Suasana kelas yang ramai, membuat lelaki yang duduk di bangku paling belakang pojok kiri itu bisa dengan leluasa tertidur. Siapa lagi kalau bukan Arya. Disaat semua teman-temannya saling interaktif dengan dosen, ia malah asyik sendiri dengan mimpinya.
“Arya Putra? Arya Putra? Mengikuti kelas saya atau tidak?”
Dosen mata kuliah Manajemen Operasional itu sudah geram dengan sifat Arya yang selalu tertidur saat mengikuti kelasnya. Satu kali atau dua kali masih bisa ditoleransi, tapi hal ini sudah sering terjadi hingga Bu Kaffa naik pitam.
Bayu dan Axel yang memang teman satu kelasnya sudah berkali-kali memanggil Arya, tapi itu semua tak pernah Arya tanggapi meski Bayu dan Axel tahu kalau Arya mendengar suara mereka. Hal itu tentu membuat Bu Kaffa, dosen Manajemen Operasional mendatanginya dengan wajah geram. Ia membuka tudung jaket dari kepala Arya. “Arya, keluar kamu!”
Arya mengangkat kepala. Mengerjapkan matanya beberapa kali. Saat matanya bertemu dengan mata Bu Kaffa, tanpa memberi pembelaan apapun, ia keluar membawa tas ranselnya.
Menjadi mahasiswa Manajemen Bisnis adahal hal terkonyol yang ada di hidupnya. Bagaimana tidak? Arya sama sekali tidak menyukai hal-hal yang berbau bisnis. Tapi keinginan orangtuanya yang membawanya ke sini. Ke tempat yang sama sekali tidak Arya sukai.
Arya berjalan santai menuju kantin, satu-satunya tempat yang bisa mengembalikan suasana hatinya. Ia membeli bakso, salah satu makanan kesukaannya di kantin, kemudian duduk dan mulai memakan baksonya.
“Dikeluarin lagi?”
Dinar mengikuti Arya saat ia ke luar dari perpustakaan dan tak sengaja melihat Arya yang sudah menggendong tas padahal kelasnya belum usai. Arya menoleh sebentar, ia memasukkan satu bakso kecil ke dalam mulut dan mengunyahnya.
“Kamu ngapain di sini, Nar?”
Dinar duduk di sebelah kanan Arya. “Ketemu kamu.”
“Mau ketemu aku apa laper?”
“Jangan alihin pembicaraan, Ya. Jawab pertanyaanku tadi.”
Arya tak merespons perkataan Dinar, ia meneguk air mineral dan kembali memasukkan bakso kecil ke mulutnya.
“Arya, aku tahu kamu ga suka ini semua karena memang ini bukan kemauan kamu. Tapi aku minta sama kamu tolong jangan bersikap kayak gini, jangan sekali pun ngecewain diri kamu sendiri dan orangtua. Kamu udah masuk semester empat, ga ada salahnya kamu jalani. Lambat laun pasti kamu bisa ngerasa nyaman. Semuanya juga bisa karena terbiasa, bukan? Yang perlu kamu yakini sekarang, esok dan selamanya adalah, Tuhan selalu punya rencana terbaik di setiap pijakan langkah kaki kamu.”
Lagi-lagi Arya terdiam. Ia mengatupkan bibirnya. Berusaha mencerna kata demi kata yang Dinar lontarkan padanya.
“Udah, lain kali jangan kayak gitu lagi, ya? Janji.” Dinar menunjukkan jari kelingking sebagai bentuk janji Arya padanya.
Arya memperhatikan sebentar jari kelingking Dinar yang sudah ada di depan wajahnya. Tak lama kemudian ia pun membalasnya meski dengan setengah hati. “Iya Dinar iya.”
“Nah, gitu dong, Baru Arya namanya.”
***
“Nar, bantu aku lagi ya,” pinta Kaila pada Dinar ketika mereka tengah menyantap siomay di kantin.
“Bantu apa?”
“Biasa, puisi.” Kaila tertawa tanpa dosa.
Dinar menghela napas kasar. Ia meneguk air putih hangat lalu menolehkan kepala ke arah Kaila. “Mau sampai kapan sih, Kai, kamu ngirim puisi buat Ka Fathur terus?”
Belum sempat Kaila menjawab, Dinar mengaduh sambil memegangi perutnya. “Kai, perut aku, au ..., sakit.”
“Kamu kenapa, Nar?” tanya Kaila khawatir.
“Aku mau ke kamar mandi dulu, ya. Sumpah deh sakit banget.” Ia beranjak dari tempat duduknya, mengambil langkah panjang menuju kamar mandi dengan badan sedikit terbungkuk dan tangan yang masih memegangi perut.
Setibanya di kamar mandi Dinar segera memasuki toilet dan memulai ritual sebagaimana mestinya.
“Syukurlah.” Dinar memperhatikan cermin yang memantulkan wajahnya setelah ia selesai menuntaskan panggilan alam yang datang secara mendadak. Gaya rambut yang dikepang tidak terlalu buruk pikirnya.
“Kaila pasti udah nunggu.” Dinar memutar badannya, namun baru satu langkah ia berjalan dari arah luar masuklah seorang perempuan menyapanya.
“Lo Dinar mahasiswa Biologi semester empat, kan?”
“Iya, ada perlu apa ya?” jawab Dinar sopan.
“Gue mau kasih peringatan buat lo, jangan sekali-kali lagi ngirim puisi sampah lo ke Fathur,” tandas perempuan berambut sebahu.
Dinar mengerutkan dahinya. Ia benar-benar bingung dengan tuduhan yang perempuan itu layangkan padanya. “Maksud kamu apa? Aku ga ngerti.”
Perempuan itu mendekat ke arah Dinar, lalu mencengkeram lengannya keras hingga Dinar meringis.
“Lo ga usah pura-pura b**o. Gue udah lihat sendiri semuanya. Termasuk ini ..., puisi sampah lo.” Ia melempar sebuah kertas putih yang sudah digulung tepat ke wajah Dinar. “Kalau sampai lo berulah lagi, gue, Laura Margareta, bakalan kasih perhitungan buat lo lebih dari ini,” ancamnya tegas, mencoba mengintimidasi Dinar.
“Dan satu hal lagi yang perlu lo ingat baik-baik, Fathur itu milik gue, jangan harap lo bisa ngerebut dia dari gue.” Setelah itu, Laura melepas cengkeramannya dan meninggalkan Dinar di sana sendirian.
Saat punggung Laura sudah tak terlihat, Dinar menundukkan kepalanya, memperhatikan gulugan kertas yang tergeletak di lantai. Ia memungutnya lalu membuka kertas itu.
Tubuh Dinar terasa lemas saat membaca tulisan di kertas itu. Dadanya pun begitu sesak hingga air matanya keluar begitu saja tanpa bisa dia tahan. Kenapa Kaila begitu tega melakukan hal ini padanya? Selama ini, memang ada salah apa dirinya pada Kaila? Dinar menutup mulutnya dengan tangan demi menahan isak tangisnya.
***
“Udah selesai buang air besarnya?”
Dinar tak merespons pertanyaan Kaila. Ia mengambil tas ranselnya lalu pergi meninggalkan Kaila tanpa pamit.
“Dinar, Dinar, tunggu aku!” seru Kaila berusaha mengejar Dinar.
“Aku mau pulang,” ucap Dinar lesu tanpa melihat wajah Kaila saat temannya itu sudah berada di sampingnya.
“Lho, hari ini kamu mau bikin puisi buat aku lagi, kan?”
Dinar menghentikan langkahnya, ia membalikkan badannya ke samping kiri di mana Kaila berada. Ditatapnya lekat mata Kaila yang terasa begitu memuakkan. Bila mengingat kejadian tadi, ia benar-benar ingin meluapkan amarahnya pada Kaila. Tapi tentu saja ia tak bisa melakukan hal itu.
“Aku ga bisa. Maaf.” Dinar melengos pergi. Kaila yang bingung dengan perubahan sikap Dinar hanya bisa melihat punggungnya saja tanpa berniat untuk mengejar.
Dinar memberhentikan angkot yang melintas di halte kampus lalu menaikinya. Sore itu angkot penuh. Diliriknya arloji di pergelangan tangannya, jarum pendek sudah menunjukkan pukul 04.00 sore. Pantas saja penuh, waktunya jam pulang kerja para pegawai dan anak sekolah.
“Kiri Bang.” Dinar turun setelah angkot itu berhenti.
Ia memberikan dua lembar uang dua ribuan kepada sang supir lalu berjalan pelan menuju rumahnya.
Beberapa menit berjalan langkahnya tiba-tiba terhenti saat sebuah motor besar menghalangi jalannya. Dinar mengangkat kepalaya, terlihat sosok lelaki yang sudah menaikkan kaca helmnya di sana.
“Ternyata pulang duluan,” ucap Arya.
Dinar menatap lesu mata Arya. “Maaf.”
“Dinar, kamu kenapa?” Arya melepas helm dan turun dari motornya. Ia berlari mendekati Dinar.
“Nar, kamu kenapa? Sakit?” Ia menangkup wajah Dinar yang terlihat pucat. Cemas, itu yang dirasakannya saat ini.
Dinar melepas tangan Arya di wajahnya. “Aku ga apa-apa.”
Arya mengembuskan napas kasar, ia menyapu gusar wajah dengan telapak tangannya. Jawaban yang ia terima selalu sama seperti sebelumnya. Padahal ia begitu khawatir jika terjadi sesuatu hal pada gadis di hadapannya ini.
“Ya, udah, kita pulang ya. Kamu istirahat,” ajak Arya yang dibalas anggukan kecil oleh Dinar.
***