Malam harinya, Afifah lebih dulu pulang dibanding Barra, ia sudah bersantai menonton televisi diruang tengah. Dirinya tidak fokus menonton, sedari tadi ia hanya mengganti terus menerus chanelnya itu.
Pikiran terngiang-ngiang kejadian tadi siang direstorannya. Dimana ia melihat Barra bersama wanita lain yang tak dikenalnya sama sekali. Ia meremas bantal kecil yang dipeluknya.
"Assalamualaikum." Ucap Barra memasuki rumahnya.
Karena terlalu kesalnya memikirkan Barra, sampai tidak menyadari jika suaminya sudah kembali pulang. Ia terus meremas sambil menatap televisi tidak ditontonnya.
Barra memandang Afifah, tanpa menyapa dirinya sudah dilantai atas ke kamarnya.
"Non. Belum tidur. Ini sudah malam loh." Ujar Bi Kus asisten rumah tangga Afifah dan Barra, tadinya Bi Kus bekerja dirumah orang tua Afifah, namun atas permintaan Afifah orang tuanya setuju untuk Bibi Kus tinggal bersama Afifah. Apalagi Afifah beliau sudah lama sekali bekerja dengan keluarga Afifah.
"Belum, nunggu Barra pulang." Ucap Afifah datar.
"Loh... non. Kan den Barra sudah daritadi pulang."
"Apa." Sentak Afifah bangkit dari duduknya. "Dia sudah pulang. Daritadi. Dan..." Afifah tidak melanjutkan katanya ia menatap atas kamar yang terbuka lebar. 'Dan dia tidak menyapaku. Menyebalkan sekali. Habis bersenang dengan wanitanya dia tidak perduli sama sekali ada istrinya.' Gerutu Afifah memanas.
"Ya sudah Bi, Fifah mau keatas dulu. Nanti kalau Bibi tidur jangan lupa kunci semua pintu ya." Ujarnya Afifah lalu pergi menaiki anak tangga.
"Iya, Non."
Afifah memasuki kamar, matanya tertuju mencari Barra yang tak tampak, 'Dimana dia.' batin Fifah. Tak lama dari itu ia mendengar grasak-grusuk dari kamar mandi yang terbuka lebar.
Terdapat Barra yang menggosok gigi dengan pakaian yang masih kemeja panjang. Hati Afifah memanas dengan suaminya. "Kamu pulang tanpa sapa aku." Afifah bukan perempuan yang suka basa-basi, ia selalu mengutarakan apa yang terbesit dipikirannya..
Barra menoleh mendengar suara sang istri, ia langsung berkumur dan keluar kamar mandi. "Kamu ngomong apa sih. Biasanya juga kayak gitu."
"Setidaknya kamu kan bisa sapa aku, jadi aku tau kalau kamu sudah pulang." Protes Afifah bangkit mengekori Barra yang mengambil baju ganti untuk ia tidur.
"Baik aku akan menyapamu." Ujar Barra berbalik. "Afifah, honey, sayang, istriku. Aku pulang. See itukan yang kamu mau. Okey sudah!!" Barra berkata lalu menutup pintu kamar mandi mengganti bajunya.
Afifah semakin kesal, ia mengedor pintu kamar mandi dengan keras. "BARRA..!!" Bukan hanya sekali ia berpekik pada Barra bahkan lebih dari dua sampai tiga kali. "BARRA KAU SANGAT MENYEBALKAN..!!" Sungutnya.
Barra keluar menatap Afifah yang bersender dengan tangan melipat didadanya. Mata sang istri mendelik kearah Barra, Barra menghembus nafas panjang melekat tempat tidurnya. Ia berusaha untuk tidak memperdulikan sikap Afifah. Ia memilih mendarat tubuhnya diatas ranjang samping istrinya.
"BARRA...!!" Jerit Afifah menatap Barra yang memilih tidur daripada argument dengannya.
"Afifah, aku mohon. Hari ini aku banyak kerjaan, aku sangat lelah." Ujar Barra memunggungi Afifah.
"Lelah...?? Banyak kerjaan katamu. Bukannya kau bersenang-senang dengan wanitamu. Dan kau bilang kerja." Raung Afifah mengguyur tubuh Barra agar berbalik.
Barra menahan untuk tidak bersahut apa-apa pun, ia menulikan telinganya dengan menutup mukanya dengan bantal. Sudah sangat lelah dikantor, dan dirumah ia harus menghadapi istri seperti Afifah. "BARRA...!! Kau harus mendengarkanku."
"Ah... Pantas saja dia selalu menang dipengadilan. Kata-katanya begitu menusuk." Ujar Barra di belakang bantal yang tak didengar Afifah.
Barra benar tak perduli ocehan Afifah, ia meniduri dirinya dengan handset mendengar beberapa Lagu dari ponselnya sepengetahuan Afifah.
Afifah terus menggerutu pada Barra, dan sampai akhirnya ia mendengar dengkuran dari bawah bantal tersebut. "Barra..!! Kau.. ish... Suami tengil." Umpat Afifah beranjak membaringkan tubuhnya, ya.. tentu saja memunggungi Barra.
***
Afifah masih gelisah bahkan ia tidak bisa tidur, Apalagi setelah perdebatan yang dilakukannya pada Barra. Bukan pernikahan ini yang Afifah inginkan.
Dirinya ingin kebahagiaan tanpa masalalu menghantuinya, tapi Barra tidak pernah berusaha untuk mendekat padanya bagaimana mungkin dia bisa melupakan semua itu.
Sesekali ia menatap Barra yang tertidur, Afifah berpikir mungkin Barra menyesali keputusan yang telah diambil dengan menikahinya.
Afifah duduk termenung, di kolam renang. Ia mengayun kakinya disana. Ada ingatan terbesit dimasalalunya.
Flashback
Disebuah sekolah menengah keatas, Afifah masih berumur tujuh belas tahun. Hari ini adalah ulang tahunnya. Sore itu, ia tak sabar untuk pulang kerumah karena malamnya akan mengadakan pesta ulang tahun.
Ia menunggu Yudha Sebastian kekasih yang sedang rapat osis, sudah hampir satu jam Afifah menunggu tapi Yudha belum juga pulang, Afifah memutuskan menunggu dihalte dan berpikir siapa tau ada bus atau taxi untuk dirinya pulang.
Hujan deras menemaninya.. tidak tau kenapa hari itu jalanan menjadi sepi, tidak ada siapa pun yang lalu lalang. Afifah merasa takut, perasaannya tidak enak sampai ada sosok dari belakang membisu tubuhnya. Afifah tidak sadarkan diri, ia sudah berada digedung tua yang tak jauh dari sekolahnya.
Pria itu menggunakan topeng, "Tolong.. menjauh... Saya harus pulang. Kamu mau apa."
Pria itu tidak bersuara, dengan tubuh Afifah yang terikat kaki dan tangannya, sosok itu melekat pada Afufah membuka satu persatu kancing seragam sekolah Afifah.
Air mata Afifah mengalir. "Aku mohon... jANGAN..!!" Mohon Afifah menghiba.
Pria itu menutup mata Afifah dengan kain hitam, lalu ia menyesap bibir Afifah dengan lembut. Namun tidak ada pergerakan Afifah, ia tidak membalas sama sekali.
Pria itu telah membuka topengnya, ia sangat lembut membuka underwear Afifah, kini gadis malang itu telanjang tanpa helai apapun. Ia hanya bisa menangis, pria itu memasuki kejantanannya yang besar secara paksa. Afifah berteriak kesakitan, namun ada kenikmatan dirasakan.
Tapi bagaimana pun kesuciannya telah direnggut oleh pria yang tak bisa dilihat wajahnya. Pria itu dengan pelan memasuki jemarinya di kemaluan Afifah, ia mendekap semakin dalam. Seolah merasa nikmat yang liar biasa, Afifah menangis dengan desahannya.
Sampai ada cercahan darah keluar, keperawanana Afifah pecah oleh pria tersebut. Seakan belum puas pria bermain sekali lagi setelah itu memasangkan kembali pakaian Afifah dengan benar.
Pria itu kembali membius Afifah dan membaringkannya dihalte, ia pergi meninggalkan Afifah dengan buru-buru.
Yudha dan Milly sudah dari tadi mencari Afifah, wanita itu sadar dan merintih nangis dengan keadaan yang kusut, "Afifah." Lirih Milly kaget. "Kamu kenapa?"
"Sayang... Kamu kenapa." Yudha merengkuh memeluk Afifah yang terisak.
"Afifah jawab, kita semua cari kamu, orang tua kamu sangat khawatir. Acara ulang tahun kamu batal karena kamu menghilang." Gerutu Milly.
"Ak---aku..."
"Ya.. kamu kenapa sayang."
"Aku diperkosa.. Hiks.. Hiks..." Tangisan Afifah pecah.
Saat itu Yudha tersentak, ia kontan melepaskan pelukan Afifah, ia mengerti jika Yudha tidak bisa menerima kekurangannya. Walau sudah pacaran lama tetap saja dirinya sudah tidak suci lagi.
Hanya Milly yang selalu ada untuknya, Milly ikut menangis dengan semua itu, ia tidak pernah meninggalkan Afifah sampai keluarga Afifah memutuskan pindah ke Brunei karena malu.
***