Livia melangkah masuk ke dalam rumahnya dengan wajah merah padam. Rasa marahnya hampir tidak bisa ditahan, dan begitu sampai di ruang tamu, ia melempar tasnya ke sofa dengan kasar. “Sialan!” teriaknya, suaranya menggema di ruangan besar itu. “Wanita miskin itu benar-benar mengacaukan semuanya!” Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar. Tuan dan Nyonya Kusuma, orang tua Livia, keluar dari ruang kerja mereka. Mereka saling berpandangan sebelum mendekati putri mereka yang tengah duduk dengan kesal. “Ada apa, Livia?” tanya Maria Kusuma, ibu Livia itu, sambil duduk di sebelah putrinya. Livia mengangkat wajahnya yang penuh emosi. “Wanita miskin itu, Ma! Irene! Dia mengacaukan semuanya. Nala sudah diracuni pikirannya olehnya. Bayangkan, seorang anak kecil menolak aku. Bagaimana bisa?”

