JARAK (PART 10)

2880 Words
Langit malam gulita tanpa ada bulan dan bintang. Jalanan halus yang begitu sepi, hanya terdengar suara deru motor yang meraung-raung yang pasti sangat menusuk pendengaran bagi sebagian besar makhluk yang tak biasa mendengarnya. Sedikitnya manusia di sini, yang menunggangi sepeda motor dengan begitu gagahnya adalah manusia pencari kesenangan semata. Dan selebihnya, adalah manusia pencari materi yang rela bertaruh nyawa di panggung jalanan ini. “Lo siap?” tanya Bayu. Arya mengangguk mantap. Dibenarkannya posisi helm agar bisa senyaman mungkin di kepalanya. Lalu, ia mengedarkan pandangannya, melihat siapa saja yang akan menjadi lawannya nanti. “Tenang aja, Ya. Gue si yakin lo menang.” Bayu menepuk pundak Arya yang terlihat begitu tenang. Seorang perempuan yang memakai baju berpotongan d**a rendah sedang berjalan ke tengah jalanan sambil membawa bendera. Menginterupsi kepada para manusia yang berada di belakang garis start untuk segera bersiap-siap. Dari pinggir jalan, Bayu meneriaki semangat untuk Arya, begitu juga penonton yang lainnya. Mereka sama-sama memberi semangat untuk jagoan mereka. Arya sudah memegang grip setang motornya. Sesekali juga ia mengegas motornya hingga terdengar bunyi bising yang dikeluarkan dari knalpot. Matanya menatap lurus ke depan tatkala perempuan yang berada di tengah jalan itu mengangkat bendera kecil. “1 ..., 2 ..., 3.” Bersamaan dengan suara aba-aba dan kibaran bendera, semua joki balap ini langsung menjalankan motornya dengan sangat beringas. Tak terkecuali Arya, ia tampak sudah menguasai jalanan dengan menempati posisi terdepan. Meninggalkan jauh lawannya yang masih ada di belakang. Malam ini, Arya begitu mengabaikan pesan yang selalu Dinar ucapkan untuk dirinya. Hati-hati. Kata itu sepertinya tak terlintas sama sekali di pikiran Arya. Keadaan malam yang begitu gelap dan sepi ini memang pantas untuk ia hajar tanpa ampun, mengingat dirinya harus bisa memenangkan balapan liar ini. Dalam hitungan waktu tiga puluh menit saja, beberapa titik yang menjadi lintasan balap liar ini sudah Arya lalui. Sampai akhirnya Arya menyentuh garis finis yang pastinya sudah dipastikan bahwa dirinya yang menjadi juara. Bayu langsung berlari menuju temannya itu dengan bersorak penuh bangga. “Gokil banget, lo. Selamat ya,” ujar Bayu seraya mengarahkan tangannya untuk ber-high five dengan Arya. Ketika Bayu akan melanjutkan lagi ucapannya, tiga sosok pria berbadan kekar menghampiri mereka. Bayu menoleh ke arah mereka, senyuman miring tercetak di wajahnya saat ketiga pria itu sudah berada di sampingnya. “Ini hadiah lo,” ucap seorang pria berkepala plontos seraya memberikan amplop cokelat tebal kepada Arya. “Thanks,” balas Arya saat ia sudah menerima amplop itu. “Permainan lo boleh juga.” Arya hanya mengangkat sebelah alisnya, ia tak peduli dengan ucapan pria di sampingnya ini. Yang terpenting saat ini adalah uang sudah ada di tangannya. Melihat sikap acuh yang Arya tunjukkan pada ketiga pria ini, membuat Bayu pasang badan dan langsung menampilkan sikap akrab kepada tiga pria di sampingnya. “Thanks ya, Bang. Kalau ada event kaya gini lagi tolong kasih tahu gue,” ujar Bayu yang hanya dibalas anggukan kecil oleh pria berkepala plontos. “Ayo, Bay, cabut!” ajak Arya. Bayu menoleh ke arah tiga pria itu bermaksud untuk pamit. Lalu ia pun segera menginjakkan kakinya di pijakan motor untuk menaiki jok belakang. Arya menurunkan kaca helmnya kembali, ia menyalakan mesin motor dan mulai menjalankannya dengan kecepatan rata-rata. *** Arya baru sampai di rumahnya jam tiga pagi, waktu di mana orang-orang terlelap dalam mimpi. Ia berjalan dengan langkah kaki panjang, memasuki rumahnya dengan kunci yang sengaja ia duplikatkan. Saat  dirinya sudah berada di dalam rumah, secara mendadak Arya memperlambat jalannya. Khawatir jika suara sepatunya itu terdengar oleh Harun. “Dari mana aja, kamu?” Sial. Arya terpaksa harus menghentikan langkahnya saat mendengar suara papahnya. Ia memutar tubuhnya menghadap Harun. “Rumah teman, Pah. Ngerjain tugas.” Harun mendekati anaknya, ia menatap Arya dengan tatapan yang begitu dingin. “Jangan bohong sama Papah, Arya. Kamu habis dari mana?!” ulangnya dengan penuh penekanan. Arya menghela napas berat. “Berapa kali aku harus jawab, Pah, kalau aku habis dari rumah teman. Emang salah? Lagian, apa peduli Papah sih, sama aku?” “ARYA!” seru Harun dengan wajah yang sudah memerah menahan amarah. “Berhenti untuk bersikap tidak sopan sama Papah. Kamu harusnya contoh Kakakmu, dia anak yang begitu sayang sama Papah dan Mamah. Dia juga anak yang baik dan berprestasi, ga kayak kamu, begajulan, susah diatur dan kerjaannya cuma malu-maluin orangtua.” Deg! Jantung Arya berdebar. Tak tahu kenapa, meskipun hal seperti ini sering terjadi, hatinya seakan tak bisa menerima dengan ucapan papahnya barusan. Jujur saja Arya lebih memilih dipukul dan ditampar berkali-kali ketimbang harus menerima berbagai makian dari papahnya. Ternyata benar, lidah itu memang tidak bertulang tapi sanggup mematahkan hati orang. “Berhenti buat selalu bandingin aku sama Kakak, Pah. Kami berdua jelas jauh berbeda,” balas Arya dengan mata yang sudah berkaca. Hatinya terasa begitu sakit. “Aku tahu, Pah, aku itu ga sesempurna Kakak. Tapi tolong, jangan pernah sekali pun Papah maki aku.” Harun terdiam. Ia menggertakan giginya, melihat anaknya yang sudah menundukkan kepalanya. Ada sedikit perasaan menyesal di dalam dirinya. Tapi, mungkin ini jalan yang terbaik untuknya mendidik Arya. Belum sempat Harun mengeluarkan suara, Arya sudah membalikkan badannya. Ia berjalan menuju kamarnya tanpa memedulikan Harun. Tubuhnya lelah. Ia butuh istirahat. *** Pagi ini sudah berkali-kali Dinar melirik arloji di pergelangan tangannya. Setahu dirinya hari ini Arya ada jadwal kelas pagi, tapi kenapa Arya belum juga menjemputnya. Dikeluarkan handphone-nya dari dalam tas, mencoba menelpon Arya namun tak juga diangkat. “Arya ke mana, ya? Apa dia kesiangan?” gumam Dinar. Sudah hampir dua puluh menit Dinar menunggu. Melirik ke kanan dan kiri dengan gelisah, namun Arya belum juga datang. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk berjalan menuju jalan raya agar lebih cepat mendapat angkot. “Nih, ya, Bang. Makasih,” ujar Dinar seraya memberikan uang pada supir setelah ia turun dari angkot. Dinar mulai melangkahkan kakinya memasuki gerbang kampus. “Dinar,” sapa seorang perempuan berkacamata saat ia tiba-tiba sudah berada di samping Dinar. “Tumben sendirian, Arya ke mana?” Dinar mengedikkan bahunya. Ia sendiri pun tidak tahu Arya di mana. “Lho, kamu ga tahu Arya di mana?” “Iya.” “Ya, udah, deh. Ayo cepet jalannya,” ajak Kaila seraya menarik pergelangan tangan Dinar. Dinar menahan tangan Kaila saat temannya itu membawanya ke dalam ruangan yang bukan ada di jadwal kuliahnya hari ini. “Lho, kita ko ke sini?” Kaila mengernyitkan dahinya. “Kamu itu kenapa sih, Nar? Sekarang kan hari jum’at. Matkulnya Bu Fanny, praktikum genetika itu lho. Astaga, Nar, kamu ko bisa lupa?” cecar Kaila. Dinar hanya menggaruk tengkuknya yang sama sekali tak gatal. Ia tersenyum kikuk saat ia tahu bahwa dirinyalah yang salah. Sudah menjadi mahasiswa semester empat dengan mengambil program studi biologi pun, terkadang ia masih suka salah melihat jadwal. “Udah, yuk. Masuk.” Kaila kembali menarik pergelangan tangan Dinar hingga membuat tubuh Dinar tersentak, karena kesadarannya yang belum terkumpul. Dua jam mengikuti kelas bagi Dinar terasa begitu singkat. Ia menghela napas kasar saat kelas sudah berakhir. Ia bangkit dari tempat duduknya lalu mengambil tasnya untuk ia gendong. Kakinya terasa begitu berat saat ia akan keluar. “Nar, ayo ke perpus lagi. Kamu udah bikin puisinya, kan?” Dinar membelalakan matanya. Ia lupa membuat puisi pesanan Kaila. Kaila yang tahu dengan ekspresi yang Dinar tunjukkan itu langsung menyipitkan matanya. “Kamu lupa ya, Nar?” tanya Kaila penuh curiga. Dinar terkekeh dengan wajah tak berdosa. “Iya, Kai, aku lupa.” “Aaa .... Dinar, masa kamu lupa, sih? Kan kamu sendiri yang bilang kalau kamu mau bikin puisi,” Kaila merengek dengan bibir yang sudah ia cebikkan. “Buatin sekarang dong ..., plis ....” “Oke, oke, aku buat sekarang.” Tak ingin menambah perdebatan, Dinar menjatuhkan kembali bokongnya di kursi. Ia membuka tasnya lalu mengambil buku tulis dan pena. “Semangat, Dinar cantik.” Kaila mencolek singkat dagu Dinar. Kemudian ia pun ikut duduk di samping temannya. Lima belas menit berlalu, akhirnya Dinar bisa menyelesaikan puisinya. “Nih.” Dinar memberikan secarik kertas kepada Kaila. “Udah aku tulis juga nama kamu di sana. Kaila. Mahasiswa semester empat, biologi,” lanjutnya dengan penuh penekanan. Dinar kembali memasukkan buku dan penanya ke dalam tas. Ia bangkit lalu menarik tangan Dinar. “Ayo ke perpus,” ajaknya, tetapi Kaila malah menahan tangannya. “Mmm ..., biar aku aja deh yang ngasihnya sendiri. Kamu ke kantin aja ya, pesenin aku mie ayam.” Dinar menautkan alisnya bingung. Tumben sekali Kaila bersikap seperti ini. “Beneran nih?” tanya Dinar memastikan. Kaila mengangguk mantap seraya menampilkan senyum lebarnya. “Iya. Ya, udah, gih ke kantin.” Kaila memutar tubuh Dinar lalu mendorongnya supaya ia ke luar dari ruangan. “Dah, hati-hati Dinar. Aku bakalan cepet ke kantin.” "Iya, semoga beruntung." Dinar melangkahkan kakinya menuju kantin. Sesampainya di sana, ia   segera memesan satu piring siomay dan mie ayam. Saat pesanannya sudah siap, ia menjatuhkan pandangannya pada kursi panjang yang biasa ia duduki. “Syukurlah, ternyata masih kosong,” gumamnya lalu berjalan menuju kursi tersebut. Dinar menaruh mangkuk mie ayam dan siomaynya di atas meja. “Dinar,” sapa seseorang yang membuat Dinar menoleh ke sumber suara. “Kaila. Gimana tadi? Berhasil, kan?” Kaila menggeser mangkuk mie ayam di meja agar posisinya dekat dengannya. “Berhasil. Makasih, ya.” “Iya, sama-sama.” Dinar mengaduk-aduk siomay di piringnya dengan sendok. Pada suapan keempat, ia menahan sendok di depan mulutnya saat matanya tak sengaja melihat gerembolan teman Arya yang sedang berjalan menuju kantin. Arya, dia ke mana? Dinar terus membatin. Dalam benaknya timbul banyak pertanyaan perihal Arya yang tak ada kabar. Mengabari lewat telepon saja tidak. Ia khawatir kalau terjadi apa-apa pada Arya. Karena rasa penasarannya yang sudah berada di level tinggi, Dinar memutuskan beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan mendekati teman-teman Arya untuk menanyakan keadaan lelaki itu. “Eh, kamu mau ke mana?” tanya Kaila seraya menahan tangan Dinar supaya tidak beranjak meninggalkannya. “Aku ada urusan, sebentar aja.” Dinar melepaskan tanga Kaila dari tangannya. Setelah melihat anggukan kecil yang Kaila berikan, ia pun langsung berjalan ke tempat tujuannya. “Maaf, ganggu waktu kalian,” ucap Dinar saat dirinya sudah sampai di tempat duduk Bayu, Renalda, Heru dan Axel. Semua pasang mata dari empat lelaki itu langsung menatap Dinar. “Ada apa, Nar?” tanya Renald. “Mmm ..., kalian tahu ga Arya di mana?” Bayu berdeham, ia memalingkan wajahnya dari Dinar seraya menggaruk lehernya. Hal itu tentu saja membuat Dinar beralih melihat Bayu. “Bayu, apa kamu tahu?” pertanyaan Dinar sontak saja membuat Bayu segera menoleh kembali pada Dinar. Sementara Heru, Axel dan Renald saling melirik satu sama lain. “Arya ..., mmm ..., dia ga masuk.” Dinar menghela napas kasar. Ia juga tahu bahwa Arya itu tidak masuk. “Iya, aku tahu. Maksud aku, sekarang Arya di mana? Kenapa dia ga masuk?” Meski Dinar jengkel, ia tetap bertanya dengan suara yang lembut. “Arya bilang ke kita sih katanya dia ada urusan,” sahut Renald cepat. “Kamu ga bohong kan, Nald?”             Renald menggeleng cepat. “Engga ko, Nar. Gue ga bohong.” Emang muka gue ada tampang bohongnya? Renald meneruskan dalam hati. “Ya, udah, makasih ya. Silakan lanjutin lagi makannya,” ucap Dinar tulus. Ia membalikkan badannya, kembali menemui Kaila. *** Pagar besi berkarat yang tak dikunci sudah Dinar buka. Ia berjalan pelan memasuki rumahnya yang juga tak dikunci. “Assalamualikum, Bu, Dinar pulang,” ucap Dinar pelan saat dirinya sudah membuka pintu rumah. Dinar mengambil langkah biasa, melihat keadaan ruang tamu yang tampak begitu sepi. Namun saat kakinya sudah menginjak ambang pintu ruang keluarga, suara riuh yang ditimbulkan dari adik-adiknya itu membuatnya bernapas lega. “Sini, Naila, sama Kaka.” Suara berat dari seseorang yang tak asing lagi di telinga Dinar, membuatnya langsung membuka pintu ruang keluarganya. Dan betapa terkejutnya Dinar saat melihat lelaki yang ia khawatirkan seharian ini ternyata sedang duduk bersantai bersama adik-adiknya di panti. Dinar mengambil langkah seribu, mendekati Arya dengan wajah tertekuk. Dinar berkacak pinggang saat dirinya sudah ada di depan Arya. “Kamu. Ngapain di sini?” Sebentar saja Arya menatap Dinar. Lebih tepatnya menatap wajah Dinar yang mungkin sengaja ia sangar-sangarkan supaya membuatnya takut pada gadis di depannya ini. “Emang kenapa? Ini kan rumah aku juga,” balas Arya santai, ia kembali mengusap rambut Naila yang berada dalam pangkuannya. “Arya! Aku serius.” “Aku juga serius, Nar.” “Ish, Arya. Kamu nyebelin.” Dinar menyilangkan tangannya di depan d**a. Memutar tubuhnya dan menyempatkan diri untuk menghentakkan kakinya sebelum meniggalkan ruang keluarga. Arya yang melihat tingkah Dinar rasanya ingin sekali tertawa. Tapi ia tahu sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk tertawa. Tuan putrinya sedang dalam mode marah. Diliriknya Naila yang sepertinya merasa nyaman sekali berada di pangkuannya. Dengan hati-hati ia mengubah posisi duduk Naila menjadi menyamping. “Naila, Kaka mau ke belakang dulu, ya. Boleh ga?” Anak berusia empat tahun itu mengangguk cepat seraya tersenyum. “Boleh, Ka Alya.” Mendengar persetujuan Naila, Arya segera mengangkat tubuh kecil Naila untuk ia pindahkan dari pangkuannya ke sofa. Ia mengacak pelan rambut ikal Naila hingga membuat gadis itu terkikik. “Ya, udah, Kaka ke luar, ya.” Arya melesat ke luar, berjalan santai ke berbagai ruangan untuk mencari Dinar. “Ternyata di sini,” ujar Arya yang sudah menyandarkan bahu kanannya dengan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam saku celana. Dinar menoleh sekilas ke belakang, hanya untuk menunjukkan raut wajah kesalnya agar Arya tahu. Lalu, ia mengarahkan lagi pandangannya pada piring yang sedang ia cuci. Terdengar kekehan kecil dari Arya yang tampak sedang berjalan mendekati Dinar. “Mau aku bantu, Nar?” “Ga usah,” balas Dinar ketus tanpa melihat Arya. “Nar, maafin aku.” “Iya. Udah dimaafin ko.” “Masa? Kalau udah ga marah, kenapa masih monyong-monyong gini bibirnya?” Arya mencubit gemas pipi Dinar yang membuatnya memekik kesakitan. “Arya, udah! Sakit tahu,” keluhnya seraya menyingkirkan tangan Arya dari pipinya. “Kamu pikir pipi aku squishy apa? Huh, nyebelin banget. Lagian, seharian ini ke mana aja, sih? Ada urusan apa? Penting banget ya? Sampai ga masuk kuliah.” Memang benar, otak Arya sudah begitu bebal. Bukannya merasa bersalah, ia malah tersenyum-senyum saat mendengar ocehan yang ke luar dari mulut mungil perempuan di depannya ini. Dinar berdecak. “Kamu gila, ya? Bukannya mikir, malah senyam senyum.” “Kamu lucu ya, Nar, kalau lagi marah-marah kayak gini.” Blush. Bak kepiting rebus, semburat merah tiba-tiba saja muncul di pipi Dinar tanpa dirinya mau. “Tuh kan merah lagi,” kata Arya. Dinar segera menundukkan kepalanya, ia tak rela sekali jika Arya melihat pipinya memerah. Yang ada, Arya bakalan lebih bersemangat dan gencar untuk menggodanya kalau dirinya membiarkan wajahnya dilihat terus menerus oleh Arya. Beberapa detik membiarkan Dinar menunduk, tangan Arya beralih mengangkat wajah gadis ini dan menangkupnya. Menatap dalam bola mata indah milik Dinar yang sudah seperti candu baginya. Deg! Jantung Dinar, argghhh, rasanya sangat tak karuan. Ia tak bisa lagi mengontrol ritme detak jantung yang sangat cepat dibandingkan biasanya. Wajahnya pun sama saja, sama sekali tak biasa ia kontrol. Benar-benar lemah. “Makasih ya, Nar, kamu udah khawatirin aku. Kamu tahu ga, Nar? Setiap kali kamu khawatirin aku, aku selalu ngerasa jadi orang yang paling beruntung punya kamu di dunia ini.” Penuturan Arya membuat Dinar tertegun. Sejenak ia melupakan keadaan jantungnya. Matanya menatap mata Arya yang berubah sendu. Arya kenapa? batin Dinar. Tenggorokan Dinar serasa tercekat, baru kali ini ia merasakan hal yang berbeda dalam diri Arya. Selama menjalin persahabatan dengan Arya, tak pernah sekalipun ia mendengar Arya mengeluh apa-apa padanya. Dinar tahu bahwa ada sesuatu yang Arya sembunyikan darinya meskipun Arya tak mengatakannya secara terang-terangan, Arya melepas kembali tangkupannya. Tangan kanannya terangkat untuk menyampirkan anak rambut Dinar ke belakang. “Hey, malah bengong.” Dinar mengerjapkan matanya berkali-kali saat merasakan ada sebuah tangan yang menyentuh rambutnya. Ia melirik ke kanan dan kiri dengan eskpresi yang begitu polos. “Tuh kan, kebiasaan.” Arya menggeleng heran. “Udah selesai kan nyuci piringnya? Kita makan ya. Kamu pasti laper.” Arya menggenggam tangan Dinar lalu membawanya ke ruang makan. *** “Ibu, aku pamit ya,” ucap Arya pada Bu Lasmi seraya mencium punggung tangan wanita paruh baya ini yang sudah berkerut. “Arya, besok ke panti lagi ya, Nak. Anak-anak selalu senang kalau kamu mampir ke sini.” Arya menyunggingkan senyum terbaiknya. “Iya, Bu. Kalau ada waktu, aku pasti bakalan terus ke panti.” “Nar, aku pamit ya.” Arya mengacak pelan puncak kepala Dinar yang malah membuat Bu Lasmi tersenyum. “Kalian ini, udah seperti adik kakak saja.” Arya dan Dinar hanya saling melirik, tersenyum kikuk seraya menggaruk tengkuk masing-masing. Beberapa detik saling diam, akhirnya Arya pun memasang helm ke kepalanya dan mulai menyalakan mesin motor. “Assalamualaikum.” Ia menurunkan kaca helm.  “Waalaikumsalam,” jawab Bu Lasmi dan Dinar bersamaan. “Ka Alya hati-hati. Nanti main lagi sama Naila, ya. Dadah ....” Naila melambai-lambaikan tangannya dengan raut wajah ceria. Setelah punggung Arya sudah tak terlihat lagi, baik Bu Lasmi, Dinar dan beberapa anak panti lain kembali masuk ke dalam rumah. Di lain tempat, Arya yang sedang mengendarai sepeda motor, pikirannya terbagi dua antara jalanan di hadapannya dengan ucapan Bu Lasmi tadi. Adik kakak. Apakah hanya sebatas itu Bu Lasmi menganggap hubungan dirinya dengan Dinar? ***                                       
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD