“Dok, bagaimana kondisi Helena?
“Mohon maaf sebelumnya, kalau saya boleh tahu, bapak ini siapanya Ibu Helena?”
“Oh iya bu, perkenalkan saya Eljo bu.”
Terukir dengan jelas senyuman yang terpancar oleh dokter paruh baya tersebut, “Ibu Helena tidak apa-apa Pak. Hal ini wajar terjadi untuk wanita yang sedang hamil muda.”
“Hah? Hamil muda? Apa maksud dokter?”
“Iya, istri bapak saat ini sedang mengandung empat minggu Pak,” jawab dokter itu dengan tegas.
“Ahh … dokter pasti sedang bercanda bukan?”
“Lhoh, buat apa saya bercanda hal seperti ini Pak? Saya mengatakan yang sesungguhnya kepada Bapak Eljo.”
“Oh My God!” pekik Eljo sembari ia mengusap-ngusap wajahnya.
“Selamat ya Pak untuk Kehamilan istrinya.”
“Ah iya, terima kasih ya dok,” jawab Eljo dengan senyuman palsu yang terukir di bibirnya.
Sekarang ia tahu betul kenapa Helena sangat frustrasi ketika mencari Yoga, ternyata ini alasannya dasar ….
“Baik Pak, kalau begitu saya akan memeriksa pasien yang lainnya dan sebaiknya bapak benar-benar menjaga Ibu Helena ya Pak, karena saat ini Ibu Helena sedang hamil muda jadi di harapkan kondisi psikis Ibu Helena tetap stabil.”
“Baik dok, saya akan menjaga Helena. Kalau begitu saya masuk dulu ya dok.”
“Baik Pak, kalau begitu saya mohon ijin untuk memeriksa pasien berikutnya.”
“Dok!”
“Ya Pak Eljo, ada apa?”
“Kondisi Helena dan janin yang sedang ia kandung benar baik-baik saja bukan?”
“Iya Pak. Kondisi Ibu dan Janin yang sedang Ibu Helena kandung kondisinya baik-baik saja.”
Hawa dingin yang menusuk relung hati, menyambut Eljo ketika ia memasuki ruang perawatan Helena. Wanita malang yang harus bersiap menjadi single parents di usianya yang masih sangat belia.
Eljo tak pernah menyangka wanita yang sangat ia cintai harus terjatuh kedalam lubang buaya yang di penuhi oleh permasalahan yang sangat pelik.
Wanita yang ia cintai dalam diam, kini harus terpuruk dengan kondisinya saat ini.
Hati Eljo menjerit melihat tubuh Helena yang terlihat begitu kurus, otot-otot tubuhnya sudah mulai menampakan dirinya tanda bahwa kini tubuh Helena hanya terbalut oleh kulit saja.
“Helena bangunlah … aku mohon bangun,” sambil memegang tangan Helena, Eljo mengecup tangan Helena dengan begitu lembut.
Eljo berharap Helena segera terbangun dari tidurnya. Dan ia berjanji kepada Helena untuk terus menjaganya sampai kapan pun dan ia berjanji akan menemukan Yoga dan membuat Yoga bertangung jawab atas semua perbuatan yang sudah ia perbuat kepada Helena. Eljo tidak akan membiarkan Helena menanggung semua permasalahan ini seorang diri, Karena Eljo merasa begitu kasihan dengan Helena dan calon anaknya jika harus menangung beban ini seorang diri.
Tak terasa Eljo menitikan air mata yang begitu tulus dari kedua kelopak matanya. Ia seperti merasakan betapa hancur dan kecewannya Helena dalam menghadapi permasalahannya ini.
“Yoga ….”
Eljo langsung mendongakan wajahnya ketika ia mendengar suara Helena yang memanggil nama Yoga dengan begitu pelan dan lirih.
“Helena- kamu sudah bangun?”
“Yoga …”
Eljo hanya bisa menarik nafasnya dengan begitu berat dan panjang. Ia merasa sangat bingung harus berbuat apa lagi untuk Helena.
Yoga laki-laki b***t itu telah kabur meninggalkan wanita yang ia gadang-gadang adalah wanita yang paling ia cintai.
Namun, nyatanya ia memilih pergi meninggalkan Helena ketika Helena sedang mengandung buah cinta mereka.
“Yoga ….”
Helena langsung bangkit dari tidurnya ketika ia tidak menemukan Yoga di sampingnya. Ia berusaha sekuat tenaga untuk pergi dari rumah sakit dan ia harus bergegas mencari Yoga.
“Helena … Helena aku mohon tenanglah, aku mohon tenang lah.”
“Yoga !!! aku hanya menginginkan Yoga- Eljo … aku hanya ingin melihat Yoga.”
“Iya Helena, iya aku tahu itu. Tetapi saat ini kondisimu sedang lemah dan sekarang kamu tidak boleh egois seperti ini! sekarang kamu sedang berbadan dua, jadi kamu harus memperhatikan kondisi janinmu juga.”
“Apa? Kamu bilang aku egois? Kamu bilang aku egois Jo? Hah ….”
“Ma-ksudku ….”
“Kamu tidak tahu apa yang aku hadapi Jo! Bagi kamu enak saja mengatakan seperti itu. Tapi bagiku hal ini adalah beban terberat yang sedang aku pikul.”
“Aku tahu Helena, Aku tahu betul dengan apa yang sedang kamu rasakan, tapi tolonglah kamu pahami kondisimu saat ini yang sedang berbadan dua.”
“Kamu tahu apa Jo? Kamu tahu apa!” bentak Helena kepada Eljo.
Kedua bola mata Helena melotot dengan begitu sempurna. Terlihat dengan jelas kekecewaan dan kobaran api kebencian yang terpancar dari kedua bola matanya.
“A-ku … sudah tidak mempunyai masa depan lagi Jo … hidupku sudah hancur Eljo. Masa mudaku telah hilang dari kehidupanku Jo, cita-citaku untuk menjadi penulis yang terkenal harus pupus karena aib ini.”
“Tidak, Helena … tidak! Aku mohon jangan katakana hal seperti itu lagi.”
Isak tangispun tak terhindarkan lagi. Tangis kesedihan, kekecewaan, amarah keluar begitu saja dari relung hati Helena.
Ia benar-benar tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. jika bisa memilih ia akan memilih untuk tidak di lahirkan ke dunia yang sangat kejam ini.
Dunia yang dengan teganya merebut masa mudanya yang sangat gemilang baginya.
Eljo yang melihat Helena menangis dengan histeris akhirnya membuatnya harus memeluk Helena dengan begitu kuat.
Ia berharap dengan pelukannya yang begitu tulus kepada Helana, ia berharap dapat meringankan beban yang sedang Helena pikul.
“Lepaskan semuanya Helana … lepaskan ….”
“Eljo ….” Helena menumpahkan semua kesedihannya dalam dekapan Eljo yang terasa begitu tulus.
“Iya, iya benar Helena … lepaskan semuanya, lepaskan semuanya beban yang ada di pundakmu.”
Perlahan kata-kata yang terucap dari bibir Eljo membuat Helena memeluk Eljo dengan sangat erat.
Helena merasa sangat membutuhkan sandaran untuk dirinya menuangkan semua kegundahan hatinya.
Setelah puas Helena pun melepaskan pelukannya dari dekapan Eljo.
Ia berusaha mengusap bekas air matanya yang masih tersisa di pipinya.
Sejenak ia menundukan kepalanya dan kini perlahan ia mulai mendongakan kepalanya,
“Jo ….”
“Iya … ada apa Hel? Kamu membutuhkan sesuatu?”
Helena mengelengkan kepalanya, “Tidak Jo.”
“Lalu ?”
“Tolong temani aku untuk mencari Yoga. Dia harus bertangung jawab dengan semua perbuatan yang sudah ia perbuat kepadaku Jo.”
“Tentu saja. aku akan menemanimu mencari Yoga. Kamu percayalah kepadaku.”
“Janji?”
“Ya, tentu saja.”
“Terima kasih Eljo ….”
Eljo hanya menjawab dengan senyuman kepada Helena.
Tiba-tiba saja suasana menjadi begitu hening. Eljo dan Helena diam seribu bahasa, mereka berdua sama-sama di sibukan oleh pikiran mereka masing-masing.
Helena memikirkan bagaimana nasibnya dan calon bayi yang kini sedang ia kandung. Sedangkan Eljo memikirkan cara bagaimana ia bisa membantu Helena untuk melewati semua permasalahan yang sedang Helena hadapi.