suara Cinta “Kamu kenapa kok bengong sendirian disini?” tanya Cinta pada Maya yang ia lihat hanya duduk sendirian di depan ruangan kosong. “Cin, kamu dengar kabar buruk tentang Helena gitu gak?” “Maksud kamu?” “Jadi gini, tadi aku kan ketemu sama Bayu dan dia ngasih tahu ke aku kalau Helena dan Eljo itu ngambil cuti,” “Ha? Serius kamu May? Ngapain mereka berdua ngambil cuti? Emangnya gak sayang apa cuti di semester akhir kaya gini? Ya … walaupun Cuma satu semester sih tapi kan sayang banget lho,” ucap Cinta yang menyayangkan keputusan yang di ambil oleh Helena dan Eljo. “Bukan satu semester cin.” “Lha terus setengah semester gitu? Emang bisa?” tanya Cinta “Ihhh … ya mana bisa. Helena dan Eljo itu cuti satu tahun Cinta … satu tahun, bayangkan aja ngapain mereka berdua ngambil cuti selama itu,” jelas Maya kepada Cinta yang membuat Cinta setengah tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari Maya. “May … jangan-jangan si Helena dan Eljo nikah lagi, jadi mereka ngambil cuti selama itu,” ucap Cinta dengan spontan. “Husshh … ngaco ahh kamu itu. Mana mungkin Helena dan Eljo menikah. Kalau mereka menikah pun buat apa mereka tutup-tutupi dari kita?” “Jangan-jangan Eljo sama Helena punya hubungan gelap di belakang kita makannya mereka tutup-tutupi,” kata Cinta. “Maksud kamu gimana?” “Sekarang gini aja deh May kita nalar aja ya. pertama kamu liat kan gimana seremnya si Yoga waktu marah ke Helena? Naaa … gak mungkin kan kalau gak ada api di antara hubungan mereka berdua. Terus kalau memang gak ada apa-apa di antara Eljo dan Helena gak mungkin kan Eljo mau-maunya nolong Helena seperti itu, terus sekarang mereka berdua sama-sama cuti satu tahun lho. Aku yakin pasti ada sesuatu di antara Helena dan Eljo,” jelas Cinta pada Maya. Maya yang mendengar analisa dari Cinta juga tidak bisa mengelaknya, karena apa yang di bilang oleh Cinta itu ada benarnya, kalau di antara mereka berdua memang tidak ada apa-apa mana mungkin Eljo melindungi Helena seperti itu. Perlahan Maya mulai mempercayai kalau Helena pasti ada main di belakang Yoga. Tapi disisi lain Maya juga tidak percaya dengan apa yang ia dengar, karena ia tahu betul bagaimana karakter sahabatnya itu. Ia bukan lah tipe wanita yang suka bermain api dengan pria lain selagi statusnya masih menjadi milik orang. Dan jauh di lubuk hatinya yang paling dalam Maya berharap kalau sahabatnya itu kini hidup bahagia dan semoga apa yang kini ia khawatirkan tidak akan terjadi pada Helena. “May, gimana kalau kita menghubungi Helena atau Eljo, untuk minta kejelasan sama mereka, kalau kaya gini kan jadi simpang siur,” usul Cinta pada Maya. . . “Len, hari ini aku mau keluar dulu ya, mungkin aku baru pulang sekitar jam delapan malam gak apa-apa kan?” tanya Eljo pada Helena. “Tentu saja gak apa-apa kok Jo, tapi kalau boleh tahu kamu mau pergi kemana?” tanya Helena pada Eljo. “Ini Papa sama Mama ingin ngobrol-ngobrol sama aku, jadi aku bilang aja kalau aku ada di Solo,” jelas Eljo “Ha? Kamu bilang kaya gitu ke Mama, Papa kamu? Terus kalau mereka datang ke apartement kamu bagaimana? Mama kamu kan sahabatnya Mama aku,” tanya Helena yang takut kalau berita kehamilannya sampai diketahui oleh kedua orang tuanya. “Kamu tenang saja Len, aku udah bilang sama Mama Papa untuk bertemu di luar, dan mereka juga gak mungkin datang ke sini,” ucap Eljo yang penuh keyakinan kalau kedua orang tuanya tidak akan datang berkunjung ke apartement miliknya. “Ya udah kalau gitu, kamu hati-hati di jalan ya Jo.” “Pasti, ya udah kalau gitu aku pergi dulu ya,” pamit Eljo sambil ia mengusap-ngusap rambut hitam panjang milik Helena. Setelah Eljo pergi, Helena mulai merasa bosan berdiam diri di dalam apartement sendirian seperti ini. ingin rasanya untuk jalan-jalan menghirup udara segar, tetapi ia belum cukup berani untuk keluar apartement sendirian tanpa Eljo. Saat Helena sedang melamun, tiba-tiba saja ponselnya bordering dan di lihatnya kalau panggilan suara itu dari Maya sahabatnya. Dengan perasaan was-was Helena mulai memberanikan diri untuk mengangkatnya. “Hallo …” ucap Helena dengan nada suara yang terdengar begitu gugup “Hallo, Len,” jawab Maya “Iya May kenapa?” “Kabar kamu gimana?” tanya Maya sedikit berbasa basi sebelum ia bertanya-tanya lebih lanjut lagi pada Helena “Kabar aku baik kok May, kabar kamu sama Cinta gimana?” tanya Helena balik. “Kabar kami juga baik kok Len. len kalau boleh tahu, kamu kapan ya balik ngampus lagi?” tanya Maya “Syukurlah kalau kabar kalian baik-baik saja. kalau untuk balik kampus kapan aku belum tahu May, aku masih ingin sendiri dulu,” jawab Helena dengan lirih. “Len, sebenarnya kamu kenapa? kenapa kamu mengambil cuti selama ini?” “Ha? Kamu kok bisa tahu kalau aku mengambil cuti?”tanya Helena kaget karena sahabatnya itu bisa tahu kalau dirinya mengambil cuti. “Gimana kita gak tau Len, kita itu sahabat kamu. Len maaf sebelumnya, tapi kalau boleh tahu apa masalahmu ini berhubungan dengan hubunganmu dengan Yoga dan Eljo?” “May, untuk itu aku belum bisa cerita ke kamu sekarang, mungkin aku akan ceritakan semuanya kalau aku merasa sudah siap ya May,” jawab Helena yang berusaha untuk tidak menitikan air mata, karena jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Helena juga ingin sekali bicara sejujurnya pada Maya dan Cinta tentang kondisinya, tetapi sampai sekarang ia masih merasa begitu takut kalau ekspektasinya tidak sesuai realita. Ia takut kalau Maya dan Cinta akan menyebarkan rahasianya dan hal itu akan membuatnya sangat malu. “Kenapa Len? kenapa harus menunggu nanti? Kenapa tidak sekarang saja? apa kami sudah tidak kamu perbolehkan untuk mengetahui kabarmu?” tanya Maya. “Bukan begitu May, tapi untuk saat ini aku membutuhkan space dan waktu untuk menenangkan pikiranku terlebih dahulu.” “Ya udah kalau gitu gak apa-apa. Tapi kalau kamu membutuhkan tempat untuk bercerita maka datanglah ke aku ya Len,” ucap Maya sebelum ia menutup panggilan suaranya. “Iya May, ya udah ya kalau gitu nanti kita sambung lagi,” pamit Helena. “Gimana May? Helena sudah mengatakan yang sejujurnya belum ke kamu?” tanya Cinta pada Maya, setelah panggilan suara Maya dan Helena selesai. Sambil menggelengkan kepalanya Maya berkata, “Helena masih tidak mau mengatakan yang sebenarnya kepada kita, aku juga tidak tega memaksa Helena untuk bicara ke kita,”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD