Dia Membencimu

1066 Words
"Kereta? Ternyata kamu sudah semiskin itu hingga tidak mampu membelikan tiket pesawat untuk anakmu?" Benicio benar-benar tidak habis pikir, Husto terlalu memanjakan salah satu dari kedua putrinya. Bahkan putri bungsunya diperlakukan seperti bukan anaknya saja, lebih buruk dari anak tiri! Pertanyaan tajam dari Benicio membuat raut wajah Tuan Husto dan Nyonya Leah tak ketinggalan juga Clara semakin memerah malu. Clara berdehem dan kemudian menjawab demi menyelamatkan harga diri keluarganya di depan Benicio Rodrigues yang selalu frontal, "Dia membawa mobil. Tuan tahu bukan, jika adik saya itu sangat mandiri dan kuat." Benicio menggelengkan kepalanya, benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan keluarga Ixora. Mengendarai mobil sendiri lebih buruk dari naik kereta. Bagaimana jika di tengah jalan dia dirampok lebih parahnya jika sampai ada tindakan asusila dari para bandit perbatasan. Jason menaikkan satu alisnya seraya melirik pada sang mama yang selalu menganggap sahabat Jason itu sebagai wanita bodoh dan hanya bisa mengikuti perintah semua anggota keluarganya tanpa bisa membantah. "Saya juga tahu jika Ixora sangat mandiri dan kuat. Dia bisa bertahan di luar sana bahkan tanpa bantuan keluarganya dan—" Perkataan Jason terpotong oleh Mary, "Kenapa kita jadi membahas Ixora malam ini? Bukankah kita akan membicarakan tentang Clara dan Jason. Saya pun yakin jika Ixora akan baik-baik saja." Mary lantas menggapai tangan Benicio dan meremasnya lembut. "Aku yakin, Sayang. Jika Ixora bukan kali pertamanya bepergian menggunakan kereta atau mobil. Gadis itu sangat suka berpetualang, apa kau tidak ingat bahkan dulu dia yang mengajarkan anak kita memanjat pohon hingga jatuh dan lutut Jason memar serta luka? Anak itu sungguh berani." "Kau tahu, jika dia pergi ke Guatemala dengan mobil bisa sampai delapan belas jam perjalanan. Seorang diri, jika aku yang menjadi ayahnya tentu tidak akan membiarkan dia pergi sendiri. Tapi untungnya aku bukan ayahnya jadi tentu saja tidak bisa memutuskan hal itu bukan. Baiklah mari kita makan." Perkataan Benicio mau tak mau memberikan suatu pukulan telak bagi ketiga tamunya. Mereka pun makan dalam diam yang kemudian segera beralih topik untuk membahas pernikahan antara Jason dan Clara. Setelah perbincangan mereka yang menurut Jason sangat membosankan karena rencana pertunangan lebih didominasi oleh rencana kedua mama mereka. Jason menoleh pada Clara yang kini duduk merapatkan diri kepadanya. "Ada apa?" "Memangnya harus ada apa-apa, untukku duduk berdekatan denganmu?" "Ingat kita hanya dijodohkan," bisik Jason. Agar perkataannya hanya bisa didengar mereka berdua. Wajah Clara tampak memucat sebentar sebelum kembali ke mimik semula. Sungguh pintar wanita ini berakting. "Dan aku mencintaimu," balas Clara tanpa memutus pandangan pada wajah Jason. Tatapan menggoda dan penuh pemujaan itu jelas terlihat. "Jika kamu mencintaiku, berikan nomor telepon rumah kakekmu di Guatemala." "Untuk apa?" tanya Clara tanpa bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Kamu yang lebih pintar dari Ixora tentu tahu maksudku," ujarnya santai. Dada Clara terasa sesak, ia sudah sangat berusaha menyingkirkan Ixora tetapi pria yang dicintainya ini bisa sangat menyebalkan dan menanyakan tentang adiknya terus menerus! "Mana nomor telepon kakek atau nenekmu?" ulang Jason karena Clara masih bungkam. "Bisakah kita hanya membahas tentang kita berdua saja malam ini?" Kali ini Jason yang tak menyahut dan hanya menatap Clara lekat-lekat dengan tatapan datar. "Kamu yakin ingin berbicara dengannya?" tanya Clara sedikit goyah dan khawatir dengan Jason yang tersinggung. Jelas hal itu tidak ingin terjadi, bisa hancur semua rencananya. "Kenapa tidak, kamu kakaknya sementara aku sahabatnya." "Dia membencimu Jason, itulah alasannya pergi. Dia tidak sudi menerimamu sebagai iparnya." "Dia bisa katakan hal itu padaku. Berikan nomor telepon mereka, cepat," desak Jason. Clara mengguncang kedua lengan atas Jason. "Buka matamu lebar-lebar, dia mem-ben-ci-mu! Kamu mengerti?" "Aku tidak tuli, Clara. Aku mendengar dan memahami setiap huruf yang kamu ucapkan. Tapi kenapa? Kenapa dia tiba-tiba membenciku? Apa salahku?" "Itu karena kamu selalu memanfaatkan dia selama ini dan dia pergi karena sudah muak kalau- kalau sampai kamu akan memanfaatkan dia lagi." "Memanfaatkan, dalam hal apa?" Clara melepaskan cengkeramannya pada kedua lengan Jason dan berbalik memunggungi pria itu lalu berjalan menuju jendela yang terbuka dan memberikan pemandangan langit malam yang indah. Wanita itu sengaja melakukannya agar calon tunangannya itu tidak tahu kebohongan yang akan ia utarakan. "Selama kalian menempuh pendidikan, semua teman kencanmu adalah berkat Ixora yang mengenalkan kalian bukan? Dia yang selalu menjadi Mak comblang untukmu. Siapapun wanita incaranmu selalu ada andilnya untuk mendapatkan mereka, walau pada kenyataannya para gadis itu tidak bisa bertahan lama karena kamu yang menjalin hubungan dengan mereka tetap tidak membiarkan Ixora merasa tersisihkan." Clara kemudian tak kuasa menahan diri untuk melihat reaksi dari Jason akibat perkataannya lantas berbalik dan menatap pria itu lekat-lekat. "Dia merasa tidak memiliki kehidupan. Bahkan sudah sampai berusia 23 tahun ini tak sekalipun dia berkencan. Apa kamu pikir dia tidak muak? Tidak hanya kamu yang membutuhkan pendamping, dia juga membutuhkan itu. Terlebih dia itu perempuan, sampai kapan dia akan mengikutimu. Apalagi sebentar lagi kita bertunangan dan kemudian menikah. Dia merasa bosan dan khawatir jika kamu akan menyetir hidupnya." "Aku tidak begitu," jawab Jason lirih seraya merenungi setiap perkataan yang keluar dari mulut Clara. Jason yang tidak fokus melihat pada Clara tidak menyadari jika wanita itu tersenyum licik melihatnya tertegun seperti itu. Clara melanjutkan sandiwaranya. "Dia bilang, sudah bosan dan ingin menikmati masa mudanya di Guatemala." "Seharusnya dia tidak perlu melakukan hal itu. Dia masih bisa bekerja di kantor papamu." "Dia selalu senang bekerja di perkebunan. Dia tidak cocok bekerja di balik meja. Lihat saja aku, bukannya membantu papaku di kantor tetapi malah bekerja dengan papamu." "Akupun tidak mengerti kenapa kamu lebih memilih bekerja dengan Papa daripada orang tua kandungmu? Seharusnya kamu membantu papamu untuk mengatasi krisis di kantor?" Pupil Clara melebar dan ia pun menelan saliva-nya kasar karena tak menyangka akan mendapat balasan pertanyaan seperti itu dari pria bertubuh tinggi 180cm dengan badannya yang atletis, serta wajah rupawan. Hal itu yang membuat Clara jatuh cinta pada sahabat adiknya itu dan juga ia memiliki impian untuk menghamburkan uang pria itu daripada bekerja seperti saat ini. Ia benci mencari uang, dia dilahirkan untuk menghabiskan bukan menghasilkan. Seperti mamanya, bukan seperti adiknya yang bodoh. Perempuan dekil yang lebih suka bercocok tanam dan membuang waktu di ladang daripada bersosialita seperti dirinya dan sang mama. Bagaimana pria kaya akan meliriknya, tidak ada laki-laki berduit yang akan melirik pada wanita yang kerjaannya hanya tahu bagaimana cara menanam bibit pisang yang baik dan benar. "Kamu tidak usah menghubungi kakek dan nenekku. Besok juga pasti anak nakal itu akan menghubungi Mama. Dia sedang kesal dan kamu akan sia-sia menghubunginya. Aku tidak ingin kamu terluka." Clara mendekat dan kemudian menyandarkan wajahnya di d**a bidang Jason yang hangat
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD