KLINIK

1115 Words
“Kamu tunggu disini dulu ya Len, aku mau daftarin kamu dulu,” ucap Eljo sambil ia meminta kepada Helena untuk menunggunya di ruang tunggu. Helena hanya menganggukan kepalanya saja, sembari ia melihat wanita yang sedang mengandung berlalu lalang di depannya. Ia melihat wanita-wanita itu terlihat begitu bahagia dan begitu bersemangat untuk melihat dan memeriksakan kondisi janin mereka dan hal itu sedikit merubah persepsi Helena tentang wanita yang sedang mengandung. Helena melihat sepasang suami istri yang terlihat begitu bahagia menunggu kelahiran putra mereka. Tak henti-hentinya sang suami mengajak berbicara kepada calon anaknya yang masih berada di dalam kandungan istrinya. Hal itu sontak membuat Helena tersenyum sendiri sambil ia memegangi perutnya yang telah berisi buah cintanya dengan Yoga. Jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam Helena masih menyimpan rasa untuk Yoga, bahkan ia masih berharap untuk hidup bersama dengan Yoga karena bagaimanapun juga Yoga adalah ayah biologis dari anak yang tengah ia kandung. “Permisi bu, boleh saya duduk disini?” sapa seorang ibu muda dengan perut yang begitu besar kepada Helena. “Oh iya bu, silahkan,” ucap Helena mempersilahkan wanita itu untuk duduk di sampingnya. “Terima kasih ya bu,” ucap wanita itu sambil ia tersenyum kepada Helena. “Iya bu sama-sama.” “No antrian berapa bu?” tanya wanita itu “Saya belum tahu bu, saya masih menunggu suami saya sedang mendaftarkan saya, kalau ibu no berapa?,” ucap Helena sambil ia berbohong tentang statusnya karena ia merasa tidak enak hati jika mengatakan yang sejujurnya jika ia adalah seorang single mom. “Saya no delapan belas bu. tadi saya sudah booking bu. besok kalau mau periksa lagi mending ibu booking saja bu biar tidak terlalu lama menunggu,” ucap wanita itu. “Ohh… gitu ya bu … oke bu, besok saya akan booking terlebih dahulu saja. disini memang rame ya bu,” tanya Helena berbasa basi. “Iya bu, disini memang dokter kandungannya sudah terkenal paling bagus di Solo bu. saya bisa hamil juga karena melakukan program hamil disini,” jelas wanita itu dengan mata berkaca-kaca. “Iya bu, saya lihat ulasan di internet juga mengatakan bahwa disini dokternya bagus.” “Betul bu … kamu gak salah datang kok. saya dulu sampai keluar negeri untuk melakukan program kehamilan tetapi selalu gagal dan saya hampir mau bunuh diri karena saya sudah menikah selama delapan tahun tapi belum di kasih keturunan juga. tapi untungnya saya mendapatkan rekomendasi dari teman kerjanya suami kalau disini banyak pasangan yang berhasil melakukan program kemahilannya, jadi saya dan suami langsung memutuskan untuk pindah ke Solo dan Puji Tuhan saya melakukan program kehamilan baru tiga bulan dan saya langsung hamil,” jelas wanita itu. “Lama juga ya bu delapan tahun baru di kasih momongan, tetapi saya ikut senang bu karena akhirnya penantian panjang ibu dan suami membuahkan hasil juga. kalau boleh tahu usia kandungan ibu sekarang sudah berapa bulan bu?” tanya Helena yang merasa tertarik dengan kehamilan wanita paruh baya yang baru saja ia kenal di klinik tersebut. “Usia kandungan saya sudah delapan bulan, dan saya sudah tidak sabar untuk melihat putra saya. Saya selalu merasa ini adalah sebuah keajaiban dan rejeki yang luar biasa hebatnya dari Tuhan,” ucap wanita itu sambil ia memegang perutnya dengan begitu lembut, dan matanya juga memancarkan kebahagian yang begitu besar. Mendengar kisah wanita asing ini membuat Helena tersadar kalau ia begitu di cintai oleh sang Pencipta karena ia tidak perlu bersusah payah lagi untuk mendapatkan momongan, bahkan ia merasa seperti bisa merasakan detak jantung bayi yang ia kandung dan tanpa ia sadari ia mulai meneteskan air mata kebahagian. “Helena …” panggil Eljo sambil ia menepuk bahu Helena dan hal itu langsung menyadarkan Helena dari lamunanya. “Kita dapat no antrian dua puluh, kamu gak apa-apa kan kalau kita harus menunggu agak lama,” ucap Eljo sambil ia duduk di samping Helena sambil ia memberikan no antrian tersebut kepada Helena. “Iya tidak apa-apa kok, lagi pula kita datangnya juga siang jadi wajar kalau mendapatkan no antrian dua puluh,” ucap Helena sambil tersenyum Melihat hal itu membuat Eljo sedikit bingung karena baru tadi ia melihat Helena begitu sedih, marah tetapi kini dalam waktu sekejap ia sudah melihat Helena kembali tersenyum bahagia dan ia merasa kalau kali ini Helena sudah mulai menerima kondisinya yang tengah berbadan dua. “Kamu mau aku belikan minuman, atau  camilan?” tanya Eljo yang merasa kasihan kepada Helena karena sejak tadi pagi perut Helena belum kemasukan makanan maupun minuman sedikit pun. “Gak usah Jo, kita makan dan minumnya nanti aja habis periksa,” tolak Helena sambil ia terus memegangi perutnya. “Yakin kamu gak haus gak lapar?” tanya Eljo sekali lagi untuk memastikan. “Ia serius, aku gak haus dan gak lapar.” “Oke deh kalau gitu,” ucap Eljo sambil ia mengusap-ngusap rambut hitam lurus milik Helena. “Jo, aku kok merasa deg-degan ya,” ucap Helena setengah berbisik kepada Eljo. “Kenapa kok kamu merasa deg-deg an?” tanya Eljo “Ya aku merasa takut aja nanti bertemu dengan dokter. Aku juga merasa nerveous,” ucap Helena “Tenang saja … kan ada aku yang akan selalu menemanimu, jadi kamu jangan takut ya,” ucap Eljo sambil ia memegang tangan Helena yang terasa begitu dingin. “Kondisi kehamilanku bagaimana ya Jo? aku kok jadi takut ya kalau kondisi kehamilanku kenapa-kenapa,” ucap Helena sambil ia berpikir yang tidak-tidak, ia takut dengan kejadian beberapa waktu lalu akan mempengaruhi kondisi kehamilannya. “Husshh … kamu jangan ngomong kaya gitu ahh … pamali taukk kalau kamu berbicara seperti itu,” ucap Eljo “Bu, saya duluan ya bu,” sela wanita asing itu “Oh iya bu silahkan,” ucap Helena sambil ia tersenyum dengan begitu hangat. “Siapa Len?” tanya Eljo kepada Helena. “Astaga aku tidak berkenalan dengan wanita itu Jo. Aku tadi Cuma berbincang sebentar dengannya dan dari dia aku tersadar kalau aku adalah wanita yang paling beruntung di dunia ini karena aku tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkan anugerah ini,” tutur Helena dengan mata yang berniar-binar. “Mak-sudnya gimana ya Len?” tanya Eljo sembari ia mengaruk-garuk kulit kepalanya yang tidak terasa gatal. “Ibu-ibu tadi adalah wanita yang telah lama menunggu kehamilannya bahkan ia juga merasa begitu frustasi dan ia hampir saja melakukan percobaan bunuh diri karena ia dan suaminya tak kunjung di berikan momongnya,” jelas Helena kepada Eljo “Yaaa … walaupun aku mendapatkan anugrah ini di saat yang tidak tepat, tetapi aku bersyukur karena yang di Atas mempercayai aku untuk merawat mahkluk mungil ini,” lanjut Helena dengan mata yang berbinar-binar. Eljo hanya bisa tersenyum dan ia merasa begitu bersyukur karena perlahan Helena sudah bisa menerima kehadiran buah hatinya.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD