Bab 15

1457 Words
"Mama ada pilihan. Mana tahu kau juga sejalan denganku, Alena." "Pilihan?" tanya Alena. "Hemm ... kau tetap berada pada karirmu, kau juga bisa mempunyai anak. Tanpa harus merusak bentuk tubuhmu," Nyonya Delusa mencoba memberi pertimbangan pada Alena."Dengan begitu kau akan mendapatkan keduanya. Anak dan karir. Kau hanya butuh menghadirkan keturunan dari keluarga permana." "Bagaimana caranya, Ma?" tanya Alena penasaran. Nyonya Delusa merogoh tasnya. Mengeluarkan foto seorang gadis nan cantik. Dengan senyuman yang mengembang di raut wajahnya. Lalu menaruh foto itu di atas meja. Reynard mengambil foto itu. Ia yang tak bergeming sedari tadi. Namun melihat foto itu, seketika ingatannya tidak asing dengan wajah gadis itu. Sayangnya, ia sama sekali tidak mengingatnya. Suasana hening seketika saat seorang pelayan menghampiri mereka dengan nampan berisi minuman untuk Nyonya Delusa. Menaruhkan minuman itu di atas meja. Setelah meletakan minuman, pelayan pamit undur dari sana. Alena mengambil foto itu dari Reynard."Ini siapa, Ma?" "Apa hubungannya dengan gadis ini?" timpal Reynard pertanyaan dari rasa ingin tahunya. "Bagaimana kalau dia kita jadikan sebagai istri untuk melahirkan keturunan Permana. Setelah ia melahirkan nanti, kau harus menceraikannya dengan memberi imbalan uang. Mama dengar, dia dari kalangan bawah yang tengah membutuhkan uang. Mama yakin, dia akan menyetujuinya nanti." Nyonya Delusa tersenyum manis pada sepasang suami istri itu. Reynard terkesiap mendengar apa yang di lontarkan sang Mama. Menghadirkan dua wanita di hidupnya itu sangat tidak mungkin. Apa lagi dengan wanita yang tidak ia kenal. "Tidak! aku tidak setuju!!" Bentak Reynard. Matanya memanas seketika. Dia tahu apa maksud dari perkataan sang Mama."Jangan bilang aku harus menikahinya, dan menjadikan dia istri kedua ku." Nyonya Delusa yang begitu semangat menyampaikan hal ini, berharap akan kehadiran seorang cucu, malah mendapatkan penolakan dari Reynard. Bagaimana tidak, Rey yang paling geram dengan usul sang Mama kali ini. Sebab, ia yang akan menjalani semuanya dengan gadis yang statusnya sebagai orang asing. Sama saja di sini ia dijadikan alatnya. Di manfaatkan. Walaupun sebenarnya Reynard juga menginginkan seorang anak, tapi tidak pernah terpikirkan untuk menduakan sang istri. Alena menoleh pada Reynard. Sebagai seorang istri mungkin akan bangga atas penolakan sang suami untuk berpoligami. Tapi tidak dengan Alena. "Rey," Alena memegangi lengan sang suami. Wajahnya melemas seketika. Reynard menoleh. Mendapati sang istri tidak dengan situasi seperti yang ia rasakan. Seharusnya Alena marah, seharusnya wanita itu juga sejalan dengannya. Apa lagi dia yang akan di madu. Tidak ada seorang istri yang akan rela membagi suaminya pada wanita lain. Jangankan untuk soal ranjang, melalui tatapan saja, sungguh tidak rela. Reynard menggenggam erat tangan Alena."Alena, kau pasti tidak setuju 'kan, apa yang di usulkan oleh Mama? kau pasti juga tidak mau kalau aku berpoligami." Tatapan saling bersilang di manik mata masing-masing, membuat Alena menggeleng pelan. Alena bersuara."Tidak, Rey, kali ini aku setuju dengan Mama. Kau juga menginginkan anak bukan? jadi tidak salah kita menuruti keinginan Mama. Jika memang itu membuat rumah ini semakin hangat dengan kehadiran malaikat kecil nanti." Betapa kecewanya Reynard, mendengar ucapan Alena yang menurutnya itu tidak benar. " Sa-sayang, apa maksudmu? Apa kau tidak pikir, ini semua akan menyakitimu, Alena." "Tidak, Rey! ini semua tidak akan menyakitiku. Aku yakin kau pasti sangat mencintaiku, mana mungkin kau berpaling hati dariku, benarkan?!" tangan Alena menangkup wajah Reynard yang tampak kebingungan. "Kau tenang saja, Rey, dia hanya melahirkan, lalu pergi dari kehidupan kita. Terutama kehidupanmu dan Alena. Anak itu hanya membutuhkanmu sebagai ayahnya. Di dalam darahnya harus mengalir darahmu. Setelah itu Alena yang akan menjadi Ibunya." Nyonya Delusa mencoba menenangkan Reynard. Alena mengangguk."Kau tidak perlu membawa perasaan dalam rencana ini. Kau hanya perlu menghadirkan calon anak kita, yang di hasilkan dari dirimu dan pembuahan di rahim gadis itu. Setelah itu, kita akan memberikannya sejumlah uang. Dengan begitu, aku tetap pada karirku." "Alena, kau yakin dengan ucapanmu? aku akan berbagi waktu dengannya. Mungkin saja, aku akan tinggal satu atap," sela Reynard. Yang tidak menginginkan semua ini. "Aku yakin dengan keputusanku. Kau mau 'kan sayang?" Alena berharap lelaki itu akan mengiyakannya. "Semua keputusan ada padamu, Alena. Aku serahkan semuanya padamu. Jika itu yang kau pinta, aku hanya menurutinya." Bibir Alena melengkung, membentuk sebuah senyuman."Terima kasih, sayang." Rahang tegak Reynard mengeras seketika. Tangannya yang kekar mengusap wajah yang gusar itu. Keputusan yang ia ambil rasanya begitu berat. Tetapi, tidak dengan Mama dan istrinya yang tampak begitu senang. 'Kenapa seolah-olah tidak memikirkan aku di sini. Begitu mudahnya mereka menginginkan ini semua. Bagaimana caranya aku akan menjalani hidup dengan gadis itu nanti? yang ada pasti merasa canggung dan bosan." Batin Reynard, mendongkol. Begitu pula dengan Nyonya Delusa. Melebarkan senyumannya, melihat Alena menyetujui rencananya. Walau Reynard sendiri terlihat enggan mengiyakan, tapi itu tidak masalah bagi Nyonya Delusa. Buktinya dia menurut permintaan Alena. Dan, ah .... mereka kali ini benar-benar kompak. Ya siapa lagi, Nyonya Delusa dan Alena. Untuk pertama kalinya bagi mereka satu jalan. "Tapi Alena, status Rey yang sudah beristri akan kita sembunyikan dari dia. Semua itu, agar dia menyangka Rey belum menikah. Dengan begitu tidak terlalu sulit untuk dia menerima pernikahan ini. Dan pernikahan Rey dengan gadis itu juga tidak akan di sorot media. Sama halnya seperti pernikahan kalian. Tapi, mungkin saja pernikahan kalian bisa berubah, kalau kau mau mengandung, Alena" Nyonya Delusa mematri anak dan menantunya. Alena memalingkan wajahnya, bola matanya berputar, dengan gerak bibir mebncemoohkan. Alena tidak menggubris."Lalu, dia akan tinggal di mana?" "Dia akan aku pisahkan rumah dengan kalian. Dan kamu, Rey ... kau harus bisa menyentuhnya dan buat dia hamil anakmu. Setelah pernikahan kalian di gelar." Nyonya Delusa tidak ingin jika gadis itu mengetahui bahwa di istri kedua dari putranya."Selama itu, kau tidak boleh mengungkap bahwa Alena istrimu." "Aku tidak mau tahu soal ini. Apa lagi Menyentuhnya?" Reynard menggelengkan kepala. Ia bersuara." Bagaimana aku bisa menyentuh gadis itu? mendengar menikah saja sama dia rasanya sungguh menjijikan." Reynard menjinjitkan bibirnya. Sungguh tidak pernah terpikirkan menyentuh wanita selain istrinya. "Sayang, ayolah," bujuk Alena. Reynard menatap tajam pada Alena, lalu melirik pada Nyonya Delusa di hadapannya. "Hanya kau yang Mama miliki, Rey. Kepada siapa lagi Mama akan meminta ini semua. Kalau saja Mama ada anak selain dirimu, mungkin Mama tidak akan berharap lebih padamu." Sorotan sendu Nyonya Delusa seketika mengalir dari netra miliknya. Mata yang mulai berkaca-kaca, membuat Reynard tidak bisa menyakiti wanita paruh baya yang selama ini telah melahirkan dan membesarkan penuh kasih sayang."Baiklah, aku menyetujui ini. Tapi ingat, aku melakukan ini hanya ingin mendapat keturunan. Walaupun kau tahu Alena, aku tidak akan pernah bisa menerima seseorang selain dirimu. Jika saja aku punya pilihan lain, tanpa harus membebankanmu, maka aku tidak akan memiliki seorang wanita selain dirimu lagi." Alena yang mendengar ucapan Reynard soal perasaannya, membuat Alena memeluk Reynard. Membawa kedekapannya."Aku mencintaimu, Rey." "Baiklah, Alena menyetujui dan kau juga. Kau hanya perlu mempersiapkan diri untuk menjadi mempelai sekali lagi, Rey. Biarkan Mama yang akan membujuk gadis itu dengan cara Mama sendiri." Nyonya Delusa perlahan beranjak dari kursinya. Tidak peduli apa ekspresi wajah Reynard, Nyonya Delusa memilih untuk segera pamit dari sana. "Kalau begitu Mama pulang dulu. Alena, kau juga harus menjaga kesehatanmu." "Hemm ... Alena mengangguk." Hati-hati di jalan, Ma. Berbeda dengan Reynard, dia hanya menatap kepergian sang Mama. Setelah kepergian Nyonya Delusa dan Rey juga beranjak dari sana dengan raut wajah menahan kesal. Tinggallah Alena seorang diri. Ia menyunggingkan senyuman dan seringai yang tajam seiring gerak tubuh Rey berlalu dari tatapannya. *** Malam haripun tiba. Tepatnya sudah jam satu menjelang pagi. Mata yang menatap ke langit, dengan tangan sebagai alas kepala. Reynard berkelana dengan pikiran yang menggundahkan hatinya. Tidak sedikitpun manik matanya merasa kantuk. Ia berusaha untuk memejamkan, namun lagi-lagi harus terbuka saat matanya bertolak belakang dengan pikirannya. Ini keputusan konyol menurut Reynard. Seorang istri menyetujui ia menikah lagi. Bahkan memaksanya untuk mengikuti kemauan dua wanita penting di hidupnya itu. Andaikan Reynard lelaki buaya, mungkin ia akan senang hati menerima permintaan Alena. Karena itu suatu hal yang ada pada lelaki yang berniat memiliki istri lebih dari satu. Berbeda dengan Alena, wanita itu tampak nyaman terlelap di sisi Reynard, membelakanginya. Dalam tidur yang nyenyak, Alena mengganti posisi tidurnya. Mengarah pada Rey dengan tangan memeluk tubuh atletis Reynard. Namun mata yang tidak sengaja terbuka, Alena mendapati Rey yang masih nyaman menatap keatas. Sorotan matanya seakan kosong. "Sayang, kenapa belum tidur, hemm?" Alena menaiki kepalanya di atas tangan Reynard yang berlipat itu. Suara serak-serak khas bangun tidur Alena, terdengar oleh Reynard. Seruan yang dilontarkan oleh Alena, membuat Reynard tersentak dari lamunannya."Humm ... Aku tidak apa-apa sayang. Baru saja aku kebangun, dan tidak bisa tidur lagi." "Kau tidak boleh tidur terlalu malam sayang itu tidak baik untukmu." Timpal Alena sambil jari tangannya menarik hidung Reynard. Senyum yang di paksakan, terlihat di raut wajah Reynard. Agar sang istri tidak mengungkit-ungkit perihal yang mereka bahas tadi siang. Yang ada, Reynard akan tambah sulit untuk memejamkan matanya. "Humm ..." Reynard berdehem, mengiyakan ucapan Alena. Bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD