Bab 10

1630 Words
Ranum terbangun pagi sekali, tidurnya begitu nyenyak dari biasa. Ia turun dari ranjang hendak mengambil handuknya, namun saat ia beranjak ponsel berbunyi. Ranum tersenyum melihat nama Agasta tertera jelas. "Selama pagi sayangnya aku." Ucap Ranum semangat menyambut telpon dari Agasta. "Kamu udah bangun." "Hemm.. Iya. Kamu udah siap jemput aku ya. Tapi aku belum mandi. Kamu.." "Ranum aku gak bisa jemput, aku harus pergi ke Jerman pagi ini juga. Kamu pergi sendiri aja ya. Aku ada urusan mendadak." Belum Ranum berkomentar, sambungan telponnya terputus sepihak membuat Ranum kesal sekali. Padahal Agasta sudah janji akan mengantarnya ke kampus. "Agasta nyebelin banget sih. Kenapa mendadak banget ke Jerman? Terus kuliahnya gimana?" gerutu Ranum sendiri. Berulang kali Ranum berdecak sendiri. Ia sangat kesal karena Agasta tidak memberitahunya lebih dahulu. Mungkin jika tidak janji untuk mengantarnya pagi ini, mana mungkin Agasta mengantarnya. Brensek!! Terpaksa Ranum hari ini menyetir mobil sendiri. Ia berburu mandi karena ada kuliah pagi. Dia bahkan tak sempat sarapan. Akan tetapi saat Ranum hendak keluar rumah, ia melihat Gusti yang mendadak ada depan rumahnya. Ketika itu Ranum sontak kaget. "Gusti!!" "Ranum, kita harus bicara." Ranum menggeleng sambil membuka pintu mobilnya, tapi Gusti dengan cepat mencegahnya. Pria itu hanya merasa ada yang belum selesai antara mereka berdua. Ranum menghentakkan tangannya mendapati Gusti sudah mencekal tangan dengan kuat. "Sudah aku bilang tidak ada lagi yang harus kita bicarakan." Ucap Ranum sengit. Gusti tahu Ranum tidak membencinya, ia juga tidak maksud menganggu Ranum. "Ini penting Ranum. Aku tidak berkhianat Ranum." Ranum sudah tahu sejak lama, tapi ketika sadar semua telah terlambat karena Gusti waktu itu sudah bersama wanita lain. Dan saat itu juga Ranum berpikir untuk mundur, apalagi Rangga tidak menyukai Gusti. "Jangan bahas yang udah terjadi. Aku gak mau Agasta salah paham gara-gara kamu. Lebih baik kamu pergi dari sini." Gusti tetap menghalangi Ranum untuk pergi. "Sekali ini saja Ranum. Aku tidak bermaksud menganggu hubungan kalian tapi kamu harus berhati-hati dengan Agasta." Ranum tersenyum remeh tak percaya, ia tak bisa terima Gusti mengeluarkan kalimat itu seolah mengatakan Agasta bukan laki-laki yang baik untuknya. "Maksud kamu apa? Hah? Kamu ingin jelekin Agasta, kamu gak tahu apapun tentang Agasta." Bentak Ranum. Huft.. Untungnya kedua orang tua Ranum sudah pergi setelah sholat subuh. Papanya memang mengajak mamanya Dewi ke Australia untuk melihat keadaan Rangga. "Aku tahu Agasta seperti apa, aku gak mau kamu nyesal nantinya. Kamu lihat muka aku ini, semuanya perbuatan Agasta." Ranum tertawa. "Agasta yang lakukan itu. Gak mungkin! Agasta itu gak pernah mukul orang lain, apalagi kamu. Kamu cuma ngarangkan." Berang Ranum yang terlihat sangat marah. Ranum mengenal Agasta bukan laki-laki yang gampang main tangan. Tapi.. Ia juga mengenal Gusti yang tidak pandai mengarang sebuah cerita. "Kalau kamu gak percaya sama aku. Kamu tanya Rangga mungkin dia lebih tahu tentang Agasta." Ranum menelisik wajah Gusti tidak ada kebohongan. Apa mungkin Gusti berkata jujur? Gue harus percaya siapa? Masa iya Agasta tega sih mukul orang lain. Enggak.. Enggak.. Itu pasti gak mungkin. "Kamu pasti bohong! Aku gak percaya!" Ranum menolak d**a Gusti dengan keras. Gusti berharap Ranum percaya padanya. Ia tak mau Ranum salah memilih pasangan. Karena Gusti mengetahui tentang Agasta dari seseorang yang kebetulan teman sekolah Agasta dulu. "Ranum, kamu boleh gak percaya aku. Tapi gimana kalau Rangga juga sama menilai tentang Agasta?" baru kemarin ia hilang dengan rasa dilemanya sendiri, tapi sekarang malah Gusti menambah ketakutannya bertubi-tubi. Sebenarnya apa yang Gusti ketahui? "Enggak! Kamu pasti bohong, nggak mungkin. Rangga pasti setuju aku sama Agasta. Bukan berarti kita dulu gagal kamu juga mau hubungan aku dan Agasta gagal." Gusti mengusap wajahnya frustasi. Entah bagaimana dia menjelaskan pada Ranum yang kebenarannya. Memang dia belum ada bukti yang nyata tentang Agasta tapi dia percaya dengan perkataan sepupunya yang satu sekolah bersama Agasta. "Untuk apa aku bohong? Untungnya aku apa? Hubungan kita udah selesai, dan aku juga udah punya orang lain. Aku cuma mau kamu bahagia." Ranum semakin marah, ia langsung masuk dalam mobil. Ranum tak bisa percaya begitu saja dengan Gusti. Ia merasa Gusti hanya ingin merusak hubungannya dengan Agasta. Dia percaya Agasta tidak seperti yang Gusti katakan. Mustahil Agasta memukuli mantan, untuk apa juga Agasta memukul Gusti. Apa untungnya? Ranum melajukan mobilnya sekencang mungkin, ketenangannya telah terguncang akibat kata-kata Gusti. Dia masih tak bisa percaya. Sembari menyetir Ranum mengambil ponselnya, ia mencoba menghubungi Agasta memastikan yang Gusti katakan tidak benar. Namun ponsel Agasta diluar jangkauan, tapi Ranum tidak menyerah, dia tetap menghubungi Agasta. Hingga Ranum luar kendali menyetir mobilnya, ia mengalami kecelakaan. "Aaaaaa.... Tidak!!" Gusti memang mengikuti mobil Ranum, ia tak menyangka Ranum mengalami kecelakaan. Dengan sigap Gusti langsung membawa Ranum rumah sakit. Karena panik Gusti tidak tahu harus menghubungi siapa, ia hanya memberitahukan Alya dan Lala jika Ranum kecelakaan. Gusti benar-benar panik melihat Ranum yang tak sadarkan diri. Saat sampai rumah sakit pun dokter langsung menangani Ranum. Gusti tidak tahu hubungi orang tua Ranum atau tidak. Apalagi sudah lama sekali ia tidak silahturahmi pada kedua orang tua Ranum semenjak hubungan mereka telah berakhir. *** Agasta baru saja sampai di Jerman. Ia sudah berada di apartment milik sahabatnya. Laki-laki itu mengambil ponselnya, ia yakin Ranum pasti marah karena tidak mengabarinya lebih dahulu. "Om Agas.. Hore om Agas datang." Agasta menoleh kearah anak kecil sekitar lima tahun yang melari menghampirinya. "Intan..keponakan om udah besar sekarang." Agasta langsung menggendong gadis kecil yang matanya bulat berwarna cokelat. "Om Agas sendirian? Kok gak sama tante cantik yang biasa om ceritakan ke mama." Agasta tertawa mendengar ucapan polos Intan. Ya.. Agasta memang selalu menceritakan tentang Ranum pada Athala sahabatnya ibu dari Intan. Inilah alasan Agasta kenapa selama ini ingin kuliah di Jerman. "Tantenya lagi sibuk kuliah. Mama kamu keadaannya, gimana?" Intan menyeret Agasta ke kamar Athala yang terbaring lemah pada ranjangnya. "Astaga.. Athala. Lo kenapa bisa drop gini? Gue kan udah bilang kalau ada apa-apa lo bisa ke rumah orang tua gue." Athala menggeleng. Dia sadar sudah banyak merepotkan keluarga Agasta. Baginya sudah cukup diberikan pekerjaan di perusahaan ayah Agasta. "Gue gak mau ngerepotin, Gas. Lo kok kesini? Lo gak kuliah?" Agasta mengacak rambut Athala yang telah bersender di ranjangnya. "Gue ambil cuti. Lo sakit gini, gua mana tega. Lo tinggal cuma sama Intan. Kasian kan anak lo." Athala tersenyum. Sejak beberapa tahun tak bertemu Agasta tidak berubah sama sekali. Dia selalu bawel pada Athala, seperti dirinya anak kecil saja. "Ya ampun, Gas. Gue itu cuma sakit lambung. Intan itu berlebihan, dari kemarin dia memang kangen banget sama lo. Minum obat juga gue sembuh. Masalah Intan ada Lastri yang bantu jagain Intan, lo lupa?" omel Athala. "Hem.. Gimana hubungan lo dan Ranum?" Agasta terdiam sejenak, hati terenyuh mengingat kalimat Ranum berhasil membuat Agasta lemah dengan tujuannya. "Gas, gua gak mau lo mengorbankan cinta lo demi gue. Selama ini lo dan keluarga lo udah cukup bantu gue. Lo tau sendiri keluarga gue udah gak ada yang perduli, jangan sampai lo sia-siakan hidup lo hanya demi gue, apalagi korbankan Ranum." Athala bersuara lagi karena Agasta tak dapat jawaban darinya. "Lo ngomong apa sih, Thal. Lo itu udah kayak adik gue sendiri. Masa iya gue tega biarin lo terbebani sendiri. Masalah Ranum gue bisa atasi kok." "Yakin?" Agasta mengangguk. Ia tak bisa jujur kebenaran yang terjadi dengan hubungannga dan Ranum. "Ranum tau lo balik ke Jerman? Orang tua lo tau?" Agasta menghela napas panjang. Jika orang tuanya tahu dia berada di Jerman saat ini pasti akan sangat marah. "Tadi gue udah bilang ke Ranum. Nanti gue telpon dia lagi, takutnya dia baru pulang kuliah. Atau masih kuliah." Athala sudah tahu keras kepala Agasta, tanpa Agasta ia sudah tau jika kedua orang tua Agasta tidak tau kepulangan Agasta ke Jerman. Orang tua Agasta memang sudah menetap di Jerman semenjak kuliah. Saat masih sekolah orang tua Agasta sering pulang pergi Jerman-Jakarta. "Gas, jangan lakukan kebodohan. Ingat lo bisa jadi orang yang sangat menyesal. Udah seharusnya lo ceritakan tentang masalalu lo. Gue yakin Ranum ngerti." Athala terus menguras perasaan Agasta. Sadar atau tidak Athala tahu Agasta sangat mencintai Ranum. Bahkan Ranum bisa menjadi hal pertama dalam hidupnya. "Jangan khawatir sama gue. Hemm.. Gue kayaknya harus kabari Ranum dulu." Agasta keluar meninggalkan Athala. Ia meraih ponselnya, setelah perjalanan enam jam dari Jakarta ke Jerman. Agasta sampai lupa nomornya tidak berlaku jika berada di Jerman. Ia harus membeli kartu untuk ponselnya sementara waktu. "Lastri, kamu bisa tolong saya?" kebetulan Lastri dulunya bekerja di rumah lama Agasta, sengaja laki-laki itu meminta Lastri tinggal bersama Athala untuk membantunya menjaga Intan. Lebih-lebih rumah lamanya tidak ada yang tempati, Agasta juga sesekali menginap di rumah lamanya. Ia lebih senang tidur di apartement. "Minta tolong apa, Mas?" "Tolong carikan simcard untuk handphone saya. Saya harus menghubungi seseorang di Jakarta." "Baik, mas." Agasta mengambil ponselnya membuka galerinya. Terdapat banyak foto Ranum. Dia seringkali memotret Ranum tanpa sepengetahuannya. Kamu memang sangat cantik, Ranum. Aku percaya takdir, tapi kalau suatu hari tinggalin kamu. Aku harap kamu jangan pernah benci sama aku. Membatin Agasta sambil tersenyum. "Ciye.. Om Agas senyum sendiri." Agasta terkekeh mendengar bocah kecil ini meledeknya. "Oh.. Sekarang kamu berani ya ngejekin om Agas." Komentar Agasta hendak menangkap Intan yang sudah kabur duluan. Agasta menggelengkan kepalanya melihat tingkah Intan yang lucu. Padahal dulu terakhir ia ketemu Intan, anak itu masih tiga tahun. Dan sekarang malah sudah bisa mengejeknya dengan gamblang. "Mas, ini simcardnya." Ucap Lastri yang sudah membelikan simcardnya. Agasta langsung mengambil, lalu memasangnya segera di handphone. Agasta yakin Ranum sudah menunggu telpon darinya. Dia tak ingin Ranum berpikir yang aneh tentang dirinya. Apalagi Agasta pergi mendadak tanpa mengatakan apapun. Laki-laki itu menelpon Ranum tapi sama sekali tidak diangkat. Padahal telponnya tersambung. Agasta berpikir Ranum marah padanya. Namun hatinya justru gelisah memikirkan Ranum yang sulit dihubungi. "Kayaknya Ranum ngambek sama gue." Gumamnya sendiri. Karena berulangkali hubungi Ranum tak bisa, Agasta mencoba menghubungi nomor rumah Ranum. Tapi sama saja tidak ada yang mengangkat. Agasta berusaha untuk berpikir positif. Mungkin Ranum makan malam bersama keluarganya.. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD