Jakarta, 26 Maret 2020
Hai Gar! Kamu baik-baik aja, kan? Pesan ini udah yang keberapa kali ya aku kirim? Hahaha, aku sampai lupa sendiri, Gar. Tapi aku harap kamu ga pernah bosen ya kalau pesanku itu selalu muncul setiap bulannya di email kamu. Oiya, di sini aku baik-baik aja. Aku senang banget punya Bu Lasmi dan anak-anak panti, mereka semua yang selalu dukung dan sayang sama aku. Aku ga tahu Gar, hidupku bakalan kaya gimana kalau ga ada mereka. Udah banyak banget perubahan yang terjadi dalam diri aku selama bersama mereka. Mmm .... Gar, mungkin itu aja yang pengen aku kasih tahu. Kalau kamu ada waktu, balas pesanku ya Gar.
Salam hangat,
Dinar.
Tetesan cairan bening lolos begitu saja membasahi wajah Dinar. Entah sudah sebesar apa rasa rindunya pada Gara yang begitu jauh darinya. Bayangkan saja sudah empat tahun lamanya sejak Gara memutuskan ke luar negeri untuk meneruskan bisnis kedua orangtuanya, dia sama sekali tak mengabari Dinar. Satu-satunya yang Dinar tahu hanyalah nama email Gara, yang sampai saat ini ia gunakan untuk mengirimkan berbagai macam pesan yang tak pernah berbalas. Dinar selalu optimis, Gara pasti akan kembali menemuinya.
Dinar menyeka airmatanya lalu mematikan kembali laptopnya. Ia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 11.00 malam. Seharian ini Dinar menghabiskan waktunya di rumah, tentunya bersama dengan adik-adik dan ibunya karena tidak ada jadwal kuliah yang harus ia hadiri.
Belum lama setelah ia mematikan laptop, mulutnya beberapakali menguap. Rasanya kantuk sudah menyerang dirinya sehingga matanya terasa berat. Dinar memtuskan untuk beranjak dari tempat duduknya menuju kasur. Ia menjatuhkan tubuhnya lalu menarik selimut sampai batas d**a. Memejamkan matanya hingga ia terlelap damai dalam mimpinya.
***
Lelaki ber-hoodie polos warna hitam yang terlihat sedang duduk di jok motor itu tengah menunggu seorang perempuan. Mulutnya menyenandungkan lagu sambil memainkan jari jemari di atas helm yang ia taruh di depan perutnya.
Dari luar pintu gerbang, lelaki itu dapat melihat pintu rumah yang sudah terbuka dan menampilkan sosok perempuan cantik dengan bando cokelat yang menghiasi rambut lurusnya.
“Maaf ya, aku lama,” ucap Dinar sambil menutup kembali pintu gerbang.
Arya menoleh ke arah samping, memperhatikan pergerakan Dinar yang sedang sibuk menutup pintu gerbang. “Iya, ga apa-apa.”
Setelah pintu gerbang tertutup, Dinar kembali berjalan mendekati Arya. “Udah nunggu berapa menit?”
“Mmm ..., berapa ya? Kayaknya si hampir dua jam.”
Bukannya terkejut, Dinar malah tertawa sambil sesekali memukul lengan Arya. “Kamu bohong terus. Nyebelin banget, sih. Mana ada aku siap-siap ke kampus sampai selama itu.”
“Iya, iya, tahu. Kamu tampil natural aja tetep cantik ko. Apalagi kalau dandan dua jam, mungkin ...,” Arya menggantungkan kata-katanya yang tentu membuat Dinar penasaran mendengar perkataan berikutnya.
“Mungkin apa?”
“Mungkin aku udah lumutan di sini.” Arya terbahak setelah melanjutkan perkataannya. Sementara Dinar, ia malah mencebikkan bibirnya seraya memukul pundak Arya berkali-kali.
“Udah, udah, pake helm dulu aja.” Arya memasangkan helm ke kepala Dinar, lalu bergantian ke kepalanya.
“Ayo, naik.” Ia mengulurkan tangannya agar Dinar bisa lebih mudah naik ke jok motor yang cukup tinggi.
“Ga ada acara buat meluk aku, nih?” Pertanyaan Arya langsung dihadiahi cubitan keras di pinggangnya. Ia memekik kesakitan. Dinar tega sekali kepadanya.
“Buruan jalan. Atau mau aku cubit lagi?” ancam Dinar.
“Iya, Dinar iyaaa,” balasnya pasrah. Tak berselang lama, Arya langsung menyalakan mesin motor dan mulai melajukannya.
Tak butuh waktu berjam-jam untuk melintasi jalanan Jakarta yang begitu macet, Arya dan Dinar sudah sampai di parkiran kampus.
“Kasih bintang lima buat Abang ya, Neng,” ujar Arya saat menerima helm yang Dinar beri.
“Engga mau. Abang ojolnya genit banget.” Dinar menjulurkan lidahnya.
“Ya, udah, kalau ga mau kasih bintang lima, kasih hati Neng geulis aja. Ga apa-apa ko.”
Dinar menggelengkan kepalanya, bibir bawahnya ia majukan. “Ga mau juga. Kalau hatinya buat Abang ojol, aku mati dong. Huhhh.”
“Pagi-pagi udah pamer kemesraan nih, jagoanku,” ujar seseorang. Dinar dan Arya pun menoleh ke sumber suara. Ah, benar sekali dugaan Dinar, suara itu pasti berasal dari Heru, teman Arya.
Arya melihat satu persatu teman-temannya, dan ia mengernyitkan dahinya saat tak melihat Axel berada di dalam barisan itu. “Lho, si Axel mana?”
Bayu, Renald dan Heru saling melirik, tak lama kemudian mereka malah tertawa tanpa ada sebab yang jelas. “Dih, udah gila lo pada. Gue bukan lagi ngelawak anj ...” Kata-kata Arya menggantung di udara. Ia baru sadar masih ada Dinar di sini. Diliriknya Dinar oleh Arya, dan ternyata memang benar perempuan itu sudah menatapnya tajam.
Menyadari hal itu tentunya membuat tawa Bayu, Renald dan Heru semakin pecah. Bahkan, saking kerasnya Heru tertawa, ia sampai mengeluarkan airmata. “Udah, udah, gue capek ketawa. Perut gue sakit banget anjir,” ujar Heru sambil menyeka air matanya.
Dinar menatap mereka jengah, ia bingung mengapa teman Arya tidak ada yang benar satu pun. “Aku ke kelas duluan ya,” pamitnya.
“Aku antar aja ya, Nar.”
“Ga usah, aku sama Kaila ko. Tuh orangnya lagi jalan.” Dinar menunjuk perempuan yang tengah berjalan sendiri di seberang parkiran.
“Ya, udah, gih,” balas Arya mempersilakan. Dinar mengangguk, ia segera berjalan cepat mengejar Kaila.
“Si Dinar kalau diperhatiin imut juga ya,” celetuk Renald sambil memperhatikan punggung Dinar yang makin lama makin tak terlihat.
“Maksud lo apa, Nald?” Arya menatapnya sinis.
“Eh, engga, Ya. Gue bercanda, sumpah dah.”
Arya tak menggubris lagi ucapan Renald, sekarang tatapannya tertuju pada lelaki yang sedang berlari ke arah parkiran. “Eh, itu si Axel. Habis ngapain dia?”
“Dia abis boker, gara-gara si Bayu nuangin sambel ke bubur dia.” sahut Heru.
Arya menganggukkan kepalanya. Ia mengerti alasan mengapa ketiga temannya itu malah tertawa saat dirinya bertanya perihal Axel. Memang biadab si Bayu. Axel itu paling tidak suka dengan sambal. Untung saja hanya buang air besar biasa. Kalau gara-gara makan sambal Axel sampai mati, nanti tidak akan ada lagi kafe gratis untuk nongkrong sepuasnya dong. Oke, bukan hanya Bayu. Arya juga ternyata sama jahatnya.
“Nih, si k*****t ngeselin banget parah. Gila banget gue udah tiga kali ke wc,” umpat Axel pada Bayu sambil mengusap-usap perutnya.
Renald berjalan medekati Axel lalu memegang pundaknya. “Udah, Xel, untung aja lo masih hidup. Kalau lo mati, siapa yang mau ngasih kita tempat nongkrong gratis selain lo.”
Savage! Renald menempati posisi teratas sebagai manusia terjahat di antara mereka.
Axel menoyor kesal kepala Renald. “b**o, lo.”
“Udah, udah, mending masuk kelas dah kita,” lerai Heru yang dibalas anggukkan oleh para temannya.
***
Kelas yang sedari tadi dipenuhi dengan suasana keseriusan, seketika saja kembali seperti biasanya saat dosen yang kerap dipanggil Pak Jay meninggalkan kelas.
Terdengar desahan lega dari depan tempat duduk Dinar. Kaila sepertinya tampak frustasi sekali dengan kelas hari ini. Ya, bagaimana tidak frustasi, sekalinya Pak Jay masuk dia hanya akan berbicara seperlunya saja dan apabila sudah dipenghujung jam kelasnya, dia selalu memberikan pertanyaan mendadak. Dan kebetulan sekali hari ini Kaila yang dijatuhi pertanyaan itu.
Dinar bangkit dari tempat duduknya, berjalan dua langkah menuju kursi Kaila. “Siomay Pak Abdul yuk.”
“Nanti dulu, aku masih kesel sama yang tadi.” Kaila menaruh kepalanya di meja.
“Kai, udah ah, rasa kesel kamu itu ga bakalan bisa bikin kamu kenyang.”
Kaila kembali mengangkat kepalanya, ia sedikit menengadah ke atas melihat Dinar. “Ya, udah, deh, ayo.” Ia bangkit dan menarik tangan Dinar.
“Kamu siomay ya, Nar?”
“Iya. Bilang aja pesenan Dinar, Pak Abdul pasti tahu ko.”
Kaila memutar bola mata malas. “Iya iya, mahasiswa langganan Pak Abul.” Ia membalikkan tubuhnya dan berjalan ke tempat yang akan ia tuju.
Dinar hanya terkekeh, ia kembali melanjutkan membaca buku novel yang ia pinjam dari perpustakaan seminggu lalu.
“Suka buku itu juga?”
Refleks Dinar menutup kasar bukunya, betapa terkejutnya Dinar saat ia menolehkan kepalanya ke belakang, sosok lelaki berperawakan jangkung sudah ada di hadapannya. “Ka Fathur.”
“Hai.” Fathur melambaikan tangannya tak lama.
Dinar tersenyum kikuk sambil mengedarkan pandangannya. Mencari-cari keberadaan Kaila, khawatir saja Kaila akan salah paham apabila melihat dirinya bersama dengan lelaki yang ia sukai.
“Ada apa ya, Ka?”
Fathur menyunggingkan senyum hingga terlihat jajaran gigi putih yang tersusun rapi. “Ga ada apa-apa ko. Tadi lagi lewat aja, terus lihat kamu ada di sini.”
“Aku boleh duduk di sini?”
Aduh, kenapa juga harus ada pertanyaan seperti itu, sih, batin Dinar. “Mmm ..., maaf, Ka, aku sama teman aku. Dia lagi pesan makanan.”
“Oh, ya, udah ga apa-apa. Aku cari tempat lain aja,” ucap Fathur yang membuat Dinar bernapas lega. “O iya, makasih ya buat puisinya.” Fathur mengacak singkat puncak kepala Dinar lalu berjalan pergi meninggalkannya.
Dinar mematung, ia begitu kaget dengan perlakuan Fathur padanya. “Apa Ka Fathur masih ngira aku itu bunga mawar? Argghhh, Kaila ..., gimana ini?”
Ia harus memberitahu Kaila secepatnya. Jika hal ini terus dibiarkan, lambat laun Fathur pasti akan terus mendekati dirinya bukan Kaila.
***