Rabu pagi yang begitu cerah. Dinar sudah menginjakkan kakinya di kampus, menyusuri koridor seorang diri yang masih tampak sepi. Sepertinya dia terlalu pagi untuk masuk kampus. Terbukti saat dirinya melirik arloji di pergelangan tangannya yang masih menunjukkan pukul 08.00 sedangkan kelas baru akan dimulai pukul 09.00. Sebenarnya, ia memang sengaja melakukan itu.
Dinar melewati kelasnya. Ia meneruskan kembali langkahnya menuju taman belakang kampus. Tempat di mana ia bisa dengan tenang menyuarakan isi hatinya lewat goresan pena yang ia tuang ke dalam lembaran kertas putih bersampul cokelat.
Pohon rimbun berukuran besar dengan dahan yang membentang ke atas seperti payung, menjadi tempat Dinar meneduh. Ia menyandarkan punggungnya ke batang pohon. Mengeluarkan buku juga pena dari dalam tasnya lalu ia taruh di atas pahanya.
Tinta hitam yang ia tuang sedikit demi sedikit mulai memenuhi barisan di selembar kertasnya. Membentuk serangkain kata dengan tulisan indah yang nyaman bila dipandang mata. Kedua sudut bibir Dinar terangkat. Matanya berbinar.
“Bunga mawar? Itu kamu, kan?” tanya seseorang yang berhasil membuat Dinar mengerjap kaget. Dinar menoleh ke belakang, mencari tahu suara berat yang ia dengar barusan.
Ka Fathur, batin Dinar. Secepat mungkin ia tutup bukunya dan memasukkan kembali ke dalam tasnya.
Dinar berdiri. Ia masih menetralkan debaran jantungnya karena begitu kaget saat melihat Fathur tiba-tiba sudah ada di belakangnya.
“A-ada a-pa, Ka?” tanya Dinar tergagap. Ia memberanikan dirinya untuk melihat wajah Fathur.
“Aku ngagetin kamu, ya?”
Dinar menggigit bibirnya. Matanya terus mengarah ke kanan dan kiri. “Eng-engga ko.”
“Kalau aku udah buat kamu kaget, aku minta maaf, ya. Tap ---“ “Udah jam sembilan, aku pamit ya, Ka.” Dinar memotong cepat. Ia memutar tubuhnya, berlari cepat meninggalkan Fathur yang masih berdiri di taman.
Ritme lari Dinar tak secepat tadi, ia berhenti sebentar sambil memegang dadanya yang terasa sesak. Napasnya begitu memburu, jujur saja ia capai bila harus berlari seperti tadi.
Ditorehkan kepalanya ke belakang untuk memastikan ada atau tidaknya Fathur. “Ah, untung aja udah ga ada.” Ia menyeka butiran keringat yang ada di pelipisnya lalu melanjutkan kembali langkahnya menuju kelas.
“Parah, bau banget badannya,” ucap Agnes pada teman-temannya tepat saat Dinar melintasi mereka.
Sambil berjalan menuju kursinya, Dinar sedikit menundukkan kepalanya lalu mendekatkan hidungnya ke arah ketiak kiri dan kanan secara bergantian. “Apa aku sebau itu, ya?”
“Kamu ga bau. Keringatmu aja tuh yang bikin Agnes berspekulasi kalau kamu itu bau,” sembur Kaila yang tiba-tiba sudah ada di depannya. Sontak saja Dinar agak memundurkan kakinya. “Kaila, bikin kaget aja.”
“Harusnya kamu beruntung, suara kamu itu cuma aku yang dengar. Coba kalau Agnes. Habis kamu.” Kaila berjalan kagi kembali ke tempat duduknya.
“Puisi buat Ka Fathur udah kamu buat?” tanya Kaila pada Dinar ketika temannya itu sudah duduk di belakangnya.
“Belum.”
“Cepet dibikin ya. Aku udah ga sabar lihat tanggapan Ka Fathur,” ujar Kaila. Matanya melihat ke atas sambil tersenyum-senyum.
“Udah gila kamu, Kai.” Dinar bergidik ngeri.
Kaila melirik Dinar dengan tatapan sinis. “Aku ga gila. Kalau orang lagi jatuh cinta emang gini, tahu.”
“Iya, iya. Terserah kamu aja.”
***
“Nar,” panggil seseorang yang sudah meletakkan tangannya di pundak Dinar.
Dinar langsung menyingkirkan tangan Arya dari pundaknya. “Arya, ini di kampus tahu. Malu ah.”
“Oh ..., terus, kamu maunya di mana? Di rumah aku?” tanyanya dengan alis yang ia naik turunkan.
“Dasar mesum.” Dinar menginjak kaki Arya yang terbalut sepatu. Seketika itu pula Dinar berjalan cepat meninggalkan Arya yang masih meringis sambil memegangi kakinya.
Melihat jarak Dinar yang tampak jauh darinya, Arya melesat mengejar gadis itu. Ia seolah lupa dengan kakinya yang agak sakit.
“Nar ..., jangan ngambek ah. Aku cuma bercanda,” ucapnya saat ia sudah ada di samping Dinar.
Dinar hanya melirik sekilas lalu memfokuskan diri ke depan lagi. “Iya. Tahu,” ucapnya ketus.
Arya melangkahkan kakinya lebar-lebar sehingga kini ia sudah berada di depan Dinar dan menatap gadis itu sambil tersenyum. “Jadi, udah ga ngambek, kan?”
Dinar menghentikan langkahnya, memutar bola matanya malas saat melihat Arya ada di depannya. “Mmm .... Iya, iya. Udah engga ko.”
“YES!!!”
“Ya, udah, ayo ke kantin. Hari ini aku yang traktir.”
“Arya!” seruan itu membuat Arya dan Dinar menoleh secara bersamaan.
Ck, mereka lagi, batin Dinar.
Bak sedang berlomba, dari jauh terlihat Bayu, Renald, Heru dan Axel sedang berlari ke arah Arya yang menjadi garis finis mereka. Arya melirik sekilas ke sampingnya, ia menangkap raut wajah Dinar yang tampak kesal. “Kalau ga penting, aku ga bakalan ikut mereka ko,” ucap Arya seakan tahu dengan apa yang ada di pikiran gadis itu.
“Kebiasaan banget sih, lo, main ninggalan orang sembarang,” protes Renald. Teman-temannya sudah sampai tepat di depan Arya dan Dinar.
Heru mencebikkan bibirnya pertanda sebal. “Tahu tuh, acu kan capek kalau harus lari-larian ngejar kamu.”
Mendengar itu, Dinar hanya menggaruk tulang hidungnya saja, matanya ia alihkan ke arah lain. Yang penting bukan ke arah teman-teman Arya ini.
Arya menoyor pelan kening Heru. “Berisik anjir, geli gua.”
“Ya, buruan balik. Lo lupa?” Ucapan Bayu mengundang tanda tanya di benak Dinar. Lupa? Lupa apa?
Arya mengatupkan bibirnya. Ditolehkan kepalanya ke samping dengan ragu-ragu, melihat sebentar Dinar yang ternyata sedang menundukkan kepalanya. Arya beralih mengedarkan pandangannya pada keempat temannya. Matanya menyiratkan bahwa dirinya sedang dalam posisi yang tidak aman. Ia perlu bantuan sekarang.
Axel menghela napasnya, ia memajukan tubuhnya satu langkah. “Dinar,” panggilnya halus. “Mmm ..., kita mau pinjem Arya dulu, ya,” tambahnya.
Dinar mengangkat kepalanya, ia melihat Arya yang ternyata sedang melihatnya juga. “Mau ke mana?”
“Kita mau ke basecamp,” sahut Renald cepat.
“Aku nanya Arya, bukan kalian.”
Renald menggaruk kepalanya. Kali ini ia salah. Sementara ketiga temannya menepuk jidat mereka, mengumpati kebodohan Renald walau hanya dalam hati.
“Kamu mau ke mana, Arya?” ulangnya.
“Iya, aku mau ke basecamp. Ga apa-apa, kan?” tanya Arya hati-hati.
Dinar menatap Arya dengan pandangan tak rela. Tak rela jika Arya akan meninggalkannya. Tapi ia sadar, bahwa kehidupan Arya bukan melulu tentang dirinya.
Ia mengangguk pelan, memberikan jalur hijau pada Arya untuk menghabiskan waktu bersama teman-temannya. “Iya. Boleh.”
“Makasih banyak ya, Nar,” ucap Arya tulus seraya memegang puncak kepala Dinar.
“Iya.”
“Aku antar kamu ke kantin aja dulu, ya.”
“Ga usah, aku bisa sendiri ko.”
Perlahan Arya menurunkan tangannya dari kepala Dinar. Mendengar balasan Dinar tadi membuat dadanya terasa sesak. “Nar, beneran ga apa-apa?”
Dinar mengangguk mantap. “Iya, ga apa-apa. Hati-hati, ya. Inget, jangan ngebut-ngebut.”
Balasan kedua dari Dinar ini membuat perasaan Arya berbanding terbalik. Perutnya serasa sedang digelitiki oleh ribuan kupu-kupu. Ia menyunggingkan senyumnya, mengacak pelan rambut lurus Dinar. “Iya, pasti.”
“Unch ..., so sweet banget ya mereka,” ujar Heru seraya memegang pundak Bayu.
“Ih, jauh-jauh lo dari gua.” Bayu menyingkirkan tangan Heru lalu mendorong temannya itu agar menjauh darinya. Menatapnya dengan pandangan jijik.
“Ya, udah, kalian juga hati-hati ya. Inget pesan aku tadi, jangan pada ngebut di jalanan.” Dinar melemparkan senyumnya pada teman-teman Arya hanya untuk menutupi ketidak relaannya terhadap Arya.
Renald, Heru, Axel dan Bayu secara bersamaan menegakkan badan seraya mengangkat tangan mereka, memberi hormat. “Siap, Bu Bos!”
***
Kantin, tempat dengan pengunjung terbanyak setiap harinya menjadi tempat Dinar berada. Hanya seorang diri karena Arya sudah pergi bersama teman-temannya. Sedangkan Kaila, dia sedang menghadiri pertemuan UKM yang dia ikuti di kampus.
Satu piring siomay dan segelas air putih hangat menjadi teman makannya siang ini. Harga yang sangat bersahabat dengan isi kantongnya, rasa yang enak, serta porsi yang banyak menjadi alasan Dinar mengapa dia selalu membeli siomay di kantin.
“Enak,” gumamnya sambil mengunyah gulungan kol yang dicampur dengan bumbu kacang.
Dinar melirik sekilas ke kanan dan kirinya. Tak ada satu pun orang di sini yang ia kenal selain Pak Abdul, pedagang siomay langganannya. Dua tahun menjalani masa perkuliahan, tak membuat dirinya memiliki banyak teman karena sikapnya yang tertutup dan juga ... Dinar tak pernah aktif mengikuti kegiatan apapun di kampus. Padahal Kaila sering mendesaknya untuk ikut kegiatan seni teater, tapi dirinya tetap saja tidak mau mendengarnya.
“Boleh duduk di sini?” ucap seseorang.
Sial. Saat Dinar menolehkan kepalanya ke belakang, sosok lelaki diwaktu pagi itu muncul di hadapannya. Dinar mengerjapkan matanya berkali-kali. Mengapa lelaki itu bisa ada di sini, sih? Biasanya juga dia selalu ada di perpustakaan.
“Boleh?”
Dinar meneguk salivanya, siomay yang ada di mulutnya segera ia telan meski belum hancur sempurna. “Mmm ..., bob-boleh, Ka.”
Mendengar persetujuan Dinar, Fathur segera duduk di sampingnya. Ia menaruh piring berisi nasik uduk dan satu botol air mineral di meja.
Dinar hanya menunduk malu, memandangi siomaynya sambil terus mengaduk-adukkan sendok di piring tanpa berniat untuk memakannya.
“Kenapa ga dimakan?” tanya Fathur.
“Ini lagi dimakan ko.” Dinar segera menyuapkan siomay ke dalam mulutnya lalu mengunyahnya dengan cepat. Fathur hanya tersenyum melihat Dinar saat itu. Ia pun kembali melanjutkan makan siangnya.
Siomay di piring Dinar sudah tak tersisa lagi. Bahkan air di gelasnya pun sama. Dinar melirik ke arah piring Fathur yang ternyata dia juga sudah menghabiskan nasi uduknya. Kini Fathur sedang meneguk air mineral yang membuat jakunnya naik turun.
“O iya, yang tadi pagi itu belum kamu jawab.” Fathur menutup botol minumnya lalu meletakkan kembali di atas meja.
“Hah? Yang mana, ya?” tanya Dinar seolah tak tahu, padahal di dalam hatinya sudah begitu waswas akan pertanyaan ini.
“Bunga mawar. Itu kamu, kan?”
Tenggorokan Dinar serasa begitu tercekat. Dia butuh minum sekarang. Ah, sialanya minuman di gelasnya itu sudah habis. “Bb-bukan, Ka. Aku Dinar bukan bunga mawar. Mungkin Kaka salah orang.” Dinar menundukkan kepalanya, beralih memandang piringnya yang telah kosong.
“Oh ..., aku pikir kamu orangnya. Ternyata bukan.”
Dinar mengangguk seraya tersenyum kikuk. “I-iya, Ka.”
“Ya, udah, maaf ya udah ganggu kamu. Aku duluan kalau gitu,” ucap Fathur. Setelah melihat anggukan dari Dinar, ia bangkit dari tempat duduknya. Menggendong tasnya lalu berjalan meninggalkan Dinar.
Dinar menghela napas lega. Ia pun langsung menjatuhkan kepalanya di atas meja. “Argh, lega.”
Beberapa menit berlalu, Dinar kembali mengangkat kepalanya. Diambil tas yang ia taruh di sampingnya lalu menggendongnya. Berajalan dengan langkah cepat menuju gerbang kampus.
Dinar merasa sangat beruntung, pasalnya baru saja ia sampai di halte kampus, angkot yang biasa ditumpanginya sudah ada di sana.
“Semoga aja ga macet,” gumamnya. Digeserkannya jendela angkot itu agar ia bisa merasakan terpaan angin yang membelai wajahnya. Matanya memandangi jalanan di mana terdapat banyak sekali kendaraan roda dua dan empat yang melintas. Sampai ia geleng-geleng kepala saat melihat trotoar yang seharusnya digunakan untuk pejalan kaki, malah digunakan untuk tempat parkir liar yang hanya mempersempit jalanan.
Ketika matanya fokus memandang jalan, benda pipih di dalam tasnya itu tiba-tiba bersenandung riang minta di keluarkan. “Arya.” Dinar mengetuk layar bertuliskan jawab.
"Halo? Ada apa, Arya?”
“Kamu masih di kampus, kan? Biar aku jemput ya.”
Suara berat bernada khawatir yang Dinar dengar dari seberang teleponnya membuat Dinar tanpa sadar mengangkat sudut bibirnya. Senyum yang begitu tipis terpatri di sana meskipun tidak terlihat jelas.
“Aku udah pulang ko.”
“Kenapa engga kasih tahu aku? Sekarang lagi di mana?”
“Lagi di angkot. Bentar lagi juga nyampe ko.”
“Beneran?”
“Iya, Arya ....”
“Ya, udah, aku tutup lagi teleponnya. Kalau ada apa-apa kasih tahu aku.”
“Iya, Arya. Siap.”
Tut ....
Sambungan telepon terputus. Dinar menatap layar handphone-nya sambil berusaha menahan senyumnya yang terus memaksa untuk dikeluarkan lebar-lebar.
***
Arya menaruh handphone-nya ke dalam saku celana setelah ia memutus sambungan teleponnya. Kemudian Arya merebahkan tubuhnya di atas kasur king size milik Bayu. “Aduh, kaki lo ada masalah apa si sama muka gue?” Ia menyingkirkan kaki Renald yang tak sengaja mengenai wajahnya saat Renald membalikkan badan.
“Eh, sorry, Ya. Gue ga tahu lo di situ,” ucap Renald dengan mata yang fokus menatap layar handphone-nya.
Arya tak membalasnya, ia sedang mencoba memejamkan mata. Baru dua jam bermain playstation ternyata bisa membuat matanya lelah.
“Kalah lagi lo, Xel.”
“Alahh ..., itu mah gue sengaja ngalah aja.”
“Kalah mah kalah aja kali. Ga usah ngeles.”
“Ulang lagi ulang.”
“Bagian gue main dong.”
Arya mengacak rambutnya secara kasar, suara bising yang berasal dari ketiga temannya itu malah membuatnya susah untuk tidur. Akhirnya ia bangkit, menatap kesal ke arah Heru, Bayu dan Axel yang sedang sibuk meributkan malasah playstatioin.
Seakan sudah tahu dengan tatapan kesal Arya, tiba-tiba saja ketiga temannya itu langsung mengambil sikap diam. Heru dan Axel yang sedang berebut stick playstation pun langsung melempar stick itu.
“Bagus banget nih karpet,” ucap Heru sambil mengusap-usap karpet yang ia duduki.
“Gue mau ke kamar mandi dulu deh, kebelet pipis.” Axel bangkit dan beranjak ke kamar mandi. Hal itu membuat tatapan Arya langsung jatuh pada Bayu. Ia mau tahu teman yang satu ini akan melakukan apa.
“Peace, Ya. Lanjutin tidurnya,” ujar Bayu seraya menunjukkan jarinya yang membentuk huruf V.
Arya menghela napas kasar. Ia memilih untuk beranjak dari kasur, berjalan menuju balkon kamar Bayu.
Langit yang membentang begitu luas, juga hembusan angin yang menyapa kala Arya baru menggeser pintu membuat perasaanya begitu tenang. Ia berjalan tiga langkah, mendekati pagar balkon kaca. Rasa kantuknya seketika hilang begitu saja. Matanya kembali segar saat melihat hamparan langit berwarna jingga.
Seakan terbuai oleh kenikmatan ini, Arya tetap diam berdiri di balkon tanpa mau beranjak lagi ke dalam.
***