JARAK (PART 8)

1541 Words
Seorang gadis kecil tengah duduk termenung di kursi taman bersama boneka beruang yang ada dalam dekapannya. Menatap kosong tumbuhan di depannya yang bergoyang karena tertiup oleh hembusan angin sore. Hari minggu sepertinya menjadi waktu yang tidak tepat untuknya mengunjungi taman. Hatinya terasa begitu teriris saat melihat anak sebayanya tertawa lebar, bercanda riang bersama keluarga mereka. Sementara dirinya, hanya bisa meratapi nasib saja. “Hai! Aku boleh duduk di bangku ini?” Seorang lelaki yang sudah ada di depan gadis itu menyapanya. Gadis itu mengangkat kepalanya, melihat seseorang di depannya dengan sendu lalu mengangguk. Dengan sudut bibir yang terangkat, lelaki itu berjalan maju dua langkah lalu mendaratkan bokongnya dengan halus di kursi taman. “Kamu sering ke sini?” tanyanya membuka pembicaraan. “Engga.” “Boneka kamu lucu.” Pujian sederhana yang keluar dari mulut mungil lelaki itu berhasil membuat gadis di sampingnya menoleh padanya. “Makasih.” “Oh iya, nama aku Gara. Nama kamu siapa?” Ia mengulurkan tangannya, berharap gadis di sampingnya ini membalas uluran tangannya. “Nama aku Dinar.” Meski balasan gadis itu terdengar dingin, tak membuat Gara gentar untuk bisa terus mengobrol dengannya. “Nama kamu cantik, aku suka.” Dinar melirik lagi. Pertama kali dalam hidupnya ada seseorang yang memuji dirinya. Tanpa ia sadari, ia mengangkat sudut bibirnya. Senyum yang merekah indah terpatri begitu jelas di sana. “Mulai hari ini kita berteman, ya?” Gara menundukkan kepalanya, melihat tangannya yang sibuk merogoh saku celananya. “Ini buat kamu.” Gara memberikan satu buah permen yang Dinar terima dengan ragu. “Makasih.” “Nar!” seru seseorang dari arah lain. Dinar tak menoleh, ia masih fokus dengan lelaki yang ada di sampingnya. “Dinar!” Permen yang ia pegang masih dipandangnya  dengan mata berbinar serta senyuman yang mengembang. “DINAR!” Dinar mengerjap. Tubuhnya tersentak. Ia mencoba menegakkan posisi duduknya sambil melirik ke kanan dan ke kiri. Mengusap wajahnya dengan kasar saat kesadarannya sudah mulai terkumpul. “Ngelamun terus. Hati-hati, kesurupan lho,” ujar Kaila menakut-nakuti. Dinar tak begitu menanggapi ucapan Kaila. Ia mendesah pelan seraya meletakkan kepalanya di atas meja. Lamunan akan awal mula pertemuannya dengan Gara yang begitu lucu, seketika buyar begitu saja tatkala Kaila memanggil namanya. Kaila memutar tubuhnya, menopang dagu dengan tangan kanan di atas meja Dinar. “Nar, berhubung udah ga ada kelas lagi, kita ke toko buku yuk.” Sepuluh detik setelah ajakan Kaila diucapkan, Dinar kembali mengangkat kepalanya. “Aku ga bisa, harus cepet ke panti,” balas Dinar lesu. Ia bangkit dari kursinya, mengambil tas dan menggendongnya. Lalu berjalan melewati bangku Kaila. “Eh, Nar. Tunggu!” Kaila segera membereskan bukunya. Tasnya ia gendong dan dengan cepat kakinya berlari mengejar Dinar. Kaila sudah bisa menyejajarkan posisinya di samping Dinar. Ia tampak sedang mengerucutkan bibirnya. Berkomat-kamit seperti sedang menggerutu menahan kesal. “Kamu kenapa?” “NGGA!” “Lho, ko mar ...” Kata-katanya menggantung di udara. Dinar memandang ke depan. Ada seorang lelaki yang tak asing baginya sedang berjalan mendekat ke arahnya dan Kaila. Ia lantas menyenggol dua kali lengan Kaila. Kepalanya ia gerakkan ke arah lelaki tersebut supaya Kaila mau mengikuti arahan kepalanya. Mulut Kaila terkatup. Ia membelalakan matanya. Lututnya serasa lemas saat matanya menangkap sosok yang disukainya itu sedang berjalan ke arahnya. “Nar, aku gemetaran.” Kaila melirik Dinar sekilas sambil memegang tangannya. “Tenang, Kai. Rileks.” Jarak Kaila dengan Fathur hampir dekat. Tinggal beberapa langkah saja jika Kaila berjalan, ia akan berhadapan langsung dengan Fathur. Tapi, sekarang dia memilih tetap diam di tempat. Menunggu Fathur saja yang berjalan menghampiri dirinya. “Eh, ko ....” Kaila mengikuti langkah Fathur yang hanya melewati dirinya saja seolah tak peduli dengan kehadirannya. “Ka Fathur .... Huaaa,” rengek Kaila. Fathur begitu menyebalkan. Kaila pikir, Fathur akan menghampirinya. “Tenang Kai, tenang. Ka Fathur mungkin masih belum tahu puisi itu dari kamu.” Dinar memegang pundak Kaila. Mencoba menenangkan temannya. “Huaaa ..., gimana dia mau tahu, orang setiap puisi yang kamu buat selalu aku kasih nama bunga mawar. Bukan namaku,” ungkap Kaila masih sambil merengek. Dinar menautkan kedua alisnya. Ia menurunkan kedua tangannya dari pundak Kaila. “Ya ..., kamu si, kenapa juga malah nulisnya dari bunga mawar.” “Aku malu, Nar.” “Ya, udah, jangan nangis. Kita coba lagi lain kali, nanti aku yang buatin puisinya,” ucap Dinar kembali menenangkan Kaila. “Tapi, harus pake nama kamu biar Ka Fathur itu tahu,” tambahnya. Kaila mengangguk pelan. Ia pasrah.  Ka Fathur, tunggu aku kembali, batin Kaila. *** “Arya,” panggil Dinar. “Apa?” “Mmm .... Kemarin, kamu baik-baik aja, kan?” Dinar menggigit bibir bawahnya sambil memakaikan helm ke kepalanya. “Iya. Aku baik-baik aja ko.” Seenggaknya itu yang bisa aku ucapin, Nar. Buat nutupin kegugupanku, Arya meneruskannya dalam hati. “Oh, ya, udah. Syukur kalau gitu. Aku kira kamu buru-buru pergi karena ada sesuatu yang urgent.” Arya tak membalas. Ia menyalakan mesin saat Dinar sudah duduk di belakangnya. Sepanjang perjalanan, tak ada percakapan apapun yang mereka lontarkan. Mereka sepertinya sibuk dengan pikiran masing-masing. Baru ketika Arya membelokkan motornya ke arah yang bukan menuju panti, Dinar segera mengeluarkan suaranya. “Arya, kita mau ke mana, sih?” Dinar memperhatikan sekelilingnya dengan saksama, tapi tetap saja dia tidak tahu kemana akan dibawa. Arya melirik Dinar dari spion. “Lihat aja nanti,” balasnya singkat, lalu memfokuskan diri ke jalanan. Arya menghentikan motornya di depan sebuah taman. Ditolehkan kepalanya ke arah gadis yang diboncengnya itu. “Udah nyampe.” Dinar mengedarkan pandangannya ke depan. Tempat ini, tempat yang tak asing lagi bagi Dinar. “Turun dulu gih.” Dinar mengangguk, lalu turun perlahan sambil memegang pundak Arya. Arya menyusul Dinar yang sudah jalan lebih dulu. “Gimana? Bagus, tempatnya?” tanyanya, saat dia sudah ada di samping Dinar. Dinar hanya diam. Tempat ini kembali mengingatkannya pada sosok lelaki pertama yang memuji dirinya. “Nar.” Arya menepuk pelan pundak Dinar yang membuatnya mengerjap. “Eh, iya? A-da apa?” tanya Dinar tergagap. Arya berdecak. Ia sedikit kesal pada Dinar. “Bagus ga tempatnya?” ulangnya lagi. Dinar mengangguk pelan. Ia menampilkan senyum simpulnya. “Bagus. Makasih banyak ya,” ucapnya tulus. Arya menaruh tangannya di puncak kepala Dinar. “Ya, udah. Masuk yuk!” ajaknya. Mereka berjalan beriringan menyusuri taman. Merasakan semilir angin yang membelai lembut wajah mereka. Dinar menjatuhkan pandangannya pada kursi taman dekat air mancur. Diam sejenak menatap dalam kursi itu. Seperti ada sesuatu yang mendorongnya, tanpa Dinar sadari kakinya melangkah menuju kursi itu. “Nar, tunggu!” seru Arya, ia berlari mengejar Dinar yang sudah meninggalkannya. “Oh, mau duduk? Bilang dong, Nar.” Arya ikut menjatuhkan bokongnya di samping Dinar. “Adem banget ya, Nar, di sini,” ujar Arya sambil menyandarkan punggungnya di kursi. “Nar, lihat deh, ada banyak burung di sana.” Arya menunjuk burung-burung yang bertengger di pohon. Ia melirik sekilas ke arah Dinar yang belum juga membuka suaranya. “Dinar!” “I-ya, Gar.” Ups. Dinar keceplosan. Ia segera memalingkan wajahnya sambil menutup mulutnya. Bodoh sekali! Meski Dinar sedang bersama dengan Arya, tapi pikirannya malah melayang mengingat Gara. Dinar benar-benar merutuki kedohannya. Ia hanya berharap Arya tak mendengarnya tadi. “Gar? Siapa?” Arya menghadapkan tubuhnya ke samping Dinar. Ia mengernyitkan dahi. “Nar.” Dinar kembali memberanikan dirinya untuk melihat Arya. “I-iya, itu ..., mmm ..., gara-gara banyak burung di pohon, suasana di sini jadi tambah enak,” jawab Dinar berbohong. Arya menaikkan alisnya sambil mengedikkan bahunya. “Dasar, aku kira apa.” Arya mengacak pelan rambut Dinar. Sementara Dinar hanya tersenyum canggung, ia mengembuskan napas lega. Beberapa jam itu, Arya dan Dinar menghabiskan waktu bersama. Mulai dari berjalan, berfoto dan mengobrol, semua mereka nikmati berdua. Hingga tiba saat Arya melirik arloji di pergelangan tangannya, dengan terpaksa ia harus mengantarkan kembali Dinar ke rumahnya. “Nar, balik, ya!” ajak Arya. Dinar mengangguk cepat karena sebentar lagi azan maghrib akan berkumandang. Ibu juga pasti sudah menunggu kepulangannya. “Iya, ayo.” *** "Nar, kamu itu kenapa si? Argh, Gara terus, Gara terus.” Dinar mengacak rambutnya. Ia sudah berada di dalam kamar dengan keadaan ruangan yang gelap. “Bodoh! Bodoh! Bodoh!” ia memaki dirinya, guling yang ada di samping Dinar menjadi bahan pelampiasannya untuk ia pukuli. Beberapa menit saja Dinar berkutik dengan guling, ternyata membuat dirinya capai sendiri. Hingga akhirnya Dinar memilih untuk diam. Duduk bersandar di headboard kasur sambil memeluk kakinya. Di lain tempat, Arya terlihat sedang tersenyum sembari memegang handphone-nya. Mengusapnya ke kiri dan kanan. Sesekali juga tawanya memenuhi isi ruangan saat melihat kembali fotonya bersama Dinar sewaktu di taman tadi sore. “Lo cantik, Nar,” gumamnya. Matanya masih fokus menatap foto Dinar yang tersenyum begitu lebar hingga terlihat jajaran gigi putihnya yang tersusun rapi. “Argh, Dinar, lo pinter banget bikin jantung gue ga karuan.” Arya melempar asal handphone-nya. Menarik selimut sampai ke batas perut lalu memejamkan matanya.  “b**o, gue belum matiin lampu.” Cahaya lampu yang begitu menusuk mata Arya membuatnya terpaksa harus membuka matanya lagi. Ia terbangun, menyibakkan selimut dari tubuhnya lalu berjalan untuk mematikan saklar lampu. It’s time to sleep, batin Arya. Ia kembali ke tempat tidurnya dengan melompat seperti kodok setelah mematikan lampu kamarnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD