Gemercik air hujan menjadi teman malam Dinar, saat keheningan melanda karena semua adiknya sudah terlelap dalam mimpi masing-masing. Suhu ruangan yang terasa begitu dingin hingga menusuk kulit, tak membuatnya beranjak sedikit pun dari kursi belajarnya.
Setiap malam, tanpa ada satu pun orang yang mengetahuinya, pandangan Dinar tak pernah luput dari layar laptop hanya untuk menunggu sebuah kabar yang tak kunjung terbalas. Detik yang berganti menit, juga menit yang berganti jam selalu Dinar lalui dengan sepenuh hati. Ia selalu yakin, akan ada saatnya penantian dirinya itu membuahkan rasa yang sama dari seseorang di kemudian hari.
“Gar, kamu masih sibuk,” gumam Dinar, ia menopangkan dagunya di atas meja. Hembusan napas berat Dinar keluarkan saat dirinya melihat jam di laptopnya sudah menunjukkan pukul 23.00. Hingga tiba saat telinganya sayup-sayup mendengar derap langkah kaki seseorang, ia segera mematikan laptopnya, bangkit dari kursi lalu berjalan menuju tempat tidurnya. Tangannya mengangkat selimut sampai batas d**a, ia berusaha memejamkan matanya.
Cklek
Seseorang membuka pintu kamar Dinar dan sedang berjalan mendekatinya. Ia duduk di samping tempat tidur Dinar, menatapnya dalam sambil mengusap lembut puncak kepala Dinar. “Tidur yang nyenyak ya, Nak. Ibu tahu, hari-harimu pasti berat.” Ibu Lasmi mengecup singkat puncak kepala Dinar lalu bangkit lagi untuk ke luar dari kamar gadis yang sudah dianggap sebagai anak kandungnya.
Dinar membuka kembali matanya, ia menatap lekat pintu kamar yang sudah tertutup rapat. Kecupan tadi terasa begitu menghangatkannya. Ia mengangkat kedua sudut bibirnya, hingga perlahan matanya pun mulai terpejam sempurna.
***
“Ka Dinar, Ka Dinar.” Suara teriakan anak kecil yang disertai gedoran tak beraturan, membuat Dinar segera melipat sajadah dan mukena yang baru saja ia gunakan. Dinar melangkah cepat, meraih handle pintu lalu menurunkannya.
Saat pintu terbuka, sosok gadis berkucir kuda sedang melihatnya dengan wajah yang sudah berkeringat dan napasnya terdengar memburu. “Kamu kenapa, Rena?” Dinar berjongkok, tangannya menangkup wajah Rena dengan perasaan waswas.
Rena meneguk salivanya, tenggorokannya serasa tercekat. “K-ka,” Rena tergagap karena begitu takut, “Audrey, mecahin kaca orang.”
Dinar menautkan kedua alisnya, tangannya ia turunkan dan tak lagi menangkup wajah Rena. “Sekarang Audrey di mana?” tanya Dinar lembut.
“Di rumah Pak Ruslan, lagi dimarahin,” jawab Rena sambil menundukkan kepalanya tak berani melihat wajah Dinar.
Dinar mengangkat dagu Rena, ia tahu Rena begitu takut jika dirinya juga akan memarahi Audrey. “Hey, jangan nunduk, Kaka ga bakal marahin Audrey dan kamu ko. Sekarang, kita selesaikan semuanya ya.” Ucapan Dinar yang begitu lembut serta senyuman manis yang ia ukir di bibirnya, membuat Rena akhirnya berani melihat wajahnya lagi.
Dinar berdiri, ia memegang tangan Rena lalu menuntunnya untuk mengikuti langkahnya. “Kita ke rumah Pak Ruslan ya.”
Rena mengangguk pelan sambil menyeka keringatnya, kakinya ikut melangkah mengikuti Dinar.
Dari luar pintu gerbang saja Dinar sudah bisa melihat sekumpulan anak-anak yang sedang menundukkan kepalanya, mendengar pria berkepala botak berbicara. Tiba-tiba Rena menahan tangan Dinar yang membuatnya menoleh bingung ke belakang. “Kenapa?” tanya Dinar, Rena hanya menggelengkan kepalanya. Raut wajah yang menggambarkan ketakutan begitu jelas terpatri di sana.”Ga bakalan ada apa-apa ko,” ucap Dinar meyakinkan. Ia kembali menarik pelan tangan Rena.
“Nah, ini nih, Kakaknya ga becus jaga adik-adiknya,” seru Pak Ruslan sambil menunjuk-nunjukkan jarinya ke arah Dinar, tatkala Dinar sudah sampai di halaman depan rumahnya.
Dinar langsung berjalan mendekati Audrey, memegang pundaknya dari belakang seraya bekata, “Maaf atas kesalahan adik-adik saya, Pak. Saya pasti akan mengganti semuanya,”
“Total kerugiannya lima ratus ribu, saya tunggu sampai jam satu siang nanti. Kalau belum juga bayar, kalian lihat aja,” ancam Pak Ruslan dengan tegas seraya melempar bola ke arah Audrey. Dia memutar tubuhnya dan berlalu meninggalkan Dinar serta adik-adiknya yang sedari tadi masih menunduk dan memejamkan matanya. Tetangganya yang satu ini memang begitu angkuh. Padahal, Dinar tahu bahwa Audrey ini pasti tidak sengaja menendang bola hingga memecahkan kaca jendela Pak Ruslan.
“Ayo, kita ke rumah lagi.” Dinar mengajak adik-adiknya, namun tidak ada satu pun dari mereka yang mau beranjak.
“Lho, ko pada diam?”
Audrey memegang tangan Dinar yang ia taruh dipundaknya, Audrey lalu menengadahkan kepalanya melihat wajah Dinar. “Ka Dinar, maafin Audrey, ya,” lirihnya, butiran cairan bening keluar dari mata bulatnya.
Dinar berjongkok, memutar tubuh Audrey yang bergemetar. “Ga apa-apa, wajar ko.” Ia menyeka air mata Audrey lalu membawanya ke dalam dekapannya. “Audrey ga usah sedih ya, dan kalau Ibu datang ke rumah jangan bilang apapun tentang ini. Audrey mengerti?” Audrey mengangguk paham dalam dekapan Dinar.
“Ya, udah, kita ke rumah lagi yuk,” ulangnya, dan kali ini semua adiknya mengikuti dirinya.
***
Celengan plastik berbentuk ayam sedang ditatap nanar oleh Dinar, ada rasa berat hati saat tadi ia membuka celengannya itu. Tapi mau bagaimana lagi, ia harus segera membayar kerugian yang disebabkan oleh adiknya sebelum ibu tahu masalah ini.
“Ga apa-apa, Nar. Pasti ada rezeki lain,” gumamnya. Ia merapikan kembali sisa uang recehan untuk dimasukkan ke dalam dompetnya. Setelah selesai, Dinar melesat ke luar kamarnya. Melihat kegiatan adik-adiknya yang ternyata sedang menonton televisi terkecuali si bungsu Naila, dia sedang tertidur pulas di kamar sambil memeluk boneka panda pemberian Arya.
Suara ketukan pintu yang terdengar tiga kali membuat Dinar menolehkan pandangannya. Dengan mengambil langkah seribu, ia segera menuju ke sumber suara. “Pasti Ibu,” tebaknya.
“Halo Dinar,” sapa seorang lelaki dengan begitu ceria.
“Arya, kamu ke sini ko ga bilang-bilang?”
“Kejutan dong.”
“Ya, udah, masuk dulu.” Dinar membuka lebar pintunya, mempersilakan Arya untuk masuk.
“Anak-anak kemana?” tanya Arya yang sudah menjatuhkan bokongnya ke sofa ruang tamu.
“Mereke lagi pada nonton.”
“Ibu ke mana?”
“Ibu lagi ada urusan, tadi pagi sekitar jam delapan udah pergi.”
“Oh iya, aku bawa es krim nih.” Arya menyodorkan plastik putih kepada Dinar.
“Makasih ya, aku mau bagiin dulu ke anak-anak kalalu gitu. Mumpung mereka lagi pada nonton.” Dinar berdiri, membalikkan badannya lalu berjalan menuju ruang keluarga.
Lima menit berlalu, Dinar sudah kembali lagi ke ruang tamu menemui Arya. Ia duduk di samping Arya tanpa berbicara apa-apa. Matanya menatap kosong ke lantai dan hal itu tentu saja membuat Arya bertanya-tanya.
“Nar, kamu kenapa?” Arya memegang bahu Dinar.
Dinar menoleh ke samping sambil menggelengkan kepalanya. “Aku ga apa-apa ko.”
Tangan Arya beralih menyentuh kepala Dinar, matanya melihat Dinar dengan tatapan sendu. “Kamu ga bisa bohong, Nar. Ayo, cerita sama aku.”
“Aku baik-baik aja, Arya. Kamu tenang, ya.”
Arya menghela napas pasrah, kalau Dinar sudah memintanya untuk tenang, ia tak bisa lagi berkutik. Dari sejak SMA sudah mengikat tali persahabatan dengan Dinar, membuatnya sangat tahu akan sifat perempuan di depannya itu seperti apa.
“Ya, udah, kalau kamu ga mau cerita ga apa-apa.” Arya mengelus lembut kepala Dinar, memberikan ketenangan untuknya. “Tapi, kalau kamu udah siap cerita, aku bakalan dengerin. Semuanya,” tambah Arya.
Perempuan mana yang tidak merasa nyaman apabila ada seorang lelaki yang selalu memberikan perhatian lebih. Begitu juga dengan Dinar, ia merasa ada getaran hebat di dalam dirinya. Seperti timbul sebuah rasa tak biasa yang seharusnya Dinar hindari, karena dalam hatinya masih tersimpan nama seseorang yang membuatnya terjebak dalam sebuah penantian.
“Iya Arya, makasih banyak ya.” Dinar tersenyum simpul.
“Oh iya, kamu udah makan belum, Ya?”
Arya menurunkan kembali tangannya. Posisi mereka masih saling berhadapan. “Aku udah makan.”
“Oh ....”
“Nar,” panggil Arya.
“Apa?”
Mata Arya mengarah ke bawah, menatap intens benda kenyal berwarna merah muda yang dimiliki oleh Dinar. Sedikit demi sedikit wajahnya ia dekatkan ke wajah Dinar, hingga hanya dalam jarak beberapa senti saja hidung mancungnya sudah menempel di hidung Dinar.
Beberapa detik setelahnya, Arya dengan cepat menjauhkan dirinya dari Dinar saat semua kesadarannya kembali muncul. Ia tak mungkin berbuat hal keji kepada gadis yang sangat ia sayangi. Sungguh, Arya sangat merutuki kebodohannya yang tak bisa menahan diri dari hawa nafsu yang menggebu.
“Aku pamit, Nar,” ucap Arya.
Tanpa mendengar balasan Dinar, dia langsung berdiri dan melengos meninggalkan Dinar yang terbeku duduk di sofa.
***
Jalanan Ibu Kota yang begitu lenggang menjadi panggung pertunjukan kepiawaian Arya dalam mengendarai motornya. Kecepatan di atas rata-rata tentunya sudah bukan hal yang tabu lagi baginya. Beberapa polisi tidur yang dilaluinya pun selalu ia hantam dengan beringas. Bak orang yang kesetanan, dia memutar penuh stang motornya. Pikirannya kacau bila mengingat kejadian tadi.
Arya sudah sampai di halaman depan rumah dengan sentuhan warna gold. Melesat ke dalam rumah tersebut dengan langkah kaki panjang setelah memarkirkan motornya.
“Arya,” panggil Harun, saat Arya hanya melewatinya begitu saja seolah tak peduli dengan kehadirannya yang sudah jelas ada di depan mata.
Arya memutar tubuhnya, melihat Harun dengan mata sayu. “Apa, Pah?”
“Papah mau bicara sama kamu,” ucapnya dingin.
“Aku capek, Pah.” Suara Arya melemah, namun matanya masih melihat ke arah Harun.
“Kalau di luar jadi orang begajulan ga capek, tapi kalau di sini belum --- “ “Udah Pah, cukup! Inti dari pembicaraan ini cuma mau mojokin aku aja kan, Pah? Aku udah hafal di luar kepala,” Arya memotong. “Ya, udah, aku mau ke kamar lagi.” Lagi-lagi Arya menghindari Harun, ia membalikkan tubuhnya dan berlari menaiki anak tangga tanpa memedulikan teriakan Harun.
Dibukanya pintu kamar Arya lalu ia tutup kembali dengan kencang sehingga bunyi yang ditimbulkannya pun terdengar sampai ke bawah.
Arya menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur, mencoba memejamkan matanya. Bayangan akan wajah Dinar yang begitu memikat hatinya semakin lama semakin menguasai isi kepalanya. “Argh!!!” Suara erangan Arya menggema di sudut ruang kamarnya. Ia memukul kepalanya sendiri, dan itu ia lakukan beberapa kali. Hingga senandung suara handphone yang berbunyi akhirnya bisa membuat Arya menghentikan aktivitasnya. Tangannya merogoh ke saku celana, mengambil handphone untuk menjawab telepon dari seseorang di sebrang sana.
“Halo? Apaan?”
“....”
”Ya, udah, gue ke sana, bete juga di rumah.”
Tanpa pikir panjang lagi Arya segera bangkit dari tempat tidurnya setelah menutup sambungan telepon. Diambilnya dompet kulit berwarna hitam dan kunci motor yang tergeletak di lantai. Tangannya meraih handle pintu, bukan untuk membukanya melainkan untuk menguncinya. Arya yakin jika dirinya ke luar rumah melewati tangga untuk ke bawah, pasti ia harus menghadapi Harun terlebih dulu. Dan jalan satu-satunya adalah, ia harus melewati jendela kamarnya untuk sampai halaman depan.
Bukan hal yang sulit bagi Arya untuk terjun bebas dari jendela kamarnya, hal sekecil ini sering ia lakukan sejak dirinya duduk di bangku SMP. Ia hanya perlu keberanian untuk melompat. Bahaya atau tidaknya itu urusan belakangan.
Arya sudah membuka jendelanya, ia mengangkat kedua kakinya langsung dengan tangan yang sudah memegang tembok. Saat dirinya sudah berada di luar jendela, ia mulai melompat.
“Sempurna,” gumamnya seraya tersenyum miring ketika dirinya sudah mendarat di bawah. Arya bangkit, berjalan mengendap sambil menepuk-nepukkan celana yang sedikit kotor.
“Aku pamit, Pah.” Arya menyalakan mesin lalu memutar balikkan motornya. Segera ia bawa ke luar halaman dengan senyum penuh kemenangan. Gue bebas.
Balutan kemeja hitam dengan kancing yang ia biarkan terbuka sehingga menampakkan kaos putih, menambah kesan keren di mata perempuan yang melihatnya tatkala Arya melewati mereka. Matanya melihat dengan tatapan jijik saat tak sedikit perempuan yang melayangkan senyuman genit untuknya. Terlebih lagi ada beberapa perempuan dengan pakaian yang kekurangan bahan, sedang mengedipkan sebelah mata ke arahnya saat Arya terpaksa harus berhenti karena lampu merah menyala.
Arya mengegaskan kembali motornya saat lampu hijau menyala. Lima belas menit berlalu, ia sudah sampai di kafe milik Axel. Temannya.
“Woi, Arya!” seru lelaki berbaju coklat.
Arya berlari kecil menuju sekumpulan lelaki yang tengah berbincang sambil sesekali terlihat sedanh menyesap kopi.
“Eh, jagoan acu udah datang nih ....” Heru berdiri lalu membuka lebar tangannya sambil melihat Arya dengan genit. Maksud hati ingin memeluk Arya, tangannya malah ditepis dengan kasar oleh Arya. “Lo apa-apaan si, Ru? Geli gua.” Arya duduk di bangku kosong samping Bayu. Mengabaikan Heru yang sudah ditertawakan oleh teman-temannya itu.
“Ya, event minggu depan lo jadi ikut, kan?” tanya Bayu sambil menggeser segelas kopi macchiato untuk Arya.
“Pasti.”
“Hadiahnya ga main-main, lo pada ga ada yang mau ikutan?” Pertanyaan Arya langsung dijawab gelengan cepat oleh Heru, Renald dan Axel.
“Ogah, gue,” sahut Heru, bahunya bergidik ngeri.
“Gue masih sayang sama nyawa gue, Ya,” timpal Renald yang kemudian disetujui oleh Axel dan Heru. Sementara Bayu hanya menyimak penolakan dari ketiga temannya itu sembari mengunyah kentang goreng dengan begitu santai.
Arya hanya mengedikkan bahunya acuh. Ia mulai menyesap macchiato, salah satu kopi kesukaannya.
“Sampai sekarang, si Dinar belum tahu?” tanya Renald yang membuat semua pasang mata teman-temannya menatap Arya dengan penasaran.
“Belum. Dan jangan sampai tahu.”
“Tapi Ya, lambat laun Dinar pasti bakalan tahu semuanya,” Axel membuka suara. “Lebih baik lo kasih tahu dia secepatnya. Kalau dia udah tahu duluan, masalahnya bakalan lebih besar,” tambah Axel memberi usulan.
“Iya Ya, bener tuh. Lo gamau kan kalau Dinar ngejauh dari lo?” Sekarang giliran Heru yang mengajukan pertanyaan.
“Gue belum bisa ngasih tahu Dinar sekarang. Emang belum saatnya juga Dinar tahu hal ini. Kalau Dinar ngejauhin gue karena masalah ini, gue siap. Karena itu emang udah konsekuensinya,” tegasnya.
“Kalau lo maunya kaya gitu, itu terserah lo. Tugas kita cuma ngingetin lo doang dan nutup hal ini rapat-rapat,” ucap Renald.
“Thanks banget. Kalian emang sohib gue.”
“Aaa ..., Arya. Acu jadi terharu deh sama kamyu.” Sikap alay Heru kembali muncul, ia sudah terlihat seperti banci yang sedang membutuhkan belaian saja.
“STOP IT, RU! GUE GELI b**o!” pekik Bayu sambil melempar kentang goreng ke arah Heru. Dan lemparan kentang itu ternyata bisa dihindari oleh Heru dengan sigap.
“Yes! Ga kena.” Heru menjulurkan lidah seraya menjulingkan matanya. Dia tertawa penuh kemenangan sekarang.
“Tuh, rasain, rasain.” Satu persatu kentang di piring Bayu ia lempar ke arah Heru saking kesalnya.
“Woy, udahan dong main-mainnya. Kafe gue kotor sama sampah kalian berdua aja nih,” protes Axel dengan raut wajah masam.
Bayu menurunkan tangannya, ia juga menaruh kembali piringnya di meja. “Tenang aja, Xel. Si Heru yang bakal bersihin.”
“Lho, ko gue si? Ga bisa gitu dong!”
“Ah, berisik lo pada. Tuh, lihat si Renald.” Arya mengangkat dagunya ke arah Renald yang sedang sibuk mengunyah kacang polong. “Kalem dia, dari tadi ngunyahin kacang terus,” lanjutnya
“Nah, iya. Contohlah gue ini,” Renald berbangga diri.
Bayu dan Heru hanya memutar bola mata malas. Mereka kembali diam. Tak membuat kegaduhan lagi. Kini, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
***