PETIR DI SIANG BOLONG

1092 Words
Sejenak Helena termenung diatas motor matic miliknya, ia menatap nanar bayangan dirinya yang terpantul oleh kaca spion. Di lihatnya kulit wajah miliknya yang terlihat begitu pucat dengan mata yang begitu sembab, tulang pipinya begitu menonjol dengan sangat jelas. Helena merasa sangat jijik dengan dirinya sendiri, bahkan berkali-kali ia mengumpat pada dirinya sendiri karena masalah yang sedang ia hadapi. “Yoga … kamu harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah kamu perbuat kepadaku. Kamu tidak boleh melarikan diri seperti ini. Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja,” gumam Helena sembari ia menyeka air matanya yang jatuh membasih pipinya sedari tadi. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Helena mulai mengeluarkan motor matic miliknya dan ia segera memacu motor matic itu dengan  kecepatan penuh. Ia tidak menghiraukan derasnya guyuran air hujan yang membasahi tubuhnya yang hanya berbalut jaket kulit dengan celana tidur berbahan kain tipis. Yang ia pikirkan hanya satu. Ya, ia harus menemui Yoga orang yang telah menghamilinya. “Yoga … aku tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja! aku tidak akan membiarkanmu hidup bahagia!” teriak Helena. Karena derasnya hujan saat itu membuat jalanan menjadi licin dan membuat Helena beberapa kali hampir terjatuh. Namun, keberuntungan masih memihaknya sehingga ia tetap selamat walaupun beberapa kali ia hampir saja terjatuh. Akhirnya Helena sampai juga di kos-kosan Yoga setelah ia harus mempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit di bawah guyuran hujan yang begitu deras. Helena langsung memakirkan motornya lalu ia segera berlari ke kamar Yoga yang terletak di lantai dua. Karena tubuhnya yang basah akibat guyuran air hujan membuat lantai yang terbuat dari keramik itu menjadi licin dan akhirnya membuat Helena terpeleset tepat di depan tangga menuju kamar Yoga. “Aghkk …” pekik Helena ketika lututnya membentur pinggiran tangga. Sejenak Helena menundukan kepalanya dan ia melihat lulutnya yang terluka, namun luka itu tidak seberapa dengan luka yang ada di dalam hatinya. Helena menarik napas dengan sangat kuat dan kini ia mulai memantapkan langkahnya kembali untuk menepaki anak tangga. “Yoga ...” Satu kata yang keluar dari mulut Helena ketika ia menepaki anak tangga tersebut. Tak dihiraukannya darah yang mulai menetes dari kedua lututnya yang terluka. Sekarang yang ia pikirkan hanya satu yaitu bertemu dengan Yoga  dan meminta pertanggung jawabanya. Ketika Helena sudah berada di depan kamar Yoga dan ia hendak mengetuk kamarnya, tiba-tiba saja ketakutan muncul kembali dalam benak Helana. Ia merasa takut akan penolakan Yoga terhadap dirinya dan buah hatinya yang sedang ia kandung. Sejenak Helena menyandarkan tubuhnya di bangku kosong depan kamar Yoga. Berkali-kali ia mencoba untuk menenangkan dirinya sembari ia selalu menyeka air matanya yang selalu membasahi pipinya. “YA! aku harus menemui Yoga. Buat apa aku sudah jauh-jauh datang kesini tetapi aku tidak berhasil bertemu dengan Yoga.” “Ya, aku harus bisa. Semua ini demi hubungan kita dan demi calon anak kita.” Helena mengepalkan kedua tangannya dan ia mulai bangkit. Perlahan ia mulai mengetuk pintu kamar Yoga. Sekali dua kali ketukan Helena tidak mendapatkan respon dari Yoga yang akhirnya membuat Helena bertambah ketakutan sehingga ia menambahkan tekanan pada ketukannya. “Yoga … Yoga … buka pintunya … aku tahu kamu didalam.” “Yoga … aku mohon buka pintunya.” Teriak Helena yang akhirnya membuat tetangga kos Yoga pun keluar dari dalam kamarnya. “Helena? Kamu ngapain kesini?” “Eljo … Eljo,” Helena mencoba untuk menghampiri Eljo dan ia mulai memegang tangan Eljo. “Eljo aku mohon bantu aku untuk mendobrak pintu kamar Yoga. Aku sudah dari tadi mengetuk pintunya tetapi ia tidak membukan pintunya. Aku takut jika terjadi sesuatu kepada Yoga,” pinta Helena. “Helena, Yoga tidak ada di kosan.” “Hah? Maksud kamu apa?” Tanya Helena kepada Eljo. “Yoga  sudah beberapa hari ini tidak kembali ke kosan Helena.” Jelas Eljo. “Gak … gak mungkin Yoga pergi meninggalkanku.” tolak Helena sembari ia mulai berjalan mundur dan Brukk … Tubuh Helena terjatuh tak berdaya di depan kamar Yoga. Hati Helena begitu hancur mengetahui kekasih hatinya pergi meninggalkan dirinya dengan beban berat yang ada di pundaknya. Tangisan Helena pun pecah yang akhirnya membuat Eljo begitu panik karena ia tidak tahu harus berbuat apa kepada Helena. “Argh … Yoga … kamu kemana? Kamu kemana Yoga,” pekik Helena sembari ia memukul-mukul dadanya yang terasa begitu sesak. Eljo yang melihat Helena begitu hancur membuatnya tak kuasa untuk memeluk Helena dan ia berusaha dengan sekuat tenaga untuk menenangkan Helena yang terlihat begitu kacau. “Helena tenang lah. Tenang … walaupun aku tidak tahu apa permasalahan yang ada di antara kalian, tetapi aku yakin Yoga tidak akan meninggalkanmu dan aku yakin Yoga akan segera kembali.” Eljo berusaha menengkan Helena sembari ia menepuk-nepuk pundak Helena dengan begitu lembutnya. “Yoga ...” Tangisan Helena semakin menjadi-jadi ketika Eljo memeluknya dan berusaha menenangkan dirinya. “Helena sudah … sudah Helena. Aku mohon jangan seperti ini.” “Jo … kamu pasti tahu kan Yoga  pergi dimana. Kamu pasti tahukan Jo …” “Helena aku minta maaf, tetapi aku beneran tidak tahu Yoga pergi kemana Helena. Kalaupun aku tahu aku pasti sudah mengantarkanmu menemui Yoga.” Jelas Eljo kepada Helena. “Tidak! Kamu pasti sedang menipuku bukan? Aku yakin kamu pasti tahu keberadaan Yoga sekarang.” “Tidak Helena … aku tidak mungkin membohongimu. Aku mengatakan yang sebenarnya kepadamu.” “Tidak! Aku tidak akan mempercayaimu lagi. kamu pembohong Jo!” teriak Helena sembari ia berusaha untuk berdiri dan tiba-tiba saja Brukk …. Tubuh Helena terjatuh tepat di hadapan Eljo. “Helena … Helena … kamu kenapa? Helena …” Eljo  yang merasa begitu kasihan kepada Helena akhirnya membuatnya harus membopong tubuh Helena  ke dalam mobil sedan miliknya. Eljo berpikir ia harus segera membawa Helena ke sebuah rumah sakit maupun klinik, yang bisa segera memberikan pertolongan pertama kepada Helena yang tiba-tiba saja pingsan. Sesampainya mereka di sebuah rumah sakit kecil tak jauh dari tempat tinggalnya. Eljo langsung membopong Helena menuju UGD dan selama Helena di dalam UGD, Yoga berusaha untuk menghubungi sahabatnya itu. “Yoga … aku mohon angkatlah teleponmu,” gumam Eljo sembari ia mondar mandir kesana kemari. “Argh … siaalan kamu Gaa..!” umpat ELjo kepada layar ponsel miliknya. Eljo  mengusap-ngusap wajah dan kepalanya karena ia merasa sangat frustasi dengan keadaan ini. Walaupun ia tahu betul ini bukanlah masalahnya namun, ia bisa merasakan kesedihan dan beban yang sangat berat sedang di pikul oleh Helena seorang diri tanpa Yoga. “Wali Ibu Helena ….” Teriak seorang suster yang keluar dari dalam ruang UGD Eljo yang mendengar nama Helena di sebut akhirnya membuat Eljo  langsung berdiri dan berjalan kearah suster tersebut.      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD