tertidur pulas dengan kakinya selonjoran di paha Barra dan kepalanya bersenderan dikaca jendela mobil yang tertutup. Walau merasa senggal, tapi Barra sama sekali tidak protes dengan apa yang dilakukan Afifah. Melihat Afifah seperti ini sudah membuat hatinya tersentuh. Bagaimana tidak, lelaki itu tidak membayangkan semua terjadi. Dari kehamilan Afifah menjadikan dirinya belajar menjadi suami siaga. Kesalahan pahaman justru mempererat hubungan antara mereka berdua. Berharap semua akan baik-baik saja dan mungkin juga sudah waktunya Afifah bertemu keluarga. Barra akan merencanakan pertemuan itu, akan menjadi kejutan untuk keluarganya Afifah tengah hamil. Afifah sendiri merasa nyaman ketika terbangun, apalagi saat pertama kali membuka matanya Hanya Barra yang dilihat dihadapannya. Bahkan Afi

