JARAK (PART 6)

1743 Words
Sinar matahari pagi yang menyoroti wajah Dinar dengan begitu kuat, membuat Dinar sedikit menyipitkan matanya karena silau. Dinar sedang berjalan di trotoar sambil menggendong tasnya yang cukup berat. Hingga langkahnya terhenti saat ia mendengar klakson yang berbunyi berkali-kali. Dinar menoleh sedikit ke belakang, membalikkan badannya ketika ia tahu pengendara itu adalah Arya. “Maaf, aku telat,” ucap Arya seraya menyeka butiran keringat di pelipis Dinar menggunakan tangannya. Dinar hanya diam mematung, membiarkan Arya dengan leluasa menyentuh wajahnya. Cuaca panas yang ia rasa tadi seketika berubah menjadi teduh ketika satu telapak tangan Arya melindungi wajah Dinar dari cahaya matahari. “Kita udah kaya di film-film, ya,” celetuk Arya yang membuat Dinar mencubit pinggangnya keras. Arya langsung menurunkan tangannya, ia memegang pinggangnya yang terasa sakit karena cubitan Dinar. “Nar ..., kamu tuh ya ...,” “Apa? potong Dinar cepat. Arya mengerucutkan bibirnya, ia memalingkan wajah dari Dinar untuk memberi kesan ngambek. “Udah, buruan jalan.” Dinar menepuk pundak Arya saat dirinya sudah menaiki jok motor. Belum sempat Dinar menurunkan kaca helmnya, tubuhnya tersentak ke belakang karena Arya tiba-tiba mengegas motornya. Saat itu pula tangannya refleks melingkari pinggang Arya sambil menenggelamkan wajahnya ke punggung Arya. “Arya, pelan-pelan dong! Kalau aku jatuh gimana?” protes Dinar seraya memukul pundak Arya ketika dirinya sudah melepaskan kembali pelukannya. Arya mendesah, “Yah ..., ko dilepas si?” “Ish, dasar, cari-cari kesempatan dalam kesempitan terus,” sewotnya. Arya tak membalas ucapan Dinar lagi, ia kembali mengegas motornya karena tuan putri yang berada di belakangnya ini sedari tadi sudah dalam mode ngambek. *** “Udah sarapan?” tanya Arya pada Dinar saat mereka sudah tiba di parkiran kampus. “Udah, sama anak-anak.” “Anak kita?” tanya Arya lagi dengan nada menggoda sambil menaik turunkan kedua alisnya. Semburat merah tentu saja muncul dari wajah Dinar tatkala Arya menggodanya, “Apa si, Ya, udah ah, aku mau ke kelas.” Dinar membalikkan tubuhnya,  meninggalkan Arya yang masih terduduk di motornya. “Nar, hati-hati!” pekik Arya yang tak ditanggapi apa-apa oleh Dinar. Seseorang menyenggol pelan bahu Dinar ketika ia tiba di ambang pintu kelasnya. “Cie ..., itu pipi merah, kenapa?” Dinar menggigit bibir bawahnya juga menundukkan kepalanya untuk menghindari godaan yang akan dilayangkan oleh Kaila berikutnya. “Nar ..., malah diam.” Dinar mengangkat kembali kepalanya, menoleh ke arah Kaila dengan raut wajah kesal. “Kamu diam deh, pipi aku panas, tahu.” Dinar melengos, melanjutkan lagi langkahnya menuju tempat duduknya. Menjatuhkan bokongnya dengan kasar ke kursi lalu mengambil buku dari dalam tasnya. “Mau buat puisi lagi?” tanya Kaila yang tiba-tiba sudah terduduk di depan Dinar sambil menopang dagu menggunakan kedua tangannya. Dinar mengangguk pelan, tangannya mulai menari indah di atas kertas putih. Sementara Kaila, dia hanya memperhatikan Dinar dalam diam. Beberapa menit tak mengeluarkan suara apapun, hingga akhirnya tangan Kaila terasa gatal ingin menggebrak meja Dinar. “Kai, kamu kenapa si?” Wajah kesal Dinar terpatri jelas di sana, gebrakan tangan Kaila membuat kertasnya tak sengaja tercoret oleh pena yang dipegangnya. “Nar, ayolah, kamu itu punya bakat buat jadi penulis, kenapa si setiap naskah atau puisimu itu ga pernah sama sekali dipublikasikan?” Bukannya takut, Kaila malah balik memarahi Dinar. Jujur, Kaila sangat bingung pada manusia di depannya ini. Memiliki bakat menulis, tapi hanya dipendam saja. Kalau terus begitu, bagaimana orang-orang bisa tahu berbagai macam karya yang ditulis olehnya. “Aku ga sehebat yang kamu kira, Kai.” Dinar memasukkan kembali buku dan penanya ke dalam tas. Membuat Kaila semakin gemas ingin mencubit Dinar sekeras mungkin agar Dinar sadar akan kemampuan menulis yang ia miliki. “Tapi, kenapa ga kamu coba dulu? Naskah kamu itu banyak, lho, kirim kek ke penerbit.” “Iya, nanti aku coba.” Kaila mencondongkan tubuhnya, matanya tak lepas menatap Dinar dengan tatapan membunuh. “Awas aja kalau cuma omong doang, aku bakal buat perhitungan sama kamu,” ancam Kaila serius yang membuat Dinar malah ingin tertawa. Dinar menoyor kening Kaila agar menjauh dari wajahnya. “Kamu udah kaya rentenir aja, Kai.” “Huh ..., nyebelin, masa aku disamain sama lintah darat si. Udah ah, ingat ya, kalau sampai ga kirim naskah.” “Iya Kaila, insyaallah aku bakalan nyoba.” Kaila berdeham, mencoba untuk percaya. Ia membalikkan tubuhnya lagi, menatap kosong papan tulis yang ada di depan kelas. *** Kantin menjadi salah satu tempat yang paling digemari oleh mahasiswa kampus ini tak terkecuali Dinar dan Kaila. Baru memasuki area kantin saja, indra penciuman mereka sudah dimanjakan oleh semerbak harum masakan yang berhasil membuat cacing – cacing di perut berdisko ria. “Aku mau ke sana, ya.” Kaila menunjuk gerai pedagang mie ayam yang bersebelahan dengan pedagang siomay. “Aku nitip satu deh.”     Kaila menautkan alisnya, melihat Dinar dengan heran. “Beneran? Bukannya siomay? “Engga, aku mau ganti menu.” “Oke.” Dinar terduduk di kursi panjang kantin, menunggu Kaila membawakan pesanannya. Sesekali ia juga mengedarkan pandangannya, mencari sosok lelaki yang biasanya sering mengganggunya. “Nyari siapa? Arya, ya?” tanya seseorang sambil menepuk pundak Dinar. Saat Dinar menolehkan kepalanya ke sumber suara, sosok Kaila dengan senyum lebar muncul di depan hidungnya. “Iya, kan, Arya.” Kaila duduk di sebelah Dinar, menaruh mangkuk mie ayam ke depan mejanya dan meja Dinar. “Sok tahu banget kamu, Kai.” Ia mengambil sendok dan garpu lalu mengelapnya menggunakan tisu. Kaila meyenggol pelan lengan Dinar, ia tahu gelagat temannya ketika sedang merasa gugup ituseperti apa. “Kalau aku emang tahu, gimana?” Dinar yang sedang mengaduk-aduk mie ayamnya beralih melirik Kaila dengan-tajam. “Diam deh, aku mau makan aja harus kamu tanya-tanya dulu.” Ia memasukkan sendok berisi mie ke dalam mulutnya dan mengunyahnya dengan cepat. Mengetahui tak ada Arya di sekitar kantin, Dinar membuka tutup sambal lalu mengambil beberapa sendok sambal untuk ia tuangkan ke mangkuknya. “Ketahuan Arya pasti dimarahin,” sembur Kaila santai. “Sekali-kali, habisnya ga enak banget kalau ga pake sambal.” Dinar kembali mengaduk mie ayamnya agar sambal yang ia tuang bisa tercampur dengan rata. Mereka pun kembali menyantap mie ayamnya dengan khusyuk tanpa menganggu satu sama lain. “Beres?” Dinar melirik ke arah Kaila sambil mengelap bibirnya yang berminyak dengan tisu. “Udah. Ayo!” Ia mengambil tasnya di bawah kursi lalu menggendongnya. “Gimana? Enak ga?” tanya Kaila di tengah – tengah perjalanan mereka menyusuri koridor kampus. Belum sempat Dinar membalas pertanyaan Kaila, seseorang sudah menghampiri dan menepuk pundaknya dari belakang. “Lho, Arya.” Arya berjalan satu langkah ke depan agar posisinya sejajar dengan Dinar. “Iya, ini aku. Kamu baru dari kantin?” Pertanyaan Arya membuat Kaila berdecak, sebelum drama romantis bak film-film layar kaca ini dimulai, Kaila memilih untuk pergi lebih dulu meninggalkan Dinar dan Arya. “Aku mau pulang duluan deh, Nar.” “Ya, udah, hati-hati ya, Kai. Dah ....” Dinar melambaikan tangannya sebentar. Setelah Kaila pergi, ia beralih melihat Arya.  “Pulang sekarang?” tanya Dinar. Arya menggeleng pelan. “Engga, baru juga aku selesai kelas. Kamu temenin aku makan ya,” pinta Arya yang tanpa pikir panjang langsung dibalas anggukan oleh Dinar. *** Dinar sudah kembali lagi ke kantin dan duduk di kursi panjang yang semula ia tempati bersama Kaila beberapa menit lalu. Sementara Arya, dia sedang berjalan ke arahnya sambil membawa satu mangkuk bakso dan dua gelas teh manis. “Nih, teh manis buat kamu.” Arya menaruh gelas teh manis itu di depan meja Dinar. “Makasih.” Arya sudah duduk di samping Dinar, mulai menyantap baksonya dengan nikmat. “Ya, ko ga manis si?” tanya Dinar heran saat dirinya sudah meminum teh manis yang Arya berikan tadi. Bukannya menjawab, Arya malah mengambil handphone di saku celananya. Ia terlihat sedang mengotak-atik layar benda pipih itu. “Nih, lihat,” ucap Arya sambil memberikan handphone-nya pada Dinar. Dinar menerimanya ragu, saat matanya mengarah ke layar, ia melihat wajahnya di sana. Kamera? Dinar bingung, kenapa juga Arya menunjukkan kamera handphone-nya pada Dinar. Dia pikir Dinar mau selfie. “Minumnya sambil lihatin diri sendiri di kamera, pasti manis,” kata Arya bermaksud menggoda. Segera mungkin Dinar mengembalikan handphone kepada Arya, ia memalingkan wajahnya ke samping kiri, menarik napasnya dalam-dalam lalu mengembuskannya lagi. “Cie ..., yang lagi malu.” Arya menoel pipi Dinar, ia memiringkan kepalanya ke bawah agar bisa melihat wajah Dinar. Masih dengan memalingkan wajahnya, tangan Dinar bergerak ke atas, menutup wajah Arya dengan telapak tangannya yang mungil, berharap Arya tak bisa melihatnya. “Arya ..., udah ah,” rengek Dinar yang justru membuat Arya tertawa geli. Arya memegang tangan Dinar, menyingkirkan tangan itu dari wajahnya seraya kembali mengangkat kepalanya. “Utuk utuk utuk ..., Dinar lucu banget si,” goda Arya lagi seraya mencubit gemas kedua pipi Dinar. “Arya ..., sakit. Udah, ah,” ulangnya. Karena tak tega melihat wajah Dinar yang sudah memerah seperti kepiting rebus, Arya pun menghentikan aksi menggodanya. Ia kembali memakan bakso dengan senyuman yang masih terpatri di wajahnya. Beberapa menit berlalu, Dinar melirik sekilas ke mangkuk Arya yang masih tersisa mie kuning dan dua bakso kecil di dalamnya. “Arya.” “Apa, Nar?” “Kamu masih ingat ga sama orang baik yang sering aku ceritain itu.” “Yang mana?” tanya Arya sambil memasukkan bakso terakhir ke dalam mulutnya. “Itu lho, yang suka kasih bantuan ke panti, tapi ga pernah nampakkin dirinya.” Dinar memutar-mutar sedotan di gelasnya. “Tadi pagi Audrey yang ngambil amplop cokelat di depan pintu rumah.” “Oh ....” “Arya, aku penasaran banget siapa orangnya. Aku juga pengen ngucapin terimakasih, karena selama ini dia yang selalu bantu masalah keuangan panti.” Dinar menundukkan kepalanya lesu. “Nar, kita pulang yuk!” Arya menarik tangan Dinar, mengajaknya ke luar dari kantin untuk segera ke parkiran. Dinar mendesah pasrah tatkala tangan besar itu memegang tangannya. Mau tak mau Dinar mengikuti Arya dengan raut wajah yang ia tekuk. “Dih, kenapa tuh muka ditekuk?” Dinar memalingkan wajahnya sambil menyilangkan tangan di depan dadanya. “Ga tahu, pikir aja sendiri.” “Nanti aja ya aku mikirnya, lagi males soalnya,” canda Arya yang langsung dihadiahi satu kali injakan keras mengenai kakinya oleh Dinar. Arya meringis sambil memegangi kaki kirinya, ia menatap Dinar dengan mata memelas berharap Dinar akan memberikan perhatian untuknya. Sementara Dinar, dia sudah tertawa puas melihat Arya kesakitan akibat ulahnya. “Syukurin,” ledek Dinar seraya menjulurkan lidahnya. Ga apa–apa, Nar, yang penting kamu senang, batin Arya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD