Seorang gadis dengan mata yang masih sembab, termenung duduk di jendela. Air mata terus membasahi pipinya. Hari ini, genap satu minggu ke pergian sang Mama. Setelah sempat di rawat, namun nyawanya tidak dapat tertolong.
Operasi yang dijalani oleh Mama Ajeng tidak berjalan mulus. Telah terjadi komplikasi penyebabnya karena konsumsi obat-obat kimia atau tindakan medis tertentu. Sehingga nyawa Mama Ajeng tidak dapat di selamatkan. Dia adalah Yuna yang kini hanya hidup sebatang kara. Tanpa ada pundak tempat ia berkeluh kesah.
Tidak ada lagi pelukan hangat sang Mama yang akan mendekapnya. Tidak ada lagi Mama yang selalu membuat masakan untuknya. Tangan lembut sang Mama tidak lagi dapat ia rasakan. Seakan semangat hidup telah pupus. Hanya bayangan yang mengitari pikirannya.
Satu hal yang membuat Yuna mengutuk dirinya sendiri. Sebagai anak ia terlambat untuk memberikan pengobatan terbaik untuk sang Mama. Walaupun Yuna sempat mendapatkan uang dari hasil meminjam kesalah satu mafia, tetap saja ia tidak bisa menyelamatkan nyawa sang Mama.
Yuna tersadar dari lamunan, saat gedoran pintu terdengar olehnya. Wajahnya tegang seketika, ketika ia menerka-nerka orang siapa yang bertamu dengan tidak sopan itu.
"Tok ... tok ... Hei! buka pintunya. Kau pasti ada di dalam 'kan. Ayo buka pintunya!!" seorang bos mafia menyambangi kediaman Yuna. Bos yang di kenal sadis kepada orang yang berani berurusan dengannya, dia ialah Jecki Zakson.
Tetapi apalah daya, Yuna terpaksa meminjam sejumlah uang untuk biaya operasi sang Mama. Yuna sudah mencoba meminjam uang kepada bos tempat ia bekerja. Namun sayang, ia tidak berhasil. Mengingat ia baru saja bekerja di sana. Gaji selama sebulan, belum tentu dapat melunasinya juga.
Saat itu Yuna sama sekali tidak memikirkan bagaimana ia bisa melunasi hutang itu. Yang terpenting saat itu, dia bisa segera membiayai operasi sang Mama. Jangka waktu yang sangat singkat di beri sang mafia, membuat Yuna kehilangan akal. Terlebih, ia masih berkabung.
Dengan langkah gemetaran, Yuna memberanikan diri untuk membuka pintu. Ketika pintu sudah di buka, nampaklah tiga orang berbaju hitam. Dengan tangan bertato serta gelang rantai yang melingkar di leher dan tangannya, mata yang menatap tajam pada Yuna.
"Aku kesini, menagih janjimu. Aku hanya memberi waktu satu minggu sesuai dengan yang kau pinta. Sekarang cepat bayar!" Hardik Jecki.
Yuna tidak berani mengangkat kepalanya."Ma-maf Tuan, saya belum ada uangnya."
"Itu urusanmu, bukan urusanku. Hari ini juga uang itu sudah ada."
"Ta-tapi Tuan--" ucapan Yuna terhenti saat jecki menyuruh anak buahnya menggeledah rumah Yuna.
"Ambil barang yang berharga dalam rumah ini, sebagai bunga pinjamannya!"
Yuna hanya bisa berdiam diri saat satu persatu barang miliknya di bawa oleh anak buah Jackie seperti Televisi, dan kursi. Saat Jackie hendak pergi dari sana, ia melihat yang berkilau dileher Yuna, tangan Jeckie langsung merampas kalung tersebut.
Yuna sedari tadi membiarkan anak buah Jeckie mengambil barang di dalam rumahnya, kali ini Yuna tidak dapat berdiam diri. Saat kalung peninggalan satu-satu sang Mama ditarik paksa oleh Jeckie.
"Jangan, jangan ambil kalung itu! itu satu-satunya kalung yang aku punya. Aku mohon jangan ambil! Itu kalung Ibuku." Teriak Yuna. Sambil menahan tangan Jeckie.
"Aaarrggghhh ..." pekik Yuna.
Jeckie menghempaskan Yuna dari tangannya. Membuat gadis itu terhempas ke dinding. Kemudian terhenyak kelantai.
Keringat yang telah membaur dengan air matanya, membuat Yuna meringis kesakitan. Ketika kepalanya terbentur ke dinding. Yuna berusaha berdiri dari bawah sana, dengan tangan memegangi kepala.
"Tuan, jangan bawa kalung itu. Aku janji akan mengganti uang yang aku pinjam. Tapi, tolong jangan bawa kalung itu." Cairan bening terus membasahi pipi Yuna. Ia tidak bisa membiarkan Jeckie membawa satu-satunya hal yang berharga milik Mamanya.
Jeckie kembali mendorong Yuna"Hei, gadis bodoh! kau pikir ini cukup untuk membayar hutangmu. Bunganya saja tidak dapat. Kau masih mempunyai hutang denganku, kau dengar itu!"
Gelak tawa yang menyeringai dari jeckie dan anak buahnya memecah gendang telinga Yuna yang menangisi kekejaman Jeckie. Tenaganya tidak akan bisa melawan lelaki itu.
"Bos, kenapa dia tidak kita bawa saja. Lumayan bos," ujar salah satu dari anak buah Jeckie berbadan gemuk tinggi, hitam. Mengidikan alisnya pada jeckie yang tengah melirik kearahnya.
Sontak membuat Jeckie terlintas pikiran buruk keYuna. Niat jahat yang akan menghasilkan uang untuk dirinya sendiri. Bahkan menurutnya akan melebihi uang yang di pinjamkan kepada Yuna.
Jeckie tersenyum sinis pada Yuna yang berada di bawah sana. Membuat Yuna ketakutan seketika.
"Kau benar, kita akan menjualnya dengan harga yang tinggi. Aku yakin dia masih suci. Tidak akan ada yang menolaknya. Kalau begitu bawa dia!" perintah Jeckie seketika.
"Baik, bos." Anak buah Jeckie langsung melangkah mendekati Yuna.
Yuna yang mendengar hal itu, membuat dia membelalakkan matanya. Ia mencoba berdiri, namun tangannya di cengkram kuat oleh ank buah Jeckie."Tidak, jangan bawa saya! lepaskan saya, lepaskan!!"
Yuna meronta-ronta ketika tangannya di tarik oleh anak buah Jeckie. Yuna berusaha memberi perlawanan. Tetapi ia tidak cukup kuat untuk melepaskan diri dari anak buah Jeckie.
Yuna mencoba menahan tubuhnya, agar kakinya tidak melangkah ke mobil Jeckie."Lepaskan saya, lepaskan!!"
"Tolong ... tolong ..." teriak Yuna. Matanya terus melirik kesana kemari mencari pertolongan.
"Masuk!" hardik leleki gemuk bertato itu.
Yuna menggeleng tegas. Ia masih meronta-ronta agar bisa melarikan diri dari Jeckie.
"Tolong ... Lepaskan saya!!" Walaupun tangannya merasa sakit, Yuna semakin bersuara lantang untuk minta di bebaskan.
Langkah lebar seseorang yang turun dari mobil mewah dengan mata yang menajam pada Jeckie dan anak buahnya. Membuat dia tidak bisa tinggal diam di dalam mobil. Melihat seorang gadis di tarik paksa oleh dua lelaki bertubuh besar, tegap. Kulit hitam serta tato menghiasi terpajang ditangan. Mereka menyebutnya itu sebagai hiasan, seni yang menampakkan diri mereka seolah sangat di takuti.
Sebelumnya ia telah mendapat kabar dari pengawal setianya, dan juga orang yang memata-matai keberadaan Yuna selama ini. Dari kartu identitas milik Yuna, keberadaannya di ketahui cepat oleh sang mata-mata tersebut.
Dari rumah ia telah berniat untuk kesana, berdalih untuk mengembalikan sebuah dompet milik gadis itu yang tertinggal di rumah sakit tempo lalu.
Mungkin ini juga berkat dari dewi fortuna, membuat wanita paruh baya itu dikirim sebagai malaikat yang menolong Yuna. Dia ialah Nyonya Delusa.
"Berhenti! Lepaskan dia!" hardik Nyonya Delusa. Suaranya menyeru lantang ke arah Jeckie serta tatapan menghunus pada tiga lelaki itu.
"Siapa kau wanita tua? ini bukan urusanmu. Pergi menjauh dari sini!! Jangan ikut campur urusanku," ucap Jeckie. Jari telunjuknya mengarah pada Nyonya Delusa yang semakin mendekatinya.
"Ini akan menjadi urusanku, kalau saja kau berani menganiayanya," tekan Nyonya Delusa.
"Hai, tahu apa kau wanita tua! gadis ini berhutang padaku. Dia tidak sanggup untuk membayarnya. Memangnya kau sanggup membayarnya, ha? kalau tidak minggirlah dari sini. Jangan menghalangiku!" Jeckie berkacak pinggang. Meremehkan wanita paruh baya di depannya itu.
"Ayo, cepat bawa dia!" perintah Jeckie kepada anak buahnya.
Tangan Yuna kembali di tarik untuk segera masuk ke dalam mobil jeep berwarna hitam legam tersebut.
"Nyonya, tolong aku! tolong aku Nyonya!" pekik Yuan. Kepalanya menoleh kebelakang, melirik Nyonya Delusa yang hanya menatapnya. Pandangan yang saling bersilang, seolah memohon agar ia dapat di tolong oleh wanita paruh baya itu.
Saat kaki Yuna telah menyentuh mobil Jeckie, seruan Nyonya Delusa membuat anak buah Jeckie berhenti memaksa Yuna.
"Berhenti! lepaskan dia." Nyonya Delusa melangkah mendekati Jeckie. Ia bersuara ." Berapa hutang yang dia miliki? aku akan membayarnya?"
"Berani juga dia." Jeckie menyunggingkan senyuman pada wanita paruh baya itu. Diikuti sang anak buah yang melebarkan senyuman.
"Kau punya uang tidak? hutangnya itu sangat besar padaku."
"Katakan, berapa hutangnya? jangankan hutangnya, anak buahmu bisa aku bayar mahal untuk menghajarmu," ucap Nyonya Delusa seketika membungkam Jeckie.
Jeckie beserta anak buahnya saling melirik.
"Hutangnya 100 juta," kata Jeckie seketika.
Yuna yang mendengar itu membelalakkan matanya. Itu sangat jauh dari uang yang ia pinjam hanya 50 juta.
"Kau berbohong, hutangku hanya 50 juta. Kenapa kau memintanya 100 juta." Manik mata Yuna melirik Nyonya Delusa."Dia berbohong Nyonya!"
Bersambung ...