Bab 11

1604 Words
Esok harinya Agasta masih bingung kenapa Ranum belum juga bisa dihubungi. Nomor rumahnya juga tidak ada satu orang yang mengangkatnya. Perasaan Agasta menjadi campur aduk. "Gas, lo gak mau ketemu orang tua lo?" Athala keluar kamarnya karena keadaannya sudah lebih baik dari sebelumnya. "Enggak! Lo tau sendiri bokap gue kayak gimana?" Athala menggeleng dengan sikap Agasta. "Thal, gue mikirin Ranum." Ucap Agasta hampir membuat Athala melontarkan tawa gelegar. Wanita itu sebelumnya tidak pernah melihat Agasta pusing karena seorang wanita. Dan kali ini ia kagum pada Ranum yang bisa meluluhkan hati Agasta sekeras batu. Selama ini satu-satu wanita yang Agasta urus hanya Athala. Bahkan dari jaman sekolah, Agasta tidak sempat untuk mencari kesenangan sendiri. Pada saat itu Athala berpikir jika Agasta memiliki perasaan dengannya. Tapi ia salah, Agasta hanya menganggapnya sebagai adik tidak lebih. Wajar.. Karena Agasta anak tunggal, dari kecil dia tidak memiliki teman bermain. Tapi sejak Agasta kenal dengan Athala pria itu merasa memiliki adik. Itu kenapa dia tidak bisa melihat Athala menderita, bukan karena cinta. "Jangan ketawa! Gak ada yang lucu, gue serius nih." Agasta bersuara lagi, ia sadar Athala berusaha menahan tawanya. "Iya.. Iya.. Maaf. Gue lucu aja, ini pertama kalinya lo pusing masalah cewek." Seru Athala. "Agas.. Agas.." Athala menggeleng tak percaya sambil mengulum senyum. "Mungkin Ranum marah sama lo. Kan gua bilang apa gak perlu lo kesini. Disini juga ada Lastri yang rawat gue. Ini bukan pertama kalinya gue sakit lambung." Kali ini suara Athala dengan nada mengomeli laki-laki itu. Agasta mendengus bosan, ia paham maksud Athala. Namun dia tak bisa biarkan Athala sakit merasa tidak ada satu orang yang perduli dengannya. Karena bagi Agasta sekarang Athala keluarganya, lebih lagi sejak Athala diusir dari rumahnya. Agasta terus melirik ponselnya berharap Ranum menelpon balik tapi satu telpon dari Ranum juga tidak ada. "Gue mau telpon Irfan. Gue khawatir sama Ranum." "Hem... Terserah lo aja deh, Gas." Athala kembali ke kamarnya. Agasta mencari nomor Irfan di kontaknya. Ia berharap temannya itu bisa membantu menghampiri Ranum. "Halo. Siapa nih?" jawab Irfan dari seberang sana. "Ini gue Agasta." "b*****t lo, Gas. Kemana aja sih lo? Gila lo dari kemarin gue hubungi gak bisa. Lo dimana?" tampak suara Irfan panik setengah mati. Agasta sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya. Ini memang salahnya tidak memberitahu Irfan kepergiannya di Jerman. "Wait.. Wait.. Lo bisa nggak jangan teriak, lo pikir gue tuli." Sungut Agasta. "Yaelah bego. Asal lo tau ya gue dari semalam dihantui dua sahabat Ranum, gara-gara lo tai." "Kok gue?" "Alah.. Jangan sok polos lo." Agasta sudah pasti tahu siapa yang dimaksud Irfan. Siapa lagi kalau bukan Lala dan Alya. Tapi yang jadi masalah kenapa mereka menghantui Irfan. Ada apa? "Gue gak tau apa-apa. Sekarang Lala dan Alya masih sama lo." "Yaiyalah bego. Gue ada di rumah sakit?" Agasta mengernyit dengan perasaan setengah bimbang dan penasaran. "Rumah sakit? Siapa yang sakit?" "Ya Tuhan.. Makanya kalau punya handphone aktif, ini gue telpon berapa kali gak nyambung. Taunya telpon pakai nomor luar negeri. Lo pasang telinga lo baik-baik ya." Irfan mengeraskan suaranya tak perduli Agasta akan marah balik padanya. "Ranum pacar kesayangan lo itu KECELAKAAN!! Dengar nggak lo?" Agasta tersentak dengan matanya membulat tak percaya. Pantas Ranum dari kemarin tidak bisa dihubungi. "Sekarang keadaan Ranum gimana?" tanya Agasta panik. Secuek apapun dia tetap tidak bisa membohongi dirinya sendiri, ia sangat perduli dengan Ranum. "Ranum belum sadarkan diri. Tapi masa kritisnya udah lewat. Masalahnya orang tua Ranum lagi luar negeri, asisten Ranum gak tega untuk kasih tau orang tua Ranum. Lo kan pacarnya, mungkin lo bisa hubungi kedua orang tua Ranum." Agasta yakin kedua orang tua lagi di Australia. "Gue akan kesana." Ucap Agasta, lalu mematikan ponselnya sepihak. Setelah itu Agasta membereskan barang, ia melihat keadaan Athala juga sudah membaik. Agasta meminta salah satu asisten sang ayah memesankan tiket Jakarta secepatnya. "Thal, gue harus pergi. Ranum kecelakaan, dia butuh gue." Ucap Agasta yang tergesa-gesa. "Oh God.. Lo harus balik Jakarta, kasian Ranum. Lo udah pesan tiket?" Agasta mengangguk. Walaupun dia tahu akan berakhir kedua orang tuanya akan mengetahui dirinya sempat ke Jerman. "Lo tenang aja. Tapi lo nggak papa sendiri. Lastri kan masih nungguin Intan di sekolahnya." "I'am okey." Agasta berharap keadaan Ranum tidak parah. Ia tak bisa maafkan dirinya jika suatu terjadi pada Ranum. Harusnya Agasta tidak pergi mendadak. "Hemm.. Thal, lo benaran kan udah sehat." Athala berdecak kesal, ia bahkan sempat menjitak kepala Agasta. "Apaan sih lo, Gas? Gue cuma sakit lambung, lo pikir gue mau mati sampai lo khawatir segininya." Agasta menghela napas panjang. Sebenarnya sedikit berat meninggalkan Athala sendiri, tapi ia juga khawatir sekali dengan keadaan Ranum saat ini. "Ya.. Ya.. Bawel. Gue balik ya, lo jaga diri. Sampaikan maaf gue sama Intan nggak sempat jalan sama dia." Athala tertawa karena Agasta tidak pernah lupa dengan kebiasaannya untuk mengajak Intan jalan-jalan. *** Di rumah sakit Ranum baru sadarkan diri. Pertama kali membuka matanya yang Ranum lihat cahaya lampu kamar rumah sakit. Lalu ia tampak mencari seseorang, namun yang ia dapat dua sahabatnya masih tertidur dan asisten rumah tangganya. "Mbak Ranum udah sadar?" tanya Cici asisten rumah tangga yang dapat amanah menjaga Ranum selama orang tuanya masih luar negeri mengunjungi Rangga. "Auch.. Kak Cici gak bilang mama sama papa kan aku masuk rumah sakit." Cici mengangguk. Ranum lega mendapati anggukan Cici. Ranum takutnya Rangga akan ikut pulang Indonesia jika tahu dia masuk rumah sakit akibat kecelakaan. Hubungannya dan Agasta ribet, kalau ada Rangga akan membuatnya tambah pusing. "Syukur deh, Kak. Hemm.. Agasta gak kesini?" tanya Ranum. Ya.. Dia ingat terakhir kali Agasta menghubunginya mengabari pergi ke Jerman. Itu sangat mendadak bagi Ranum, dan kesalnya Agasta tidak menjelaskan tujuan perginya untuk apa. "Enggak mbak. Kemarin mbak Lala dan Alya berusaha hubungi Mas Agasta tapi gak bisa. Sampai temannya mas Agasta kesini loh." Ranum memutar bola matanya berpikir. Siapa teman Agasta? "Temannya yang mana, Kak?" "Itu loh yang pernah ke rumah dengan Mas Agasta." Ranum mencoba mengingatnya. Astaga.. Pasti yang dimaksud Cici adalah Irfan. Gimana mungkin dia bisa lupa, hanya Irfan teman baik Agasta. Itu juga karena mungkin mereka satu apartement. "Irfan ya, kak. Terus cuma kak Cici, Alya dan Lala doang yang temani aku disini?" Ranum berharap sekali ketika ia membuka mata sudah ada Agasta dekatnya. Tapi nyatanya semua itu cuma harapan. Karena pada kenyataannya Agasta tidak seperduli yang dirinya bayangkan. Padahal keadaannya cukup prihatin, bukannya sebagai pacar Agasta harus menemaninya. "Enggak mbak. Ada satu cowok juga, setia banget nungguin Mbak Ranum. Seingat kak Cici dulu dia sering main ke rumah." Ucap Cici jujur. Ranum duduk dari ranjangnya, ia menyender meski kepalanya masih sangat sakit akibat kecelakaan. Salah dia juga sih yang udah ceroboh. Coba aja dia nggak berusaha hubungi Agasta saat menyetir mobil, mungkin kejadiannya nggak akan seperti ini. Ceklek.. Ranum menatap pintu yang terbuka. Ia tersenyum lebar berharap itu Agasta. "Gusti.. Kamu!" harapan Ranum punah ketika melihat Gusti yang membuka lebar pintunya dengan muka jengkel. "Ngapain kamu disini?" lanjut Ranum galak. "Loh.. Mbak, cowok ini loh yang udah nungguin mbak Ranum saat gak sadarkan diri. Dia juga yang udah bawa mbak Ranum rumah sakit." Jelas Cici membuat mulut Ranum terbuka lebar. Kenapa harus Gusti sih? Apa tidak ada orang lain yang bisa nyelamatin hidup gue. Argh.. Hutang budi deh gue sama dia! Gumam Ranum sendiri dalam hatinya. "Oh.. Jadi kamu yang udah nyelamatin aku. Makasih kalau gitu." Komentar Ranum ketus. Gusti mendekati Ranjang Ranum, dia tak bermaksud ingin kembali bersama Ranum, terlintas juga tidak sama sekali. "Ranum, aku cuma khawatir sama kamu. Maafin aku gara-gara aku... Hem, kamu malah masuk rumah sakit." Gusti mengira kecelakaan itu terjadi karena dirinya yang mengejar Ranum dengan mobilnya. Jadi dia pikir gue kecelakaan gara-gara dia. Hemm.. Biarin aja, biar dia berhenti ganggu hidup gue. "Sekarang akuudah gak papa. Lo lebih baik pergi dari sini, aku nggak mau tiba-tiba Agasta datang dan salah paham." Gusti malah semakin mendekat membuat Ranum ingin berteriak, tapi melihat kedua sahabatnya seperti masih tertidur pulas, Ranum menutup mulutnya hingga tidak ingin menganggu tidur kedua sahabatnya itu. "Kamu itu punya telinga gak sih? Aku minta sekarang kamu pergi." Usir Ranum gamblang. "Aku gak akan pergi sebelum ada yang bisa jaga kamu disini. Setidaknya tunggu sampai Agasta datang." Ranum sendiri tidak tau kapan Agasta akan datang. Dan seharusnya bukan Gusti dihadapannya bukan Agasta. Tapi lihat sekarang dia harus rela melihat wajah mantan kekasihnya dulu. Kalau Agasta melihat Gusti menjaganya, mungkinkah Agasta akan marah. Ah.. Mana mungkin. Agasta mana perduli dengan hal tidak penting seperti ini. "Kamu boleh disini. Tapi jangan macam-macam." Gusti mengangguk setuju. "Ranum, apa kamu serius sama Agasta?" Ranum tertawa. Sudah pasti dia serius, Ranum sangat mencintai Agasta, dan dia bahkan ingin seluruh dunia tahu hal itu. "Ya serius. Kenapa kamu mau jelekin Agasta lagi?" Gusti menghembuskan napas kasar. Dia tahu Ranum tidak mudah percaya dengan perkataan, apalagi menyangkut tentang Agasta. "Aku cuma gak mau nantinya kamu sakit hati. Dan pastinya Rangga gak akan pernah setuju kamu dan Agasta." Ranum menatap Gusti heran. Dia bertanya-tanya dalam pikirannya sendiri. Kenapa Gusti bilang gitu? Sebenarnya apa yang dia tau? Ranum berdecak sebal melihat Gusti, tapi apapun itu dia yakin Rangga bisa menerima Agasta. Apalagi selama kelakuan Agasta baik-baik saja. Tidak seperti yang Gusti bilang barusan kepadanya. "Lo udah sadar, Num?" Lala mengucek matanya melihat Ranum sudah terduduk di ranjangnya. "Capek banget lo sampai udah siang gini baru bangun." Ah.. Ranum tidak tahu saja jika Lala dan Alya bolak-balik menemui Irfan untuk memastikan Agasta segera ke rumah sakit. Karena saat itu mereka berdua pikir yang Ranum butuh bukan Gusti tapi Agasta. "Dan lo masih disini? Bukannya gue udah minta lo pulang aja." Sekarang giliran Lala memarahi Gusti. Pasalnya ia sudah memperingati Gusti untuk pergi berulang kali, tapi dasarnya Gusti batu dia tak perduli dengan gertakkan Lala ataupun Alya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD