PERLAHAN TAPI PASTI

1152 Words
“Dimana ini?” tanya Helena kepada dirinya sendiri, yang saat itu baru saja bangun tidur dan ia mendapatkan dirinya terbangun di sebuah kamar yang sangat luas dengan pemandangan kota Solo. Helena memegangi kepalanya dan ia baru teringat bahwa sekarang ia tinggal bersama Eljo, pria yang selama ini selalu membantunya, “Astaga aku baru inget kalau aku sekarang tinggal bersama Eljo,” gumam Helena pada dirinya sendiri. Helena melihat suasana kamar yang begitu indah, rapi dan begitu mewah membuatnya merasa sangat nyaman tinggal di kamar ini bersama Eljo. Namun, Helena juga menyadari posisinya sekarang bagaimana. Tidak mungkin ia akan terus menumpang pada Eljo, karena bagaimanapun juga kehidupan Helena yang sekarang adalah tanggung jawab Helena sendiri dan bukan malah membebankannya pada Eljo yang statusnya hanya teman saja. Helena juga yakin kalau suatu saat ia pasti akan kembali lagi ke kos-kosannya. Krukk … krukk … bunyi perut Helena “Asataga … aku lapar sekali,” gumam Helena yang merasakan perutnya mulai keroncongan. “Anak mama pasti sudah lapar ya ini, maafkan mama ya Nak karena akhir-akhir ini mama jarang sekali memperhatikanmu. Kamu pasti kelaparan ya di dalam perut Mama?” gumam Helena kepada calon bayinya yang masih ia kandung dan sesekali ia memegangi perutnya. Ia merasa pelan-pelan ia sudah bisa menerima kehadiran buah hatinya dalam hidupnya. “Oke, mama akan memasakan sesuatu untuk kamu dan om Eljo ya nak.” Helena mulai beranjak dari tempat tidurnya dan tak lupa ia juga mulai mengikat rambut panjangnya yang berwarna hitam legam. Ketika Helena berjalan menuju dapur, Helena mencium sebuah aroma yang sangat enak dan aroma itu membuat Helena dan calon buah hatinya menjadi semakin lapar saja. “Nak, kamu mencium sesuatu tidak? Mmm … aromanya sangat enak ya nak.” “Mungkin tetangga kita baru masak Nak jadinya aroma masakannya sampai kesini,” kata Helena kepada calon anaknya yang masih di dalam perut. Karena Helena sudah merasa sangat lapar akhirnya membuat Helena segera bergegas ke dapur dan memasak sesuatu untuk dirinya dan Eljo. Sesampainya di dapur Helena di kejutkan oleh sesosok pria bertubuh tinggi besar, dengan kaos hitam. “Eljo?” panggil Helena “Hai Len, Selamat pagi,” sapa Eljo, dengan senyuman yang menenangkan hati. “Selamat pagi Jo,” “Tunggu sebentar ya Len. sebentar lagi masakanku sudah siap.” “Kamu bisa masak Jo?” “Tentu saja bisa dong Len. apa sih yang gak bisa di lakukan oleh aku.” “Waow … bagus itu Jo. Aku kagum dengan kamu yang memiliki banyak sekali skill.” Eljo hanya tertawa sambil ia terus melanjutkan proses memasaknya. “Len? ada apa?” tanya Eljo kepada Helena yang sedari tadi hanya berdiri di sampingnya dan terus menatapnya dengan intens. “Tidak ada apa-apa sih,” “Lalu? kenapa kamu terus memandangiku?” Rona wajah Helena seketika langsung memerah karena pernyataan yang terlontar dari bibir Eljo. “Mmm … gak ada apa-apa sih Jo sebenarnya.” “Lalu?” “Aku Cuma sedikit lapar saja, makannya aku melihat kamu memasak terus,” ucap Helena dengan sesekali ia tersenyum, ia merasa canggung dan malu mengungkapkan yang ia rasakan kepada Eljo. Helena merasa malu karena sudah menumpang di kediaman Eljo dan kini ia meminta makanan juga kepada Eljo. “Oalah, ya sudah kalau begitu kamu tunggu dulu ya Len. kamu duduk saja dulu, ini sebentar lagi selesai kok.” “Kalau begitu boleh tidak aku membantumu Jo?” tanya Helena yang merasa tidak enak hati jika ia hanya melihat Eljo yang menyajikan makanannya. “Kamu duduk saja ya Len, kali ini biar aku saja yang menyiapkan sarapan kita,” tolak Eljo sambil ia mulai menuntun tubuh Helena ke meja makan yang di design begitu minimalis tapi terlihat cukup mewah. “Jo, biarkan aku membantumu ya,” rengek Helena “No! kali ini biar aku saja yang menyiapkan makanan untukmu. Kamu duduk saja disini,” perintah Eljo kepada Helena. Setelah memastikan Helena sudah duduk, Eljo langsung kembali lagi ke dapur miliknya, dan kini ia mulai melanjutkan masakannya yang sempat terhenti. Sambil menunggu Eljo, Helena menyibukan diri dengan merapi-rapikan alat-alat makan yang sebenarnya sudah di tata oleh Eljo. Tetapi karena Helena merasa tidak enak dengan Eljo makannya Helena berusaha menyibukan dirinya. “Makanan sudah siap …,” ucap Eljo sembari ia memegang sebuah piring berisikan tumis kangkung. “Wah … sudah matang,” sambut Helena sambil ia langsung memegang piring yang di bawa oleh Eljo dan kemudia ia langsung menata masakan yang sudah dibuatkan oleh Eljo di atas meja makan. Setelah semua persiapannya selesai Eljo dan Helena langsung menyantap menu sarapan mereka dengan lahapnya. “Wah Jo, kamu memang hebat. Kamu sendirian menyiapkan semua masakan yang begitu enak ini,” puji Helena. “Ini cuma masakan sederhana kok Len, jadi ya mudah saja menyiapkannya sendirian.” “Ini mah bukan masakan sederhana lagi Jo, tapi ini sudah makanan empat sehat lima sempurna. Ini sudah ada sayur, ikan gurame goreng, sambel trasi segar, buah, tahu tempe goreng. Ini benar-benar empat sehat lima sempurna.” “Ihh … gimana sih kamu Len. ini kan belum empat sehat lima sempurna.” “Hah? Kok bisa?” “Ya bisa lah, kan ini tidak ada s**u Len jadi tidak bisa di sebut dengan empat sehat lima sempurna.” “Ya, ya, kamu benar deh.” “Gimana Len? kamu suka tidak dengan masakanku?” tanya Eljo. “Joo … ini mah gak usah kamu tanyakan lagi. tentu saja aku suka banget dengan masakanmu.” “Serius kamu suka?” “Tentu saja Eljo … ini enak banget Jo.” “Ya sudah kalua begitu kamu habisin ya Len.” “Wah … tanpa kau minta pun, aku bakal ngehabisin semua masakanmu Jo,” jawab Helena sambil ia menikmati sarapan yang telah di buatkan oleh Eljo. Setelah selesai makan, mereka berdua memutuskan untuk mencuci alat-alat makan yang kotor secara bersamaan. Helena bertugas untuk menyuci alat-alat makan yang kotor, sedangkan Eljo bertugas untuk mengeringkan alat-alat makan tersebut mengunakan kain lap. Mereka berdua melakukan pekerjaan tersebut dengan begitu kompak, sehingga pekerjaan mereka cepat selesai. Setelah menyelesaikan cuci piringnya, Helena dan Eljo langsung berjalan ke ruang tamu dan disana mereka berdua saling bercengkrama. Mereka membicarakan segala hal yang membuat mereka bahagia. “Owh iya Len, bagaimana kalau kita nanti malam check kandunganmu?” usul Eljo di sela-sela pembicaraan mereka. “Mmm … bagaimana kalau besok pagi saja? hari ini aku ingin belanja terus aku ingin masakin kamu sesuatu.” “Setuju!” jawab Eljo dengan begitu antusias. “Ya sudah kalau begitu kita siap-siap dulu aja bagaimana? Ini juga sudah siang,” usul Helena. “Oke, aku juga sudah gerah ini.” Akhirnya mereka berdua kembali ke kamarnya masing-masing. Di dalam kamar Eljo merasa senang karena sudah membuat Helena sedikit demi sedikit mulai merasa enjoy dengan kehidupan barunya, tetapi Eljo juga berpikir bagaimana caranya dia untuk membuat Yoga benar-benar pergi dari kehidupan Helena, karena sampai sekarang ELjo masih merasa khawatir kalau saja Yoga akan membuat Helena terluka lagi.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD