5. RUMAH BARU

1014 Words
Barra memboyong Afifah langsung kerumah yang telah dibelinya. Rumahnya berbentuk minimalis, cukup luas untuk hanya dua orang yang tinggal disana. "Ayo masuk." Ajak Barra. "Ini rumah kita. Aku membelinya beberapa minggu yang lalu sebelum kita nikah." Ujar Barra menunjukkan ruangan di rumah tersebut. "Barra " Panggil Afifah dengan lirih. "Soal dihotel tadi..." Gumam Afifah seolah lidah kaku untuk melanjutkannya. "Sudah jangan diingat lagi." Titah Barra membawa beberapa plastik di tangannya. Ia langsung mengambil suatu yang di belinya. "Bagaimana parfum ini wangi tidak.?" Tanya Barra menyemprotkan parfum yang baru di belikan pada tubuhnya. Jujur saja Afifah ragu mendekat pada suaminya sendiri, langkah mendekat mencium kemeja yang disembrot Barra. Afifah mendengkus bahunya di bagian d**a suaminya. "Hmm iya wangi." Ujarnya menutupi grogi menghinggap dirinya. Pernikahan mereka memang dijodohkan, bahkan Afifah tidak pernah sama sekali mencintai Barra, ia sulit menerima semua ini dengan mudah, menjadi seorang istri bukan hal yang mudah untuk Afifah. Tapi tidak untuk Barra, kehadiran Afifah menguak masalalu yang di tutup rapat. Afifah gadis misterius yang Barra cintai selama ini hingga ia selalu menolak berapa orang untuk dijodohi dengannya. Barra menghempaskan nafas beratnya kala kenangan mengitari diotaknya. 'Jika aku tau kau wanita yang ditakdirkan untukku, aku tidak akan melakukan kebodohan yang menyebabkan trauma dihatimu dan jiwamu. Andai waktu bisa ku putar.' Hatinya teriris membatin menatap Afifah yang sibuk membereskan pakaiannya. "Ah.. aku lelah." Afifah membanting tubuhnya berbaring di samping Barra yang tengah melamun. "Barra, apa aku bisa meminta tolong." Barra tidak mendengar ucapan Afifah, ia terhanyut bayangan masalalunya. "Bar... Barra!!" Jerit Afifah membuat Barra tersadar. "Hah." "Hah?!?." Afifah berkata dengan gaya Barra membuatnya jengkel. "Melamun?!? Memikir wanita dimasalalumu. Bangun!!! Kamu sudah menikah dan sekarang akulah yang bersamamu bukan perempuan itu yang tak berani kamu ungkapkan perasaan padanya." Gerutu Afifah terduduk menatap Barra yang disampingnya. "Ak---" "Sudahlah... tadinya aku ingin meminta tolong karena kesal, aku bisa melakukannya sendiri. Argh....!!" Erang Afifah ingin rasa menghamtam kepala Barra didinding kamarnya. Barra masih terpelongo dengan sikap Afifah yang aneh pada dirinya. "Ada apa dengan dia.. Kenapa marah-marah." Selama ini dia yang menindas siapapun. Hari ini dia seperti suami yang takut istri tanpa melawan Afifah. Padahal di perusahaannya ia terkenal arogan dan sangat egois.. Apa ini sekarang dia melemah depan Afifah. Tak lama Afifah datang dengan sebuah jus melon yang segar membuat Barra menggiur. "Untukku." "Untukmu...?? Buat saja sendiri. Aku bukan pembantu dirumah ini." Barra tak percaya dengan sikap Afifah yang terkesan membencinya. "Afifah, ada apa. Kamu marah??" "Pikir saja sendiri. Aku daritadi bekerja sendiri, dan kamu hanya duduk manis di ranjang sambil membayangkan wanita dimasalalumu. Enak saja!!! Apa kamu pikir aku tidak lelah." Afifah berengut kesal pada Barra. Ia memang sangat comel kalau sedang marah pada seseorang, mulutnya tidak berhenti menghujat demi hujatan. "Satu lagi, Kita menikah bukan karena cinta jadi jangan prilaku menjadi suami yang sok baik. Dasar suami tengil. 'Astaga.. Dia lebih galak dariku, aku tak percaya mulut seperti kereta api ketika marah!! Sabar... Sabar... Sabar.. Sabar Barra dia cinta pertamamu.' Batin Barra seraya mengelus dadanya. "Maaf kalau itu membuatmu risih." Barra memutuskan mengakhiri kemarahan Afifah lebih baik daripada harus berdebat. Afifah tak bisa membayangkan jika Barra tidak melawannya sama sekali. Pria itu begitu sabar padanya, padahal dia sudah menggerundel tidak jelas. "Tidak marah??" Afifah mengeryit heran. "Tidak sama sekali. Jika aku marah, kamu akan terkejut." "Hah.. kenapa???" "Karena aku berbahaya saat marah." Ujar Barra membuat Afifah merinding takut. "Takut..." "Ehmm tidak!!!" Bantah Afifah. Ia tak ingin menampakkan kelemahan terhadap Barra. Ya tentunya pengalaman mengajarkannya untuk tidak lemah sekali pun dengan pria. Termasuk pada Barra yang meski telah menjadi suaminya. Beberapa tahun yang lalu dia terlalu lemah hingga tak dapat melawan ketika sosok pria datang mencengkram tubuhnya dengan kasar meninggalkan bekas luka yang mendalam. "Aku harap jangan bertindak seenaknya denganku. Walau pun kita sudah menikah jaga sikap jangan diluar batas." Impuh Afifah bersender tubuhnya disofa dengan jus ditangannya. *** Lima belas berlalu pernikahan mereka terlihat hambar, bahkan sebagai suami Barra belum sama sekali menyentuh Afifah yang sah istrinya. Kadang itu membuat Afifah heran sepanjang waktunya, ia merasa untuk apa pernikahan yang dia jalani dengan Barra. Pukul 12.30.am Afifah saat itu makan siang bersama Indriyani sahabatnya yang bekerja sebagai jaksa umum dipengadilan. Indriyani adalah satu-satunya sahabat Afifah semenjak ia menginjak dinegara Brunei, mereka juga kebetulan satu kampus dulunya. "Fifah, Bagaimana pernikahanmu. Suamimu baik." "Ya begitulah. Kau bisa menebaknya." Ujar Afifah yang menikmati steak menu favoritenya. "Sampai kapan Afifah!! Kau harus membuka dirimu. Jangan mengingat masalalu, apalagi dia menerimamu." Gumam Indri merasa pernikahan sahabatnya sedang tidak sehat. "Ah... Kau selalu saja begitu!! Aku harus bagaimana. Aku merasa Barra tidak menginginkan pernikahan ini." Desah kesal Afifah, muka Afifah sangat lesu saat ini. "Belajar untuk mencintainya, jangan bersikap masa bodoh!!" "Aku ingin.. Tapi dia sendiri tidak menginginkannya. Pernikahan yang kujalani sangat buruk, kami bahkan jarang bicara. Apa bisa itu disebut pernikahan." Sungutnya frustasi. Mendadak sosok tak diduganya masuk pintu utama restoran tersebut. "Lihatlah siapa yang ada disini. Suamiku, In... Wah dia bersama wanita." "Kau cemburu." "Diam kau!!!" Ucap Afifah setengah membentak, ia melihat Barra bersama wanita begitu akrab. Hatinya seperti direnggoti pisau tanjam. "Siapa wanita itu." Tanya Indri penasaran memandang Barra. "Tidak tau." Ketus Afifah. "Kau cemburu!! Itu artinya kau memiliki perasaan padanya." "Tidak sama sekali. Ya.. walau bagaimana pun dia suamiku, aku berhak marahkan." "Ya.. tentu." Muka Afifah semakin memanas, ketika memandang perempuan itu dengan bebas merangkul suaminya. 'Ah.. beraninya wanita itu!! Itu suamiku. Aku kujadikan dia perkedel untuk makan malamku.' Afifah meneriaki batinnya. Beruntungnya Barra tidak menyadari jika Afifah berada di restoran yang sama dengannya. Afifah tidak ingin Barra mengetahui saat ini dia sangat emosi. "Kau tidak ingin menyapa mereka." Celetuk Indri begitu saja. "Dengan sepasang kekasih itu. Kau bermimpi, Indri. Aku tidak sudi!!!" "Apa hatimu sedang tercabik-cabik." Indri tertawa setengah menggoda sahabatnya. "Jangan berpikir bodoh..!! Aku tidak mungkin seperti itu. Lebih baik kita pergi dari sini. Aku ada kasus jam 3 ini." Afifah dan Indri beranjak dari tempat itu, ia sudah merasa gerah berada direstoran yang sama dengan Barra. "Ayo Indri, nanti aku terlambat." Titah Afifah berkilah. "Baiklah ibu pengacara.." Goda Indri bernada lembut. *** JANGAN LUPA YA GUYS TAP ❤ AND FOLLOW. TINGGALKAN KOMENTAR KALIAN..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD