7. DOKTER

1207 Words
Barra terlelap dari tidurnya hingga tidak menyadari jika istrinya tidak disampingnya, Barra mendengar suara teriakan membuatnya terbangun. "Afifah." Sentak Barra bangkit dari tidurnya. Ia dengan cepat beranjak mencari Afifah yang telah menghilang. Kegelisahan menganggu pikiran pria itu. Ia terus mencari asal suara itu.. Afifah merintih dalam tangisnya, ia kembali takut membayangkan sosok pria yang telah merenggut kebahagiaannya. Ia histeris. "Aku mohon. JANGAN..!!" Kata-kata you berulang kali disebut oleh Afifah, di duduk pojokan dekat kolam berenang, dengan kaki yang terlekuk dan tangan yang menutupi telinganya. Teriakan Afifah semakin histeris membuat Barra khawatir, ia melihat Afifah yang seolah ketakutan. "Afifah!!" ""Tolong.. menjauh... Saya harus pulang. Kamu mau apa." Tubuh Afifah basah akibat keringat yang bercucuran. Barra melekat dan memeluk Afifah, namun Afifah tetap mengulangi kata-kata yang sama. "Aku mohon.. JANGAN..!!" "Tolong.. menjauh... Saya harus pulang. Kamu mau apa." Seakan kata-kata itu pernah tergiang diotaknya, rasa takut Afifah membuat hati Barra Hancur seakan tercabik-cabik. "Afifah!! Tenang.. aku Barra." Barra mengelus punggung Afifah didalam pelukannya. "Tenang.. okey." Tiba-tiba Afifah Ambruk dan pingsan.. Barra dengan cepat membawanya masuk dan memanggil dokter Nuar, dokter keluarganya dan sekaligus sahabat dari ayahnya. "Bagaimana keadaan istri Saya, om." Tanya khawatir Barra. "Ayo kita keluar dulu." "Sebelumnya terima kasih, om. Om Nuar sudah bersedia datang semalam ini." "Bicara apa kamu, Bar. Kamu udah saya anggap putra sendiri. O ya.. kata Aika tadi siang kalian makan siang bersama." Ujar Nuar memboyong Barra untuk bicara di bawah, dan membiarkan Afifah tenang tidur dikamar. "Duduk dulu, om. Biar Barra buatkan kopi, bibi udah tidur jam segini yang udah hampir subuh." Barra berucap sambil menyimpulkan senyum. "Jadi om.. Gimana keadaan Afifah." Tanya Barra kembali dengan dua cangkir kopi yang dibawanya. "Ini, om. Diminum." "Terima kasih, Bar." Nuar menyesap kopinya sesekali. Nuar mengambil nafas dalam sebelum berkata. "Bar, istrimu keadaan fisik dia sehat tapi batin.. dia seperti mengalami trauma, trauma ini biasa disebut oleh kedokteran Complex trauma biasa juga disebut dengan PTSD (Post Traumatic Stress Disorder)." Barra tersentak mendengar penuturan tersebut, apa yang dilakukannya beberapa tahun lalu berakibat fatal, kebodohan remaja yang mengingin kebutuhan cinta pertama yang tidak pernah didapatnya. "Apa bisa disebutkan sembuhkan, om." "Tentu saja bisa, Bar. Tapi tergantung dengan istrimu sendiri, apa ingin sembuh atau tidak. Istrimu harus melawan traumanya." "Caranya, om." "Istrimu harus ke psikeater, dia temukan Aika sebelum anak itu kembali ke jakarta atau juga bisa bertemu dengan Milla istri, om." Gumam Nuar. "Apa Afifah memiliki insiden yang menyakitkan." Barra mengangguk namun ia tidak menceritakannya, menurutnya itu tidak perlu. "Om.. tolong jangan bilang pada siapa pun tentang keadaan Afifah, termasuk papa dan mama. Aku tidak mau ada yang mengetahui masalalu Afifah." "Tenang saja, Bar. Om tidak akan menceritakan pada siapapun. Kalau gitu om pulang dulu, nanti Aika dan istri om mencari kehilangan om. Semoga istrimu cepat pulih." Pamit Nuar. "Terima kasih, om. Hati-hati." Barra mengantar Nuar hingga pintu luar rumahnya. Barra kembali ke kamarnya melihat Afifah yang sudah lebih baik, karena mungkin Nuar telah menyuntingkan obat penenang pada sang istri. Lelaki berbaring samping Afifah, ia menyandarkan kepala Afifah didadanya. Ini mungkin pertama kali tidur memeluk Afifah. *** Pagi harinya, Afifah terbangun.. ia melihat tidur dipelukan Barra. Pertama kalinya Afifah bisa menatap Barra lebih dekat, entah kenapa, bukannya beranjak ia masih diam ditempat yang sama. 'Ternyata jika lihat lebih dekat, dia ganteng juga. Hidungnya mancung, jenggutnya tipis.' batin Afifah menatap Barra. 'Tapi kenapa aku bisa tertidur disini, seingatku terakhir aku di kolam renang. Dan kenapa tidur dipelukannya. Apa yang terjadi.' Tak lama dari itu Barra melakukan pergerakan, kontan membuat Afifah mengerjapkan matanya. Ia takut ketahuan Barra jika diam-diam ia memandang kagum pada suaminya sendiri. Barra menatap jam dinding kamarnya, ia terkejut melihat sudah 05.45. "Astaga... Aku belum subuh." Barra meletakkan kepala Afifah dibanta. "Dia masih tidur." Barra bergegas sholat di mushola rumahnya, ia memang ruangan khusus untuk sholat agar lebih tenang dan khusyuk. Afifah perlahan membuka dengan kikihan kecilnya melihat Barra pergi. Ia juga beranjak segera mandi, karena pagi ini ia sendiri ada sidang penting. "Pagi, Bi." Kikuk Afifah pada Bi Kus dengan celana panjang Kain dan kemeja putih yang dibalut blezer hitam. "Pagi, non. Den Barra belum turun, non." "Belum, Bi. Masih di mushola." "O.. ya, non. Tadi malam ada tamu ya." Afifah mengeryit bingung dengan memakan roti tawar berisi coklat. "Tamu??" "Iya, non. Soalnya ada dua cangkir gelas di ruang tamu. Mungkin teman den Barra. Non fifah histeris lagi ya tadi malam." "Aahh.. apa iya, Bi. Fifah sama sekali tidak ingat." Gumam Afifah seperti berpikir. "Iya, non. Den Barra panik... Bibi lihat dia yang bawa non ke kamar. Den Barra kayaknya cinta banget sama non." Muka Afifah berubah menjadi kecut. Ia menyatukan kedua alisnya. 'Cinta... Cinta apanya. Siang saja makan bersama wanita lain.' Tak lama dari itu, Barra pun turun melihat Afifah sudah di meja makan. "Kamu kerja, kamu kan sakit." "Iya.. aku ada sidang pagi ini." Ujar Fifah. "Hari ini biar aku antar, kamu enggak perlu bawa mobil. Sekalian ada yang ingin aku bicarakan." "Tapi aku pergi sekarang lohh.. karena ada berkas aku urus di kantor, lalu harus kepersidangan." "Tidak masalah, hari ini aku tidak terlalu sibuk. Aku bisa antar kamu." Sebenarnya Barra sedikit berbohong, ia banyak kerjaan di kantor, apalagi perusahaannya ingin buka cabang di Indonesia. Tapi ia mementingkan kesehatan Afifah saat ini. "Ya sudah. Ayo." "Kamu enggak sarapan dulu." Seru Afifah. "Tidak.. Aku bisa sarapan di kantor." Sahut Barra. "Bi, tolong bekali beberapa untuk Barra." Impuh Afifah. "Kamu bisa sambil sarapan di kantor aku nanti. "Baik, non." Sesekali Barra mencuri pandangannya untuk Afifah, dia melihat Afifah yang tenang, dia seperti malam tadi yang histeris. Jujur saja itu membuat Barra sangat ketakutan. "Ayo pergi sekarang." Afifah masuk ke mobil Barra, jarang sekali dia diantar Barra kemana-mana. Aneh.. mungkin itu yang dirasakan Afifah. Selama menikah dengan Barra, pria itu tampak sedikit cuek, dan Tak perdulikannya. Mungkin Afifah tidak tau alasan Barra selalu mencoba menjauh darinya. Rasa bersalah.. iya itu yang selalu Barra rasakan, apalagi melihat Afifah yang akhir-akhir ini sering histeris. Mereka berdua sudah berada di kantor Afifah, Afifah sedang memperiksa berkas yang harus dibawanya kepersidangan sedangkan Barra duduk di sofa ruangan Afifah sambil memakan sarapan yang dibekali Bibi Kus. Setelah sudah menghabiskan sarapan Barra menghembuskan nafasnya untuk bicara pada Afifah yang sedari tadi sibuk dengan beberapa map. "Fifah." Lirih Barra melekat duduk dikursi hadapan Afifah. "Hemmmm." "Aku mau bicara." Ucap Barra. "Ya sudah bicara saja, Bar. Aku dengarin kok!!" "Tadi malam kamu histeris dan aku memanggil dokter Nuar kerumah untuk periksa keadaan kamu." Barra tau ia sulit sekali untuk mengatakannya tapi untuk kesembuhan Afifah ia ingin melakukannya "Iya... Lalu apa kata dokter." Afifah tidak sama sekali berekpresi terkejut, ia tetap tenang. "Dokter minta kamu psikeater. Kamu mengalami trauma. Fifah percayalah ini untuk kebaikan kamu." Afifah mendongakan kepalanya, ia menatap sinis pada Barra. "Apa kamu pikir aku gila..!! Aku sehat, aku hanya butuh waktu." "Berapa lama, kamu selalu bersikap seolah kamu baik-baik saja tapi batin kamu tersiksa." Sungut Barra. "Kamu harus ke dokter, Fah. Setidaknya untuk kesembuhan kamu, sekali saja coba temui psikeaternya." Afifah menghela nafas beratnya. "Kita lanjut nanti saja, aku tidak ingin pembicaraan kita menganggu pikiranku." "Tap---" "Please aku mohon." "Baiklah." Ternyata tidak semudah dibayangkan Barra untuk yakinkan Afifah, ia pikir Afifah akan langsung menerimanya namun dirinya salah. Afifah justru seperti menentang keputusan Barra. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD